<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265</id><updated>2012-02-16T07:03:18.715-08:00</updated><category term='sejarah'/><category term='wikileaks'/><category term='olahraga'/><category term='duta masyarakat'/><category term='gramedia pustaka utama'/><category term='motivasi'/><category term='pendidikan'/><category term='teroris'/><category term='budaya'/><category term='haryatmoko'/><category term='sosial'/><category term='pers'/><category term='menghormat bendera'/><category term='kebangsaan'/><category term='politik'/><category term='bisnis indonesia'/><category term='jalasutra'/><category term='lampung post'/><category term='tentara'/><category term='filsafat'/><category term='agama'/><category term='resensi'/><category term='korupsi'/><category term='ekonomi'/><category term='kris budiman'/><category term='hukum'/><category term='lingkungan'/><category term='koran jakarta'/><title type='text'>corat-coret</title><subtitle type='html'>fajar kurnianto</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>557</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-803816129372593502</id><published>2012-02-12T04:40:00.001-08:00</published><updated>2012-02-12T04:41:51.559-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bisnis indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kris budiman'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jalasutra'/><title type='text'>Menyelami Relasi Tanda Lebih Dalam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-lO-CM3SkLbo/TzezbbAcdmI/AAAAAAAAAUI/uyrv8A6qds8/s1600/semiotika%2Bvisual%2B-%2Bjalasutra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 133px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-lO-CM3SkLbo/TzezbbAcdmI/AAAAAAAAAUI/uyrv8A6qds8/s200/semiotika%2Bvisual%2B-%2Bjalasutra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5708228336402855522" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 12 Februari 2012 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Semiotika Visual; Konsep, Isu, dan Problem Ikonitas&lt;br /&gt;Penulis : Kris Budiman&lt;br /&gt;Penerbit : Jalasutra, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, September 2011&lt;br /&gt;Tebal : xii+212 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam studi linguistik dikenal kajian yang terkait dengan tanda atau kode, yakni semiotika atau semiologi. Scholes (1982) mendefinisikan semiotika sebagai pengkajian tanda-tanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiotika pada dasarnya merupakan studi atas kode-kode, yaitu sistem apa pun yang memungkinkan kita memandang entitas-entitas tertentu sebagai tanda-tanda atau sebagai sesuatu yang bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ferdinand de Sausurre (1966) menyebut semiologi sebagai ilmu umum tentang tanda, suatu ilmu yang mengkaji kehidupan tanda-tanda di dalam masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski mengkaji tanda, kunci sebenarnya dalam semiotika adalah mengkaji relasi antar tanda; relasi tanda satu dengan tanda yang lainnya, relasi tanda-tanda dengan makna-maknanya, dan relasi tanda-tanda dengan para pengguna atau interpreternya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bidang-bidang studi semiotika sendiri cakupannya cukup luas. Mulai dari kajian perilaku komunikasi hewan (zoomsemiotics) sampai dengan analisis atas sistem-sistem pemaknaan seperti komunikasi tubuh (kinesik dan proksemik), tanda-tanda bebauan (olfactory signs), teori estetika, retorika dan seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Charles Morris (1938) menyebutkan bahwa semiotika pada dasarnya dapat dibedakan dalam tiga cabang penyelidikan. Pertama, sintaktik atau sintaksis. Yaitu, cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji “hubungan formal di antara satu tanda dengan tanda-tanda yang lain”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, semantik. Cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari “hubungan di antara tanda-tanda dengan designata atau objek-objek yang diacunya. Morris mengatakan, designata adalah makna tanda-tanda sebelum digunakan di dalam tuturan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pragmatik. Yaitu, cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pemakainya. Pragmatik berurusan dengan aspek-aspek komunikasi, khususnya fungi-fungsi situasional yang melatari tuturan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku Kris Budiman ini mengulas perihal semiotika, terutama semiotika visual, yaitu sebuah bidang studi semiotika yang secara khusus menaruh minat pada penyelidikan terhadap segala jenis makna yang disampaikan melalui sarana indra lihatan (visual sense). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semiotika visual ini tidak lagi terbatas pada pengkajian seni rupa dan arsitektur semata-mata, melainkan juga segala macam tanda visual yang kerap kali atau biasanya dianggap bukan karya seni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini secara luas juga mengulas persoalan-persoalan dalam semiotika yang menjadi bahan perdebatan di kalangan ahli linguistik. Misalnya, antara Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sanders Pierce (1839-1914), dalam soal tanda, simbol, dan ikon. Menurut de Saussure, tanda (sign) adalah arbitrer dan simbol (symbol) adalah non-arbitrer. Bagi Pierce, yang arbitrer adalah simbol, sementara yang non-artibter adalah ikon (icon). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menarik dan membawa kita menyelami studi semiotika untuk memahami bagaimana relasi-relasi tanda, simbol, atau ikon yang bertebaran di sekitar kita. Sebuah tanda selalu menyimpan pesan di baliknya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-803816129372593502?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/803816129372593502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/menyelami-relasi-tanda-lebih-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/803816129372593502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/803816129372593502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/menyelami-relasi-tanda-lebih-dalam.html' title='Menyelami Relasi Tanda Lebih Dalam'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-lO-CM3SkLbo/TzezbbAcdmI/AAAAAAAAAUI/uyrv8A6qds8/s72-c/semiotika%2Bvisual%2B-%2Bjalasutra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-6046569966109205689</id><published>2012-02-10T04:28:00.000-08:00</published><updated>2012-02-10T04:30:46.175-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='menghormat bendera'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lampung post'/><title type='text'>Haramkah Menghormat Bendera?</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Lampung Post, Jumat 10 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat K.H. A. Cholil Ridwan mengatakan menghormat bendera kebangsaan Indonesia Merah-Putih hukumnya haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mendasarkan pendapatnya pada fatwa sejumlah ulama Arab Saudi dalam Lembaga Tetap Pengkajian Ilmiah dan Riset Fatwa tertanggal 26 Desember 2003. Dalam fatwa tersebut dijelaskan seorang muslim tidak diperbolehkan berdiri memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan dengan beberapa alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, memberi hormat kepada bendera termasuk perbuatan bidah yang harus diingkari. Aktivitas tersebut juga tidak pernah dilakukan pada masa Nabi ataupun pada masa empat khalifah setelah beliau. Kedua, menghormati bendera negara juga bertentangan dengan tauhid yang wajib sempurna dan keikhlasan dalam mengagungkan hanya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menghormati bendera merupakan sarana menuju kesyirikan. Keempat, penghormatan terhadap bendera juga merupakan bentuk penyerupaan terhadap orang-orang kafir dan mentaklid (mengikuti) tradisi mereka yang jelek. Serta menyamai mereka dalam sikap berlebihan terhadap pemimpin dan protokoler. Padahal, Rasulullah melarang kita berlaku sama seperti mereka atau menyerupai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak Haram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, alasan bahwa menghormati bendera termasuk bidah tidak memiliki dasar argumen yang kuat. Bidah menurut para ulama didefinisikan sebagai segala hal baru atau dibuat-buat yang berkaitan dengan ibadah yang tidak memiliki dalil (Alquran dan sunah Nabi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika merujuk definisi ini, ada dua hal penting terkait bidah, yaitu bahwa bidah hanya terkait dengan urusan ibadah dan bidah terkait dengan ada-tidaknya dalil. Apakah menghormat bendera termasuk ibadah? Jelas bukan. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghormat bendera memang tidak ada dalilnya. Namun, juga tidak ada dalil yang melarangnya, kecuali tafsiran-tafsiran ulama yang masih bisa diperdebatkan. Dengan demikian, menghormat kepada bendera bukan termasuk bidah. Menghormat kepada bendera memang kreasi manusia, tapi ini kreasi yang tidak memiliki mudarat apa pun bagi manusia. Ini urusan duniawi, bukan ibadah. Untuk urusan duniawi, Nabi pernah mengatakan bahwa manusia lebih mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, alasan bahwa menghormat bendera bertentangan dengan tauhid juga tidak relevan. Tauhid adalah peng-Esa-an terhadap Tuhan. Bahwa Tuhan Maha Esa. Apakah orang yang menghormat bendera yakin bahwa bendera adalah Tuhan yang diagungkan? Menghormat bendera tidak sama dengan menuhankan bendera. Menghormat bendera adalah menghormat apa yang ada di balik bendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara semiotis, bendera adalah tanda yang memiliki relasi dengan negara dan sejarahnya. Bendera adalah simbolisasi dari perjuangan menegakkan negara ini hingga menjadi seperti saat ini. Merah-Putih adalah simbolisasi dari keberanian dan kesucian atau ketulusan hati dalam perjuangan menegakan negara dan melepaskan negara dari belenggu kolonialisme. Menghormat bendera bukan mengagungkan bendera dan menuhankannya, melainkan menghormati mereka yang telah berjuang demi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, alasan bahwa menghormat bendera menjadi sarana menuju kesyirikan juga tidak berdasar. Syirik (politeisme) didefinisikan sebagai menjadikan selain Tuhan sebagai Tuhan. Atau menuhankan makhluk yang bentuknya adalah pemujaan terhadap benda-benda. Masyarakat Mekah, tempat Nabi diutus, misalnya, adalah kaum politeis karena menyembah dan memuja berhala atau patung batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah menghormat bendera sama dengan menyembah berhala? Tentu tidak. Masyarakat Mekah ketika itu memang benar-benar menuhankan berhala, menganggap berhala itu bisa mendatangkan maslahat dan kemudaratan. Atau berhala itu menjadi perantara yang menyampaikan segala keluh kesah dan permohonan manusia kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghormat bendera tak ada kaitannya dengan penyembahan kepada bendera. Tak ada satu pun orang yang menghormat bendera menganggap bendera adalah Tuhan, seperti halnya kaum politeis lakukan terhadap berhala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, alasan bahwa menghormat bendera merupakan bentuk penyerupaan (tasyabuh) dengan orang-orang kafir dan mengekor terhadap perilaku mereka juga tidak berdasar. Tidak ada kategorisasi yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan “penyerupaan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penyerupaan yang dimaksud adalah penyerupaan dalam ritual ibadah. Ini logis, karena setiap agama memiliki ritual ibadah berbeda. Sementara menghormat bendera, seperti disebutkan sebelumnya, bukanlah termasuk ibadah. Tidak ada masalah melakukan hal-hal yang serupa dengan orang nonmuslim, misalnya, karena menghormat bendera adalah masalah duniawi, bentuk kreasi dan ekspresi manusia. Menghormat bendera dengan demikian tidaklah haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaksaan Tafsir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kerancuan nalar dalam pengharaman ini, yakni mencampuradukkan antara hal duniawi (nonibadah) yang menurut Nabi diserahkan kepada kreasi dan inovasi manusia, dengan urusan ibadah yang memang harus konsisten sesuai petunjuk Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengharaman menghormat bendera merupakan bentuk pemaksaan tafsir yang tidak relevan antara persoalan dan argumen yang dibangun. Urusan nonibadah tidak bisa dijustifikasi hitam-putih dengan nalar ibadah atau dinilai dari perspektif ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUI sebaiknya mengurusi masalah-masalah yang lebih penting dan mendesak, seperti kekerasan atas nama agama atau tindakan intoleransi yang berkaitan dengan harmoni kehidupan bangsa. Bukan malah meletupkan pernyataan yang kontraprodukif dan mengurusi hal-hal remeh yang tidak memiliki signifikansi bagi kemajuan bangsa dan negara secara luas. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-6046569966109205689?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/6046569966109205689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/haramkah-menghormat-bendera.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6046569966109205689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6046569966109205689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/haramkah-menghormat-bendera.html' title='Haramkah Menghormat Bendera?'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4696359376449338416</id><published>2012-02-08T04:21:00.000-08:00</published><updated>2012-02-08T04:22:08.184-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='duta masyarakat'/><title type='text'>Money Politics dan Pragmatisme Politik</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Duta Masyarakat, Rabu 8 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah forum internasional, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah mengatakan, demokrasi di suatu negara tumbuh dan berkembang dengan baik jika prosesnya dilakukan dengan menghindari politik uang. Jika politik uang terjadi, lanjutnya, hal itu bukan hanya mereduksi demokrasi atau kedaulatan rakyat, melainkan akan menghasilkan pemimpin pemerintahan yang melayani mereka yang membayar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Money Politics&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Money politics atau politik uang adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya dia menjalankan haknya dengan cara tertentu pada saat pemilihan umum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 73 ayat 3 Undang Undang No. 3 Tahun 1999 menyebutkan, barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan pidana hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hukum, praktik politik uang tegas dilarang, dan termasuk tindak pidana dengan jerat hukuman seperti disebutkan di atas. Secara etika, politik uang merupakan sebuah praktik kotor, karena di situ ada hak orang yang dibeli dengan harga murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perspektif HAM, praktik uang merupakan perampasan terhadap hak asasi seseorang untuk menentukan pilihannya secara mandiri sesuai nuraninya. Ada unsur pemaksaan secara halus di balik uang yang diberikan. Secara agama, politik uang juga dikecam, karena di situ ada praktik suap-menyuap. Dalam Islam misalnya disebutkan bahwa Nabi melaknat keras orang yang menyuap dan menerima suap. Dalam Islam, praktik suap-menyuap dihukumi haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Money politics merupakan praktik kotor yang merusak pemilu, dan tentu saja merusak demokrasi sebagai bangunan yang ditopang oleh pemilu itu sendiri. Money politics merupakan kejahatan dalam kehidupan berdemokrasi. Kejahatan yang dampaknya sangat luas. Kejahatan yang menciptakan mata rantai perilaku korup dan demoralisasi dalam kehidupan berpolitik. Politik yang dibangun dengan praktik kotor money politics akan selalu menghadirkan politikus-politikus kotor yang hipokrit dan berpemikiran pragmatis. Politikus-politikus yang orientasinya hanya menambah pundi-pundi finansial pribadi dengan menggunakan jurus aji mumpung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Presiden Yudhoyono tentang bahaya money politics bagi demokrasi menjadi imbauan tidak hanya bagi para politikus dan partai-partai politik lain, tapi juga bagi dirinya sendiri dan partainya, Partai Demokrat. Partai ini sebelumnya dituding melakukan money politics menggunakan dana talangan Bank Century pada pemilu lalu. Namun, tudingan itu tidak terbukti. Yang aneh tentu saja adalah tidak ada seorang pun yang tahu ke mana duit itu mengalir. Kecuali sang pengalir dan yang menerima alirannya, tentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mungkin juga uangnya dimakan jin, dedemit, hantu, atau dibawa kabur tuyul. Hingga kini masih misterius. Tapi kemungkinan besar makhluk-makhluk gaib itu tidak membawa kabur duit itu, karena hingga kini belum ada berita yang menyebutkan, misalnya, ada tuyul yang membongkar ATM bank dan membawa kabur duitnya sampai ludes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik Tanpa Uang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Money politics jelas dilarang keras. Partai-partai politik dan para politikusnya dengan demikian diharuskan menjauhi ini dan dituntut untuk bersih dan murni dari praktik kotor ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah hal itu benar-benar dilakukan oleh partai-partai dan para politikusnya? Say no to money politics itu mudah, semudah mengedipkan mata atau membalik telapak tangan. Yang sulit adalah membuktikan komitmen itu. Dan, faktanya, praktik-praktik money politics selalu ditemukan pada setiap pagelaran pemilu atau pilkada, bahkan hingga pilkades, dengan wujud yang berbeda-beda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin keras hukum dibuat, tampaknya semakin lincah saja para pelaku berkelit dan menemukan celah untuk melakukan penyelewengan. Terkadang, hukum malah dimain-mainkan, karena tidak jelas dan tegas mengatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik tanpa uang memang absurd. Tapi, tujuan berpolitik untuk mendatangkan uang juga tidak dapat dibenarkan. Karena, tujuan berpolitik sesungguhnya adalah menciptakan iklim kehidupan berbangsa dan bernegara yang kondusif bagi perkembangan pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, orientasi politik sudah barang tentu harus diarahkan pada kepentingan dan kemaslahatan bersama yang lebih luas. Bukan kepentingan dan kemaslahatan diri sendiri dan partainya. Karena itu, dalam berpolitik yang sehat yang sebetulnya mesti dilakukan adalah reposisi dan independensi partai. Reposisi partai sebagai pilar demokrasi untuk kepentingan bangsa dan negara, dan independensi partai yang membentengi diri dari kepentingan di luar kepentingan bangsa dan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpolitik di satu sisi merupakan seni, tapi di sisi lain merupakan strategi pemenangan dalam sebuah peperangan politik untuk meraih banyak suara dan simpati publik. Tidak heran, apa pun akan dilakukan untuk memenangkan peperangan ini. Segala sumber daya dikerahkan dan dikeluarkan, hingga uang pun digelontorkan besar-besaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah seorang politikus atau sebuah partai politik diuji, apakah tahapan ini bisa dilewati dengan bersih. Kita tentu saja berharap pragmatisme politik tidak dikedepankan, karena potensi money politics-nya sangat besar. Membudayakan politik yang bersih sedari dini memang hal paling berat di negeri ini. Tapi, itu tidak berarti bahwa politik bersih benar-benar sudah mati di negeri ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4696359376449338416?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4696359376449338416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/money-politics-dan-pragmatisme-politik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4696359376449338416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4696359376449338416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/money-politics-dan-pragmatisme-politik.html' title='Money Politics dan Pragmatisme Politik'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-2527748815540302594</id><published>2012-02-06T04:39:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T04:43:22.071-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koran jakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gramedia pustaka utama'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='haryatmoko'/><title type='text'>Mengelola Negara dengan Etika Publik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-J1sdnME0fVY/Ty_KuMvUOuI/AAAAAAAAAT8/cNPN4oxi38E/s1600/etika%2Bpublik%2B-%2Bharyatmoko.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-J1sdnME0fVY/Ty_KuMvUOuI/AAAAAAAAAT8/cNPN4oxi38E/s200/etika%2Bpublik%2B-%2Bharyatmoko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5706002147944184546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Senin 6 Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Etika Publik, untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi&lt;br /&gt;Penulis : Haryatmoko&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juni 2011&lt;br /&gt;Tebal : xiv+218 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membicarakan etika publik menjadi penting, terutama ketika menilik kondisi pengelolaan negara saat ini yang dilanda banyak masalah. Misalnya, soal korupsi yang makin menggila, penegakan hukum yang lemah, dan elite-elite politik serta pejabat-pejabat publik yang lebih sibuk mementingkan diri sendiri dan kelompok mereka daripada kepentingan umum. Ditambah dengan kepemimpinan (leadership) pusat yang lemah, sehingga berbagai masalah seperti terbiarkan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryatmoko dalam buku ini mencoba mengingatkan penting dan mendesaknya etika publik terutama bagi para pejabat publik dan politisi, secara individu maupun kelembagaan. Buku ini menjadi semacam panduan dan arahan bagi para pejabat dan politisi dalam mengelola negara dengan prinsip-prinsip etika publik. Etika publik, menurut Haryatmoko, diperlukan untuk pembaruan dan perbaikan pelayanan publik. Haryatmoko menyoroti masalah konflik kepentingan, korupsi, dan birokrasi yang membelit sebagai sebab pelayanan publik yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Haryatmoko, ada tiga fokus yang menjadi perhatian etika publik. Pertama, berbeda dengan etika politik. Keprihatinan utama etika publik adalah pelayanan publik yang berkualitas dan relevan. Kedua, bukan hanya kode etik atau norma, tapi juga terutama dimensi reflektif. Ini berarti etika publik berfungsi sebagai bantuan dalam menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi yang memperhitungkan konsekuensi etisnya. Ketiga, fokus pada modalitas etika, yaitu cara menjembatani antara norma moral (yang seharusnya dilakukan) dan tindakan faktual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haryatmoko, misalnya, melihat akuntabilitas dan transparansi sebagai modalitas etika publik. Akuntabilitas berarti pemerintah bertanggung jawab secara moral, hukum, dan politik atas kebijakan dan tindakan-tindakannya kepada rakyat. Akuntabilitas untuk mengukur atau menilai apakah “mandat rakyat” dijalankan dengan baik. Dalam akuntabilitas, setidaknya ada tiga aspek. Pertama, tekanan akuntabilitas pada pertanggungjawaban kekuasaan melalui keterbukaan pemerintah atau adanya akses informasi bagi pihak luar organisasi pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, memahami akuntabilitas sekaligus sebagai tanggung jawab dan liabilitas, sehingga tekanan lebih pada sisi hukum, ganti rugi, dan organisasi. Ketiga, tekanan lebih pada hak warga negara untuk mengoreksi dan ambil bagian dalam kebijakan publik, sehingga akuntabilitas disamakan dengan transparansi (hlm 106).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntabilitas dengan demikian meniscayakan publik menjadi pengontrol atas berbagai kegiatan dan program-program pemerintah. Maka, pemerintah harus transparan sebagai bentuk pertanggungjawaban terhadap publik. Akuntabilitas sendiri merupakan prinsip masyarakat yang transparan, mempertanggungjawabkan tindakan dengan memberi laporan terbuka ke publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ternyata pemerintah lalai, masyarakat bisa menuntut tanggung jawab terhadap akibat yang diderita. Jadi, masyarakat yang terkena dampaknya berhak untuk didengar dan diperhitungkan pandangannya. Tujuan utama akuntabilitas adalah mencegah penyalahgunaan kekuasaan pejabat publik, sehingga meningkatkan pelayanan (hlm 113).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika publik selain mendorong para pengelola negara untuk berpikir, mengambil keputusan (kebijakan), dan bertindak demi kepentingan publik, juga mendorong keterlibatan masyarakat sebagai pengontrol aktif. Ini penting, agar segala penyimpangan terdeteksi. Kontrol itu, selain berupa sistem di lembaga-lembaga pemerintahan, juga dari luar seperti kekuatan civil society dan lembaga-lembaga swadaya. Mengelola negara adalah tanggung jawab utama pemerintah, tapi publik mestilah juga menjadi bagian di dalamnya, sebab publiklah yang pada akhirnya terkena imbas dan merasakannya. Pemerintah jangan antipati dengan kontrol publik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-2527748815540302594?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/2527748815540302594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/mengelola-negara-dengan-etika-publik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2527748815540302594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2527748815540302594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/02/mengelola-negara-dengan-etika-publik.html' title='Mengelola Negara dengan Etika Publik'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-J1sdnME0fVY/Ty_KuMvUOuI/AAAAAAAAAT8/cNPN4oxi38E/s72-c/etika%2Bpublik%2B-%2Bharyatmoko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7415021167052033012</id><published>2012-01-30T04:19:00.000-08:00</published><updated>2012-01-30T04:22:52.025-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Syiah dan Ironi Negara</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Sinar Harapan, Senin 30 Januari 2012 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suryadharma Ali, Menteri Agama Republik Indonesia, menegaskan aliran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagai pernyataan personal atau pendapat pribadi, ini sah-sah saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dalam kapasitas dia sebagai Menteri Agama yang antara lain punya tanggung jawab untuk menciptakan harmoni di tengah masyarakat majemuk, terutama dalam soal agama dan keyakinan individual, pernyataannya cukup mengganggu dan meresahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Agama merupakan representasi dari negara. Dengan demikian, ini menjadi preseden buruk terhadap negara bahwa negara tidak adil terhadap kaum minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syiah Bukan Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarahnya, Syiah lahir dari rahim Islam, yakni kecintaan terhadap Ahlul Bait (keluarga Nabi) yang setelah wafatnya Nabi Muhammad terepresentasikan pada sosok Ali yang tiada lain adalah anak dari pamannya, Abu Thalib. Ali dan keluarganya, Fatimah (istri) dan dua anaknya, Hasan dan Husein. Berturut-turut kemudian keturunan dari Hasan dan Husein. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatimah adalah putri kesayangan Nabi Muhammad yang melihat detik-detik beliau wafat. Hasan dan Husein adalah cucu Nabi yang sangat beliau cintai. Ada begitu banyak sabda Nabi tentang pujian terhadap Ali, Fatimah, Hasan, dan Husein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali pernah diberi kepercayaan penuh oleh Nabi untuk menjadi pemegang panji perang di Khaibar. Sebelum memberikan panji itu, beliau mengatakan orang yang memegang panji inilah yang akan berhasil merebut Benteng Khaibar yang sulit ditembus siapa pun, dan orang itu adalah Ali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fatimah disebut Nabi sebagai pemimpin kaum perempuan yang masuk surga. Hasan dan Husein adalah dua cucu kesayangan beliau. Kepada seluruh kaum muslimin, Nabi memerintahkan mereka untuk mencintai keduanya sebagaimana beliau mencintai keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencintai Ahlul Bait adalah termasuk ajaran Islam. Ini yang dipegang kuat tidak hanya oleh Syiah, tapi juga Sunni. Karena itu, pernyataan Suryadharma Ali bahwa ajaran Syiah bertentangan dengan Islam tidak memiliki dasar yang bisa dipertanggungjawabkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, orang Syiah juga berpegang pada Alquran. Rukun iman dan Islam mereka juga sama. Syahadat mereka juga sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lebih banyak persamaan antara Syiah dan Sunni dibandingkan perbedaannya. Perbedaan yang mungkin agak mencolok adalah dalam soal fikih (yurisprudensi Islam). Syiah memiliki ulama-ulama fikih yang berbeda dengan ulama-ulama Sunni. Perbedaan fikih dalam Islam bukan sesuatu yang prinsipil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan lainnya, bisa disebut adalah pergerakan. Sebagian orang menyebut Syiah adalah gerakan politik dibandingkan aliran atau mazhab keagamaan. Sejarah Syiah banyak diidentikkan dengan upaya-upaya merebut kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinasti Fatimiyah yang pernah berjaya di Mesir (909-1171) adalah dinasti bermazhab Syiah. Revolusi Iran pada 1979 juga digerakkan orang Syiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, salahkah jika Syiah mengambil jalan politik? Dalam kenyataannya, Syiah tidak juga mengurus masalah politik semata, tapi juga keagamaan. Ada Syiah sebagai gerakan politik, ada Syiah sebagai aliran keagamaan. Kedua model Syiah ini yang sekarang terwujud di Iran pascarevolusi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Syiah, riwayat aliran Sunni tidak begitu “bersahabat” dengan politik. Tapi jangan lupakan fakta sejarah bahwa meski tidak terlibat politik, Sunni ternyata cukup “bersahabat” dengan kekuasaan, siapa pun pemegang kekuasaan, atau seburuk dan sejelek apa pun kekuasaan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dapat dimaklumi, karena salah satu doktrin yang dipegang Sunni soal kekuasaan adalah jangan sekali-kali memberontak terhadap penguasa. Doktrin ini banyak dimanfaatkan para penguasa untuk melegitimasi dan melanggengkan kekuasaan. Oleh sebab itu, mazhab Sunni paling disenangi penguasa muslim, karena bisa dijadikan sebagai alat meraih dukungan politis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironi Negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Suryadharma Ali bahwa aliran Syiah bertentangan dengan ajaran Islam jelas tidak memiliki dasar, baik ditinjau dari sudut sejarah Syiah maupun dari sudut doktrin-doktrin yang dipegang Syiah. Islam dan Syiah tidak bisa dilepaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang namanya Syiah-Kristen, Syiah-Hindu, Syiah-Buddha, Syiah Konghucu, atau yang lainnya. Syiah adalah Islam, seperti halnya Sunni yang identik dengan Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Forum-forum internasional juga mengakui Syiah sebagai bagian dari Islam. Dengan demikian, sangat disayangkan pernyataan itu keluar dari seorang menteri, representasi dari negara, atau simbol negara, yang harusnya menjamin kehidupan beragama yang harmonis dalam kemajemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sepertinya Suryadharma Ali memang harus mengatakan demikian dalam posisinya itu. Tentu ada kepentingan lain yang menguntungkan dirinya sebagai pribadi ataupun sebagai salah satu dari sekrup kekuatan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bahaya dari “perselingkuhan” antara agama dan politik memang adalah munculnya sosok-sosok yang lebih mementingkan keuntungan diri dan kelompoknya, meski itu dengan menyudutkan dan menekan kelompok lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu, yang menjadi korban politik semacam ini adalah kelompok atau masyarakat minoritas. Negara yang mestinya bersikap adil dan mengayomi minoritas malah menjadi instrumen atau alat untuk menekan minoritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara yang mestinya berdiri di atas semua golongan tampaknya saat ini justru sebaliknya, berada di bawah satu golongan. Negara sepertinya telah diperalat suatu kelompok tertentu, nyaris tanpa daya. Atau memang ada semacam simbiosis mutualisme, hubungan saling menguntungkan antara kelompok itu dengan negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika betul demikian, betapa lemahnya posisi negara, betapa lemahnya posisi seorang Suryadharma Ali, sehingga untuk memperkuatnya perlu injeksi-injeksi penyengat yang memicu dukungan politis, meski itu mengorbankan rasa keadilan dalam masyarakat majemuk di negeri ini. Ironis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7415021167052033012?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7415021167052033012/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/01/syiah-dan-ironi-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7415021167052033012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7415021167052033012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/01/syiah-dan-ironi-negara.html' title='Syiah dan Ironi Negara'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7189077824873357787</id><published>2012-01-02T03:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T03:52:52.308-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebangsaan'/><title type='text'>Gus Dur dan Penghormatan atas Perbedaan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta  &lt;br /&gt;Sinar Harapan, Senin 02 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 30 Desember, dua tahun lalu, KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur wafat. Seluruh elemen masyarakat bangsa kehilangan salah satu putra terbaiknya yang telah berjuang sepanjang hidupnya demi cintanya pada bangsa dan agamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spirit yang terus ia jaga warisan dari mendiang kakeknya, KH Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Ia telah menghadap Tuhan, tapi pemikirannya tentang keislaman dan keindonesiaan akan terus membumi di negeri ini. Pemikiran yang didasari etos penghormatan atas perbedaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Keislaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan pemikiran keislaman Gus Dur, beliau pernah mengatakan Islam itu ibarat hutan belantara. Dari jauh terlihat seragam, satu warna, berwarna hijau, tapi jika dilihat lebih dekat ternyata ada banyak pohon yang bermacam-macam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah gambaran Islam menurut Gus Dur; satu nama, tapi ada beraneka ragam tafsir di dalamnya. Penafsiran tentang Islam tidak homogen, tetapi heterogen. Semuanya dalam bingkai Islam, dan Islam sesungguhnya memayungi heterogenitas tafsir tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam khazanah pemikiran Islam, setidaknya ada dua model tafsir. Ada tafsir yang disebut dengan tafsir “bir ra’yi”, tafsir yang menggunakan atau berdasarkan logika akal.&lt;br /&gt;Ada pula tafsir yang disebut dengan tafsir “bil ma’tsur”, tafsir yang berdasarkan pada teks-teks suci lainnya; menafsirkan ayat Alquran dengan ayat Alquran lain, dengan hadis Nabi, perkataan sahabat Nabi, pengikut sahabat (tabiin), dan pengikut tabiin (tabiut tabiin). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua model tafsir ini adalah kekayaan khazanah Islam yang menurut Gus Dur harus dihargai. Tidak ada perlunya memaksakan satu model tafsir atas model tafsir lainnya, karena secara metodologi memang berbeda, dan tidak ada monopoli tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur amat mengecam upaya-upaya pemaksaan atas satu tafsir dan kemudian merasa tafsirnya paling benar. Ini karena hakikatnya, masing-masing orang berbeda dalam sudut pandang dan pemikiran, tidak mungkin dipaksa untuk ikut pada satu tafsir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaksaan terhadap satu tafsir menurut Gus Dur adalah tindakan otoriter dalam beragama. Otoritarianisme dalam agama sama tidak produktifnya dengan otoritarianisme dalam politik atau kehidupan berbangsa dan bernegara yang pluralistik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Islam sifatnya pluralistik dalam hal pemahaman. Menurut Gus Dur, memaksakan agama pada orang yang berlainan agama saja tidak boleh, apalagi memaksakan satu pemahaman pada tubuh masyarakat Islam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur amat menjunjung tinggi pluralitas pemahaman dalam masyarakat Islam. Pluralitas ini bukanlah halangan dan penghambat dalam Islam, tetapi justru aset berharga untuk memajukan Islam dan umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pluralitas masyarakat Islam, masing-masing pemahaman tentang Islam dihargai dan dijunjung tinggi. Dengan pluralitas pemahaman yang dihargai ini, diskursus tentang Islam akan terus dan semakin hidup, sehingga pemahaman atas Islam semakin inklusif, tidak eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam hakikatnya bersifat inklusif, selalu terbuka untuk ditafsirkan sesuai dengan perkembangan zaman, dengan tetap tidak kehilangan roh sejatinya yang toleran dan menyampaikan pesan-pesan damai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Keindonesiaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia adalah bangsa yang pluralistik, multikultural, multietnik, dan multiagama. Menurut Gus Dur, tugas kita semua, terutama negara, adalah menjamin kehidupan yang multi ini agar tetap rukun, damai, dan tidak terjadi konflik. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah asas tunggal yang menjadi landasan bersama untuk itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini bukan negara agama, tetapi juga bukan negara atheis. Artinya, agama melandasi kehidupan berbangsa dan bernegara bukan dalam pengertian formalisme agama, tetapi agama menjadi roh kehidupan berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur sangat mengutamakan integrasi dan persatuan bangsa di atas segalanya. Karena itu, segala upaya yang mengarah pada disintegrasi bangsa harus dicegah. Gus Dur sangat membela kaum minoritas, salah satu dasarnya adalah agar integrasi bangsa tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini pemikiran cemerlang dari Gus Dur yang hampir-hampir langka dipraktikkan para pemimpin di negeri ini, yang kebanyakan lebih cenderung pada suara mayoritas. Etnis Tionghoa sangat berterima kasih pada sosok Gus Dur yang memberikan kebebasan pada mereka untuk mempraktikkan ibadah mereka secara tenang, hal yang tidak pernah terjadi pada masa rezim Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya berbagai kelompok dalam masyarakat Indonesia yang bergaris keras amat dikecam Gus Dur. Kelompok-kelompok ini menurutnya tidak menguntungkan bangsa, tetapi justru merugikan bangsa secara keseluruhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Gus Dur, mayoritas bukan untuk menindas dan berbuat seenaknya sendiri. Mayoritas seharusnya melindungi dan mengayomi minoritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini karena hakikatnya, semua berada dalam lingkungan satu bangsa satu negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang hak-haknya dijamin penuh. HAM dengan demikian amat dijunjung tinggi Gus Dur. Setiap pelanggar HAM harus ditindak tegas, tanpa pandang bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, Indonesia sedang dan terus-menerus membangun demokrasinya. Gus Dur sudah jauh-jauh hari memperjuangkannya, bahkan ketika rezim Orde Baru berkuasa. Gus Dur yakin, hanya dengan Indonesia yang semakin demokratis, kehidupan berbangsa dan bernegara akan jauh lebih baik dan maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan demokratis yang menjamin kebebasan berpendapat, berkarya, dan bereskpresi, tanpa dihalang-halangi gaya rezim yang otoriter. Falsafah Pancasila menyebutkan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda suku, agama, ras, dan agama tetapi tetap satu, yaitu Indonesia. Indonesia akan tetap eksis jika demokrasi sejati hidup.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7189077824873357787?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7189077824873357787/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/01/gus-dur-dan-penghormatan-atas-perbedaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7189077824873357787'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7189077824873357787'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2012/01/gus-dur-dan-penghormatan-atas-perbedaan.html' title='Gus Dur dan Penghormatan atas Perbedaan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7968112276707852920</id><published>2011-12-14T03:54:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T03:56:10.714-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='filsafat'/><title type='text'>Menjawab Problem Lewat Teori Ideologi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-v7g9cCNfzvk/TuiOzMT548I/AAAAAAAAATY/nEic5HtuwS0/s1600/setelah%2Bmarxisme%2B-%2Bkoekoesan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 129px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-v7g9cCNfzvk/TuiOzMT548I/AAAAAAAAATY/nEic5HtuwS0/s200/setelah%2Bmarxisme%2B-%2Bkoekoesan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685951539684434882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Rabu 14 Desember 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Setelah Marxisme; Sejumlah Teori Ideologi Kontemporer&lt;br /&gt;Penulis : Donny Gahral Adian&lt;br /&gt;Penerbit : Koekoesan, Depok&lt;br /&gt;Tahun : I, Juni 2011&lt;br /&gt;Tebal : vii+173 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara teori-teori ideologi, nama Karl Marx (1818-1883), filosof pembangun pemikiran Marxisme, tidak bisa dilewatkan. Teori ideologi sendiri bermula dari Marxisme, yang kemudian dalam perkembangannya dikritik filosof-filosof belakangan karena dinilai abstrak, terutama yang terkait dengan teori kesadaran palsu yang dibangunnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, ada kesan bahwa teori-teori ideologi kontemporer setelah Marxisme menyudahi dan meninggalkan teori ideologi Marxisme yang melihat ideologi sebagai kesadaran palsu. Buku Donny Gahral Adian, dosen filsafat di Universitas Indonesia (UI), ini memberikan gambaran yang cukup jelas mengenai perkembangan teori-teori ideologi setelah Marxisme dari para filosof seperti Georg Lukacs (1885-1971), Antonio Gramsci (1891-1937), Theodor W Adorno (1903-1969), Louis Althusser (1918-1990), Slavoj Zizek, Terry Eagleton, Jurgen Habermas, Roland Barthes (1915-1980), dan Michel Foucault (1926-1984). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ideologi sendiri, seperti disebutkan di glosarium buku ini, dari bahasa Yunani, idea (ide atau gagasan), dan logos (ilmu pengetahuan tentang sesuatu). Secara harfiah, ideologi merupakan ilmu pengetahuan tentang asal-usul sebuah ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara peyoratif, ideologi dimaknai sebagai teoretisasi atau spekulasi dogmatik dan khayalan kosong yang tidak benar atau palsu. Ideologi sering digunakan untuk menutupi realitas (hlm 163). Marxisme mengawali teori ideologi dengan menyebutnya sebagai kesadaran palsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan, menurut Marxisme, tidak pernah netral. Ia selalu menyimpan kontradiksi, kepentingan kelompok berkuasa atau dominan. Ideologi Marx, menurut Donny, menekankan realitas materi sebagai titik tolak dari ilmu pengetahuan, tapi realitas materi itu juga dipahami sebagai sejarah yang dibuat manusia sehingga mudah diubah dengan aktivitas manusia sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Marx, kesadaran tidak pernah menjadi bentuk lain selain dari eksistensi-eksistensi manusia dalam proses hidup mereka yang sesungguhnya (hlm 16-17). Lukacs, misalnya, sedikit berbeda dengan Marx dalam melihat ideologi. Jika Marx menyebut ideologi sebagai kesadaran palsu, Lukacs melihat kesadaran palsu sebetulnya hanya masalah persepsi atau masalah pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lukacs justru menawarkan ideologi sebagai sebagai solusi bagi masalah tersebut. Menurutnya, struktur masyarakat kapitalis yang irasional memproduksi kebutuhan teori-teori guna menjelaskan kebingungan dan kegilaan yang muncul di permukaan masyarakat kapitalis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gramsci kemudian muncul dengan Teori Hegemoni. Baginya, ideologi tidak hanya tumbuh dan bekerja dalam kelas buruh yang didominasi oleh kelas pemilik modal seperti dikatakan oleh Marxisme, tapi juga dapat berlangsung di setiap aspek kehidupan, mulai dari keluarga, lembaga agama, budaya politik, media massa, dan seterusnya, melalui mekanisme “hegemoni” (hlm 41).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7968112276707852920?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7968112276707852920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/12/menjawab-problem-lewat-teori-ideologi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7968112276707852920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7968112276707852920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/12/menjawab-problem-lewat-teori-ideologi.html' title='Menjawab Problem Lewat Teori Ideologi'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-v7g9cCNfzvk/TuiOzMT548I/AAAAAAAAATY/nEic5HtuwS0/s72-c/setelah%2Bmarxisme%2B-%2Bkoekoesan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7668842332997009793</id><published>2011-12-07T06:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T06:27:24.380-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebangsaan'/><title type='text'>Hilangnya Kesederhanaan Pejabat Negara</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Sinar Harapan, Selasa 6 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan adalah salah satu karakter para pejabat negara yang saat ini hilang. Di tengah persoalan bangsa yang masih membelit, seperti korupsi, khususnya di lembaga-lembaga negara, mereka justru memamerkan gaya hidup mewah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, cukup beralasan jika orang kemudian menaruh curiga terhadap mereka dan bertanya-tanya: dari mana kemewahan itu, yang kerap di luar kewajaran jika dilihat dari ukuran standar penghasilan di lembaga terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara-suara yang menyarankan agar para pejabat negara bergaya hidup sederhana sebenarnya sudah banyak disampaikan. Presiden Yudhoyono, misalnya, kabarnya selalu menginstruksikan para menteri dan jajarannya agar menerapkan pola hidup sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua DPR Marzuki Alie juga mengimbau para anggota DPR agar hidup sederhana, meskipun sebagian dari mereka sebelum menjadi anggota DPR memang sudah kaya. Para ulama, tokoh nasional, tokoh masyarakat, dan masyarakat juga menyarankan agar hidup sederhana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, rupanya, itu tidak mempan. Sebagian memang ada yang sadar, tapi sebagian besar terus saja begitu, tidak peduli kata orang. Kesadaran memang datang dari diri sendiri. Memang hanya orang yang memiliki kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggilah yang cepat tanggap, sigap dan cerdas membaca situasi di sekitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering dengar ungkapan: lebih baik kaya hati daripada kaya harta. Ungkapan itu bukan menafikan orang untuk menjadi kaya, tapi mengingatkan agar kekayaan itu diiringi juga dengan kaya hati, sehingga ia tahu kapan dan bagaimana menyikapi kekayaan yang dimiliki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam agama, mensyukuri karunia Tuhan itu harus. Dikatakan, semakin banyak bersyukur, semakin bertambah karunia itu. Tapi, dalam agama disebutkan juga bahwa syukur itu justru identik dengan memberi, yakni memberikan sebagian karunia yang didapatkan untuk dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada juga disebutkan dalam agama bahwa karunia itu mesti ditampakkan oleh yang menerimanya, karena Tuhan akan senang jika karunia-Nya itu ditampakkan oleh sang penerima karunia. Tapi, ini dalam koridor kesederhanaan, tidak berlebih-lebihan. Tuhan tidak suka dengan orang yang berlebih-lebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggan Belajar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya banyak pejabat negara tidak belajar kesederhanaan dari para nabi atau tokoh-tokoh dunia lainnya seperti Mahatma Gandhi (India), Khomeini (Iran), dan Nelson Mandela (Afrika Selatan). Nabi Muhammad, misalnya, diceritakan pernah ditawari malaikat Jibril berupa gunung yang akan ia jadikan emas. Tapi, beliau menolaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau malah mengatakan, seandainya orang itu diberi satu lembah berisi penuh emas, pasti ia akan meminta lembah kedua; jika ia diberi lembah kedua yang sama, ia pasti akan meminta lembah ketiga; begitu seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Muhammad oleh Michael H Hart, dalam bukunya, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sejarah, ditempatkan di nomor satu. Apa pengaruh beliau bagi umat manusia? Salah satunya adalah kesederhanaan. Beliau pemimpin sederhana dan ini memengaruhi gaya hidup pemimpin-pemimpin Islam setelah beliau, yaitu Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bahkan mengatakan bahwa ia malu apabila mati sebagai orang kaya, kemudian dikubur di sebelah makam Nabi Muhammad dan Abu Bakar yang sepanjang hidupnya diliputi dengan kesederhanaan. Umar dikenal sebagai penguasa besar yang disegani oleh dua imperium besar ketika itu: Romawi dan Persia. Tapi, hingga matinya, dia tidak meninggalkan harta kekayaan melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga melihat banyak miliarder kelas dunia hidup hemat dan sederhana, tidak bermewah-mewah. Warren Buffet disebut majalah Forbes edisi Agustus 2008 sebagai pria terkaya di dunia dengan aset senilai US$ 62 miliar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diwawancara televisi CNBC, Buffet menyatakan ia masih tinggal di rumah sederhana berkamar 3 di Kota Ohama. Ia menempatinya bersama keluarga sejak menikah tahun 1959. Walaupun rumah itu jauh dari kesan mewah, ia mengatakan, “Saya memiliki segalanya di rumah ini.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah jauh-jauh, para pejabat negara itu bisa belajar pada seorang Joko Widodo yang akrab dipanggil Jokowi, Wali Kota Solo, yang hidup sederhana dan begitu merakyat. Kesederhanaan itu sebenarnya indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan dalam karakter, sikap, gaya, dan dalam segala hal adalah hal yang terindah, kata Henry Wadsworth Longfellow (1807-1882), seorang penyair Amerika terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks hubungan antara para pejabat negara dengan rakyat, keindahan itu akan terlihat jelas dengan kedekatan mereka. Para pejabat negara yang hidup sederhana secara tidak langsung sebenarnya tengah mendekatkan jarak dengan rakyat atau merakyat. Kedekatan inilah yang bisa melahirkan cinta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, Nabi Muhammad pernah ditanya seseorang, “Siapakah pemimpin yang paling baik itu?” Ia menjawab, “Pemimpin yang mencintai rakyat dan rakyat pun mencintainya. Pemimpin yang mendoakan rakyat dan rakyat pun mendoakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali ditanya, “Siapakah pemimpin yang buruk itu?” Ia jawab, “Pemimpin yang tidak mencintai rakyat dan rakyat pun tidak mencintainya. Pemimpin yang tidak mendoakan rakyat dan rakyat pun tidak mendoakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat negara yang hidup sederhana pasti akan dicintai rakyat dan dekat dengan rakyat. Kesederhanaan inilah salah satu kunci utama untuk merakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, sangatlah absurd jika para pejabat negara itu berkoar-koar bahwa mereka peduli rakyat, membela kepentingan rakyat, menyampaikan aspirasi rakyat, tapi mempertontonkan kemewahan secara mencolok. Rakyat akan antipati dan menjauh bila ternyata para pejabat negara hidup makin mewah, rakyat hidup makin susah dililit banyak masalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7668842332997009793?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7668842332997009793/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/12/hilangnya-kesederhanaan-pejabat-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7668842332997009793'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7668842332997009793'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/12/hilangnya-kesederhanaan-pejabat-negara.html' title='Hilangnya Kesederhanaan Pejabat Negara'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3368493634967199799</id><published>2011-12-04T05:08:00.001-08:00</published><updated>2011-12-04T05:09:25.788-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Belajar dari Strategi Napoleon</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-W1z0zEfUkuo/Tttw_QPusrI/AAAAAAAAATM/gaYGr9xpeQ4/s1600/napoleon%2B-%2Bkomunitasbambu.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-W1z0zEfUkuo/Tttw_QPusrI/AAAAAAAAATM/gaYGr9xpeQ4/s200/napoleon%2B-%2Bkomunitasbambu.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682259586853024434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 4 Desember 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Napoleon dan Strategi Perang Modern&lt;br /&gt;Penulis : Conrad H Lanza&lt;br /&gt;Penerbit : Komunitas Bambu, Depok&lt;br /&gt;Tahun : I, Februari 2010&lt;br /&gt;Tebal : xxx+207 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama Napoleon Bonaparte dalam catatan sejarah dunia, Eropa khususnya, lebih spesifik lagi Prancis, sudah tidak asing lagi. Pria kelahiran 15 Agustus 1769 ini bukanlah orang asli Prancis, tapi Corsica, Italia. Corsica ini masuk dalam wilayah Prancis 15 bulan sebelum Napoleon lahir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa mudanya, ia seorang nasionalis sejati yang menentang penguasaan Prancis. Tapi, ia masuk akademi militer di Prancis tahun 1779 pada usia 9 tahun dan tamat pada 1785 dalam usia 15 tahun dengan pangkat terakhir sebagai letnan, bergabung dengan militer Prancis, yang kemudian membuatnya merasa sebagai orang Prancis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemenangan demi kemenangan di darat banyak sekali diraih Napoleon, hingga mencapai Moskow tahun 1812 dan menguasainya sebelum kemudian dipukul mundur pasukan gabungan Rusia dan cuaca dingin ekstrem hingga hanya 10% dari total pasukannya yang berhasil keluar Rusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roda sejarah selalu berputar, setelah meraih banyak kemenangan, Napoleon pun akhirnya kalah dan berakhir. Tapi, dunia saat itu dan sekrang mengakui Napoleon sebagai jenderal perang yang jenius dan ahli strategi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku ini mengungkap strategi perang Napoleon hingga banyak menuai kemenangan. Ada 115 Aturan Napoleon yang dipegang sebagai strategi perang di buku ini lengkap dengan komentar di bawahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca 115 Aturan Napoleon ini akan membuat kita mengerti seorang Napoleon di medan perang. Untuk waktu itu, strategi perangnya sangat modern. Ia tahu betul kapan pasukan harus maju, menyerang dan bertahan, juga mengorganisasi, mengelabui dan memata-matai musuh serta cara menghambat pergerakan musuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi Napoleon banyak berhasil di darat. Meskipun ada beberapa strategi yang di laut, tapi itu masih kalah jauh dibandingkan Inggris. Napoleon selalu kalah dari Inggris jika bertempur di laut. Dapat dikatakan, Napoleon memang jagoan darat. Di buku ini sendiri, dari 115 Aturan Napoleon hanya 3 yang terkait dengan strategi di laut, yaitu Aturan 113, 114, dan 115 (hlm. 183-190).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa Aturan Napoleon sudah tidak lagi relevan jika dibandingkan dengan kondisi saat ini ketika persenjataan atau alat-alat perang semakin modern dan canggih dengan efek begitu dahsyat yang ditimbulkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, meski begitu, sejarah dunia tetap mengagumi Napoleon sebagai jenderal hebat dan ahli strategi perang pada masanya. Sebagian orang bisa jadi menyebutnya penjahat perang, tapi sebenarnya tidak sepenuhnya demikian. Perang Napoleon sesungguhnya lebih didorong oleh ambisi yang oportunistis, sebuah kebanggaan dan kejayaan Prancis di dunia, di bawah Napoleon. Kita bisa merasakannya di buku ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3368493634967199799?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3368493634967199799/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/12/belajar-dari-strategi-napoleon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3368493634967199799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3368493634967199799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/12/belajar-dari-strategi-napoleon.html' title='Belajar dari Strategi Napoleon'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-W1z0zEfUkuo/Tttw_QPusrI/AAAAAAAAATM/gaYGr9xpeQ4/s72-c/napoleon%2B-%2Bkomunitasbambu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-1471835338299806214</id><published>2011-11-23T05:30:00.000-08:00</published><updated>2011-11-23T05:31:39.739-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Hayek dan Kritik Terhadap Kolektivisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/--DhDjI5N8CA/Tsz1sX8c_XI/AAAAAAAAATA/VZ5HNnC3WBs/s1600/ancaman%2Bkolektivisme%2B-%2Bfreedom.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/--DhDjI5N8CA/Tsz1sX8c_XI/AAAAAAAAATA/VZ5HNnC3WBs/s200/ancaman%2Bkolektivisme%2B-%2Bfreedom.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678183372897975666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Rabu 23 November 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Ancaman Kolektivisme&lt;br /&gt;Penulis : Friedrich A Hayek&lt;br /&gt;Penerbit : Freedom Institute, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Oktober 2011&lt;br /&gt;Tebal : xii+312 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dunia pemikiran ekonomi-politik liberal klasik, nama Friedrich August Hayek (1899-1992) tidak asing lagi. Dia dikenal sebagai pembela demokrasi, kapitalisme, dan liberalisme di dunia Barat, khususnya di Inggris, pada era 1940-an dan sepanjang dekade 1950-an.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemikiran Hayek saat itu dianggap pinggiran dan dipandang sebelah mata. Namun, zaman terus berputar dan berubah. Pada 1974, Hayek mendapatkan Hadiah Nobel bidang ekonomi yang melambungkan namanya, dan sejak itu pemikirannya mulai banyak diadopsi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku ini merupakan salah satu karya Hayek pada era berjayanya paham kolektivisme atau sosialisme. Edisi aslinya, The Road to Serfdom, terbit 1944. Kritik-kritiknya terhadap paham kolektivisme dalam buku ini begitu tajam dan sistematis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari judulnya, terbaca jelas bahwa paham kolektivisme atau sosialisme, menurut Hayek, membawa kepada perbudakan. Sebuah gambaran manusia yang kehilangan kebebasan individunya. Kebebasan individu (individualisme) inilah yang menjadi ide dasar dari seluruh pemikiran Hayek.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Individualisme yang dimaksud Hayek sama sekali tidak terkait dengan egoisme dan keserakahan. Individualisme adalah penghargaan terhadap manusia sebagai manusia, yakni pengakuan terhadap pandangan dan cita rasa sendiri sebagai hal-hal yang agung di dalam wilayahnya sendiri, betapa pun sempit batas-batas wilayahnya itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Para penganut paham kolektivisme atau sosialisme juga menjanjikan apa yang mereka sebut “kebebasan baru”. Menurut mereka, kedatangan sosialisme akan menjadi lompatan dari dunia pemenuhan kebutuhan ke dunia kebebasan. Sosialisme akan membawa “kebebasan ekonomi” yang tanpanya, kebebasan politik yang sudah didapat “tak bernilai untuk dimiliki”. Hanya sosialisme yang dapat mewujudkan hasil pergumulan yang sudah lama untuk mendapatkan kemerdekaan, yang di dalamnya pencapaian kebebasan politik hanyalah langkah pertama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, menurut Hayek, kebebasan yang mereka maksud sesungguhnya adalah nama lain dari kekuasaan atau kekayaan. Dalam kenyataannya, demikianlah adanya, ketika sosialisme justru melahirkan Fasis di Italia (Mussolini) dan Nazi di Jerman (Hitler). Pada mulanya, mereka adalah orang-orang sosialis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah dunia saat ini sudah berubah. Era kolektivisme atau sosialisme sudah lama berakhir. Di Eropa, selain Jerman, Rusia yang sebelumnya menjadi negara sosialis terbesar di dunia dengan nama Soviet sekarang sudah menjadi negara demokrasi. Hanya beberapa negara, seperti Kuba, yang masih bertahan. Hayek menjadi salah satu tokoh yang mengubah sejarah ini melalui buah pikiran-pikiran liberalnya. Hingga saat ini, buah-buah pikirannya banyak dipelajari dan masih relevan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hayek, seperti dikatakan Rizal Mallarangeng dalam pengantar buku ini, tidak melihat sistem ekonomi, politik, hukum, dan perilaku alamiah manusia, sebagai kotak-kotak yang terpisah. Ia mengaitkan semua itu dalam sebuah pandangan yang menyeluruh dan mengaitkannya dengan satu hal yang menjadi titik tolak pemikirannya, yaitu kebebasan manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-1471835338299806214?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/1471835338299806214/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/hayek-dan-kritik-terhadap-kolektivisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1471835338299806214'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1471835338299806214'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/hayek-dan-kritik-terhadap-kolektivisme.html' title='Hayek dan Kritik Terhadap Kolektivisme'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/--DhDjI5N8CA/Tsz1sX8c_XI/AAAAAAAAATA/VZ5HNnC3WBs/s72-c/ancaman%2Bkolektivisme%2B-%2Bfreedom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-2825954302655237429</id><published>2011-11-20T04:04:00.000-08:00</published><updated>2011-11-20T04:06:01.818-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Cara China Melindungi Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YJxigWaFXmI/TsjtIKFXzTI/AAAAAAAAAS0/JuUQ-FLUu4k/s1600/tembok%2Bbesar%2B-%2Bjulia%2Blovell.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YJxigWaFXmI/TsjtIKFXzTI/AAAAAAAAAS0/JuUQ-FLUu4k/s200/tembok%2Bbesar%2B-%2Bjulia%2Blovell.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5677048054702132530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 20 November 2011 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Tembok Besar, China Melawan Dunia 1000 SM – 2000&lt;br /&gt;Penulis : Julia Lovell&lt;br /&gt;Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Maret 2011 &lt;br /&gt;Tebal : xvi+563 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;China dalam sejarah dunia dikenal sebagai salah satu peradaban besar dan tertua seperti halnya Yunani, Mesopotamia, dan India. Maka bisa dimaklumi jika kemudian saat ini China menjadi kekuatan dunia yang sangat diperhitungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;China hari ini merupakan matarantai dari sejarah China masa lalu yang pernah terpecah dalam beberapa negara/dinasti, saling berperang, yang silih berganti menjadi penguasa, sebelum akhirnya bersatu. Tembok Besar (Great Wall) yang dikenal saat ini, menjadi rangkaian lanjutan dari sejarah tembok-tembok yang dibentuk sebelumnya, jadi saksi bisu bagaimana perjalanan China sepanjang sejarah, terutama bagaimana China berhubungan dengan dunia luar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi Julia Lovell dalam buku ini, tembok itu bukan hanya gambaran warisan besar sejarah China, tapi juga sejarah China dalam berhubungan dengan dunia luar. Letaknya yang kebanyakan di sebelah utara, tempat suku barbar berada, dapat menjelaskan hal ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;China lampau sering mengalami banyak peperangan dengan suku-suku barbar (bangsa Mongol) di utara (luar China), selain berperang dengan bangsa sendiri pada era yang disebut dengan masa negara-negara pecah dan perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan untuk perlindungan itulah ide membuat tembok muncul. Tembok negara pertama dibangun negara Chu sekitar tahun 656 SM. Diteruskan kemudian pada sekitar 300 SM membangun tembok perbatasan oleh negara-negara di utara. Tembok ini tidak panjang terus-menerus tapi merupakan kumpulan tembok-tembok pendek yang mengikuti bentuk pegunungan China utara. Tembok inilah yang kita saksikan saat ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lovell, yang saat ini menjadi dosen sejarah dan literatur China di University of Cambridge, berhasil mengungkap secara detail banyak sekali kisah terfragmentsi terjadi di seputar Tembok Besar. Dengan gaya tutur jurnalis yang mengalir, kaya cerita, dan kepiawaiannya mengolah data sejarah, membawa pembaca ke latar China lampau hingga China modern, dengan tembok-tembok dan cerita-cerita di seputarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembok Besar, secara fisik, merupakan bagian dari lanjutan pembuatan tembok dari masa-masa sebelumnya, mengikuti perkembangan. Secara nonfisik atau metaforis, sejarah tembok China menjadi gambaran China melindungi budaya dan politiknya sekaligus melawan dunia luar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pada masa imperialisme dan sekarang China ‘melawan’ Barat, ini tidak mengherankan. Sejarah tembok China sejak lampau sudah menjelaskannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-2825954302655237429?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/2825954302655237429/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/cara-china-melindungi-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2825954302655237429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2825954302655237429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/cara-china-melindungi-diri.html' title='Cara China Melindungi Diri'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YJxigWaFXmI/TsjtIKFXzTI/AAAAAAAAAS0/JuUQ-FLUu4k/s72-c/tembok%2Bbesar%2B-%2Bjulia%2Blovell.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4298553435428759354</id><published>2011-11-19T03:51:00.000-08:00</published><updated>2011-11-19T03:52:48.805-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Membedah Demokrasi Ala Iran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-yBYseNWPeIM/TseYhnIaBbI/AAAAAAAAASo/wGAJHd1Jw_0/s1600/pos-islamisme%2B-%2Basef%2Bbayat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-yBYseNWPeIM/TseYhnIaBbI/AAAAAAAAASo/wGAJHd1Jw_0/s200/pos-islamisme%2B-%2Basef%2Bbayat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5676673558531147186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Majalah GATRA, 17 – 23 November 2011 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Pos-Islamisme&lt;br /&gt;Penulis : Asef Bayat&lt;br /&gt;Penerbit : LKiS, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal : xviii+432 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tarik-menarik antara kekuatan konservatif dan reformis di Iran pascarevolusi Islam tidak saling meniadakan. Iran menjadi tipe alternatif wajah sebuah negara demokrasi Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusi Islam Iran di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini pada 1979 memelopori gerakan global yang belakangan ini digambarkan sebagai zaman Islam. Islam sebagai kekuatan politik mengubah sistem, struktur, dan produk-produk legislasi negara monarki kuno menjadi teokrasi dengan otoritas tertinggi di tangan Wilayatul Faqih atau para ahli hukum Islam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pascarevolusi Islam, di Iran berlangsung perubahan sosial politik keagamaan, terutama setelah berakhirnya perang melawan Irak (1988), wafatnya Khomeini (1989), dan pertumbuhan ekonomi yang cukup cepat dari hasil penjualan minyak bumi negara itu. Isu-isu seperti demokrasi, toleransi, masyarakat madani (civil society), gender, serta relasi agama dan politik menjadi mainstream. Berbeda dari isu-isu di awal-awal revolusi Islam yang lebih terkonsentrasi pada perubahan sistem pemerintahan baru yang dimulai dari atas ke bawah (top down).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asef Bayat, profesor sosiologi dan pengamat Timur Tengah di Universitas Illinois, mengulas dinamika perubahan yang terjadi di Iran dengan cukup cermat. Terutama ihwal gerakan Islamisme pascarevolusi ke tahap lebih maju, yang disebutnya dengan pos-Islamisme atau Islam reformis, dengan agenda reformasi yang diusung para penganutnya. Pos-Islamisme terus mendapat perlawanan dari gerakan Islamisme konservatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada banyak hal, Bayat membandingkannya dengan gerakan Islamisme di Mesir yang mengambil jalan dari bawah ke atas (bottom-up) untuk mengislamisasi negara. Menurut Bayat, revolusi Islam Iran tidak muncul dari gerakan Islamisme yang kuat, seperti di Mesir dengan Jamaah Islamiyah dan Ikhwanul Muslimin. Dari ketiadaan gerakan Islamisme, revolusi yang telah begitu mengintensifkan proses Islamisasi dari atas ini membawa salah satu gerakan reformasi yang paling mencolok di dunia Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah revolusi Islam, mulai 1980-an, rezim Iran meluncurkan apa yang disebut dengan “revolusi budaya” untuk mengubah pendidikan bangsa. Kampus-kampus yang menawarkan program-program ala Amerika ditutup, kurikulum diubah, fakultas-fakultas non-Islam dihapus, dengan tujuan mencetak insan-insan Islami. Negara, ruang dan masyarakat diislamkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pos-Islamisme kemudian muncul pada era 1990-an dengan mengusung sebuah visi baru tentang masyarakat dan pemerintah. Inti proyek pos-Islamisme, menurut Bayat, terletak pada percampuran cita-cita republikan dan etika-etika agama dengan “demokrasi agama” sebagai misi politiknya. Pos-Islamisme tampak secara kasat mata untuk pertama kali dalam ruang publik kota di Teheran pada 1992 dan meluas ke kota-kota lain. Presiden Rafsanjani pada 1989 mulai mengubah kota tidak lagi berkarakter “kota Islam”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah menariknya pos-Islamisme di Iran. Bayat lebih suka menyebutnya pos-Islamisme, istilah yang barangkali lebih ramah atau santun daripada gerakan Islam liberal. Padahal sebetulnya, ada kemiripan dalam semangat gerakan dan pemikiran di antara keduanya. Ia menegaskan, pos-Islamisme menunjukkan sebuah perubahan dari ideologi Islamis yang universal, eksklusif, dan didominasi kebenaran agama ke arah pandangan inklusif yang menghargai ambiguitas, keterbukaan, pluralitas, dan kompromi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bayat cukup banyak membandingkan kasus Iran dengan Mesir. Dalam buku ini, ia misalnya mengistilahkan kasus di Mesir sebagai “gerakan tanpa revolusi”, dan sebaliknya di Iran: “revolusi tanpa gerakan”. Gerakan Islamisme di Mesir yang cukup kuat di akar rumput tidak berhasil menciptakan revolusi Islam. Sedangkan di Iran, revolusi itu terjadi tanpa gerakan yang terorganisasi seperti di Mesir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih di Mesir gerakan Islamisme tidak berhasil “mengislamkan” negara, di Iran sendiri pos-Islamisme muncul ketika negara berhasil “diislamkan”. Iran menjadi tipe alternatif sebuah negara demokrasi Islam, di mana segala aliran politik, dari yang konservatif hingga reformis, bisa hidup dan bersaing secara demokratis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Republik Islam Iran pada saat ini tidak lagi sepenuhnya seperti diidealkan revolusi Islam. Tapi, pos-Islamisme juga belum bisa sepenuhnya mengubah wajah Iran secara fundamental. Eksistensi Wilayatul Faqih masih terus dijunjung tinggi dan dihormati, meski dinamika sosial, politik, budaya, dan pemikiran begitu cepat berkembang dan berubah. Bahkan pada saat ini, Presiden Ahmadinejad (2005-sekarang) yang berhaluan konservatif sejalan dengan proyek pos-Islamisme.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4298553435428759354?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4298553435428759354/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/membedah-demokrasi-ala-iran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4298553435428759354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4298553435428759354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/membedah-demokrasi-ala-iran.html' title='Membedah Demokrasi Ala Iran'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yBYseNWPeIM/TseYhnIaBbI/AAAAAAAAASo/wGAJHd1Jw_0/s72-c/pos-islamisme%2B-%2Basef%2Bbayat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-1070322498679451298</id><published>2011-11-17T03:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-17T03:34:17.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Kurban, Semangat Kepatuhan dan Kepedulian Sosial</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Majalah HIDAYAH, edisi November 2011 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah berfirman, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj [22]: 37)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap tanggal 10 Dzul Hijjah, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan Idul Adha atau Idul Qurban, dengan menyembelih hewan ternak, seperti unta, sapi, atau kambing, dari tanggal itu hingga akhir hari Tasyrik (11, 12 dan 13). Para ulama sepakat menyatakan bahwa kurban hukumnya sunah mu’akadah (sangat dianjurkan). Tentu saja, hukum ini berlaku bagi orang yang sudah mampu untuk berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebetulnya pesan penting dari ibadah kurban ini bagi kita? Setidaknya ada dua pesan penting yang terkandung dalam ibadah kurban. Pertama, pesan kepada umat Islam untuk patuh kepada Allah, apa pun resikonya. Kedua, pesan kepada umat Islam untuk peduli sosial. Pendek kata, pesan yang pertama berkaitan dengan ibadah ritual (mahdhah) kepada Allah, sementara pesan yang kedua berkaitan dengan ibadah sosial (ghair mahdhah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan kepatuhan atau ibadah itu dapat kita lihat dari sejarah kurban itu sendiri yang dimulai oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, Isma’il. Dikisahkan, Ibrahim pada suatu malam bermimpi diperintahkan Allah untuk menyembelih Isma’il. Esok harinya, Ibrahim menyampaikan mimpi itu kepada Isma’il. Tanpa berpikir panjang, Isma’il langsung bersedia melaksanakan perintah Allah. Bagi Isma’il, kepatuhan terhadap Allah adalah segalanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada waktu yang sudah ditentukan, Isma’il bersama dengan Ibrahim pun pergi ke sebuah tempat yang sekarang disebut Mina. Di situlah, Ibrahim akan mengeksekusi Isma’il. Sebelum sampai di sana, di tengah jalan, mereka dicegat oleh iblis yang menjelma jadi manusia yang menyarankan agar mereka mengurungkan niatnya. Tapi, usaha iblis gagal, meski sudah tiga kali mencegat. Tidak hanya gagal, ia bahkan oleh Ibrahim dan Isma’il dilempari batu hingga lari terbirit-birit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesampainya Ibrahim dan Isma’il di Mina, persiapan penyembelihan pun dilakukan. Isma’il merebahkan tubuhnya di atas batu sambil ditutup matanya dengan kain. Sementara Ibrahim sudah siap dengan pisaunya yang sangat tajam. Namun, ketika persiapan eksekusi sudah benar-benar sempurna, dan pisau sudah menempel di leher Isma’il, Ibrahim tiba-tiba mendengar suara yang memerintahkannya untuk membatalkan penyembelihan itu, dan menggantinya dengan seekor domba (kibas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini menggambarkan kepatuhan total kepada Allah, bahkan jika untuk itu nyawa dikorbankan. Isma’il rela menyerahkan nyawanya untuk dikorbankan demi mematuhi perintah Allah. Ibrahim juga rela mengenyampingkan rasa cintanya kepada buah hatinya demi kepatuhannya kepada Allah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isma’il adalah anak yang lahir dari Hajar, budak Ibrahim yang dinikahinya setelah menerima saran Sarah, istri pertamanya, karena Sarah hingga usia tua belum bisa memberi Ibrahim seorang anak. Bukan main gembiranya ketika Ibrahim memperoleh anak yang kemudian ia namai Isma’il. Tapi, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Ibrahim diperintahkan Allah untuk membawa Hajar dan Isma’il yang masih bayi ke padang sahara yang kini dikenal sebagai Mekah dan meninggalkan mereka di situ. Itu ujian berat bagi Ibrahim. Setelah ujian itu dilalui, ujian berikutnya muncul: Allah menyuruhnya menyembelih Ismail. Ibrahim dan Isma’il sama-sama patuh kepada Allah, dan akhirnya buah dari kepatuhan itu pun manis: Isma’il tidak jadi disembelih, Allah menggantinya dengan kambing kibas, dan mereka berdua kemudian hidup bahagia bersama keluarga di Mekah, hingga turun-temurun sampai pada akhirnya dari garis Isma’il inilah muncul Nabi Muhammad, Rasul terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan sosial dapat kita lihat ketika Allah mengganti Isma’il dengan kambing, kemudian kambing itu disembelih, dan dibagi-bagikan kepada orang-orang. Selain itu, pesan sosial ini dapat kita lihat juga dari tidak jadinya Isma’il disembelih. Ini menunjukkan bahwa Allah sesungguhnya tidaklah tidak kejam. Dengan begitu, Allah ingin mengajari manusia untuk tidak berlaku kejam terhadap sesamanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan menyelamatkan nyawa Isma’il dan menggantinya dengan domba, Allah berarti juga menyuruh manusia untuk menyelamatkan kehidupan manusia, terutama yang kehidupannya tengah terancam. Dengan kata lain, perintah Allah untuk menyembelih Isma’il hanyalah bagian dari proses penegasan Allah tentang tidak bolehnya manusia membunuh kehidupan, tapi untuk menjaga dan melestarikan kehidupan. Dalam bahasa Ali Syari’ati, pemikir modern Islam asal Iran, Allah menyuruh manusia untuk menghargai kehidupan. Penghargaan terhadap kehidupan itu juga dapat kita lihat dari dibagi-bagikannya daging kambing yang jadi ganti Isma’il kepada orang-orang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah pesan kedua berkurban sebagai amal sosial. Amal sosial kurban mengaitkan kurban dengan relasi di antara sesama manusia. Kurban memberikan kebahagiaan, tidak hanya bagi Isma’il yang hampir disembelih, tapi juga bagi umat manusia seluruhnya karena Allah melalui peristiwa tersebut melarang manusia untuk membunuh sesamanya. Manusia juga bahagia karena bisa sama-sama makan daging kurban. Merasakan kebahagiaan yang sama dengan orang lain. &lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan yang paling dicintai Allah setelah amal yang wajib adalah memberikan kebahagiaan kepada orang Muslim.” (HR Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berkurban bukan hanya semata-mata karena mematuhi perintah Allah, namun juga karena orang yang berkurban secara tidak langsung telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Pada hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, apalagi orang itu adalah saudaranya sesama muslim, termasuk amal yang paling Allah cintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan Ali Syari’ati, kurban bukan hanya dilihat dari aspek ibadah, yakni kepatuhan menjalankan perintah Allah, tapi juga dilihat dari aspek sosial, yakni terkait dengan kemanusiaan. Allah, kata Ali Syari’ati, melalui cerita Ibrahim dan Isma’il di atas, memerintahkan kita untuk menghargai kehidupan. Kehidupan manusia harus dihargai dan dihormati, karena itu adalah anugerah Allah yang luar biasa. Karena itu, manusia sudah semestinya mengorientasikan hidupnya untuk membela kehidupan dan menghidupkan kehidupan, sebagai wujud syukur terhadap Allah. Kita dilarang merusak kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berkurban sesungguhnya tidak semata-mata wujud kepatuhan kepada Allah sebagai jalan untuk lebih dekat dengan-Nya, tapi juga wujud kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks bangsa saat ini di mana angka kemiskinan yang sangat tinggi, kepedulian kita digugah, mata kita dibuka, hati kita dicerahkan, telinga kita diperdengarkan alunan kepedihan mereka yang tidak mampu. Kehidupan mereka terancam oleh kekurangan mereka secara ekonomi. Mereka hidup di tempat-tempat yang tidak layak, menunggu dan berharap uluran tangan kita yang bisa membuat mereka bisa bernapas lebih lama lagi. Tidak pantas rasanya tatkala mereka tengah berjuang demi kehidupan, tapi kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang berkurban tidak ikut dibagikan kepada mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melalui kurban, Allah tidak hanya mendidik kita untuk bertakwa pada-Nya melalui kepatuhan, tapi juga mendidik manusia untuk peduli dengan sesamanya, terutama yang ada di sekitar kita. Mudah-mudahan semangat berkurban tidak hanya semangat beribadah mematuhi perintah Allah, tapi juga semangat sosial, yakni kepedulian sosial, semangat membahagiakan sesama. Dengan demikian, kurban kita secara lahir batin lebih bermakna dan bermanfaat. Selamat berkurban, selamat Idul Adha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-1070322498679451298?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/1070322498679451298/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/kurban-semangat-kepatuhan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1070322498679451298'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1070322498679451298'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/kurban-semangat-kepatuhan-dan.html' title='Kurban, Semangat Kepatuhan dan Kepedulian Sosial'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3489322942888219546</id><published>2011-11-13T07:02:00.001-08:00</published><updated>2011-11-13T07:03:10.019-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Lebih Damai Setelah 11 September</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-1gV9rrYMURg/Tr_cJoIsoNI/AAAAAAAAASU/xNTetBnpM1s/s1600/masa%2Bdepan%2Bislam%2B-%2Bmizan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-1gV9rrYMURg/Tr_cJoIsoNI/AAAAAAAAASU/xNTetBnpM1s/s200/masa%2Bdepan%2Bislam%2B-%2Bmizan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674496113460945106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 13 November 2011 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Masa Depan Islam, Antara Tantangan Kemajemukan dan Benturan dengan Barat&lt;br /&gt;Penulis : John L Esposito&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Tahun : I, Desember 2010&lt;br /&gt;Tebal : 343 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Serangan teroris ke gedung kembar WTC pada 11 September 2001 menjadi tragedi kemanusiaan yang selain lekat dalam ingatan juga mengubah geopolitik dan hubungan dunia, terutama hubungan antara Islam dan Barat, serta konstelasi dan dinamika di tubuh Islam dan Barat itu sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, Bush mengumandangkan perang terhadap teroris yang sayangnya dilakukan di dunia muslim, seperti Irak, Afganistan, Pakistan, sehingga dunia Islam menganggap Bush telah mengumandangkan perang terhadap Islam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meningkatnya intensitas teror sebagai ikutan juga makin membuat stigma buruk terhadap Islam semakin besar, terutama di kalangan masyarakat Barat. Teroris adalah Islam, dan Islam adalah teroris. Stigma yang kemudian terus diawetkan melalui media-media Barat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Media-media Barat sendiri menyorot Islam dari satu sisi, tidak melihat sisi yang lain, sehingga yang tersajikan kepada masyarakat Barat adalah fakta terorisme, radikalisme, dan kekerasan umat Islam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Padahal, jika melihat di tubuh masyarakat Islam sendiri sebetulnya beragam, majemuk, terutama dalam menyikapi fenomena terorisme, radikalisme, dan kekerasan di tubuh umat Islam. Bahkan, dalam menyikapi hubungan dengan Barat pun suara di tubuh umat Islam tidak seragam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena, dalam Islam tidak ada otoritas tunggal seperti halnya di Kristen. Secara umum, justru umat Islam melihat Barat bukan sebagai masalah, tapi yang masalah adalah kebijakan politik Barat terhadap dunia Islam yang tidak adil. Inilah yang terutama disorot John L Esposito dalam buku ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Esposito, ada dinamika di dunia Islam yang terus berkembang untuk menciptakan suatu pemahaman keagamaan yang lebih sejuk dan damai, seperti pesan tersirat dari kata Islam itu sendiri yang bermakna damai atau kedamaian, yang berarti anti kekerasan, anti terorisme. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka ingin hidup berdampingan dengan masyarakat Barat, bahkan menjadi bagian dari masyarakat Barat, tanpa menanggalkan identitas mereka sebagai muslim.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Esposito justru mengkritik masyarakat Barat yang terlalu protektif dan serba waspada, kalau tidak malah curiga, terhadap masyarakat muslim di wilayah mereka. Bahkan, terhadap Islam itu sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mereka terlalu khawatir secara perlahan-lahan umat Islam akan mendominasi Barat. Dalam istilah populer, Barat akan berubah menjadi Eurabia, atau tearabkan, terislamkan. Mereka sudah kadung stereotipe terhadap Islam dan umat Islam gara-gara tragedi 11 September.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3489322942888219546?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3489322942888219546/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/lebih-damai-setelah-11-september.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3489322942888219546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3489322942888219546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/lebih-damai-setelah-11-september.html' title='Lebih Damai Setelah 11 September'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-1gV9rrYMURg/Tr_cJoIsoNI/AAAAAAAAASU/xNTetBnpM1s/s72-c/masa%2Bdepan%2Bislam%2B-%2Bmizan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7069051954145096240</id><published>2011-11-07T03:32:00.000-08:00</published><updated>2011-11-07T03:33:13.450-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Membangun Kesalehan</title><content type='html'>Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Investor Daily, Sabtu 5 November 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penyembelihan hewan kurban sudah merupakan peristiwa rutin setiap perayaan Idul Adha. Namun, ada makna terdalam dari peristiwa itu yang kerap dilupakan. Itulah sesungguhnya wujud kesalehan dalam melaksanakan perintah Tuhan, sekaligus kesalehan dalam kehidupan sesama manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kalender hijriah, ini sudah masuk bulan Zulhijah. Itu artinya umat Islam akan merayakan hari raya Idul Adha atau Idul Kurban pada 10 Zulhijah. Sementara itu, berdasarkan kalender nasional, Idul Adha, jatuh pada Minggu (6/11) besok.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada hari raya Idul Adha, kaum muslimin dianjurkan untuk menyembelih binatang kurban bagi yang mampu. Anjuran berkurban ini bermula dari kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah untuk memberikan kurban dengan menyembelih putra terkasihnya yakni Nabi Ismail.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini sebuah perintah yang menimbulkan dilema besar bagi Nabi Ibrahim. Pada satu sisi, Nabi Ibrahim harus melaksanakan perintah Tuhan, tapi pada sisi lain, bagaimana ia menjalankan perintah tersebut dengan harus mengurbankan putranya sendiri, Ismail.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, karena didasari ketakwaan yang kuat, perintah Tuhan pun dilaksanakan. Tapi, seperti dikisahkan dalam Alquran surat al Shaffat ayat 102-109, Nabi Ismail pada akhirnya tidak jadi disembelih dan digantikan dengan seekor domba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesalehan Individual&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kisah pengurbanan Nabi Ismail adalah potret dari kepatuhan yang demikian total dari seorang hamba kepada Tuhannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah melebihi segalanya. Kecintaan Nabi Ibrahim terhadap putra kesayangannya juga tidak bisa diragukan lagi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun, demi sebuah kurban yang diperintahkan Allah, Nabi Ibrahim pun tunduk dan patuh tanpa syarat. Itulah yang kemudian kurban menjadi sebuah kata yang mengandung dimensi spiritual, dimensi teologis, hubungan hamba dan Tuhan, serta ibadah mahdhah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Istilah kurban sendiri diadopsi dari bahasa Arab, qurban, yang berakar dari tiga huruf Arab, yaitu qa-ra-ba yang artinya dekat. Dengan demikian, kata qurban sebenarnya bermakna pendekatan, yakni pendekatan kepada Tuhan dengan melaksanakan perintah-Nya. Karena itu, manusia yang berkurban berarti manusia yang menjalani proses ketataan, disebut juga takwa, dengan melaksanakan perintah Tuhan sepenuh hati, total.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana totalitas kepercayaan dan kepatuhan Nabi Ibrahim kepada Tuhan, hal itu tergambar jelas dari kisah hidup sosok ini. Ibrahim adalah manusia yang sangat taat beragama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibrahim sendiri disebut sebagai penganut agama hanif, yakni agama yang lurus penuh kepasrahan total terhadap Tuhan Yang Maha Esa, agama tauhid, monoteis. Kepasrahan total itu kemudian terwujud ketika ia hendak mengambil risiko sangat berat: menyembelih Ismail. Seorang ayah diperintahkan untuk membunuh anaknya sendiri? Ibrahim, begitu pula Ismail, tidak pernah membangkang terhadap perintah Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keduanya patuh dan pasrah, tanpa protes, karena mereka yakin, Tuhan pasti punya rahasia besar yang ingin diungkapkan-Nya. Kepasrahan dan kepatuhan Ibrahim ini bukan kali pertama. Ibrahim pernah meninggalkan istrinya, Siti Hajar dan Ismail di sebuah padang tandus hanya untuk memenuhi kehendak Tuhan. Ketika Ibrahim hendak pergi meninggalkan mereka, Siti Hajar bertanya, “Wahai Ibrahim, apakah Engkau tinggalkan kami di sini karena kehendakmu, atau karena kehendak Tuhan?” Ibrahim menjawab, “Ini kehendak Tuhan.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah simbol kesalehan dan kepatuhan kepada perintah Tuhan. Ketaatannya total pada perintah Tuhan dan terhadap perintah atau ajaran-ajaran agama. Sang Nabi menjalankan perintah Tuhan tanpa mempertimbangkan untung-rugi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks ini, ada pesan yang teramat dalam, “Berilah kurbanmu, tapi tidak dengan membunuh sesamamu. Selamatkan manusia dari kematian.” Pesan tersirat dari adegan ini yakni bahwa Islam begitu menghargai betapa pentingnya nyawa manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Konteks Sosial&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain sebagai ritual keagamaan, kurban juga mempunyai dimensi kemanusiaan. Bentuk solidaritas kemanusiaan ini termanifestasikan secara jelas dalam pembagian daging kurban kepada fakir-miskin dan kaum duafa lainnya. Karena itu, penyebelihan hewan ternak seperti kambing atau sapi, bukan untuk menunjukkan bahwa seseorang mampu, melainkan bagaimana kepeduliannya kepada orang lain, baik kerabat maupun tetangga, bahkan bisa sampai ke orang-orang yang berada di luar daerah, hingga ke luar negeri, ke tempat-tempat yang lebih membutuhkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dimensi sosial dari penyembelihan hewan kemudian dibagi-bagikan kepada sesama juga selaras dengan makna kurban sendiri, yakni pendekatan. Kurban yang dikaitkan dengan pembagian daging berarti mendekatkan dengan orang lain, mengeratkan ikatan persaudaraan, serta menumbuhkan perasaan empati dan kasih sayang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan membagi-bagikan daging kurban, ada dua hal penting yang tersirat dari sana, yakni silaturahmi dan sedekah. Silaturahmi adalah menyambung tali persaudaraan, mengikat manusia yang berbeda-beda. Tuhan sendiri menyebut manusia itu diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Pengenalan ini perlu pendekatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hakikat silaturahmi adalah mendekatkan diri dengan sesama. Kurban adalah pendekatan. Dengan disyariatkannya kurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita berkurban, karena berkurban adalah bentuk kedekatan, kepatuhan, dan ketaatan kita secara total kepada Tuhan, sekaligus wujud solidaritas kita kepada sesama manusia. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7069051954145096240?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7069051954145096240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/membangun-kesalehan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7069051954145096240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7069051954145096240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/membangun-kesalehan.html' title='Membangun Kesalehan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-9078372033902785710</id><published>2011-11-06T05:36:00.001-08:00</published><updated>2011-11-06T05:37:17.691-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Internet Mengganggu Otak?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-nkxlOTX4WsE/TraNgtoXlDI/AAAAAAAAARk/620nSkGbTAE/s1600/the%2Bshallows%2B-%2Bmizan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-nkxlOTX4WsE/TraNgtoXlDI/AAAAAAAAARk/620nSkGbTAE/s200/the%2Bshallows%2B-%2Bmizan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671876373863961650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 6 November 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : The Shallows&lt;br /&gt;Penulis : Nicholas Carr&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Cetakan : I, Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal : xvi+280 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi para pemerhati perkembangan media, buku Understanding Media: The Extensions of Man (1964) karya Marshall McLuhan selalu menjadi rujukan penting. Inti dari buku ini adalah ramalan, dan yang diramalkannya adalah hilangnya pikiran linear. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;McLuhan menyatakan bahwa ‘media listrik’ abad dua puluh—telepon, radio, film, televisi—akan mengakhiri tirani teks terhadap pikiran dan indra kita. Diri kita yang terpisah dan terpecah, yang berabad-abad terkunci di dalam bacaan cetak partikelir, akan utuh kembali, menyatu ke dalam sebuah desa suku global. Menurut McLuhan, setiap media baru lahir, secara alami orang akan terperangkap di dalam informasi konten yang dibawanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berangkat dari pemikiran buku tersebut, Nicholas Carr menulis tentang dampak internet terhadap otak manusia dalam buku ini. Semua orang barangkali sepakat bahwa internet adalah berkah dunia dan jadi salah satu penemuan paling mengagumkan sepanjang sejarah peradaban manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, penemuan teknologi apa pun itu, tidak terkecuali internet, selalu memiliki dampak negatif yang harus diwaspadai. McLuhan sudah meramalkan akan terjadi perubahan mendasar, terutama pada pikiran manusia, ketika media informasi—salah satunya internet—sudah memerangkap dan menguasai manusia, menguasai budayanya, menguasai alam pikirannya. Sebenarnya tidak hanya media informasi, media teknologi lainnya juga demikian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Carr tidak membual dengan kesimpulan bahwa internet mengubah cara berpikir kita, bahkan mendangkalkannya. Beberapa bukti empiris dan penelitian yang dia sebutkan mengenai hal ini membuktikan dan memperkuatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Carr misalnya menyebut seorang yang tadinya kutu buku dan pintar menulis, setelah asyik tenggelam dalam komputer dan internet cukup lama, tiba-tiba merasakan perubahan drastis. Intensitasnya dalam membaca buku menurun, demikian juga dengan konsentrasinya dalam berpikir dan menulis. Ada perubahan struktur dan jaringan otak ketika berinteraksi dengan internet.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama ratusan tahun, sebagian besar ahli biologi dan ahli saraf tetap percaya bahwa struktur otak orang dewasa tidak pernah berubah. Neuron kita akan menyambung dengan sirkuit di masa anak-anak, saat otak kita masih lentur, dan ketika kita semakin dewasa sirkuit itu akan bersifat tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan dominan itu, otak adalah sesuatu yang menyerupai struktur beton. Setelah dituangkan dan dibentuk ketika masih muda, otak cepat mengeras menjadi bentuk akhirnya. Sewaktu kita berusia dua puluhan, tidak ada lagi neuron baru yang tercipta, tak ada lagi sirkuit yang terbentuk (hlm. 17). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam penelitian-penelitian selanjutnya makin terbukti bahwa struktur otak sesungguhnya lentur. Ahli biologi asal Inggris, J.Z. Young, pada kuliahnya yang disiarkan BBC tahun 1950 berpendapat bahwa struktur otak mungkin saja terus berubah menyesuaikan tugas apa yang dibebankan padanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasil-hasil penelitian selanjutnya, misalnya yang dilakukan oleh Merzenich, peraih gelar doktor di bidang fisiologi dari Johns Hopkins, pada 1968, makin memperkuat pandangan tentang kelenturan otak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, otak tidak hanya lentur, tapi bahkan teramat sangat lentur. Kelenturannya berkurang saat manusia bertambah tua—otak mandek dengan caranya sendiri—namun tidak pernah hilang. Neuron kita selalu memecah hubungan lama dan membentuk hubungan yang baru, dan sel saraf yang benar-benar baru selalu tercipta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Olds, profesor ilmu saraf di George Mason University mengatakan bahwa otak memiliki kemampuan untuk memprogram ulang dirinya sendiri dengan cepat sehingga mengubah fungsinya (hlm. 24).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelenturan otak inilah yang membuatnya dengan begitu mudah terpengaruh internet. Sejak internet ditemukan, yang dalam perkembangan berikutnya muncul search engine, seperti Google dan sejenisnya, arus informasi dari berbagai belahan dunia membanjir di depan kita ketika menghidupkan internet (online). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya informasi yang tadinya verbal, tapi juga nonverbal, misalnya teks tercetak. Kita kenal, misalnya ada perpustakaan online dan e-book yang bisa diunduh tanpa batas. Google sendiri memiliki fitur books yang menampilkan isi ribuan buku di dunia. Otak, di satu sisi, termanjakan dengan itu semua, tapi di sisi lain membuat kemampuannya berpikir secara linear menurun. Carr, misalnya, menyebutkan hasil penelitian tentang orang yang membaca buku tercetak dan yang membaca buku di internet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, membaca buku tercetak lebih fokus daripada buku di internet. Itu karena internet tidak hanya menghadirkan buku, tapi juga yang lainnya, melalui hyperlink informasi di sekitarnya, bahkan di dalam buku itu sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Carr, dengan mengombinasikan berbagai informasi di satu layar, internet semakin memecah isi dan menyita perhatian kita. Satu halaman web mungkin mengandung beberapa potongan teks, video, atau audio yang dapat diputar, seperangkat peralatan navigasi, berbagai iklan dan beberapa aplikasi perangkat lunak atau widget, yang berjalan di layar kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tahu betapa mengganggunya rangsangan yang ramai ini. Penggunaan internet, kata Carr, melibatkan banyak paradoks, namun yang menjanjikan pengaruh jangka panjang terbesar terhadap cara berpikir kita adalah: internet merampas perhatian kita hanya untuk mencecerkannya (hlm. 123). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stimulasi internet, seperti halnya stimulasi kota, bisa jadi menyegarkan dan memberi ilham. Kita tidak ingin melepaskannya. Namun, kata Carr, stimulasi itu melelahkan dan mengganggu (hlm. 234). Internet benar-benar memecah perhatian otak, dan mendangkalkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-9078372033902785710?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/9078372033902785710/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/internet-mengganggu-otak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9078372033902785710'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9078372033902785710'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/11/internet-mengganggu-otak.html' title='Internet Mengganggu Otak?'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-nkxlOTX4WsE/TraNgtoXlDI/AAAAAAAAARk/620nSkGbTAE/s72-c/the%2Bshallows%2B-%2Bmizan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4460433969332928868</id><published>2011-10-29T04:48:00.000-07:00</published><updated>2011-10-29T04:49:42.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Semangat Persatuan Kaum Muda</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Suara Pembaruan, Jumat 28 Oktober 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda, lebih tepatnya sebenarnya Kongres Pemuda yang melahirkan tiga manifesto yang kini lebih populer disebut dengan Sumpah Pemuda, yaitu: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah air Indonesia; kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia; kami poetra dan poetri Indonesia mengjoenjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada yang menyebut peristiwa saat itu (1928) tidak penting, biasa-biasa saja. Tapi, sebetulnya, jika melihat rentang sejarah kebangkitan nasional dari tahun 1920-an, peristiwa itu tetap merupakan mata rantai yang tidak bisa dilihat sebelah mata, karena inti dan semangat dari peristiwa, yaitu persatuan. Sumpah Pemuda adalah semangat persatuan, menyatukan perbedaan dan menegaskan satunya visi kebangsaan, kebahasaan, dan kebertanahairan, mengikat perbedaan dengan persatuan, demi satu misi dan visi bersama, melepaskan belenggu penjajahan, menuju pembebasan sejati, imaji bangsa yang merdeka dan bersatu dalam perbedaan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Begitulah cita-cita para pemuda yang begitu energik, peduli dengan masa depan bangsa yang terjajah bangsa asing. Mereka menemukan kesadarannya, bahwa ada simpul tali persamaan yang baru muncul dan masih muda tapi mulai retak dan pecah. Mereka sadar bahwa mereka retak, pecah, dan hanya dengan mengumpulkan dan menghimpun kembali yang retak dan pecah itulah kekuatan kembali muncul. Sumpah Pemuda menjadi salah satu titik yang menyatukan dan menghimpun kembali energi anak bangsa yang tercecer dan berhamburan, dan menariknya. Dan, itu diprakarsai oleh anak-anak muda, generasi muda. Generasi muda memang selalu memberi harapan masa depan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejarah lahirnya negara dan bangsa Indonesia adalah dari para generasi muda. Orang-orang seperti Sukarno, Hatta, dan Sjahrir, mereka semua anak-anak muda. Mereka generasi-generasi muda yang tersadarkan dengan kondisi bangsanya yang terjajah bangsa asing. Bangsa yang hanya mendapatkan sedikit keuntungan dari sumber daya alam yang sebagian besarnya justru disetor ke negara induk di benua lain. Mereka tergerak, menginginkan agar apa yang dimiliki bangsa ini adalah untuk sendiri, bukan untuk bangsa lain. Mereka berontak, dan memang hanya dengan ‘pemberontakan’ inilah perubahan terjadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi, ‘pemberontakan’ kali itu berbeda dengan ‘pemberontakan’ sebelumnya. Ini bukan pemberontakan fisik yang sudah terbukti selalu kandas dan dapat dipadamkan. Ini adalah ‘pemberontakan’ pemikiran, politik, menggunakan kekuatan otak bukan otot. Generasi muda yang ‘memberontak’ saat itu adalah generasi terdidik dan idealis, dari kelas menengah ke atas atau borjuis, melihat masa depan bangsa dan tanah air tengah dalam cengkeraman dan belenggu asing, dan hanya menjadi sapi perah untuk memakmurkan bangsa asing. Hanya kemerdekaan yang bisa mengubah segalanya. Tapi kemerdekaan bukan sesuatu yang mudah. Jalan menuju ke arahnya sangat terjal. Dalam kondisi anak-anak bangsa yang tercerai-berai, tanpa persatuan, mustahil kemerdekaan bisa didapatkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Persatuan Retak&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Persatuan menjadi kunci utamanya, dan itu perlu kesepakatan bersama, atau setidaknya itu yang harus dilakukan terlebih dahulu. Persatuan itulah yang akhir-akhir ini terasa retak. Persatuan untuk sama-sama berkomitmen serta peduli dengan kondisi dan masa depan bangsa. Bukan kepedulian yang sebatas kecap, tapi kepedulian yang hakiki. Ada gairah untuk berbuat sesuatu bagi bangsa dan negara, seperti yang dilakukan para pendiri dan pejuang bangsa. Mereka sudah memberi yang bisa mereka berikan. Mereka sudah membuat fondasi dan rumahnya. Tinggal memperindah dan mempercantik bangunan rumahnya, mengisinya dengan berbagai kemajuan. Bersatu untuk peduli bangsa, berbuat sesuatu bagi bangsa, terutama di kalangan generasi muda sekarang terasa hilang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Generasi muda saat ini lebih banyak yang tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia hura-hura, dunia senang-senang, menjadi generasi konsumeris dan hedonis, generasi penikmat bukan generasi pembuat, generasi apatis, kritis hanya karena tuntutan keadaan bukan karena idealisme, generasi pragmatis yang merasa cukup dengan pencapaian kesuksesan yang diukur secara materi bukan prestasi, sehingga kritisisme dan idealisme pun mati manakala pragmatisme menyelinap dan menguasainya. Masuk ke partai politik bukan untuk mewujudkan idealisme, tapi malah terbawa pragmatisme partai yang sudah tersistematisasi begitu rupa. Generasi muda yang harusnya membuat perubahan, mengatasi persoalan, justru malah menciptakan persoalan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sumpah Pemuda bisa jadi sekadar pertemuan biasa, tapi semangatnya tetaplah luar biasa untuk konteks saat itu. Mereka menegaskan pentingnya persatuan, mengumandangkan nama bagi sebuah bangsa yang jika nantinya merdeka akan bernama Indonesia. Mereka generasi visioner yang punya tujuan politik ke depan yang jelas. Mereka generasi yang sadar bahwa untuk mencapai itu tidak mudah. Mereka sadar ada proses, dan itu tidak sebentar. Mereka menggalang kekuatan, menyatukan orang-orang terdidik dan melek politik, membuat organisasi-organisasi pergerakan, merumuskan garis ideologi perjuangan yang tegas. Meski beberapa organisasi itu kadang terjadi perbedaan, tapi visi kebangsaan mereka sama: merdeka dan tetap bersatu. Ini semangatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4460433969332928868?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4460433969332928868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/semangat-persatuan-kaum-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4460433969332928868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4460433969332928868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/semangat-persatuan-kaum-muda.html' title='Semangat Persatuan Kaum Muda'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4044075106708974644</id><published>2011-10-28T05:47:00.000-07:00</published><updated>2011-10-28T05:50:21.882-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Gerwani, Korban Politik Rezim Orba</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-obqTcPt3Ih0/Tqqk_dqo_OI/AAAAAAAAARY/YhR_MHpk9lo/s1600/gerwani%2B-%2Bkompas%2B2.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-obqTcPt3Ih0/Tqqk_dqo_OI/AAAAAAAAARY/YhR_MHpk9lo/s200/gerwani%2B-%2Bkompas%2B2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5668524491201379554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Jumat 28 Oktober 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Gerwani, Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan&lt;br /&gt;Penulis : Amurwani Dwi Lestariningsih&lt;br /&gt;Penerbit : Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, September 2011&lt;br /&gt;Tebal : xxviii+300 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah nama yang tidak asing terdengar dalam sejarah Indonesia. Gerakan yang awalnya bersifat sosial, yang terutama bertujuan untuk memajukan kaum perempuan (feminisme), kemudian berubah menjadi politis ketika secara resmi menggabungkan diri dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku karya Amurwani Dwi Lestariningsih ini menguak apa yang terjadi dengan anggota Gerwani pasca peristiwa tragis G30S, setelah sebelumnya mengulas sejarah Gerwani sejak awal berdirinya. Plantungan, nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Plantungan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menjadi saksi bisu nasib anggota Gerwani. Inilah kamp penampungan tahanan politik rezim Orde Baru (Orba), terutama terhadap orang-orang komunis, khususnya anggota-anggota Gerwani.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerwani, seperti diulas di bagian kedua buku ini, pada mulanya berasal dari Gerwis, kependekan dari Gerakan Wanita Indonesia Sedar. Organisasi ini didirikan atas prakarsa S.K. Trimurti bersama beberapa pejuang wanita, teutama yang pernah melakukan gerilya pada Agresi Militer Kedua. Mulanya Gerwis beranggotakan kaum wanita yang sadar akan politik. Organisasi ini adalah fusi dari enam organisasi wanita, yaitu Rukun Puteri Indonesia (Rupindo) dari Semarang, Persatuan Wanita Sedar dari Bandung, Persatuan Wanita Sedar dari Surabaya, Gerakan Wanita Rakyat Indonesia Kediri (Gerwindo), Perjuangan Puteri Republik Indonesia dari Pasuruan, dan Persatuan Wanita Sedar Madura.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keberadaan Gerwis ini bermula dari pertemuan di Surabaya pada 7 Mei 1950. Selanjutnya, hasil kongres pada 3-6 Juni 1950 di antara organisasi itu disepakati pembentukan organisasi baru, yaitu Gerakan Wanita Sedar atau Gerwis. Gerwis berubah nama menjadi Gerwani mulai kongres II Gerwis tahun 1954. Sejak itu, Gerwani resmi menjadi organisasi wanita yang berorientasi pada penggalangan massa seluas-luasnya dan berjuang demi hak-hak wanita dan anak-anak. Pada Pemilu 1955, secara resmi Gerwani menyatakan bergabung dengan PKI karena dua alasan. Pertama, ada peluang anggota Gerwani menjadi anggota legislatif. Kedua, program-program PKI dirasakan seide dengan Gerwani (hlm. 52-53).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerwani kemudian identik dengan PKI, baik secara organisasi maupun keanggotaan. Itulah sebabnya setelah tragedi G30S mencuat, Gerwani menjadi sasaran pembersihan tentara di samping orang-orang PKI sendiri. Berbagai propaganda dilancarkan terhadap anggota Gerwani melalui surat kabar Berita Yudha dan Angkatan Bersendjata. Misalnya, Gerwani diprogandakan begitu sadis menyiksa para jenderal dengan memotong alat vital mereka sebelum dimasukkan ke sumur Lubang Buaya. Hasil otopsi membuktikan tidak ada satu pun bekas sayatan benda tajam di alat vital para jenderal itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anggota Gerwani kemudian diburu dan ditahan di kamp Plantungan dari 1970-1979. Mereka diasingkan, diisolasi, dan dijauhkan dari masyarakat. Beberapa di antara mereka mengalami pelecehan seksual dari oknum petugas, bahkan hingga ada yang sampai hamil. Ketika secara bertahap mulai 1977 mereka dibebaskan pun, kondisi terasing itu tetap mereka rasakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rezim Orba memberlakukan kebijakan diskriminatif dengan memberi mereka cap ET (eks tahanan) pada KTP mereka. Belum lagi stigma negatif yang terus melekat di masyarakat terhadap mereka. Era Orba sudah berlalu. Masyarakat perlu mengetahui sejarah Gerwani yang sesungguhnya. Mereka hanya korban politik sebuah rezim yang menutupi kebenaran sejarah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4044075106708974644?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4044075106708974644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/gerwani-korban-politik-rezim-orba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4044075106708974644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4044075106708974644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/gerwani-korban-politik-rezim-orba.html' title='Gerwani, Korban Politik Rezim Orba'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-obqTcPt3Ih0/Tqqk_dqo_OI/AAAAAAAAARY/YhR_MHpk9lo/s72-c/gerwani%2B-%2Bkompas%2B2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3897961101486513270</id><published>2011-10-20T06:40:00.000-07:00</published><updated>2011-10-20T06:42:59.232-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Militerisme di Bumi Papua</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-rEWRrep0DA8/TqAlLTot4RI/AAAAAAAAARE/Ney9_WNtR4g/s1600/sekuritisasi%2Bpapua%2B-%2Bimparsial.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-rEWRrep0DA8/TqAlLTot4RI/AAAAAAAAARE/Ney9_WNtR4g/s200/sekuritisasi%2Bpapua%2B-%2Bimparsial.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5665569207411925266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Kamis 20 Oktober 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Sekuritisasi Papua, Implikasi Pendekatan Keamanan terhadap Kondisi HAM di Papua&lt;br /&gt;Penulis : Al Araf, Anto Aliabbas, Ardi Manto, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Imparsial, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juni 2011 &lt;br /&gt;Tebal : xxxii+364 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Papua, wilayah Indonesia paling ujung di sebelah timur, seperti tidak pernah sepi dari pergolakan, dalam kadar intensitas dan wujud yang berbeda-beda. Sejak rezim Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba), sampai Orde Reformasi, pergolakan belum terselesaikan secara tuntas. Suara yang menuntut Papua merdeka selalu terdengar, terutama menjelang hari Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang merupakan hasil laporan tim Imparsial ini secara cukup luas mengungkap bagaimana pendekatan keamanan di Papua ini ternyata tidak menyelesaikan masalah, bahkan mengawetkan pergolakan itu, dan pelanggaran Hak-hak Asasi Manusia (HAM). Papua cenderung lebih dilihat sebagai wilayah berbahaya, sehingga harus ditangani dengan model pendekatan itu. Berbahaya, wilayah ini dikhawatirkan lepas dari Indonesia dengan adanya gerakan perlawanan bersenjata yang menuntut kemerdekaan, sehingga mengabaikan pendekatan lebih persuasif non militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran lepasnya Papua bisa jadi cukup beralasan. Dalam sejarahnya, upaya pengembalian Papua (sebelumnya bernama Irian Barat) ke wilayah Indonesia itu sendiri melalui konfrontasi militer dengan Belanda, sebelum akhirnya pada 1 Mei 1963 Papua diserahkan oleh UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) kepada Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, melalui Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) pada 14 Juli hingga 2 Agustus 1969, Papua resmi masuk dalam wilayah Indonesia, yang kemudian dikukuhkan oleh Majelis Umum PBB melalui Resolusi Nomor 2504 dalam sidang 19 November 1969. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara de facto dan de jure, Papua menjadi wilayah Indonesia. Tetapi, tidak serta merta keadaan kemudian berjalan mulus. Tidak semua warga Papua ingin bergabung dengan Indonesia. Mereka inilah yang hingga kini, melalui berbagai cara, baik itu propaganda di dunia internasional, maupun dengan membentuk gerakan-gerakan separatis, seperti OPM (Organisasi Papua Merdeka), terus melakukan perlawanan dan tak kunjung padam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, buku ini tidak menyinggung kemungkinan adanya kepentingan asing yang terus memainkan isu Papua sebagai harga tawar politik-ekonomi dengan Indonesia,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan keamanan atau penggunaan cara-cara militeristik dalam penyelesaian masalah memang selalu punya implikasi buruk berantai yang efeknya sangat luas dan menyisakan luka yang dalam begitu lama. Berbagai pelanggaran HAM, seperti pembunuhan, pemerkosaan, pelecehan seksual, penyiksaan, penghilangan paksa, tindak-tindak kekerasan terhadap warga yang diduga anggota separatis, menjadi warna tragis penanganan Papua, yang justru memukul balik. Gerakan OPM, dengan dalih telah terjadi banyak pelanggaran HAM berat seperti itu, semakin gencar mengampanyekan Papua merdeka ke dunia internasional. Harga yang harus dibayar memang sangat mahal, setidaknya risiko yang harus ditanggung pemerintah Indonesia terlalu besar jika pendekatan militeristik ini terus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah mestinya menempuh jalan lain yang lebih persuasif dan manusiawi. Seperti disebutkan di buku ini, berbagai persoalan Papua harus diselesaikan secara damai, aparat militer di Papua perlu dikurangi, impunitas atas pelanggaran HAM yang terjadi perlu dihilangkan, pengawasan publik dan otoritas sipil perlu ditingkatkan, pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat juga harus lebih diperhatikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, di tubuh militer (TNI) sendiri perlu dilakukan reformasi sehingga kebijakan keamanan di Papua lebih manusiawi, tanpa kekerasan, tanpa represi. Meski terkesan sangat memojokkan militer dengan mengungkap berbagai pelanggaran HAM, buku ini menjadi bahan penting bagi pemerintah sekarang dan selanjutnya untuk tidak melakukan hal yang sama, tidak hanya di Papua, tapi juga di daerah lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3897961101486513270?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3897961101486513270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/militerisme-di-bumi-papua.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3897961101486513270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3897961101486513270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/militerisme-di-bumi-papua.html' title='Militerisme di Bumi Papua'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-rEWRrep0DA8/TqAlLTot4RI/AAAAAAAAARE/Ney9_WNtR4g/s72-c/sekuritisasi%2Bpapua%2B-%2Bimparsial.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-5133085542569810024</id><published>2011-10-16T05:10:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T05:11:50.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Memahami Pluralisme Agama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-yAidu9ipv5E/TprJ_tUs76I/AAAAAAAAAQ4/fXx0zSgRNCw/s1600/satu%2Btuhan%2Bbanyak%2Bagama%2B-%2Bmizan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-yAidu9ipv5E/TprJ_tUs76I/AAAAAAAAAQ4/fXx0zSgRNCw/s200/satu%2Btuhan%2Bbanyak%2Bagama%2B-%2Bmizan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5664061577707188130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Seputar Indonesia, Minggu 16 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme agama hingga kini masih menjadi kajian yang sangat menarik, tidak hanya di tataran wacana, tapi juga di tataran praksis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika kita mencermati kondisi keberagamaan konteks negeri ini, di mana kekerasan suatu kelompok terhadap kelompok lain yang keyakinannya berbeda meski agamanya sama, atau terhadap kelompok penganut agama lain, masih terjadi. Juga tindakan-tindakan intoleransi dan diskriminasi, terutama terhadap umat beragama minoritas,yang membuat hubungan antarumat beragama tidak harmonis dan selalu bermasalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, meskipun agama itu berbeda-beda, sesungguhnya memiliki titik persamaan di ranah transendental yang menyatukan. Pluralisme agama berupaya menjelaskan titik persamaan itu, yakni penyembahan terhadap Tuhan yang sebetulnya sama. Namun, alih-alih, paham ini justru dianggap sesat dan produk asing yang ingin menghancurkan dan mengacaubalaukan keyakinan atau akidah umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masih ingat, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memfatwakan sesat-menyesatkan liberalisme dan pluralisme agama. Padahal, jika kita menoleh ke belakang, pemikiran pluralisme agama sesungguhnya memiliki akar yang kuat dalam tradisi pemikiran Islam, yakni dalam tradisi pemikiran sufisme (mistisisme). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak disebut ‘pluralisme agama’ atau apa yang dalam studi-studi pemikiran Islam disebut dengan ‘wahdatul adyan’ (kesatuan agama-agama), pemikiran-pemikiran itu memberi petunjuk yang terang perihal pluralisme agama. Buku karya Media Zainul Bahri yang diangkat dari disertasi doktoralnya ini mencoba menilik persoalan pluralisme agama atau wahdatul adyan dalam tradisi pemikiran sufisme terutama dari tiga tokoh sufi besar dan ternama: Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Al-Jili. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada cukup banyak buku-buku yang berbicara tentang pemikiran tiga sufi itu, tapi seperti juga diakui Media, tidak banyak yang mengulasnya secara komprehensif. Beberapa di antaranya malah hanya mengulasnya dalam satu bagian. Itu pun terpisah-pisah. Buku ini cukup komprehensif melihat pandangan ketiga tokoh sufi itu, dengan literatur-literatur primer dan sekunder yang relevan dan kaya informasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tajalli (Penampakan) Tuhan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Media, pemikiran pluralisme agama dari ketiga sufi itu antara lain berakar dari konsepsi mereka tentang penampakan Tuhan. Konsep ini sebenarnya hampir umum dikenal dalam pemikiran-pemikiran sufi selain mereka. Konsep tajalli bahkan menjadi keseluruhan bangunan pemikiran Ibnu Arabi dan teorinya. Konsep ini bermula dari pandangan bahwa Tuhan menciptakan alam agar dapat melihat diri- Nya dan memperkenalkan diri- Nya melalui alam. Alam adalah cermin bagi Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui cermin itulah Dia mengenal dan memperkenalkan wajah-Nya. Penampakan atau tajalli adalah proses bahwa Dia menampakkan diri dalam beragam bentuk, pemikiran, dan keyakinan yang tak terbatas. Ibnu Arabi mengatakan, “ Esensi (Sumber) hanya satu, tetapi hukum-hukumnya beraneka. Hal yang demikian itu tidak tampak kecuali bagi orang-orang yang mengetahui.” (halaman 47). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Rumi tentang tajalli Tuhan hampir sama dengan Ibnu Arabi. Beberapa peneliti menyebut Rumi terpengaruh Ibnu Arabi. Menurut Rumi, Tuhan menampakkan diri-Nya pada ribuan cara dan bentuk, serta selalu hadir di setiap saat pada ribuan cara yang berbeda pula (hlm. 180). Menurut Rumi, umat manusia sesungguhnya menyembah Tuhan yang sama, namun kebanyakan mereka lebih condong kepada bentuk-bentuk yang tidak esensial dan sering berselisih karena persoalan itu dan hal-hal lain yang sepele.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumi juga membedakan secara tajam antara bentuk dan makna. Bentuk adalah luar (eksoteris), sementara makna adalah dalam atau hakikat (esoteris). Salah satu syair Rumi menyebutkan: Sampai kapankah engkau akan terpikat bejana? Tinggalkanlah ia: Pergi, airlah yang harus engkau cari! Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan. Jika engkau seorang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang (halaman 189). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jili, seperti dua sufi sebelumnya, juga bicara tentang tajalli Tuhan. Ia juga disebut-sebut terpengaruh pemikiran Ibnu Arabi. Menurutnya, alam semesta secara total adalah hamba (abdi) Tuhan yang diciptakan- Nya dengan natur demikian. Karena itu, tidak satu pun di alam semesta ini yang tidak mengabdi kepada Tuhan. Keyakinan, ritus atau ibadah, dan model-model keberagamaan umat manusia berbeda-beda tak lain karena perbedaan pengaruh nama dan sifat-sifat Tuhan pada makhluk sebagai wadah tajalli-Nya (halaman 258). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Ibnu Arabi, Al- Jilli memandang bahwa hanya ada satu realitas yang sebenarnya. Realitas tunggal itu adalah Wujud Mutlak (Tuhan), yang bebas dari segenap pemikiran, hubungan, arah dan waktu. Buku ini cukup menarik. Sebagai sebuah karya ilmiah,buku ini juga berbobot dan layak menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat wacana pluralisme agama dari akar tradisi pemikiran Islam, yakni dari kaum sufi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, buku ini masih terbuka untuk kritik, karena hakikatnya buku ini juga hasil atau buah dari pembacaan terhadap pemikiran tokoh yang sesungguhnya masih menjadi bahan perdebatan. Tiga sufi itu sama sekali tidak menyebut pemikiran mereka sebagai apa yang kita kenal sekarang dengan pluralisme agama atau ‘wahdatul adyan’, sehingga bisa ditafsirkan bermacam-macam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-5133085542569810024?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/5133085542569810024/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/memahami-pluralisme-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5133085542569810024'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5133085542569810024'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/memahami-pluralisme-agama.html' title='Memahami Pluralisme Agama'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-yAidu9ipv5E/TprJ_tUs76I/AAAAAAAAAQ4/fXx0zSgRNCw/s72-c/satu%2Btuhan%2Bbanyak%2Bagama%2B-%2Bmizan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8461090679455700885</id><published>2011-10-15T05:14:00.001-07:00</published><updated>2011-10-15T05:18:43.042-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Memetakan Politik Indonesia dari Sisi Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-mFAvBxAV2-Y/Tpl5xWm0lVI/AAAAAAAAAQs/_hmWWGBwqR8/s1600/ideologi%2Bislam%2Bdan%2Butopia%2B-%2Blutfhi%2Bassyaukanie.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-mFAvBxAV2-Y/Tpl5xWm0lVI/AAAAAAAAAQs/_hmWWGBwqR8/s200/ideologi%2Bislam%2Bdan%2Butopia%2B-%2Blutfhi%2Bassyaukanie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5663691895184069970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Majalah GATRA, 13 – 19 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Ideologi Islam dan Utopia, Tiga Model Negara Demokrasi di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis : Luthfi Assyaukanie&lt;br /&gt;Penerbit : Freedom Institute, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : Agustus, 2011&lt;br /&gt;Tebal : xviii+331 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disertasi Luthfi Assyaukanie di Universitas Melbourne yang membedah pergulatan pemikiran para pemimpin Islam Indonesia tentang negara dan demokrasi. Melahirkan tiga model negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Polemik seputar hubungan Islam, negara, dan demokrasi telah melahirkan perbedaan pandangan di antara para tokoh Indonesia. Perbedaan pandangan itu bahkan telah memicu pergulatan yang hangat dari masa sebelum kemerdekaan hingga kini. Selain itu, juga memunculkan beberapa kutub yang kemudian dapat dipetakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luthfi Assyaukanie menyajikan pergulatan pemikiran tersebut dalam rentang sejarah Indonesia dikaitkan dengan wacana demokrasi. Buku yang awalnya merupakan disertasi di Universitas Melbourne, Australia, ini berusaha memetakan wujud pergulatan pemikiran itu ke dalam tiga model negara demokrasi. Yaitu negara demokrasi Islam (NDI), negara demokrasi agama (NDA), dan negara demokrasi liberal (NDL). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model NDI diusung terutama oleh Mohammad Natsir, tokoh paling penting “mazhab” ini. Tidak hanya orang pertama yang memperkenalkan istilah negara demokrasi Islam, melainkan juga pemimpin yang paling konsisten mendukung gagasan itu. Tokoh lainnya adalah Zainal Abidin Ahmad, Sjafruddin Prawiranegara, Mohamad Roem, Abu Hanifah, Hamka, dan Mohammad Rasjidi. Mereka semua adalah tokoh Masjumi. Sejumlah kecil pendukung model ini berasal dari Nahdlatul Ulama (NU), seperti Wachid Hasjim, Idham Chalid, Imron Rosjadi, dan Mohammad Dahlan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, penjabaran demokrasi model ini, menurut Luthfi, terletak pada dua prinsip utama. Pertama, negara Islam bukan negara teokrasi. Kedua, negara Islam menentang negara sekuler. Yang pertama berarti bahwa tidak ada penyatuan agama dengan negara di bawah elite negara. Sedangkan pada prinsip kedua tidak ada pemisahan agama dan negara di bawah pemerintahan sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu model NDA secara umum merupakan upaya generasi muda muslim santri untuk membenarkan atau menjustifikasi model pemerintahan rezim Orde Baru (Orba). Beberapa tokoh pendukung model ini oleh Luthfi Assyaukanie dikategorikan sebagai pendukung ataupun penentang (oposisi) Soeharto. Tercatat nama Mohammad Sjafaat Mintaredja dan Abdul Mukti Ali sebagai pendukung model ini yang sekaligus pendukung Soeharto. Sementara itu, dari kalangan oposisi, ada Lukman Harun dan Djarnawi Hadikusumo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan terhadap sekulerisme, yang berakar pada keyakinan muslim bahwa Indonesia adalah negeri religius yang rakyatnya sangat menghargai nilai-nilai agama. Penolakan terhadap sekulerisme adalah prasyarat mutlak untuk membangun model ini. Isu utama yang banyak dibahas dalam model ini adalah soal hubungan agama-negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ketiga, NDL, antara lain diusung para pemikir Islam liberal, misalnya Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tiga tokoh ini dianggap sebagai pemimpin liberal muslim. Peran mereka sangat penting dalam menyebarkan pandangan liberal di kalangan muslim Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fondasi model ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan fondasi model kedua. Perbedaannya, menurut Luthfi Assyaukanie terletak pada cara memandang dan memahami isu hubungan agama-negara. Model kedua sangat menjunjung peran agama dalam negara. Sedangkan model ketiga percaya pentingnya memisahkan dua wilayah itu. Dalam istilah Nurcholis, sekulerisasi. Namun, konsep ini tidak begitu jelas dan banyak orang menolak penerapannya dalam konteks Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemetaan pemikiran Islam dalam tiga model itu, Luthfi ingin menjelaskan tentang model yang ideal untuk Indonesia. Model pertama, menurut dia telah gagal, sebagaimana terbukti lewat pemilihan umum. Partai-partai Islam banyak menuai kekalahan, dan model itu pada saat ini hanya disuarakan sekelompok kecil umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model kedua berjaya selama rezim Orde Baru, tapi mendapat tantangan serius pasca-kejatuhannya. Ada harapan bagi model ketiga untuk mengambil alih, walau, sayangnya, belum sepenuhnya diterima masyarakat. Belum lagi harus menghadapi kelompok radikal yang menentang mereka. Tapi, secara umum, masa depan model ketiga cukup terbuka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8461090679455700885?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8461090679455700885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/memetakan-politik-indonesia-dari-sisi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8461090679455700885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8461090679455700885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/memetakan-politik-indonesia-dari-sisi.html' title='Memetakan Politik Indonesia dari Sisi Islam'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-mFAvBxAV2-Y/Tpl5xWm0lVI/AAAAAAAAAQs/_hmWWGBwqR8/s72-c/ideologi%2Bislam%2Bdan%2Butopia%2B-%2Blutfhi%2Bassyaukanie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-6579806919403036450</id><published>2011-10-13T04:54:00.000-07:00</published><updated>2011-10-13T04:56:06.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Pluralisme dalam Pemikiran Sufisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-hivbrlNILUQ/TpbRxzJAWBI/AAAAAAAAAQg/_Xlzvs52q7Y/s1600/satu%2Btuhan%2Bbanyak%2Bagama%2B-%2Bmizan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-hivbrlNILUQ/TpbRxzJAWBI/AAAAAAAAAQg/_Xlzvs52q7Y/s200/satu%2Btuhan%2Bbanyak%2Bagama%2B-%2Bmizan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5662944234936752146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Kamis 13 Oktober 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Satu Tuhan Banyak Agama&lt;br /&gt;Penulis : Media Zainul Bahri&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Tahun : I, Agustus 2011&lt;br /&gt;Tebal : xvi+536 Halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme agama masih menarik dibicarakan, tidak hanya di tataran wacana (pemikiran), tapi juga di tataran praksis. Jika mencermati kondisi keberagamaan konteks negeri ini, kekerasan suatu kelompok terhadap kelompok lain yang keyakinannya berbeda meski agamanya sama, atau terhadap kelompok penganut agama lain, masih terjadi. Tindakan-tindakan intoleransi dan diskriminasi terutama terhadap umat beragama minoritas juga masih terjadi. Padahal, meskipun agama itu berbeda-beda, tapi sesungguhnya memiliki titik persamaan di ranah transendental yang menyatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pluralisme agama berupaya menjelaskan titik persamaan itu, yakni penyembahan terhadap Tuhan yang sebetulnya sama. Namun, alih-alih, paham ini justru dianggap sesat dan produk asing yang ingin menghancurkan dan mengacau-balaukan keyakinan atau akidah umat beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Media Zainul Bahri yang diangkat dari disertasi doktoralnya ini mencoba menilik persoalan pluralisme agama atau wahdatul adyan dalam tradisi pemikiran sufisme terutama dari tiga tokoh sufi besar dan ternama: Ibnu Arabi, Jalaluddin Rumi, dan Al-Jili. Mereka memang tidak menyebutkan istilah pluralisme agama, bahkan tidak menyebut satu pun istilah wahdatul adyan (kesatuan agama-agama). Namun, dari karya-karya mereka tersirat pesan ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Media, pemikiran pluralisme agama dari ketiga sufi itu antara lain berakar dari konsepsi mereka tentang tajalli (penampakan) Tuhan. Konsep ini sebenarnya hampir umum dikenal dalam pemikiran-pemikiran sufi selain mereka. Konsep tajalli bahkan menjadi keseluruhan bangunan pemikiran Ibnu Arabi dan teorinya. Konsep ini bermula dari pandangan bahwa Tuhan menciptakan alam agar dapat melihat diri-Nya dan memperkenalkan diri-Nya melalui alam. Alam adalah cermin bagi Tuhan. Melalui cermin itulah Dia mengenal dan memperkenalkan wajah-Nya. Tajalli adalah proses bahwa Dia menampakkan diri dalam beragam bentuk, pemikiran, dan keyakinan yang tak terbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Rumi tentang tajalli Tuhan hampir sama dengan Ibnu Arabi. Beberapa peneliti menyebut Rumi terpengaruh Ibnu Arabi. Menurut Rumi, Tuhan menampakkan diri-Nya pada ribuan cara dan bentuk, serta selalu hadir di setiap saat pada ribuan cara yang berbeda pula (hlm 180). Umat manusia sesungguhnya menyembah Tuhan yang sama, namun kebanyakan mereka lebih condong kepada bentuk-bentuk yang tidak esensial dan sering berselisih karena persoalan itu dan hal-hal lain yang sepele. Rumi juga membedakan secara tajam antara bentuk dan makna. Bentuk adalah luar (eksoteris), sementara makna adalah dalam atau hakikat (esoteris).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Jili, seperti dua sufi sebelumnya, juga bicara tentang tajalli Tuhan. Ia juga disebut-sebut terpengaruh pemikiran Ibnu Arabi. Menurutnya, alam semesta secara total adalah hamba (abdi) Tuhan yang diciptakan-Nya dengan natur demikian. Karena itu, tidak satu pun di alam semesta ini yang tidak mengabdi kepada Tuhan. Keyakinan, ritus atau ibadah, dan model-model keberagamaan umat manusia berbeda-beda, tak lain karena perbedaan pengaruh nama dan sifat-sifat Tuhan pada makhluk sebagai wadah tajalli-Nya (hlm 258).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, buku ini mengajak kita untuk melihat perbedaan agama secara bijaksana sehingga menumbuhkan toleransi terhadap agama lain. Karena pada hakikatnya, masing-masing agama menyembah Tuhan yang sama dengan ekspresi atau ritus-ritus penyembahan terhadap Tuhan yang berbeda-beda. Perbedaan itu hanya terletak pada sisi lahiriah (eksoteris), tapi tidak pada sisi batiniah (esoteris). Di titik esoteris inilah semua agama bertemu. Ini mestinya yang menjadi pegangan umat beragama dalam melihat agama lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-6579806919403036450?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/6579806919403036450/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/pluralisme-dalam-pemikiran-sufisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6579806919403036450'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6579806919403036450'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/pluralisme-dalam-pemikiran-sufisme.html' title='Pluralisme dalam Pemikiran Sufisme'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-hivbrlNILUQ/TpbRxzJAWBI/AAAAAAAAAQg/_Xlzvs52q7Y/s72-c/satu%2Btuhan%2Bbanyak%2Bagama%2B-%2Bmizan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-9002537678750899059</id><published>2011-10-09T05:37:00.001-07:00</published><updated>2011-10-09T05:38:29.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Politik Tak Harus Kotor</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-vDX5_u0SvFk/TpGVuoanxvI/AAAAAAAAAQY/MU46SpRxpDg/s1600/berfilsafat%2Bpolitik%2B-%2Bkanisius.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-vDX5_u0SvFk/TpGVuoanxvI/AAAAAAAAAQY/MU46SpRxpDg/s200/berfilsafat%2Bpolitik%2B-%2Bkanisius.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5661470834937022194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 9 Oktober 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Berfilsafat Politik&lt;br /&gt;Penulis : Prof. Dr. E. Armada Riyanto, CM&lt;br /&gt;Penerbit : Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2011&lt;br /&gt;Tebal : 216 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada ungkapan yang tidak asing terdengar, yang menyebutkan bahwa “politik itu kotor”. Ungkapan ini jangan buru-buru diterima begitu saja. Harus dilihat terlebih dahulu hakikat dari politik (politik ideal) dan kenyataan atau fakta politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara hakikat politik dengan kenyataan politik memang sering kali tidak sinkron, bahkan bertolak belakang. Politik menjadi kotor karena tidak mengikuti atau mematuhi politik ideal yang dibangun berdasarkan pemikiran-pemikiran filosofis atau filsafat politik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setidaknya ada empat hal dalam politik yang menyimpang dari politik ideal. Pertama, mengabaikan kepentingan umum. Kedua, mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan. Ketiga, semata-mata mengejar profit dan mendapatkan kekuasaan kemudian mempertahankannya sekuat tenaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, menghalalkan segala cara, hingga melanggar etika-etika politik dan hukum serta norma-norma lain yang berlaku. Politik kemudian menjadi liar, dipraktikkan secara membabi-buta. Bukan kebenaran dan tujuan utama politik yang dikejar, tapi kepentingan pribadi dan golongan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku karya E Armada Riyanto ini ingin mengingatkan kita semua, terutama para pelaku politik praktis, untuk mencermati perilaku politik mereka. Sudahkan praktik-praktik politik itu dibasiskan atau disandarkan pada filsafat politik? Sudahkah prinsip-prinsip politik yang pada hakikatnya bertujuan mulia, yakni untuk mengatur dan mengorganisasi suatu masyarakat demi terciptanya suatu masyarakat yang teratur, hidup makmur, sejahtera, dan aman sentosa? Sudahkah etika-etika politik dipegang kuat-kuat oleh para pelaku politik praktis?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Armada, berfilsafat politik atau berpolitik yang didasari oleh prinsip-prinsip filsafat politik berarti menggagas tata hidup bersama dari sudut makna yang mendalam. Inilah yang sering kali dilupakan para politikus saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memiliki dedikasi tinggi untuk mengelola partainya, memperjuangkan ideologinya, merebut kekuasaan dan mempertahankannya secara terus-menerus, tapi tidak banyak yang menjangkau kiprahnya hingga pada wilayah makna. Akibatnya, mereka terjerumus pada kenaifan politik (hlm. 13). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpolitik pragmatis, tidak filosofis, sehingga hampa dan dangkal. Ada makna-makna terdalam dalam politik yang mestinya ditemukan, karena di situlah sesungguhnya hakikat politik atau politik ideal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika makna politik dilepaskan dari filsafat, menurut Armada, politik akan mudah tercebur ke dalam konflik, persaingan, dan bahkan perang. Logika konflik adalah logika menang kalah. Dalam apa pun bentuk konflik, hidup manusia harus membayar mahal. Dalam bahasa Charles Taylor, berpolitik itu memiliki tujuan menjadikan dunia ini the enchanted world (dunia yang memesona) (hlm. 33).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dunia politik, kata filosof Nietzsche, memang lebih dekat pada kenaifan. Machiavelli malah memasukkan politik ke dalam perkara di luar wajar etika. Politik ada dalam ranah kekuasaan. Siapa menang, berkuasa. Siapa kalah, pecundang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, menurut Armada, apabila kita menyimak Aristoteles, politik merupakan sebuah cetusan aktivitas agung dari makhluk yang bernama manusia. Politik adalah cetusan kesempurnaan kodrat sosialitas, rasionalitas sekaligus moralitas manusia. Kesempurnaan di sini adalah kesempurnaan kemanusiaan. Artinya, tidak manusiawilah manusia bila ia tidak mengintegrasikan dirinya dalam tata kelola hidup bersama. Tata kelola kebersamaan adalah keluhuran keseluruhan kodrat manusia (hlm. 15).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Memanusiawikan manusia adalah tujuan utama dari berpolitik. Para pelaku politik akan bisa mencapai tujuan itu jika ia mampu memahami secara mendalam politiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami politik bukanlah dengan semata-mata berpikir dan merenung saja, tapi terjun langsung ke masyarakat, melihat persoalan yang terjadi sesungguhnya, sehingga politik yang ia praktikkan akan selalu didasari pada tujuan dan kepentingan yang lebih luas, tidak sempit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan yang terjadi di masyarakatlah yang kemudian menjadi bahan pemikiran dan perenungan untuk membangun politik yang lebih rasional dan bermakna. Di sinilah pentingnya berfilsafat politik, agar politik tidak menjadi sia-sia, hampa makna. Sehingga pada gilirannya stigma bahwa politik itu kotor terkikis habis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-9002537678750899059?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/9002537678750899059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/politik-tak-harus-kotor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9002537678750899059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9002537678750899059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/politik-tak-harus-kotor.html' title='Politik Tak Harus Kotor'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-vDX5_u0SvFk/TpGVuoanxvI/AAAAAAAAAQY/MU46SpRxpDg/s72-c/berfilsafat%2Bpolitik%2B-%2Bkanisius.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-5943590180416382397</id><published>2011-10-06T05:31:00.000-07:00</published><updated>2011-10-06T05:35:54.404-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Membangun Kebersamaan dengan Persaudaraan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Majalah HIDAYAH, Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup tidak sendirian. Ada orang lain di sekitar kita. Dari yang paling dekat, yakni keluarga (ayah, ibu, kakak, adik, paman, bibi, kakek, nenek, dan seterusnya), hingga yang jauh, yakni tetangga, orang-orang di lingkungan kita. Sebenarnya, mereka itu bukan orang lain, melainkan saudara kita, hanya jalur kekerabatannya sangat jauh. Kita semua, umat manusia, berasal dari manusia pertama; Adam dan Hawa. Allah berfirman, “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS An-Nisa’: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihat di beberapa ayat Alquran lainnya, Allah menggunakan kata-kata ‘Bani Adam’ yang berarti anak keturunan atau anak cucu Adam. Misalnya, di surah Al-A’raf ayat 26, 27, 31, 35, dan 172; surah Al-Isra’ ayat 70; dan surah Yasin ayat 60. Rasulullah dalam hadisnya mengatakan, “Kalian semua adalah anak keturunan Adam (Bani Adam).” (HR Abu Dawud dari Abu Hurairah). Dalam redaksi lain, “Umat manusia itu adalah anak keturunan Adam (Bani Adam).” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai saudara, Allah mendorong kita untuk intens menjalin dan mempererat silaturahmi. Dalam bahasa Arab, ada dua kata yang dalam bahasa kita maknanya sama, tapi sebenarnya jika ditelisik lebih dalam berbeda. Yakni, kata silaturahmi dan silaturahim. Kata ‘rahmi’ dalam ‘silaturahmi’ merujuk pada ‘rahim’ seorang ibu yang sakit ketika melahirkan. Sementara kata ‘rahim’ dalam ‘silaturahim’ merujuk pada pengertian kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, ‘silaturahmi’ merujuk pada upaya menjalin persaudaraan di antara keluarga yang sedarah, yakni keluarga dekat seperti ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, adik, dan seterusnya. Pendek kata, ‘silaturahmi’ adalah menjalin persaudaraan berdasarkan hubungan darah atau nasab. Sementara ‘silaturahim’ bukan dalam pengertian hubungan darah, tapi hubungan kekeluargaan karena dilatari oleh rasa kasih sayang di dalam diri setiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa baik ‘silaturahmi’ maupun ‘silaturahim’ merujuk pada pengertian yang sama, yakni menjalin persaudaraan, dan kedua kata itu bisa dipakai. Intinya adalah menjalin persaudaraan, baik itu persaudaraan karena alasan senasab atau sedarah, maupun persaudaraan yang lebih luas daripada ini, yakni persaudaraan lintas bangsa, negara, budaya, bahkan agama, dilandasi dengan kesadaran sebagai sesama manusia (persamaan secara biologis atau fisik) dan perasaan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perasaan kasih sayang atau cinta di dalam diri kita melandasi persaudaraan. Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah menyebutkan bahwa mencintai sesama kita, khususnya yang muslim, itu termasuk bagian dari kesempurnaan iman, “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Muslim dari Anas bin Malik)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta di sini adalah cinta karena Allah, bukan cinta karena harta, kedudukan, atau status sosial yang disandang. Alkisah, ada seseorang yang mengunjungi saudaranya di daerah lain. Kemudian, Allah memerintahkan malaikat untuk mengikutinya dalam wujud manusia. Ketika malaikat bertemu dengan orang itu, ia bertanya, “Hendak ke mana engkau?” Orang itu menjawab, “Aku hendak mengunjungi saudaraku di kota itu.” Malaikat bertanya lagi, “Apakah engkau mengunjunginya karena ada keuntungan yang bakal engkau dapatkan?” Ia menjawab, “Tidak ada, hanya saja aku mencintainya karena Allah.” Malaikat itu akhirnya membuka jati dirinya, “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang dikirimkan untuk menemuimu. Aku diperintahkan untuk menyampaikan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR Ahmad dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengunjungi atau bersilaturahmi ke tempat saudara kita atau teman-teman kita dengan landasan cinta karena Allah. Cinta inilah yang membuat Allah mencintai kita. Dengan kata lain, persaudaraan yang kita jalin dengan orang lain hakikatnya diridhai Allah. Allah mencintai kita karenanya. Di dunia Allah mencintai persaudaraan kita, di akhirat nanti—seperti yang Rasulullah sebut dalam hadisnya—termasuk ke dalam golongan orang yang akan dinaungi pada hari yang ketika itu tidak ada naungan selain naungan Allah (HR Bukhari dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengajarkan kita untuk mencintai sesama manusia, terutama sesama muslim. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat mendorong terciptanya suatu masyarakat atau lingkungan sosial yang saling mencintai karena Allah. Islam mengajarkan budaya cinta di tengah-tengah umat manusia. Islam mengajarkan kita untuk menebarkan cinta di antara manusia. Rasulullah sendiri diutus Allah sebagai rahmat, yakni penebar cinta kepada umat manusia. Dalam soal cinta ini, ada etika yang tidak boleh terlewat, yakni memberitahukan kepada saudara yang kita cintai bahwa kita mencintainya karena Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, Rasulullah bersama dengan salah satu sahabatnya berada di suatu tempat. Tidak lama kemudian, seorang sahabat lain lewat di hadapan mereka berdua. Sahabat yang bersama Rasulullah itu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai dia.” “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” tanya beliau. “Belum,” jawab sahabat itu. “Beritahukanlah kepadanya,” balas beliau. Kemudian, sahabat itu pun segera berkata kepada sahabat yang tadi berjalan, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Serta merta, sahabat itu menanggapi, “Semoga Allah mencintaimu karena engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR Abu Dawud dari Anas bin Malik). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cinta, segala perbedaan di antara kita bisa disikapi secara bijaksana. Manusia memang berbeda, tapi itu tidak berarti membuat mereka terpecah belah, saling bermusuhan, saling membenci, dan saling mendengki. Manusia boleh berbeda, tapi ikatan persaudaraan, atau kesadaran bahwa setiap orang itu hakikatnya berasal dari nenek moyang yang sama harus kita kedepankan dan tonjolkan dalam setiap persoalan yang muncul akibat perbedaan. Allah menjelaskan, “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat.” (QS Hud: 118)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah disebutkan, ketika kaum Muhajirin tiba di Madinah, mereka merasa menjadi tamu di negeri orang. Hal itu sedikit banyak membuat mereka merasa tidak enak. Akan tetapi, kaum Anshar di Madinah tidak menganggap mereka sebagai tamu. Justru, mereka menganggap sebagai saudara seiman dan seagama. Rasulullah kemudian mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Di antara yang dipersaudarakan itu adalah Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Rabi’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking melekatnya rasa persaudaraan di antara mereka, sampai-sampai Sa’ad memberikan tawaran kepada Abdurrahman bin Auf, “Apakah engkau mau jika aku membagi harta yang aku miliki sekarang menjadi dua bagian; sebagian untukku dan sebagiannya lagi untukmu? Aku juga punya dua orang istri, apakah engkau mau jika aku menceraikan salah seorang dari mereka, kemudian setelah masa iddahnya selesai engkau bisa menikahinya?” Abdurrahman menolaknya. Ia hanya minta ditunjuki pasar untuk membuka usaha. Ia pun mulai berniaga di situ, dan usahanya sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, kita tengah mengalami krisis persatuan, terutama persatuan di antara sesama muslim, akibat hilangnya rasa persaudaraan di antara kita. Perpecahan terjadi di mana-mana, membuat kita menjadi lemah sehingga mudah diombang-ambingkan oleh mereka yang tidak suka kita bersatu. Rasulullah tidak menginginkan perpecahan di antara kita. Beliau selalu mengingatkan bahwa kita adalah bersaudara. Kita adalah satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Apabila saudara kita sakit, kita ikut merasakan sakit, karena kita satu. Kita perlu membangun kebersamaan dengan persaudaraan. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-5943590180416382397?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/5943590180416382397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/membangun-kebersamaan-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5943590180416382397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5943590180416382397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/membangun-kebersamaan-dengan.html' title='Membangun Kebersamaan dengan Persaudaraan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-1510538057839096648</id><published>2011-10-05T04:38:00.000-07:00</published><updated>2011-10-05T04:40:07.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Kurban, Semangat Kepatuhan dan Kepedulian Sosial</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah berfirman, “Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj [22]: 37)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap tanggal 10 Dzul Hijjah, umat Islam di seluruh penjuru dunia merayakan Idul Adha atau Idul Qurban, dengan menyembelih hewan ternak, seperti unta, sapi, atau kambing, dari tanggal itu hingga akhir hari Tasyrik (11, 12 dan 13). Para ulama sepakat menyatakan bahwa kurban hukumnya sunah mu’akadah (sangat dianjurkan). Tentu saja, hukum ini berlaku bagi orang yang sudah mampu untuk berkurban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebetulnya pesan penting dari ibadah kurban ini bagi kita? Setidaknya ada dua pesan penting yang terkandung dalam ibadah kurban. Pertama, pesan kepada umat Islam untuk patuh kepada Allah, apa pun resikonya. Kedua, pesan kepada umat Islam untuk peduli sosial. Pendek kata, pesan yang pertama berkaitan dengan ibadah ritual (mahdhah) kepada Allah, sementara pesan yang kedua berkaitan dengan ibadah sosial (ghair mahdhah).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan kepatuhan atau ibadah itu dapat kita lihat dari sejarah kurban itu sendiri yang dimulai oleh Nabi Ibrahim dan anaknya, Isma’il. Dikisahkan, Ibrahim pada suatu malam bermimpi diperintahkan Allah untuk menyembelih Isma’il. Esok harinya, Ibrahim menyampaikan mimpi itu kepada Isma’il. Tanpa berpikir panjang, Isma’il langsung bersedia melaksanakan perintah Allah. Bagi Isma’il, kepatuhan terhadap Allah adalah segalanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada waktu yang sudah ditentukan, Isma’il bersama dengan Ibrahim pun pergi ke sebuah tempat yang sekarang disebut Mina. Di situlah, Ibrahim akan mengeksekusi Isma’il. Sebelum sampai di sana, di tengah jalan, mereka dicegat oleh iblis yang menjelma jadi manusia yang menyarankan agar mereka mengurungkan niatnya. Tapi, usaha iblis gagal, meski sudah tiga kali mencegat. Tidak hanya gagal, ia bahkan oleh Ibrahim dan Isma’il dilempari batu hingga lari terbirit-birit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesampainya Ibrahim dan Isma’il di Mina, persiapan penyembelihan pun dilakukan. Isma’il merebahkan tubuhnya di atas batu sambil ditutup matanya dengan kain. Sementara Ibrahim sudah siap dengan pisaunya yang sangat tajam. Namun, ketika persiapan eksekusi sudah benar-benar sempurna, dan pisau sudah menempel di leher Isma’il, Ibrahim tiba-tiba mendengar suara yang memerintahkannya untuk membatalkan penyembelihan itu, dan menggantinya dengan seekor domba (kibas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah ini menggambarkan kepatuhan total kepada Allah, bahkan jika untuk itu nyawa dikorbankan. Isma’il rela menyerahkan nyawanya untuk dikorbankan demi mematuhi perintah Allah. Ibrahim juga rela mengenyampingkan rasa cintanya kepada buah hatinya demi kepatuhannya kepada Allah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isma’il adalah anak yang lahir dari Hajar, budak Ibrahim yang dinikahinya setelah menerima saran Sarah, istri pertamanya, karena Sarah hingga usia tua belum bisa memberi Ibrahim seorang anak. Bukan main gembiranya ketika Ibrahim memperoleh anak yang kemudian ia namai Isma’il. Tapi, kegembiraan itu tidak berlangsung lama. Ibrahim diperintahkan Allah untuk membawa Hajar dan Isma’il yang masih bayi ke padang sahara yang kini dikenal sebagai Mekah dan meninggalkan mereka di situ. Itu ujian berat bagi Ibrahim. Setelah ujian itu dilalui, ujian berikutnya muncul: Allah menyuruhnya menyembelih Ismail. Ibrahim dan Isma’il sama-sama patuh kepada Allah, dan akhirnya buah dari kepatuhan itu pun manis: Isma’il tidak jadi disembelih, Allah menggantinya dengan kambing kibas, dan mereka berdua kemudian hidup bahagia bersama keluarga di Mekah, hingga turun-temurun sampai pada akhirnya dari garis Isma’il inilah muncul Nabi Muhammad, Rasul terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan sosial dapat kita lihat ketika Allah mengganti Isma’il dengan kambing, kemudian kambing itu disembelih, dan dibagi-bagikan kepada orang-orang. Selain itu, pesan sosial ini dapat kita lihat juga dari tidak jadinya Isma’il disembelih. Ini menunjukkan bahwa Allah sesungguhnya tidaklah tidak kejam. Dengan begitu, Allah ingin mengajari manusia untuk tidak berlaku kejam terhadap sesamanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan menyelamatkan nyawa Isma’il dan menggantinya dengan domba, Allah berarti juga menyuruh manusia untuk menyelamatkan kehidupan manusia, terutama yang kehidupannya tengah terancam. Dengan kata lain, perintah Allah untuk menyembelih Isma’il hanyalah bagian dari proses penegasan Allah tentang tidak bolehnya manusia membunuh kehidupan, tapi untuk menjaga dan melestarikan kehidupan. Dalam bahasa Ali Syari’ati, pemikir modern Islam asal Iran, Allah menyuruh manusia untuk menghargai kehidupan. Penghargaan terhadap kehidupan itu juga dapat kita lihat dari dibagi-bagikannya daging kambing yang jadi ganti Isma’il kepada orang-orang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inilah pesan kedua berkurban sebagai amal sosial. Amal sosial kurban mengaitkan kurban dengan relasi di antara sesama manusia. Kurban memberikan kebahagiaan, tidak hanya bagi Isma’il yang hampir disembelih, tapi juga bagi umat manusia seluruhnya karena Allah melalui peristiwa tersebut melarang manusia untuk membunuh sesamanya. Manusia juga bahagia karena bisa sama-sama makan daging kurban. Merasakan kebahagiaan yang sama dengan orang lain. &lt;br /&gt;Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya amal perbuatan yang paling dicintai Allah setelah amal yang wajib adalah memberikan kebahagiaan kepada orang Muslim.” (HR Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, berkurban bukan hanya semata-mata karena mematuhi perintah Allah, namun juga karena orang yang berkurban secara tidak langsung telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Pada hadis di atas, Rasulullah menegaskan bahwa memberikan kebahagiaan kepada orang lain, apalagi orang itu adalah saudaranya sesama muslim, termasuk amal yang paling Allah cintai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti dikatakan Ali Syari’ati, kurban bukan hanya dilihat dari aspek ibadah, yakni kepatuhan menjalankan perintah Allah, tapi juga dilihat dari aspek sosial, yakni terkait dengan kemanusiaan. Allah, kata Ali Syari’ati, melalui cerita Ibrahim dan Isma’il di atas, memerintahkan kita untuk menghargai kehidupan. Kehidupan manusia harus dihargai dan dihormati, karena itu adalah anugerah Allah yang luar biasa. Karena itu, manusia sudah semestinya mengorientasikan hidupnya untuk membela kehidupan dan menghidupkan kehidupan, sebagai wujud syukur terhadap Allah. Kita dilarang merusak kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berkurban sesungguhnya tidak semata-mata wujud kepatuhan kepada Allah sebagai jalan untuk lebih dekat dengan-Nya, tapi juga wujud kepedulian terhadap sesama. Dalam konteks bangsa saat ini di mana angka kemiskinan yang sangat tinggi, kepedulian kita digugah, mata kita dibuka, hati kita dicerahkan, telinga kita diperdengarkan alunan kepedihan mereka yang tidak mampu. Kehidupan mereka terancam oleh kekurangan mereka secara ekonomi. Mereka hidup di tempat-tempat yang tidak layak, menunggu dan berharap uluran tangan kita yang bisa membuat mereka bisa bernapas lebih lama lagi. Tidak pantas rasanya tatkala mereka tengah berjuang demi kehidupan, tapi kebahagiaan dan kegembiraan orang-orang yang berkurban tidak ikut dibagikan kepada mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melalui kurban, Allah tidak hanya mendidik kita untuk bertakwa pada-Nya melalui kepatuhan, tapi juga mendidik manusia untuk peduli dengan sesamanya, terutama yang ada di sekitar kita. Mudah-mudahan semangat berkurban tidak hanya semangat beribadah mematuhi perintah Allah, tapi juga semangat sosial, yakni kepedulian sosial, semangat membahagiakan sesama. Dengan demikian, kurban kita secara lahir batin lebih bermakna dan bermanfaat. Selamat berkurban, selamat Idul Adha.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-1510538057839096648?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/1510538057839096648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/kurban-semangat-kepatuhan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1510538057839096648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1510538057839096648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/kurban-semangat-kepatuhan-dan.html' title='Kurban, Semangat Kepatuhan dan Kepedulian Sosial'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-1452672584088057676</id><published>2011-10-02T05:18:00.000-07:00</published><updated>2011-10-02T05:20:09.464-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Negara di Tengah Pusaran Globalisasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-GY-jsfFNtSE/TohW7dk_umI/AAAAAAAAAP4/cHGxshCQsro/s1600/negara%2Bcenteng%2B-%2Bi%2Bwibowo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 149px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-GY-jsfFNtSE/TohW7dk_umI/AAAAAAAAAP4/cHGxshCQsro/s200/negara%2Bcenteng%2B-%2Bi%2Bwibowo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658868511343098466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 2 Oktober 2011 &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Negara Centeng, Negara dan Saudagar di Era Globalisasi&lt;br /&gt;Penulis : I Wibowo&lt;br /&gt;Penerbit : Kanisius, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2010&lt;br /&gt;Tebal : viii+270 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Globalisasi adalah kenyataan tak terelakkan yang mau tidak mau harus dihadapi umat manusia pada abad ini. Ide dasarnya adalah kebebasan (liberalisme). Bahwa masing-masing individu bebas mengembangkan potensi dan kemampuannya untuk berusaha dan menciptakan sesuatu tanpa dibelenggu oleh berbagai batas yang selama ini menjadi penghalang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya adalah batas negara-bangsa (state-nation). Globalisasi mencoba melenyapkan batas-batas negara, bahkan berusaha melenyapkan negara itu sendiri, demi kebebasan, di dunia yang dalam bahasa Thomas Friedman disebut dengan flat (datar).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ekonomi menjadi kekuatan dominan dalam era globalisasi. Para pelaku ekonomi, yaitu para saudagar, para pelaku ekonomi perusahaan-perusahaan multinasional (MNC/Multinational Corporations), menjadi kekuatan yang daya jangkaunya melewati batas-batas negara, bahkan meminggirkan peran negara, atau meminimalisasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara menjadi tidak berdaya, tunduk di bawah kekuatan mereka. Efeknya sangat dahsyat. Warga yang ada di bawah kekuasaan negara menjadi korban utamanya. Tunduknya negara pada kekuatan ekonomi dunia yang tak tersekat membuat negara kemudian tampil tidak lagi melindungi warganya, tapi melindungi para saudagar itu. Negara menjadi centeng atau satpam untuk menjaga kepentingan ekonomi mereka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku I Wibowo ini mengungkap secara luas bagaimana wajah globalisasi, khususnya dalam bidang ekonomi, telah memberikan efek sangat dahsyat terhadap negara-negara di dunia dan masyarakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, negara dibentuk untuk mengorganisasi dan melindungi masyarakat dalam suatu wilayah tertentu dengan tujuan menciptakan kesejahteraan hidup mereka. Tapi, dalam perkembangan mutakhirnya, atas nama kebebasan, dalam hal ekonomi terutama, globalisasi terjadi, pasar bebas pun terbuka. Mitosnya, pasar bebas bisa menciptakan kesejahteraan warga dunia, karena pasar bebas memungkinkan tersebar dan meratanya keuntungan ekonomi di berbagai belahan dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi, mitos itu dalam kenyataannya harus lebih dahulu berhadapan dengan eksistensi negara yang sudah terbentuk dengan segala perangkat dan sistemnya. Dua kepentingan kemudian berbenturan: kepentingan ekonomi pasar bebas yang dijalankan para saudagar, perusahaan-perusahaan multinasional, di satu sisi menginginkan tidak adanya pembatasan dalam aktivitas ekonominya karena orientasi keuntungan ekonomi yang dikejarnya, dan di sisi lain negara yang berkewajiban untuk melindungi warganya dan menjamin kesejahteraan hidup mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ironisnya, negara tidak memiliki cukup dana untuk itu, sementara para saudagar itu memilikinya, bahkan lebih banyak. Negara tidak bisa membangun tanpa dana yang itu banyak diperoleh dari masuknya para saudagar tadi ke wilayah negara dengan tanaman investasinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam benturan ini, sering kali negara yang kalah. Baik karena terancam akan ditinggalkan para investor, maupun karena tidak kuasa diiming-imingi uang suap. Dua hal ini membuat negara pada akhirnya tunduk dan meladeni kepentingan para saudagar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunduknya negara berarti pesta-pora bagi para saudagar. Sektor-sektor ekonomi negara dikuasai MNC, hingga perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) diprivatisasi. Warga negara yang kemudian menjadi korban utama, karena sektor-sektor ekonomi yang seharusnya melibatkan mereka dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional. Ini terjadi di hampir semua sektor ekonomi, bahkan hingga pasar uang yang efeknya bisa benar-benar menggoyang ekonomi banyak negara, mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan warga terhadap negara seperti musnah, karena negara sudah tidak lagi menjadi pelindung mereka, tapi pelindung atau centeng bagi para saudagar. Kedaulatan negara benar-benar dalam masalah serius.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Peran negara kemudian dipertanyakan. Paling tidak, secara realistis dapat disebut bahwa negara menghadapi tantangan berat. Di satu sisi, negara ditantang untuk bisa melakukan negosiasi dengan kekuatan-kekuatan ekonomi multinasional, di satu sisi negara ditantang untuk tidak mengabaikan peran sejatinya sebagai pelindung dan penjaga kepentingan masyarakatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana negara tetap berwibawa, berdaulat, dan kuat, tidak menjadi centeng kekuatan ekonomi multinasional, tapi justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan masyarakatnya. Menantang para saudagar multinasional tidak harus dengan cara ekstrem menutup atau mengisolasi diri, seperti beberapa negara di Amerika Latin yang tidak mau menerima investor asing. Juga tidak tidak terlalu terbuka hingga menjadi bulan-bulanan dan centeng bagi para saudagar multinasional yang berarti mengorbankan masyarakat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Intinya negara harus kuat jika ingin membendung efek negatif globalisasi terhadap masyarakatnya. Itu berarti negara harus tetap eksis. Negara tidak boleh lenyap karena globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi menjadi modal utama penyokong eksistensi ini. Tapi negara tidak bisa berdiri sendiri. Gerakan global civil society (GSC) bisa menjadi partner di luar negara yang jangkauannya lintas negara untuk menetralisir jejaring kekuasaan globalisasi dengan terus menuntut dilaksanakannya nilai-nilai seperti hak asasi manusia, lingkungan, dan pembangunan, sekaligus menantang struktur ekonomi global baru di bawah WTO, World Bank, dan IMF. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PBB juga bisa mengambil peran untuk menjaga stabilitas dan keadilan dunia. Jika Kenichi Ohmae mengatakan bahwa akibat dari globalisasi adalah The End of the Nation State, maka sekarang orang mulai bicara The Return of the State, karena negara, kata I Wibowo, tetap diperlukan, tapi bukan negara fasis, otoriter, atau komunis. Banyak negara kuat dengan sistem demokrasi bagus, dan berhasil menciptakan welfare state di tengah globalisasi ekonomi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-1452672584088057676?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/1452672584088057676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/negara-di-tengah-pusaran-globalisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1452672584088057676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1452672584088057676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/negara-di-tengah-pusaran-globalisasi.html' title='Negara di Tengah Pusaran Globalisasi'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-GY-jsfFNtSE/TohW7dk_umI/AAAAAAAAAP4/cHGxshCQsro/s72-c/negara%2Bcenteng%2B-%2Bi%2Bwibowo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8966451460317167363</id><published>2011-10-01T05:07:00.000-07:00</published><updated>2011-10-01T05:47:24.667-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Negara dan Globalisasi Ekonomi</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta   &lt;br /&gt;Sinar Harapan, Sabtu 1 Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini zaman globalisasi ekonomi. Ide dasarnya adalah kebebasan (liberalisme). Masing-masing individu ataupun kelompok bebas mengembangkan potensi dan kemampuan untuk berusaha menciptakan sesuatu tanpa dibelenggu oleh berbagai batas yang selama ini menjadi penghalang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi juga mencoba melenyapkan batas-batas yang diciptakan negara, bahkan berusaha melenyapkan negara itu sendiri, demi kebebasan, di dunia yang dalam bahasa Thomas L Friedman disebut dengan flat (datar). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era globalisasi ekonomi, para pelaku ekonomi, yaitu para saudagar, menjadi kekuatan yang daya jangkaunya melewati batas-batas negara, bahkan meminimalkan peran negara. Negara menjadi tidak berdaya, dikebiri perannya, bahkan hingga ditundukkan di bawah kekuatan para saudagar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efeknya cukup dahsyat. Warga atau masyarakat yang ada di bawah kekuasaan negara menjadi korban utamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunduknya negara pada kekuatan ekonomi dunia yang tak terbatasi membuat negara kemudian tampil tidak lagi melindungi warganya, tetapi melindungi para saudagar, yakni para pelaku ekonomi perusahaan-perusahaan multinasional (MNC/multinational corporations). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara, meminjam bahasa I Wibowo (2010), menjadi centeng atau satpam untuk menjaga kepentingan mereka. Globalisasi dalam bidang ekonomi telah memberikan efek dahsyat terhadap negara-negara di dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, negara dibentuk untuk mengorganisasi dan melindungi masyarakat dalam suatu wilayah tertentu dengan tujuan menciptakan kesejahteraan hidup mereka. Namun, dalam perkembangan mutakhirnya, atas nama kebebasan, dalam hal ekonomi terutama, globalisasi terjadi dan pasar bebas pun terbuka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propagandanya, pasar bebas bisa menciptakan kesejahteraan warga dunia, karena pasar bebas memungkinkan tersebar dan meratanya keuntungan ekonomi di berbagai belahan dunia. Akan tetapi, pasar bebas harus lebih dulu berhadapan dengan eksistensi negara yang sudah terbentuk dengan segala perangkat dan sistemnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kepentingan kemudian berbenturan: kepentingan ekonomi pasar bebas yang dijalankan para saudagar, perusahaan-perusahaan multinasional, di satu sisi yang menginginkan tidak adanya pembatasan dalam aktivitas ekonominya karena orientasi keuntungan (profit) ekonomi yang dikejarnya, dan di sisi lain negara yang berkewajiban untuk melindungi warganya dan menjamin kesejahteraan hidup mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya, negara tidak memiliki cukup dana untuk itu, sementara para saudagar memilikinya, bahkan lebih banyak. Negara tidak bisa membangun tanpa dana yang banyak diperoleh dari masuknya para saudagar itu ke wilayah negara dengan investasinya yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benturan ini, sering kali negara yang kalah. Baik karena terancam akan ditinggalkan para investor, maupun karena tidak kuasa diiming-imingi uang suap. Dua hal itu membuat negara pada akhirnya tunduk dan meladeni kepentingan para saudagar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunduknya negara berarti pesta-pora bagi para saudagar. Sektor-sektor ekonomi negara dikuasai MNC. Warga negara yang kemudian menjadi korban utama, karena sektor-sektor ekonomi yang seharusnya melibatkan mereka dikuasai perusahaan-perusahaan multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini terjadi di hampir semua sektor ekonomi. Pergerakannya bahkan sudah merambah pasar uang, yang efeknya bisa benar-benar menggoyang ekonomi banyak negara, mengakibatkan terjadinya krisis ekonomi global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan warga terhadap negara seperti musnah, karena negara sudah tidak lagi menjadi pelindung mereka, tetapi pelindung atau centeng bagi para saudagar. Kedaulatan negara benar-benar dalam masalah serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran negara kemudian dipertanyakan. Paling tidak, bagi para pembela negara, negara menghadapi tantangan berat. Di satu sisi, negara ditantang untuk bisa bernegosiasi dengan kekuatan-kekuatan ekonomi multinasional, di sisi lain negara ditantang untuk tidak mengabaikan peran sejatinya sebagai pelindung dan penjaga kepentingan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana caranya negara tetap berwibawa, berdaulat, dan kuat, tidak menjadi centeng kekuatan ekonomi multinasional, tetapi justru memanfaatkan mereka untuk kepentingan masyarakatnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menantang para saudagar multinasional tidak harus dengan cara ekstrem dengan cara menutup atau mengisolasi diri, dan tidak mau menerima investor asing. Pemerintah juga tidak perlu terlalu terbuka hingga menjadi centeng bagi para saudagar multinasional itu, yang berarti mengorbankan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya negara harus kuat jika ingin membendung efek negatif globalisasi bagi warga negara. Itu berarti negara harus tetap ada dan bertahan. Negara tidak boleh lenyap karena globalisasi. Demokrasi tetap menjadi modal utama penyokong eksistensi ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun negara tidak bisa berdiri sendiri. Menurut I Wibowo (2010), gerakan global civil society (GSC) bisa menjadi partner di luar negara yang jangkauannya lintas negara untuk menetralkan jejaring kekuasaan globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dilakukan dengan terus menuntut dilaksanakannya nilai-nilai seperti hak asasi manusia, lingkungan, dan pembangunan, sekaligus menantang struktur ekonomi global baru di bawah WTO (World Trade Organization), World Bank, dan IMF (International Monetary Fund). PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) juga bisa mengambil peran untuk menjaga stabilitas dan keadilan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenichi Ohmae mengatakan, globalisasi akan mengakibatkan hilangnya peran negara (the end of the nation state). Namun, nyatanya hingga detik ini negara di dunia masih tetap ada dan bertahan, tidak ada yang bubar gara-gara globalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, posisi tawar negara sebenarnya masih kuat. Ini mestinya bisa digunakan sebagai senjata negosiasi negara melawan globalisasi yang membuat masyarakat menderita, tidak terlindungi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8966451460317167363?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8966451460317167363/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/negara-dan-globalisasi-ekonomi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8966451460317167363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8966451460317167363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/10/negara-dan-globalisasi-ekonomi.html' title='Negara dan Globalisasi Ekonomi'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3816166974516176469</id><published>2011-09-30T04:57:00.000-07:00</published><updated>2011-10-01T05:49:17.610-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mengikat Perbedaan dengan Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-qOPxIwASy7w/TocMRHH9MmI/AAAAAAAAAPQ/NRFw8Z_9Awk/s1600/pelangi%2Bmelbourne%2B-%2Bkompas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-qOPxIwASy7w/TocMRHH9MmI/AAAAAAAAAPQ/NRFw8Z_9Awk/s200/pelangi%2Bmelbourne%2B-%2Bkompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658504944924045922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Pelangi Melbourne, Dua Dunia Satu Cinta&lt;br /&gt;Penulis : Zuhairi Misrawi&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2011&lt;br /&gt;Tebal : viii+552 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perbedaan bangsa, budaya, bahkan agama bukanlah penghalang bagi manusia untuk menjalin hubungan dan saling bekerjasama dengan sesama. Inilah yang coba dinarasikan Zuhairi Misrawi dalam buku novel pertamanya ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novel ini berkisah tentang seorang pemuda Indonesia bernama Zaki Mubarak yang berangkat ke Melbourne, Australia, untuk belajar kursus bahasa Inggris selama enam bulan. Melbourne dikenal sebagai kota multikultural dengan tata kota, sarana-sarana transportasi, sarana-sarana belajar dan pengelolaan pemerintah setempat yang sangat baik dan modern. Di sini ada Universitas Melbourne yang sangat terkenal kualitas pendidikannya. Di tempat kursus inilah, Zaki yang beragama Islam bertemu dengan seorang perempuan asal Korea Selatan yang beragama Kristen Katolik, bernama Diana Lee, yang juga sama-sama kursus. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keramahan dan kecerdasan Diana membuat Zaki seketika jatuh hati. Ternyata, Diana juga memiliki perasaan yang sama. Zaki, yang dalam novel ini digambarkan sebagai seorang yang intelek, berwawasan luas, beretika tinggi, lulusan pesantren dan aktivis sebuah LSM di Jakarta, benar-benar membuat Diana kesengsem. Tidak perlu waktu lama, mereka pun menjalin cinta. Tapi, berbeda dengan cinta yang lazim dilakukan anak-anak muda dewasa ini yang serba permisif dan bebas hingga kelewat batas, cinta Zaki dan Diana dibangun dengan tujuan yang luhur, untuk kemajuan bersama, meraih cita-cita untuk masa depan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjalanan cinta mereka diisi dengan hal-hal positif, produktif dan konstruktif, seperti mendiskusikan masalah sosial, politik, budaya, hingga agama. Mereka saling melengkapi kekurangan masing-masing dalam proses belajar dan berbagi pengetahuan dan wawasan, di sela-sela mereka makan bersama, nonton bersama, liburan bersama dan ketika waktu istirahat kursus. Perpustakaan menjadi tempat favorit mereka untuk berdiskusi dan belajar bersama. Itu berlangsung hingga mereka lulus kursus dengan nilai yang baik, yang memungkinkan mereka bisa melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi: kuliah S-2 di Universitas Melbourne.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selama di Melbourne, hampir tidak ada masalah yang dikhawatirkan dalam menjalin hubungan cinta, meskipun Zaki dan Diana berbeda bangsa dan agama. Kekhawatiran baru muncul ketika Zaki harus menceritakan kisah cinta dan keinginannya untuk menikahi Diana, kepada keluarganya; ibunya terutama. Mulanya, ibu Zaki kaget, tapi kemudian meminta pertimbangan kepada seorang ahli agama bernama Kiai Mustajab yang menurut ibu Zaki sangat mengerti agama sekaligus bijaksana. Menurut Kiai Mustajab, Alquran membolehkan nikah beda agama. Ibu Zaki pun ikhlas menerima kenyataan itu, bahkan merestui Zaki, karena ia menyadari barangkali ini sudah suratan takdir Tuhan yang tidak bisa ditolak. Tapi, berbeda dengan ibunya, paman dan bibi Zaki menentang keras bahkan melakukan propaganda negatif kepada orang-orang yang membuat ibu dan Zaki harus migrasi ke tempat lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cinta Zaki dan Diana berujung manis. Mereka benar-benar menikah di Melbourne setelah masing-masing mereka dipastikan mendapatkan beasiswa untuk kuliah S-2 di Universitas Melbourne, meski konsentrasi studi mereka berbeda. Zaki konsentrasi di studi sejarah agama, sementara Diana di studi antropologi. Bulan madu mereka habiskan di Jerusalem, kota yang sangat dihormati dan dimuliakan tiga agama: Yahudi, Kristen dan Islam, sebelum mereka berdua memulai masa perkuliahan. Jerusalem menjadi kota simbol perekat tiga agama yang berbeda. Di Jerusalem sendiri, toleransi umat tiga agama itu begitu hidup. Berbeda dengan pihak-pihak di luar Jerusalem yang terlibat konflik politik dengan mengatasnamakan agama demi memperebutkan Jerusalem. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novel ini juga menyertakan kisah dua muda-mudi Arab Saudi bernama Ahmad dan Raudha, teman kursus Zaki dan Diana, yang juga saling jatuh hati, tapi kandas karena perbedaan klan meski beragama dan berbangsa sama. Novel ini menarik. Alur ceritanya mengalir, meski sedikit tertangkap kesan tidak cair bahasanya. Konflik yang dibangun juga tidak tereksplorasi secara mendetail. Ini bisa dilihat ketika paman dan bibi Zaki menentang rencana Zaki menikahi Diana. Di sini, konflik yang ditampilkan tidak melibatkan Zaki secara langsung, tapi lewat ibunya. Hal lainnya, ada kesan janggal ketika Diana diceritakan tidak begitu tahu perihal Google, mesin pencari di dunia maya, sehingga Zaki menjelaskannya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesan novel ini jelas, tentang perbedaan agama, bangsa dan budaya yang diikat dengan cinta suci dan tulus. Tidak banyak orang seperti Zaki, seorang muslim yang mendapatkan istri beda agama dan bangsa, tapi berhasil menjalaninya dengan baik. Di negeri ini, nikah beda agama masih jadi kontroversi di kalangan agamawan. Di sinilah Zuhairi menegaskan pemikirannya: perbedaan itu seperti pelangi, warna-warni, begitu indah, apalagi jika diikat dengan cinta. Dalam bahasa agama, perbedaan itu rahmat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3816166974516176469?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3816166974516176469/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/mengikat-perbedaan-dengan-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3816166974516176469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3816166974516176469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/mengikat-perbedaan-dengan-cinta.html' title='Mengikat Perbedaan dengan Cinta'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-qOPxIwASy7w/TocMRHH9MmI/AAAAAAAAAPQ/NRFw8Z_9Awk/s72-c/pelangi%2Bmelbourne%2B-%2Bkompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8651783231137116628</id><published>2011-09-25T05:29:00.000-07:00</published><updated>2011-09-25T05:30:09.887-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Pramono, Truf SBY 2014?</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Duta Masyarakat, Senin 11 Juli 2011   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pangkostrad Letjen Pramono Edhie Wibowo, yang juga adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), karena ia adalah adik kandung dari istri SBY, akhirnya resmi menjabat sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) yang baru menggantikan George Toisutta setelah dilantik Presiden di istana pada akhir Juni lalu. Persiapan estafet kekuasaan untuk Pramono pada 2014?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramono untuk 2014&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengangkatan Pramono sebagai KSAD oleh banyak pengamat politik dinilai sebagai bentuk persiapan SBY untuk ‘mengestafetkan’ kekuasaan kepadanya. Maksudnya, Pramono dipersiapkan SBY untuk melanjutkan kekuasaannya dari lingkaran keluarga besarnya, karena SBY sudah tidak bisa maju lagi pada pemilu 2014. Terlalu dini memang untuk melihat Pramono bakal maju dalam capres 2014, meneruskan SBY. Namun, persiapan memang butuh waktu yang tidak sebentar. Ancang-ancang sudah harus dilakukan secepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramono adalah putra Letjen (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, adik kandung Ny Kristiani Herawati Yudhoyono atau Ibu Ani, istri SBY. Ia menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD (Kopassus) sejak 1 Juli 2008 hingga 4 Desember 2009. Kemudian menjadi Pangkostrad hingga 2010. Lulusan AKABRI tahun 1980 ini juga dikenal sebagai ajudan Presiden Megawati. Ketika menjabat sebagai Pangkostrad, Pramono memegang kendali atas 33 batalyon dengan sekitar 30 ribu pasukan yang menyebar di Indonesia. Ini satuan tempur terbesar di negeri ini yang bisa digerakkan setiap saat. Dengan kekuatan seperti itu, tampaknya, posisi Pangkostrad sangat penting dalam mengamankan negara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kans Pramono untuk maju jadi capres 2014, dari lingkaran keluarga SBY, terbilang cukup besar. Di lingkaran ini sebetulnya ada tiga orang lagi yang disebut-sebut juga memiliki kans, yakni Ibu Ani, Agus Harimurti Yudhoyono (putra sulung SBY), dan Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas (putra bungsu SBY). Dari tiga orang ini, Ibu Ani yang paling berpeluang, karena kedua anaknya masih muda. Ibas, meskipun pada pemilu legislatif 2009 lalu menjadi peraup suara terbanyak se-Indonesia dibanding calon-calon legislatif lainnya, ia dianggap masih perlu banyak belajar politik praktis, selain tentu saja ‘tidak sopan’ melangkahi Ibu dan kakaknya, Agus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus sendiri oleh banyak pengamat masih terlalu berat ikut Capres 2014, dan hampir mustahil. Untuk saat ini, Agus lebih suka mengikuti jejak ayahnya dahulu, di jalur militer, berkarier sebagai prajurit TNI AD. Sempat ada spekulasi menyebutkan, Agus ini nantinya akan dipaksakan ikut pada Pilpres 2019 dengan asumsi bahwa pada tahun itu pangkat Agus adalah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) seperti Pramono saat ini. Sembari memberi kesempatan kepada Ibunya untuk maju di 2014. Namun, pengamat banyak meragukan ia secepat itu menjadi KSAD, karena paling tidak pada tahun itu pangkatnya mungkin baru Letnan Kolonel (Letkol), kecuali nasib berkata lain. Bukankah dalam politik segalanya menjadi mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok Pramono sebagai KSAD seakan-akan menjadi kartu truf baru SBY. Apalagi jika penegasan SBY beberapa waktu lalu benar bahwa dirinya tidak akan memajukan Ibu Ani dan anak-anaknya pada pemilu 2014. Sangat mustahil bahwa selengsernya SBY, ia benar-benar melepas kekuasaannya, tanpa ada penerus dari keluarganya. Untuk 2014 bisa jadi Ibu Ani dan anak-anaknya tidak dipersiapkan, namun apakah benar bahwa seiring berakhirnya kekuasaan SBY berarti berakhir pula aktivitas politik keluarganya? SBY seorang militer yang berpolitik dan sukses menjadi Presiden dua periode. Dari perspektif ini, bisa jadi wajar jika Pramono kemudian menjadi kartu truf SBY. Tetap tidak menutup kemungkinan Ibu Ani juga bisa dipersiapkan, walaupun SBY menegaskan tidak akan mempersiapkan keluarganya. Perkembangan politik bisa saja berubah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pramono dan Citra Demokrat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sah-sah saja jika SBY menyiapkan calon khusus sebagai penggantinya dari kalangan keluarganya, seperti juga sahnya orang-orang tertentu dipersiapkan secara khusus oleh partai-partai politik untuk masa depan. Andai pun Pramono memang benar-benar disiapkan SBY, itu juga tidak serta merta menjamin elektabilitas Pramono tinggi. Apalagi jika melihat kondisi faktual saat ini, terutama di internal Demokrat, partai binaan SBY, yang pastinya akan SBY gunakan sebagai kendaraan politik untuk mengusung Pramono nantinya, tengah mengalami masalah berat. Beberapa kader penting Demokrat sedang menghadapi masalah hukum karena dugaan korupsi, meski belum ditetapkan sebagai tersangka, kecuali Nazaruddin, mantan bendahara Demokrat yang bahkan diminta Presiden untuk segera ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, itu merusak citra dan reputasi Partai Demokrat. Dan jika memang benar partai ini menyiapkan Pramono, sementara kondisinya seperti itu, Pramono akan terkena imbasnya. Pramono sebenarnya orang profesional dengan karir militer yang cukup cemerlang. Akan sangat disayangkan jika ia diusung oleh partai yang karena banyak terbelit masalah serius reputasinya turun dan rusak. Jika Demokrat tidak segera berbenah, memperbaiki citranya yang sekarang ini turun, Pramono akan melalui jalan terjal dan sulit, tersandera citra buruk Demokrat. Sementara pada saat yang sama, calon-calon lain yang diprediksi akan maju sebagai capres relatif melenggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu 2014 tinggal tiga tahun lagi. Diprediksi, akan banyak bermunculan wajah-wajah baru dari berbagai kalangan; politisi, militer, akademisi, tokoh masyarakat, dan pengusaha. Beberapa nama baru yang diprediksi bakal maju antara lain, Sutiyoso, Prabowo Subianto, Surya Paloh, Aburizal Bakrie, Sri Mulyani, dan bisa jadi Mahfud MD, Pramono Anung, atau Yuddy Chrisnandi. Tinggal menunggu waktunya nanti kendaraan apa yang mengusung mereka, seberapa besar dukungan untuk mereka, atau seberapa populer mereka di mata publik.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8651783231137116628?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8651783231137116628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/pramono-truf-sby-2014.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8651783231137116628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8651783231137116628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/pramono-truf-sby-2014.html' title='Pramono, Truf SBY 2014?'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-392643572279618073</id><published>2011-09-20T05:26:00.000-07:00</published><updated>2011-09-20T05:28:03.367-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>Tragedi 30S di Mata Geerken</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-rDNBOlp0WD0/TniGx9jh26I/AAAAAAAAANk/YhPC1LeTQsc/s1600/A%2BMagic%2BGecko.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-rDNBOlp0WD0/TniGx9jh26I/AAAAAAAAANk/YhPC1LeTQsc/s200/A%2BMagic%2BGecko.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5654417525058952098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Rabu 20 September 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : A Magic Gecko, Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno&lt;br /&gt;Penulis : Horst Henry Geerken&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, 2011&lt;br /&gt;Tebal : xvi+408 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhir bulan September, dalam sejarah Indonesia, memiliki makna tersendiri. Pada 1965, di akhir bulan itu (30/9), tragedi politik yang menewaskan enam jenderal terbaik bangsa ini terjadi. Hingga saat ini peristiwa itu masih gelap. Siapa sesungguhnya yang menjadi dalang utama tragedi itu? Komunis (PKI)? Amerika Serikat (AS)/Central Intelligence Agency (CIA)? Tentara AD? Puluhan tahun kemudian sejak peristiwa itu terjadi, AS membuka sebagian dokumen rahasia CIA dan memublikasikannya. Salah satu dokumen itu menyebutkan peran CIA.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Horst Henry Geerken dalam bukunya menegaskan peran besar CIA dalam tragedi itu. Geerken adalah seorang Jerman yang bekerja pada sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman yang menempati Indonesia. Ia datang pertama kali ke Jakarta tahun 1963 dan tinggal cukup lama di Indonesia, melanglang buana ke beberapa daerah di Indonesia hingga 1981.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku ini adalah catatan Geerken sepanjang berada di Indonesia dalam kurun itu, yang antara lain merasakan dan melihat bagaimana situasi menegangkan ketika itu dan peristiwa-peristiwa pembersihan orang-orang komunis setelahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Geerken, AS dengan CIA-nya sejak berakhir Perang Korea 1953, mulai memperhatikan Indonesia yang kaya minyak bumi. Ada kepentingan ekonomi yang coba dijaga AS. Pengalaman Vietnam yang ikut blok komunis China tidak ingin terulang. Presiden AS ketika itu, Eisenhower, menggelontorkan dana cukup banyak untuk menghalangi Indonesia ikut blok komunis. Gelagat itu terlihat ketika Soekarno begitu mesra dengan komunis (PKI) yang dekat dengan poros Moskwa dan Peking (China). Tidak ada pilihan bagi Eisenhower selain menyingkirkan Soekarno.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbagai cara dilakukan untuk tujuan itu. Mulai dari mendanai dan memasok persenjataan untuk para pemberontak (PRRI-Permesta) di Sumatra dan pemberontak di Sulawesi, memengaruhi jenderal-jenderal AD untuk membelot dari Soekarno, hingga melakukan operasi intelijen CIA yang mengembuskan isu adanya Dewan Jenderal antikomunis yang akan mengudeta Soekarno.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isu kudeta yang kemudian direspons Letnan Kolonel (Letkol) Untung, Kepala Tjakrabirawa, pasukan penjaga istana presiden, dengan menangkapi dan membunuh para jenderal yang diduga sebagai anggota Dewan Jenderal. Tapi, karena ulah Untung inilah Soeharto memburunya serta menghabisi PKI dan simpatisannya di akar rumput setelah itu. Ribuan orang PKI di daerah-daerah dibunuh. Selebihnya dibuang ke Pulau Buru.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tragedi 30S menjadi titik awal jatuhnya Soekarno, yang berarti keuntungan bagi AS yang memang berkepentingan terhadap Indonesia sejak lama. Dalam rangka pembersihan orang-orang komunis pun AS memberikan bantuan besar-besaran, antara lain bantuan dalam bentuk peralatan komunikasi untuk memudahkan pembersihan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari peran yang dimainkan AS dan keinginannya untuk menyingkirkan komunis di bumi Indonesia, yang berarti juga menyingkirkan Soekarno karena dekat dengan komunis, kemudian ikut mendanai proses pembersihan orang-orang komunis, terlihat jelas betapa besarnya peran AS. Perpecahan di tubuh tentara AD, dengan adanya dua kubu: pro dan kontra Soekarno, makin memudahkan AS untuk mewujudkan keinginannya menyingkirkan Soekarno. AS memetik keuntungan dalam hal ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku Geerken ini, sayangnya, tidak cukup banyak mengemukakan fakta-fakta baru yang lebih jelas perihal keterlibatan CIA. Karena memang buku ini hanya catatan hidup seorang Geerken selama di Indonesia yang secara kebetulan berada dalam periode tragis sejarah Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-392643572279618073?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/392643572279618073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/tragedi-30s-di-mata-geerken.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/392643572279618073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/392643572279618073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/tragedi-30s-di-mata-geerken.html' title='Tragedi 30S di Mata Geerken'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-rDNBOlp0WD0/TniGx9jh26I/AAAAAAAAANk/YhPC1LeTQsc/s72-c/A%2BMagic%2BGecko.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-2983982689666889144</id><published>2011-09-18T06:03:00.000-07:00</published><updated>2011-09-18T06:05:37.222-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Memosisikan Sri Mulyani</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-06K0vfxsm4s/TnXskrJbSQI/AAAAAAAAANc/KsbXwXx-E20/s1600/mengapa%2Bsri%2Bmulyani%2B-%2Belexmedia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-06K0vfxsm4s/TnXskrJbSQI/AAAAAAAAANc/KsbXwXx-E20/s200/mengapa%2Bsri%2Bmulyani%2B-%2Belexmedia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5653685022035233026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 18 September 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Mengapa Sri Mulyani? Menyibak Tabir Bank Century&lt;br /&gt;Penulis : Steve Susanto&lt;br /&gt;Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, 2010&lt;br /&gt;Halaman : xv+202 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama Sri Mulyani belakangan ini mencuat lagi ke permukaan setelah Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) yang masih berjuang untuk bisa ikut pemilu 2014 memastikan akan mengusungnya sebagai calon presiden untuk pemilu 2014. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, namanya mencuat ketika ramai-ramai kasus dana talangan (bail out) Bank Century dipersoalkan Pansus DPR yang membuat Sri Mulyani akhirnya mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Menteri Keuangan (Menkeu), namun kemudian diberi kepercayaan oleh pihak World Bank (Bank Dunia) sebagai Managing Director di situ hingga saat ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mencuatnya nama Sri Mulyani mendapat banyak tanggapan dari para pengamat dan politisi. Secara umum, para pengamat tidak meragukan kemampuannya secara intelektual. Hanya saja, ia dianggap masih terganjal atau terkait dengan kasus Century. Ini yang jadi ganjalan utama Sri Mulyani jika ia nantinya maju dalam pemilu 2014. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebetulnya posisi Sri Mulyani dalam kasus Century ini? Apakah ia bersalah? Secara hukum, tidak ada ketetapan hukum dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang menyebut Sri Mulyani bersalah dan melakukan korupsi dalam kasus ini. Semua mengakui ini. Tapi, politik selalu bicara lain. Ini masalahnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku Mengapa Sri Mulyani? Menyibak Tabir Bank Century karya Steve Susanto ini menjadi salah satu bahan penting untuk melihat Sri Mulyani dalam pusaran kasus Bank Century secara lebih adil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve melihat bahwa Sri Mulyani adalah seorang jenius dan berintegritas tinggi serta tokoh penyelamat negara dari terpaan krisis ekonomi 2008, tapi kemudian disudutkan sedemikian rupa, serta menjadi ‘korban’ atau ‘dikorbankan’, melalui deal-deal politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani mengundurkan diri, bukan sekadar karena alasan ada tawaran sebagai Managing Director di World Bank, tapi juga karena deal-deal politik para koboi senayan saat itu. Dalam sebuah pernyataannya, Sri Mulyani mengatakan bahwa mestinya seorang pemimpin tidak mengorbankan anak buahnya sendiri. Sri Mulyani menyadari dirinya ‘korban politik’.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sri Mulyani memang bukan seorang politikus, tapi seorang ekonom profesional jenius yang bahkan oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai wanita ke-23 di dunia yang paling berpengaruh pada 2008, dan oleh majalah Globe Asia dinobatkan sebagai wanita ke-2 paling berpengaruh di Indonesia pada 2007. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di World Bank sendiri, dialah wanita pertama Indonesia yang menduduki jabatan prestisius, yakni bertanggung jawab atas operasional ekonomi di tiga kawasan: Amerika Latin dan Karibia; Timur Tengah dan Afrika Utara; serta Asia Timur dan Pasifik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dalam negeri, sudah banyak reformasi yang dilakukan Sri Mulyani, terutama di lingkungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Ditjen Pajak, selain kontribusi besarnya dalam menyelamatkan Indonesia dari krisis 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-2983982689666889144?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/2983982689666889144/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/memosisikan-sri-mulyani.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2983982689666889144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2983982689666889144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/memosisikan-sri-mulyani.html' title='Memosisikan Sri Mulyani'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-06K0vfxsm4s/TnXskrJbSQI/AAAAAAAAANc/KsbXwXx-E20/s72-c/mengapa%2Bsri%2Bmulyani%2B-%2Belexmedia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-2285734061951517664</id><published>2011-09-12T06:36:00.001-07:00</published><updated>2011-09-12T06:37:53.421-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Berjuang Demi Harga Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-H3phgfsrni0/Tm4LINRPWGI/AAAAAAAAANU/uLEyjB5DJqs/s1600/perang%2Bmakassar%2B1669%2B-%2Bkompas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-H3phgfsrni0/Tm4LINRPWGI/AAAAAAAAANU/uLEyjB5DJqs/s200/perang%2Bmakassar%2B1669%2B-%2Bkompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651466818025379938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Kompas, Minggu 11 September 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Perang Makassar 1669; Prahara Benteng Somba Opu&lt;br /&gt;Penulis : SM Noor&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Buku Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2011&lt;br /&gt;Tebal : liv+216 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagi kami, prajurit Gowa, tanggung jawab itu yang harus kami tegakkan. Tanggung jawab terhadap kehormatan dan harga diri.” Ucapan I Makkuruni, perwira muda dari Kampung Bira, menggambarkan dengan jelas sikap prajurit Kerajaan Butta Gowa (Makassar) terhadap VOC pada abad XVII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat juang prajurit Kerajaan Gowa inilah yang yang coba digambarkan dalam novel sejarah karya SM Noor ini. Dalam novel ini disebutkan ada tiga peperangan Kerajaan Gowa dengan VOC di laut yang semuanya dimenangkan oleh Kerajaan Gowa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, konfrontasi di laut Bonerate di bawah pimpinan perwira muda, I Makkuruni dari Bira. Dikisahkan, dalam konfrontasi ini lima kapal VOC tenggelam, sebaliknya dari pihak Gowa hanya satu kapal. Perang ini diangkat sebagai prolog novel untuk memperkenalkan salah satu tokoh utamanya, I Makkuruni, sebagai pahlawan perang yang mengantarkannya menjadi orang penting Kerajaan Gowa. Novel ini juga dibumbui dengan kisah saling mengagumi antara I Makkuruni dan putri Raja Gowa, I Patimang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, perang di laut Massalembo di bawah pimpinan Karaeng Issong dan I Makkuruni. Perang ini sebenarnya adalah penyergapan terhadap kapal-kapal VOC pimpinan Kolonel Van Den Lubbers. Pasukan VOC membawa banyak meriam dan amunisi ke Fort Rotterdam di Jumpandang (Ujungpandang). Menurut laporan intelijen Gowa, VOC mempunyai rencana besar untuk menyerang benteng Somba Opu. Alasan lainnya adalah Lubbers ini merupakan pembantai puluhan penduduk pulau Liukang yang menolak membayar pajak. Penduduk Liukang masih setia terhadap Kerajaan Gowa dan tidak mau tunduk kepada VOC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyergapan berhasil dan berhasil dan Lubbers tewas. Padahal, di lingkungan keluarga Kerajaan Gowa, praktis hanya beberapa orang yang mengetahui ada rencana penyergapan ini. Semacam misi rahasia, bahkan raja pun tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan VOC&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perang ketiga adalah perang di Laut Banda. Perang ini dipicu oleh kemarahan VOC di Batavia akibat penyergapan Kerajaan Gowa atas kapal-kapal VOC di Massalembo yang dianggap sebagai deklarasi perang terhadap VOC. Apalagi setelah mengetahui bahwa Lubbers tewas. Dalam perang ini VOC dipimpin oleh Admiral John Van Dam yang memiliki reputasi tangguh dan pengalaman yang banyak dalam perang-perang melawan Kerajaan Gowa di laut. Karena keberadaan Van Dam inilah, pasukan Gowa mengikutsertakan meriam keramat andalan Kerajaan Gowa bernama “Anak Makassar” buatan para arsitek Prancis yang sangat ditakuti VOC karena ketepatan bidikan dan efek yang ditimbulkannya terhadap sasaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, Raja Gowa keberatan mengizinkan meriam ini dibawa serta, karena meriam ini adalah tameng utama Somba Opu. Dalam perang ini, Karaeng Intang, Panglima Perang Kerajaan Gowa, menjadi komandan utama, sementara wakilnya adalah Karaeng Issong, sang putra raja.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perang di laut Banda lebih dahsyat daripada perang sebelumnya. Dengan kekuatan 10.000 prajurit dan 250 kapal, Kerajaan Gowa melawan VOC yang dibantu oleh Kerajaan Bone, Buton, dan Ambon yang memang berhasrat ingin menghancurkan Kerajaan Gowa. Pasukan VOC dan kompanyonnya berjumlah 300 buah kapal dan lebih dari 10.000 prajurit. Dengan sangat dramatis, SM Noor menggambarkan perang di laut Banda ini. Di bawah guyuran hujan deras di Laut Banda, gelombang laut yang besar dan angin yang kencang disertai halilintar dan suara guntur di langit bersahut-sahutan, tembakan-tembakan meriam, denting suara bayonet dan pedang beradu, suara-suara ledakan, lengking jerit kematian, dan kesakitan, terdengar bersahutan. Perang dahsyat di Laut Banda akhirnya dimenangi Kerajaan Gowa, meski salah satu komandan terbaiknya, I Memang, gugur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novel sejarah ini menarik, tetapi sayangnya melewatkan bagian penting, di antaranya tidak memberi ulasan memadai perihal perjanjian Bungaya atau Bongaya pada 18 November 1667 antara VOC dan Gowa. Perjanjian ini merupakan “deklarasi kekalahan” Gowa dari VOC dan pengesahan monopoli perdagangan oleh VOC. Selain itu, Sultan Hasanuddin juga tidak terlalu banyak ditampilkan. Tercatat, hanya tiga kesempatan ia ditampilkan. Pertama, ketika ia menerima I Makkuruni di istananya. Kedua, ketika prajurit meminta izin kepadanya agar meriam “Anak Makassar” ikut dibawa serta dalam perang di Laut Banda. Ketiga, saat ia menerima putranya, I Maninroe, yang menyerahkan sebilah badik dan selembar padompe milik I Memang yang gugur di laut Banda. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Novel sejarah ini sejatinya ingin mengangkat perihal kesetiaan dan pengabdian serta spirit para prajurit Kerajaan Gowa demi menjaga harga diri dan kehormatan kerajaan untuk terus melawan VOC meski situasi Gowa sudah cukup terjepit akibat perjanjian Bungaya. Ini soal harga diri, seperti dikatakan oleh I Makkuruni kepada I Patimang beberapa hari sebelum pasukan berangkat ke laut Banda. Inilah juga pesan terakhir I Memang sebelum ia mengembuskan napas terakhirnya dalam perang di laut Banda untuk disampaikan kepada Karaeng Sombangku, Raja Gowa: Hamba begitu bangga dengan pengabdian hamba ini. Katakanlah kepada Karaeng Sombangku Yang Mulia bahwa hamba bangga mati mempertaruhkan harga diri dan martabat Karaeng Sombangku dan keluarga beliau (h. 212).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-2285734061951517664?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/2285734061951517664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/berjuang-demi-harga-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2285734061951517664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2285734061951517664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/berjuang-demi-harga-diri.html' title='Berjuang Demi Harga Diri'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-H3phgfsrni0/Tm4LINRPWGI/AAAAAAAAANU/uLEyjB5DJqs/s72-c/perang%2Bmakassar%2B1669%2B-%2Bkompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-6377021894384241339</id><published>2011-09-11T06:00:00.000-07:00</published><updated>2011-09-11T06:01:51.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mengkritisi Budaya Komunikasi dan Media</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-EaLFSh_fkhA/TmyxNZu-g1I/AAAAAAAAANM/Xi9djTLl9zo/s1600/kritik%2Bbudaya%2Bkomunikasi%2B-%2Bjalasustra.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-EaLFSh_fkhA/TmyxNZu-g1I/AAAAAAAAANM/Xi9djTLl9zo/s200/kritik%2Bbudaya%2Bkomunikasi%2B-%2Bjalasustra.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5651086476247466834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 11 September 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Kritik Budaya Komunikasi; Budaya, Media, dan Gaya Hidup dalam Proses Demokratisasi di Indonesia&lt;br /&gt;Penulis : Idi Subandy Ibrahim&lt;br /&gt;Penerbit : Jalasustra, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal : xviii+376 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Media massa, khususnya elektronik seperti televisi, memiliki peran yang sangat vital dalam mempengaruhi, mengubah, atau bahkan membentuk dan menciptakan budaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran yang sesungguhnya sangat diharapkan bisa membangun budaya yang sehat. Namun, sayangnya, media justru mengambil jalan lain, tidak seperti yang diharapkan. Media lebih mementingkan dirinya sendiri, mengabaikan peran vitalnya. Di titik inilah, kritik terhadap media perlu dilakukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku Idi Subandy Ibrahim ini berupaya menghidupkan sikap kritis terhadap budaya komunikasi dan media dalam konteks perjalanan demokratisasi bangsa ini sekarang. Kritik seperti ini sangat diperlukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sikap kritis, media alih-alih berperan menjadi pembangun, justru menjadi perusak bangsa. Douglas Kellner (1995), seperti dikutip Idi, mengatakan budaya media telah muncul dalam bentuk citra, bunyi, dan tontonan yang membantu membangun struktur kehidupan sehari-hari, mendominasi waktu luang, membentuk pandangan politik, dan perilaku sosial, serta menyediakan bahan bagi kita untuk membangun identitas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Idi, ada dua corak budaya komunikasi dan media yang menonjol berlangsung dalam proses demokratisasi di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, budaya media yang berpusat pada media itu sendiri. Sebagai entitas bisnis, media tertentu telah cenderung menekankan pada keuntungan bisnis semata. Logika komersialisme pers dan komodifikasi berita telah menjadi primadona dalam cara berpikir pengelola pers dan jurnalis. Pers diarahkan menjadi mesin pencetak uang, pemasok iklan, dan pemburu rating. Dalam logika budaya semacam ini jelas sulit kita menempatkan kepentingan publik di atas atau setara dengan kepentingan modal dan kuasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kedua, budaya media yang berpusat pada publik. Sebagai entitas ideal, media sesungguhnya bisa menjadi kekuatan penting dalam pembentukan budaya pemerintahan, politik, hukum, ekonomi, pendidikan dan lingkungan hidup yang sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika bahwa pers sebagai kekuatan signifikan dalam proses demokratisasi memungkinkan pers berada di garis depan dalam menyuarakan kritik terhadap dekadensi dan degradasi budaya yang berlangsung dalam ruang publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi kehidupan demokrasi yang tidak sehat dan ruang publik yang tidak fair serta budaya masyarakat sipil yang belum matang, peran media amat dibutuhkan dalam pembelajaran publik akan arti penting budaya kewargaan yang menjunjung tinggi hukum dan penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia (hlm. 2).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dominasi Televisi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media televisi, yang Idi ulas di buku ini, tidak disangsikan kini telah mendominasi waktu luang kebanyakan orang Indonesia. Televisi menjadi sumber informasi politik dan dalam satu dan lain hal sebagai rujukan budaya dan nilai bagi sebagian orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan televisi terletak pada kemasifan, keseketikaan, dan pesona citra serta jangkauannya yang luas. Dibandingkan jenis media lain, televisi begitu mudah dikonsumsi/ditonton, karena dengan hanya menekan tombol dan memilih saluran, ia langsung bisa hadir ke dalam rumah dan dinikmati keluarga Indonesia. Media ini bahkan dianggap sebagai ‘agama’ dan ‘tuhan’ sekuler.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu yang mencemaskan adalah tayangan kekerasan, selain hedonisme. Dalam teks dan imajinasi budaya pop, kata Idi, pementasan kekerasan dijadikan cara untuk mengomunikasikan pesan peringatan, ancaman, teror, dan horor dari satu kelompok ke kelompok yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jarang, kekerasan itu sengaja dipertontonkan sehingga menjadi semacam ‘horrortainment’. Kekerasan dianggap sebagai ‘hiburan’ untuk saluran eskapisme, katarsis, dan bahkan ritualisme. Kekerasan menjadi komoditi pemberitaan dalam bisnis infotainment (hlm. 165). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku ini mengajak kita untuk melihat budaya komunikasi dan media secara cermat dan kritis. Pesan buku ini jelas, bahwa kita tidak bisa tinggal diam dan membiarkan media mempengaruhi, mengubah, atau bahkan membentuk dan menciptakan budaya yang tidak sehat bagi bangsa ini yang tengah mematangkan demokrasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik terhadap media sekaligus menjadi peringatan bagi media untuk tidak mengabaikan peran konstruktif dan edukatifnya, tidak hanya semata-mata peran hiburannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-6377021894384241339?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/6377021894384241339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/mengkritisi-budaya-komunikasi-dan-media.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6377021894384241339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6377021894384241339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/mengkritisi-budaya-komunikasi-dan-media.html' title='Mengkritisi Budaya Komunikasi dan Media'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-EaLFSh_fkhA/TmyxNZu-g1I/AAAAAAAAANM/Xi9djTLl9zo/s72-c/kritik%2Bbudaya%2Bkomunikasi%2B-%2Bjalasustra.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3068999190782414133</id><published>2011-09-08T06:44:00.000-07:00</published><updated>2011-09-08T06:45:03.025-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Fenomena Mudik-Balik Lebaran</title><content type='html'>Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran sudah berakhir belum lama ini. Mereka yang mudik ke kampung halaman sudah balik lagi ke perantauan, ke kota-kota sumber pencahariannya. Kota-kota kembali ramai, padat dan sumpek, sementara kampung-kampung kembali lengang, sepi dan seperti biasanya. Jalan raya yang dipenuhi arus mudik dan balik berangsur-angsur sudah seperti semula, normal. Apa yang bisa dibaca dari fenomena mudik-balik lebaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek Lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun itu, lebaran tetaplah momen yang menggembirakan dan membahagiakan. Biarpun macet dan merayap di jalanan saat mudik ataupun balik. Bahkan, biarpun nyawa dipertaruhkan di jalanan. Kabarnya, tahun ini ada sekitar 700 orang yang meninggal kecelakaan di jalan. Kebanyakan adalah pengendara sepeda motor. Selain jumlahnya memang yang sangat banyak, resiko di jalanan bagi pengendara motor memang lebih besar dibandingkan mobil. Kelelahan mengakibatkan hilangnya konsentrasi yang sesungguhnya sangat diperlukan ketika jalanan begitu ramai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebaran, dari tahun ke tahun, entah sampai kapan, akan selalu terisi dengan mudik-balik orang-orang. Jumlahnya dipastikan akan terus meningkat. Kota-kota besar seperti Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) yang menjadi favorit orang-orang untuk mencari penghidupan akan terus didatangi kaum urban dari kampung-kampung sepanjang tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk memeratakan pembangunan di seluruh daerah di penjuru negeri ini. Otonomi daerah mestinya tidak dijadikan sebagai alasan pemerintah pusat mengabaikan perannya di daerah-daerah, karena ternyata tidak semua daerah memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik. Kabarnya, beberapa daerah malah kekurangan dana untuk membayar gaji pegawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perspektif sosiologis semacam ini, jelas bahwa faktor ekonomi menjadi inti dari terus meningkatnya jumlah pemudik lebaran, dari tahun ke tahun, yang jumlahnya bisa dua kali lipat ketika balik lagi ke kota. Tidak heran, ada pameo menyebutkan ‘mudik bawa barang, balik bawa orang’. Maksudnya, kaum urban dari kota-kota sentra ekonomi mudik membawa apa yang sudah dihasilkannya; entah itu berupa kendaraan (mobil, motor), entah itu berupa uang, entah itu berupa jajanan atau oleh-oleh makanan yang dibeli di kota, yang katanya di kampung tidak ada, lalu dibawa mudik. Sadar tidak sadar, apa yang dibawa secara sosiologis mencerminkan yang Karl Marx sebut dengan perjuangan kelas sosial dengan pergi ke kota, lalu pulang kampung menyandang status sosial lebih baik. Menjadi orang sukses di kota. Tentu saja ‘sukses’ yang ukurannya adalah adanya perbedaan ketika masih di kampung dengan setelah di kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat balik ke kota, untuk sebagian besar mereka membawa orang; saudara, kerabat atau teman-temannya. Tidak heran, dibanding jumlah pemudik, jumlah yang balik lagi ke kota bisa dua kali lipat. Kesuksesan sebagai orang yang hidup di kota yang terlihat dengan barang-barang yang mereka bawa telah banyak menarik minat orang-orang kampung lainnya untuk ikut mengalami kesuksesan semacam itu. Hasrat untuk menjadi orang urban semakin besar ketika kampung halaman sudah tidak lagi memberi kesejahteraan. Kampung halaman sudah dianggap sebagai kampung orang-orang tua, orang-orang kolot yang hidupnya begitu-begitu saja, nyaris tidak berubah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun berubah, berbeda jauh dengan perubahan terjadi di kota. Masyarakat kampung, untuk sebagian besar, justru memang menghendaki ketidakberubahan. Mereka lebih suka hidup ajeg, dan mereka menikmatinya. Pada hal-hal tertentu, misalnya pendapatan harian mereka yang tidak sebanding dengan harga-harga kebutuhan pokok yang semakin naik, mereka memang menggerutu, tapi itu tidak lama. Mereka nrimo. Kaum muda, generasi setelah mereka, sebagian besarnya merasa ingin perubahan. Kota-kota besar menjadi magnet yang mereka persepsikan bisa mengubah hidup mereka. Mereka melihat perubahan itu secara jelas dari orang-orang yang mudik. Gelombang kaum urban pun tidak terelakkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengubah Perspektif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena mudik dan balik setiap lebaran yang begitu dahsyat dipastikan hanya dikenal atau terjadi di Indonesia. Fenomena ini menjadi cermin sosial paling benderang yang mendeskripsikan bagaimana kondisi masyarakat negeri ini. Ketimpangan ekonomi antara kota dan desa, ketidakmerataan pembangunan di daerah-daerah, otonomisasi daerah yang belum sepenuhnya berhasil, serta ketidakpedulian atau ketidakmampuan pemerintah—terutama pemerintah pusat—mengantisipasi dan menangani ledakan sosial kaum urban sebagai efek domino dari ketimpangan dan ketidakmerataan itu, menjadi salah satu faktor utama terciptanya fenomena mudik dan balik. Tahun demi tahun fenomena ini tidak berubah, paling tidak sedikit berkurang. Justru bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah mestinya bisa membaca fenomena ini secara cermat. Ada kesalahan elementer yang harusnya disadari pemerintah dengan cepat. Kebijakan pembangunan belum berefek besar bagi masyarakat di daerah. Kota-kota masih terus menjadi magnet, karena terus dipercantik, diperindah, bahkan sampai dipersempit. Ambil contoh Jakarta, pusat ekonomi (bisnis) dan pemerintahan (ibukota negara). Pembangunan mal-mal atau sentra-sentra perbelanjaan baru yang besar dan megah selalu terjadi. Lahan semakin menyempit, ditumbuhi hutan-hutan beton dan baja. Jakarta terus diperkuat magnet dan daya tariknya sebagai sentra ekonomi. Daerah-daerah di luar Jakarta, apalagi di luar Jawa, terbiarkan mengurusi dirinya sendiri dengan kondisi keuangan yang megap-megap, minim. Untuk menggaji pegawainya saja kekurangan, bagaimana mungkin membangun daerahnya, hingga ke pelosok? Di sinilah peran pemerintah pusat. Pemerintah mesti segera memeratakan pembangunan di daerah, dan menarik masyarakat untuk ikut berperan di dalamnya, bersama-sama membangun daerah, agar masyarakat bisa mencari penghidupan secara memadai, di daerahnya sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3068999190782414133?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3068999190782414133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/fenomena-mudik-balik-lebaran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3068999190782414133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3068999190782414133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/fenomena-mudik-balik-lebaran.html' title='Fenomena Mudik-Balik Lebaran'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-9073540656633254745</id><published>2011-09-06T08:53:00.001-07:00</published><updated>2011-10-01T05:52:41.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mewujudkan Demokrasi Indonesia Lebih Baik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-K52Cll5NHlk/TocNCL3fCkI/AAAAAAAAAPY/9I9ZdrT4Ca0/s1600/demokrasi%2Bkonstitusional%2B-%2Bkompas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-K52Cll5NHlk/TocNCL3fCkI/AAAAAAAAAPY/9I9ZdrT4Ca0/s200/demokrasi%2Bkonstitusional%2B-%2Bkompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658505788010728002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Demokrasi Konstitusional&lt;br /&gt;Penulis : Adnan Buyung Nasution&lt;br /&gt;Penerbit : Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juli 2011&lt;br /&gt;Tebal : xii+218 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-709-581-9&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjuangan mewujudkan demokrasi Indonesia yang lebih baik di era reformasi ini terus dilakukan. Pengalaman pahit di masa lalu, ketika UUD 1945 yang dilandasi konsep negara integralistik adopsi Soepomo, melegitimasi dua rezim otoriter. Sukarno, dengan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, membubarkan parlemen, kembali kepada UUD 1945 yang asli (awal), serta menjadi penguasa tunggal dan seumur hidup sebelum dihentikan di tengah jalan. Soeharto dengan jargonnya, ‘Pengamalan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen’, menjadi penguasa otoriter, juga sebelum diberhentikan di tengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Adnan Buyung Nasution yang merupakan kumpulan artikelnya di harian Kompas, ringkasan makalah ilmiahnya saat kuliah di Australia dan Belanda, dan makalahnya pada pidato pengukuhan sebagai guru besar di Melbourne University, Australia, ini menyorot perjalanan demokrasi Indonesia, serta mengkritisi dan memandang perlunya amendemen UUD 1945, karena dinilai tidak memberikan jaminan dan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM), terutama hak politik warga, dan pembatasan kekuasaan. Juga menyorot berbagai kemajuan demokrasi di era reformasi, seperti pembentukan Mahkamah Agung (MA) yang mandiri, Mahkamah Konstitusi (MK), Komisi Yudisial (KY), serta adanya mekanisme check and balance yang melandasi sistem demokrasi yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini, Bang Buyung, sapaan akrab penulisnya, misalnya, mengkritik pandangan orang yang berpandangan dan menyuarakan untuk kembali kepada UUD 1945 asli (awal) sebelum amendemen sebagai antidemokrasi. Menurutnya, kembali ke UUD 1945 awal berarti kembali ke masa lalu, ke model rezim Sukarno dan rezim Soeharto dengan kekuasaan tidak terbatas yang tidak memberikan jaminan HAM. Kembali ke UUD 1945 asli (awal) berarti kembali pada konstitusi yang sebetulnya adalah konstitusi sementara atau kilat yang dibuat ketika itu serta belum sempurna. Bagi Bang Buyung, dengan merujuk berbagai penelitian ilmiah, UUD 1945 memiliki banyak kelemahan dan cacat antara lain karena mengadopsi teori negara integralistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori negara integralistik (kekeluargaan) yang diadopsi Soepomo diajarkan oleh Spinoza, Hegel, dan Adam Muller. Teori ini mengungkapkan bahwa negara adalah susunan masyarakat yang integral, segala golongan, segala bagian, segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis. Menurut Soepomo, teori negara integralistik lebih cocok dibandingkan teori negara individualistik Thomas Hobbes, John Locke, J.J. Rouseau, Herbert Spencer, dan H.J. Laski. Juga dibandingkan dengan teori pertentangan kelas Karl Marx. Teori negara integralistik ia nilai sesuai dengan lembaga-lembaga sosial yang asli dimiliki masyarakat Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi Bang Buyung, teori negara integralistik terbukti mengandung gagasan-gagasan yang sangat berbahaya bagi demokrasi, karena dalam praktiknya negara akan menjadi negara kekuasaan. Ia sepemikiran dengan Hatta yang secara langsung terlibat dalam pergumulan pemikiran saat merumuskan UUD 1945 dengan Soepomo. Hatta menolak teori negara integralistik, dan lebih cenderung memilih model negara pengurus yang kekuasannya dibatasi (power must be tamed), yang sejalan dengan negara demokrasi konstitusional. Dalam negara pengurus, rakyat cukup mendapatkan akses untuk menyuarakan pendapatnya melalui lembaga-lembaga demokrasi, seperti partai politik, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan pers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatta ketika itu sudah menyadari bahwa kekuasaan selalu merupakan masalah yang kronis. Di satu pihak, negara memerlukan kekuasaan, tetapi di lain pihak kekuasaan tidak boleh tidak harus dibatasi. Hatta menolak konsep negara integralistik, karena negara seperti itu memberi peluang dan legitimasi terhadap kekuasaan yang mutlak kepada negara. Sebab, dalam perspektif negara dan rakyat menjadi satu sehingga tidak ada pemisahan antara negara dan rakyat, maka dianggap tidak perlu ada kekhawatiran bahwa negara akan menindas rakyatnya. Di dalam negara yang menyatu, maka kekuasaan adalah tunggal, satu, tidak bisa dipecah-pecah. Dalam konsepsi Jawa, kekuasaan yang menyebar akan melahirkan ketidakseimbangan (disharmoni) antara dunia mikro dan makro. Karena itu, kekuasaan adalah satu kesatuan tunggal antara rakyat dan pemimpin (kawulo lan gusti) (hlm. 35).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Bang Buyung, dengan melihat UUD 1945 yang seperti itu, serta pengalaman di bawah dua rezim, ia menegaskan amendemen UUD 1945 merupakan suatu keharusan mutlak (condition sine qua non) untuk memperbaiki keadaan di bidang apa pun. Karena, menurutnya, UUD 1945 yang awal itu cacat secara konseptual dan penuh kekurangan. UUD itu tidak memberikan pembatasan yang cukup atas kekuasaan penyelenggara negara, dan tidak menjamin atau melindungi HAM. Yang terburuk, UUD itu dipengaruhi oleh cara berpikir integralistik Soepomo yang berbau totalitarianisme dan bersifat antikeberagaman (hlm. 102). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui buku ini, Bang Buyung mengajak bangsa ini untuk menatap dan melangkah ke depan, melakukan perbaikan dan penyempurnaan konstitusi melalui amendemen UUD 1945 agar lebih demokratis dan menghargai HAM serta agar lembaga-lembaga negara, baik itu legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, tertata dan berfungsi lebih baik. Sehingga terwujud Indonesia yang benar-benar demokratis. Tidak menutup mata memang ada sejumlah kelemahanan dalam amendemen. Tetapi, itu tidak lantas kita kembali ke masa lalu yang tidak demokratis. UUD 1945 bukan barang sakral yang tidak bisa diamendemen. Dengan alasan yang sangat kuat tentu saja, tidak asal amandemen.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-9073540656633254745?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/9073540656633254745/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/mewujudkan-demokrasi-indonesia-lebih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9073540656633254745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9073540656633254745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/mewujudkan-demokrasi-indonesia-lebih.html' title='Mewujudkan Demokrasi Indonesia Lebih Baik'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-K52Cll5NHlk/TocNCL3fCkI/AAAAAAAAAPY/9I9ZdrT4Ca0/s72-c/demokrasi%2Bkonstitusional%2B-%2Bkompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3366816434844293989</id><published>2011-09-04T06:59:00.000-07:00</published><updated>2011-09-04T07:06:08.846-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Etika Religius Syaikh Yusuf</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-LDdcCxXNdEY/TmOFt-_sLZI/AAAAAAAAANE/vGGj9qaVhQY/s1600/bayang-bayang%2Betis%2B-%2Blkis.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 147px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-LDdcCxXNdEY/TmOFt-_sLZI/AAAAAAAAANE/vGGj9qaVhQY/s200/bayang-bayang%2Betis%2B-%2Blkis.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5648505382703476114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 4 September 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Agama dan Bayang-bayang Etis Syaikh Yusuf Al-Makassari&lt;br /&gt;Penulis : Mustari Mustafa&lt;br /&gt;Penerbit : LKiS, Yogyakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Juni 2011&lt;br /&gt;Tebal : xii+206 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nama Syaikh Yusuf Al-Makassari (1626-1699) di kalangan umat Islam Indonesia sudah tidak asing lagi. Seorang tokoh historis, ulama, sufi, dan pejuang dari Makassar abad XVII. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya juga tersohor hingga mancanegara, tepatnya Afrika Selatan (Tanjung Harapan), tempat ia dibuang Belanda (tahun 1683) akibat dakwah dan perjuangannya hingga wafat di situ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah Afrika Selatan bahkan sampai menganugerahinya gelar pahlawan nasional. Nelson Mandela menyebutnya sebagai salah satu inspirator perjuangan kemerdekaan dan persamaan hak di Afrika Selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku karya Mustari Mustafa yang merupakan disertasi doktoralnya ini mengulas dan membedah cukup cermat buah-buah pikiran Syaikh Yusuf terkait dengan agama, yang ia sebut sebagai etika religius Syaikh Yusuf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tokoh ulama sekaligus sufi, Syaikh Yusuf memiliki pandangan keagamaan yang cukup dalam dan luas seperti yang terlihat dalam karya-karyanya yang di buku ini dicantumkan ada 21 buah dengan tema-tema beragam, antara lain tentang etika beribadah, tentang zikir, tentang prinsip-prinsip kepercayaan (keimanan) dan tauhid, tentang tasawuf, tentang insan kamil, tentang filsafat, tentang suluk, tentang makrifat, dan tentang wali Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Secara garis besar, karya-karya Syaikh Yusuf memang kental dengan nuansa tasawuf. Apalagi jika melihat pandangan tokoh-tokoh sufi yang banyak ia kutip. Misalnya, Ibrahim bin Adham, al-Ghazali, Ibnu ‘Athaillah al-Iskandari, Abdul Qadir Jailani, Abdul Karim al-Jilli, dan Rabiah al-Adawiyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim bin Adham adalah sufi awal yang memberikan landasan filsafat etis pada perkembangan tasawuf Islam selanjutnya. Al-Ghazali dikenal sebagai sufi yang menekankan harmonisasi tasawuf dan syariat serta membela kaum sufi dari tuduhan yang mengatakan kaum sufi tidak peduli syariat. Ibnu ‘Athaillah dengan zikir-zikirnya. Syaikh Abdul Qadir Jalani dengan ajaran-ajaran etika terhadap Allah. Al-Jilli dengan konsep insan kamilnya. Sementara Rabiah dikenal dengan konsep cintanya kepada Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Etika religius Syaikh Yusuf menurut Mustari dilandasi Alquran, sunah, filsafat, dan tasawuf. Konsepnya tentang etika ini menitikberatkan pada perbuatan dan pengamalan dari ajaran agama. Seperti tokoh-tokoh sufi lainnya, Syaikh Yusuf juga menjelaskan konsep-konsep kunci dalam etika religiusnya yang merupakan empat tingkatan dalam praktik sufisme, yakni syariat, tarekat, hakikat, dan makrifat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3366816434844293989?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3366816434844293989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/etika-religius-syaikh-yusuf.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3366816434844293989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3366816434844293989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/09/etika-religius-syaikh-yusuf.html' title='Etika Religius Syaikh Yusuf'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-LDdcCxXNdEY/TmOFt-_sLZI/AAAAAAAAANE/vGGj9qaVhQY/s72-c/bayang-bayang%2Betis%2B-%2Blkis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8274549834756546704</id><published>2011-08-18T05:04:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T05:05:35.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Spirit Pembebasan Hari Kemerdekaan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;Lampung Post, Kamis 18 Agustus 2011&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanggal 17 Agustus ini, bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-66. Bangsa ini kembali diingatkan dengan sejarahnya di masa lalu, dengan spirit pembebasan yang visioner ketika itu. Jadi, bukan sekadar peringatan seremonial belaka yang hampa makna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Spirit Kemerdekaan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih daripada sekadar persamaan tanggal, hal penting bagi bangsa ini, saat ini sesungguhnya adalah menggali lebih dalam dan mengelaborasi lebih jauh spirit kemerdekaan. Apa sebenarnya spirit kemerdekaan itu? Kemerdekaan, seperti disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan. Spirit kemerdekaan dengan demikian adalah spirit kebebasan. Kemerdekaan berarti bebas dari segala bentuk penjajahan bangsa asing, bebas menentukan nasib sendiri, mandiri, lepas dari segala bentuk intervensi dan dikte bangsa asing, juga bebas dari ketergantungan terhadap bangsa asing.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam pidato singkat yang diselingi pembacaan teks Proklamasi, Soekarno mengatakan, “Saudara-saudara sekalian, saya telah minta saudara-saudara hadir di sini untuk menyaksikan satu peristiwa mahapenting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan Tanah Air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib Tanah Air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Kita sekarang sudah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat Tanah Air kita dan bangsa kita. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara merdeka. Negara Republik Indonesia. Merdeka kekal abadi. Insya Allah Tuhan memberkati kemerdekaan kita ini!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemerdekaan juga berarti bebas dari belenggu-belenggu persoalan kebangsaan dan kenegaraan yang tengah mendera. Kita lihat bangsa ini, saat ini. Korupsi masih membelenggu bangsa sehingga pelayanan publik amburadul dan kesejahteraan rakyat masih jauh dari harapan. Rendahnya etika publik para pejabat publik dan para politisi membelenggu bangsa ini sehingga cita-cita menjadi bangsa yang beradab, berbudaya, dan beretika, terutama di kalangan para pengelola dan pengurus negara, terasa masih jauh. Lemahnya penegakan hukum membuat bangsa ini terbelenggu ketidakadilan, konflik-konflik horizontal, kekerasan oleh kelompok tertentu, intoleransi, dan seterusnya. Ketidakpedulian para elite politik dan pejabat publik membuat bangsa ini terbelenggu dalam kemiskinan, pengangguran, dan keterpurukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bangsa ini sudah lepas dari segala bentuk penjajahan bangsa asing. Tapi, bangsa ini belum lepas dari penjajahan berbagai persoalan dalam negeri yang celakanya dilakukan oleh anak bangsa sendiri. Spirit kemerdekaan adalah pembebasan, membebaskan bangsa ini dari segala persoalan yang membelenggu yang membuat bangsa ini seperti berjalan di tempat, tanpa terobosan-terobosan progresif visioner. Dulu, Soekarno menyebut kemerdekaan adalah jembatan emas bagi masyarakat bangsa ini di mana di seberangnya masyarakat bangsa ini akan hidup sejahtera dan makmur. Spirit untuk menyejahterakan rakyat inilah yang antara lain membuat para pendiri bangsa berjuang mati-matian tanpa kenal lelah dan takut, padahal ketika itu tengah berada dalam ancaman Jepang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;‘State that Never Sleep’&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam memimpin negeri ini menggunakan jargon state that never sleep alias pemerintah yang bekerja 24 jam penuh. Jargon yang tentunya sangat luar biasa, dan bangsa ini bangga karenanya. Bangga karena merasa telah memiliki pemimpin dan pemerintahan yang bekerja penuh, maksimal, dan optimal, jika ukurannya adalah jargon itu. Tapi, jargon tetaplah jargon. Kemampuan manusia tetaplah ada batasnya. Tidak semua persoalan bangsa diselesaikan secara tuntas. Lebih banyak malah yang terabaikan. Atau bahan terlupakan sama sekali kalau tidak diingatkan. Bangsa ini memang kerap lupa dan melupakan. Ini yang sering dimanfaatkan para pejabat dan politisi ketika terjerat persoalan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bangsa ini sarat dengan persoalan-persoalan besar meski usia kemerdekaan sudah ke-66 tahun. Dulu Soekarno bermimpi Indonesia akan menjadi mercusuar dunia, menjadi negara maju dan diperhitungkan dunia. Pada masa Soeharto, Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ekonomi dan macan Asia setelah mampu menjadi negara berswasembada pangan. Hingga era reformasi, masa Presiden SBY saat ini, mimpi Soekarno atau minimal menjadi negara berswasembada pangan seperti terjadi di era Soeharto belum juga terwujud akibat pengelolaan negara yang tidak beres. Bahkan jalan menuju ke sana pun terasa buram karena tidak adanya visi yang jelas para pengelola negara hendak ke mana bangsa dan negara ini dibawa. Dengan segala kekurangan dan kelemahannya, Soekarno dan Soeharto telah “berbuat” untuk Indonesia, untuk bangsa ini, dengan capaian-capaiannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Momentum kemerdekaan RI kali ini, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, seyogianya menjadi peringatan terhadap segenap elemen bangsa ini, terutama para pengelola dan pengurus negara, untuk melihat apa sesungguhnya tujuan bangsa ini merdeka 66 tahun lalu. Para pendiri bangsa sudah memberikan kemampuan maksimal yang bisa mereka lakukan dan kerjakan untuk merawat, menjaga, serta mengisi kemerdekaan dengan segala dinamika dan persoalan yang dihadapi. Abraham Lincoln (1809—1865), Presiden Amerika Serikat ke-16, mengatakan: Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu! Selamat hari kemerdekaan ke-66 RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8274549834756546704?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8274549834756546704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/spirit-pembebasan-hari-kemerdekaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8274549834756546704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8274549834756546704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/spirit-pembebasan-hari-kemerdekaan.html' title='Spirit Pembebasan Hari Kemerdekaan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-6244151000835818410</id><published>2011-08-17T05:00:00.001-07:00</published><updated>2011-08-17T05:00:59.394-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Pesan Pembebasan Tiga Momentum</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Agustus ini cukup istimewa. Ada tiga momen berbeda yang bertepatan waktunya. Mungkin ini kebetulan belaka, karena demikianlah perputaran masa. Tetapi, meski begitu, tetaplah momen-momen itu penting, setidaknya mengingatkan bangsa ini, umat Islam terutama, yang sering kali lupa. Momen itu adalah puasa, Nuzulul Qur’an, dan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang bersamaan waktunya pada 17 Agustus nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Pembebasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa, Nuzulul Qur’an, dan kemerdekaan RI adalah tiga hal berbeda, tapi memiliki titik pesan persinggungan yang hakikatnya sama. Salah satunya, pesan pembebasan. Puasa, yang sudah dimulai dari 1 Agustus, meskipun secara bahasa artinya menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar sampai terbenam matahari, tapi hakikatnya puasa adalah sebuah pembebasan. Beberapa teks keagamaan menyebut bahwa puasa membebaskan pelakunya dari api neraka. Puasa juga membebaskan pelakunya dari berbagai macam dosa (dosa-dosanya diampuni Tuhan). Puasa juga membebaskan pelakunya dari godaan setan, karena setan-setan dibelenggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Nuzulul Qur’an berarti turunnya Al-Qur’an. Maksudnya, turunnya Al-Qur’an pertama kali kepada Rasulullah di gua Hira yang menurut beberapa sumber historis terjadi pada malam tanggal 17 Ramadhan. Al-Qur’an adalah ajaran-ajaran Tuhan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad sebagai pembebas masyarakat ketika itu dari belenggu tradisi jahiliyah yang tiranik, politeistik, dan tidak adil. Farid Essack, dengan mengambil konteks Afrika Selatan pada masa rezim apartheid, menyebut Al-Qur’an sebagai kitab pembebas. Asghar Ali Engineer, intelektual muslim asal India, juga menyebut Al-Qur’an sebagai pembebas, karena—antara lain—membebaskan kaum perempuan dari ketertindasan dan ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan RI juga bermakna pembebasan. Yakni, pembebasan bangsa dari penjajahan atau kolonialisme bangsa asing dengan dibacakannya Proklamasi Kemerdekaan RI oleh Sukarno dan Muhammad Hatta atas nama bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang juga pada bulan Ramadhan. Secara lebih luas, pembebasan ini berarti juga pembebasan bangsa dari pengaruh bangsa lain untuk hidup mandiri dan berdaulat penuh yang dalam bahasa Presiden Sukarno disebut dengan Trisakti, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian secara sosial budaya (jati diri bangsa/kepribadian bangsa). Atau, dalam ungkapan Hatta, menjadi tuan di negeri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 ditegaskan makna pembebasan dan tujuan pembebasan itu bagi Indonesia. Aline pertama menyebutkan bahwa kemerdekaan merupakan hak segala bangsa. Bahwa segala bentuk penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Bahwa perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Alinea kedua mengatakan bahwa kemerdekaan adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aline ketiga menyebutkan perihal pembentukan suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk itu, disusunlah kemerdekaan Indonesia dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Pancasila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia Hari Ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat Indonesia hari ini, kita terhenyak bahwa kemerdekaan seperti yang tersebut di Pembukaan UUD 1945 belum terwujud secara sempurna. Bangsa ini masih ‘dijajah’ berbagai persoalan berat, di antaranya korupsi, penegakan hukum yang lemah, rendahnya visi kebangsaan dan kenegaraan dari para pemimpin dan pengelola negara, tingginya angka kemiskinan dan pengangguran, rendahnya etika publik para pejabat publik dan politisi, awetnya konflik-konflik horizontal yang memakan korban, kejahatan keuangan dan perbankan, praktik-praktik pencucian uang (money loundry), intoleransi umat beragama, tindak-tindak kekerasan oleh kelompok tertentu atas kelompok yang lain, pembangunan yang belum merata, utang luar negeri yang menggunung, ketidakadilan, dan seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum puasa, Nuzulul Qur’an dan kemerdekaan RI mengingatkan segenap elemen bangsa, dari paling atas hingga akar rumput untuk membebaskan diri secara bersama-sama dari semua itu. Ke depan, bangsa ini akan menghadapi tantangan yang cukup berat. Konstelasi geopolitik dan ekonomi dunia berubah begitu cepat. Krisis ekonomi di Amerika dan Eropa bisa berimbas ke Indonesia. Jika bangsa ini di dalamnya rapuh akibat berbagai persoalan tadi yang belum teratasi, tidak mustahil bangsa ini akan terpuruk, sehingga mudah didikte kepentingan asing. Jika ini terjadi, bangsa ini akan kembali terjajah dengan bentuk baru: ekonomi. John Perkins dalam bukunya, Confessions of an Economic Hit Man, menyebutnya ‘Economic Hit Man’ (EHM), yakni penjajahan ekonomi melalui tipu daya negara secara sistematis untuk mencurangi dan menipu melalui pinjaman utang yang melebihi kemampuan membayar, dan selanjutnya menguasainya. Tentunya, kita semua tidak ingin bangsa ini bernasib demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-6244151000835818410?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/6244151000835818410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/pesan-pembebasan-tiga-momentum.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6244151000835818410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6244151000835818410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/pesan-pembebasan-tiga-momentum.html' title='Pesan Pembebasan Tiga Momentum'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7775631258344134622</id><published>2011-08-16T05:42:00.000-07:00</published><updated>2011-08-16T05:44:07.226-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Kemerdekaan dan Pendidikan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 17 Agustus, seluruh bangsa Indonesia memperingati hari kemerdekaannya yang ke-66. Lebih daripada sekadar peringatan seremonial, kemerdekaan sesungguhnya memberikan pesan-pesan esensial yang konstruktif bagi bangsa, terutama terkait dengan masalah pendidikan bagi pembangunan dan eksistensi bangsa ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Pembukaan UUD 1945, tentang kemerdekaan, dikatakan bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Dari sini terlihat jelas bahwa pertama, kemerdekaan berarti melepasan diri dari berbagai penjajahan. Kedua, penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Artinya, penjajahan bertentangan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) dan keadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan kemerdekaan sebagai keadaan (hal) berdiri sendiri (bebas, lepas, tidak terjajah lagi, dan sebagainya); kebebasan. Intinya adalah kebebasan. Kebebasan dari apa? Di Pembukaan UUD 1945 jelas, yaitu dari penjajahan. Konteks ketika itu terkait dengan penjajahan secara fisik, yakni kolonialisme bangsa asing. Saat ini, apakah bangsa ini sudah benar-benar lepas dari kolonalisme bangsa asing? Jika kolonialisme dipahami dalam perspektif masa lalu, sebagai penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu, bisa jadi tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika kolonialisme kemudian diterjemahkan dalam pengertian yang lebih luas, yakni segala bentuk penguasaan terhadap sumber-sumber ekonomi, sosial, budaya, politik, bahkan hingga agama, bisa jadi penjajahan itu terjadi dalam bentuk yang lain tentunya. Era globalisasi saat ini, di mana kekuatan dan kekuasaan pasar yang didominasi negara-negara maju, penjajahan tidak lagi fisik, tapi ekonomi. John Perkins dalam bukunya, Confessions of an Economic Hit Man, menyebutnya “Economic Hit Man” (EHM), yaitu penjajahan ekonomi melalui tipu daya negara secara sistematis untuk mencurangi dan menipu melalui pinjaman utang yang melebihi kemampuan membayar, dan selanjutnya menguasainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjajahannya tidak memakai senjata, tapi ekonomi. Perang yang terjadi adalah perang ekonomi, di mana bukan kekuatan senjata yang menjadi andalan, tapi kekuatan ekonomi, dominasi pasar dunia, yang efeknya bahkan lebih dahsyat dari efek perang dengan senjata. Jika perang dengan senjata, orang mati secara langsung, tapi dalam perang ekonomi, orang bisa jadi mati secara perlahan-lahan. Ketika satu bangsa lebih banyak mengimpor barang dari bangsa lain, tanpa komitmen meningkatkan ekspor, di situlah bangsa itu sesungguhnya tengah terjajah secara ekonomi. Ketika suatu bangsa tidak memiliki visi ekonomi ke depan yang jelas, sehingga menggantungkan pada utang luar negeri, bangsa itu berarti tengah terjajah. Ketergantungan terhadap asing, tanpa pernah serius untuk mandiri, di situlah penjajahan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan yang Memberdayakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam model penjajahan yang termodifikasi seperti di atas, apa yang bisa dilakukan bangsa ini, saat ini? Seperti masa-masa penjajahan zaman dahulu, bangsa ini juga mesti melawannya dan membebaskan diri darinya, kemudian memosisikan diri sebagai bangsa yang tangguh dan mandiri. Untuk ini, tidak ada yang dapat dilakukan selain memperbaiki fondasi yang paling elementer, yakni pendidikan, sumber daya manusia. Sumber daya alam memang penting, tetapi itu tidak akan bisa dikelola secara baik tanpa sumber daya manusia yang berkualitas. Negara-negara yang maju secara ekonomi selalu memprioritaskan pendidikan di urutan teratas, karena tahu bahwa inilah investasi masa depan yang sangat diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konstitusi kita, masalah pendidikan sebenarnya sudah diamanatkan. Pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa pendirian negara antara lain untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di sini menggunakan kata-kata ‘kehidupan’, artinya bukan sekadar cerdas otak, tapi juga cerdas dalam seluruh dimensi kehidupannya: sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama. Undang-Undang (UU) No. 2 Tahun 1985 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAP MPR No. 4/MPR/1975 menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara Pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab serta dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang pembangunan, Amartya Sen, peraih nobel bidang ekonomi (1998) menyatakan, pembangunan merupakan upaya perluasan kemampuan rakyat (expansion of people’s capability). Pembangunan juga merupakan pembebasan (development as freedom). Chakra Varty menyebut pembangunan sebagai perluasan kreativitas rakyat (expansion of people’s creativity). Rajni Kotari, ilmuwan India, menyebut strategi pembangunan partisipatif, yaitu strategi “which not only produces for the mass of the people but in which the mass of the people are also producers”. Hatta menyebutnya “demokrasi ekonomi” yang ujungnya adalah seperti yang ia istilahkan dengan “Menjadi Tuan di Negeri Sendiri”. Pendidikan dalam konteks ekonomi adalah pemberdayaan rakyat untuk menjadi pemain, produser, menjadi bangsa yang tangguh dan mandiri. Selamat hari kemerdekaan Indonesia ke-66.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7775631258344134622?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7775631258344134622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/kemerdekaan-dan-pendidikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7775631258344134622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7775631258344134622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/kemerdekaan-dan-pendidikan.html' title='Kemerdekaan dan Pendidikan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4627804205598578105</id><published>2011-08-11T06:37:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T06:39:12.215-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Sri Mulyani dan Masa Depan Indonesia</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru diusung partai yang bahkan masih harus berjuang untuk lolos verifikasi sebagai syarat mengikuti Pemilu 2014, yakni Serikat Rakyat Independen (SRI), Sri Mulyani Indrawati (SMI), mantan Menteri Keuangan (Menkeu) yang sekarang menjadi Managing Director di World Bank, sudah diganjal dan menuai kontroversi dari banyak pihak. Para pengganjal itu pada umumnya menuding SMI sebagai antek asing, serta orang yang masih terpaut kasus Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nalar Jernih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai pernyataan di media, atau tulisan-tulisan yang pada intinya berupaya mengganjal dan menyudutkan SMI, terlihat nada kecurigaan yang sangat berlebihan. Tulisan Bambang Soesatyo (BS), anggota DPR sekaligus wakil bendahara umum Partai Golkar, misalnya, di sebuah harian nasional bahkan tegas meminta SMI sebaiknya mundur pelan-pelan serta mencurigai dan menudingnya akan menggadaikan negara kepada asing. Sebagai orang Golkar, ini bisa dimaklumi. Kita ingat, saat ramainya kasus Century dipersoalkan Pansus DPR, terjadi ‘perang’ antara SMI dengan Aburizal Bakrie karena tiga perusahaan di bawah payung bisnis Grup Bakrie, yakni PT Kaltim Prima Coal (KPC), PT Bumi Resources Tbk., dan PT Aruitmin Indonesia, menunggak pajak hingga Rp2 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tudingan BS lebih terlihat sebagai serangan politis sporadis ekstrem membabi-buta, persis seperti dilakukan para politisi Golkar yang menggalang kekuatan di parlemen untuk menurunkan Presiden Gus Dur dari jabatan presiden di tengah jalan. Tudingan yang tentu saja masih sebatas ‘kemungkinan’, karena sama sekali tidak pernah dapat dibuktikan apakah SMI akan menggadaikan negara kepada asing. Ini budaya politik yang tentu saja buruk dan tidak mendidik bangsa. Bisa-bisa berujung pada fitnah dan pembunuhan karakter yang luar biasa jahat. Mestinya, yang diserang BS adalah pemikiran SMI tentang ekonomi Indonesia dan prospek ke depannya, sehingga terjadi debat pemikiran, bukan hal-hal lain di luar ini, apalagi hanya tudingan-tudingan yang mengawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri politisi—lebih tepatnya: nafsu politik—memang terkadang bisa mengalahkan pikiran jernih dan sehat. Apalagi, ketika figur baru yang muncul itu dianggap sebagai ancaman bagi kepentingan tertentu, dalam hal ini kepentingan politik. Biasanya, figur yang terlalu banyak diserang secara politis dengan berbagai tudingan adalah figur yang sangat potensial dan ‘membahayakan’ kepentingan penyerang. SMI bukan seorang politisi, tapi seorang intelektual-ekonom jenius yang bahkan oleh majalah Forbes dinobatkan sebagai wanita ke-23 di dunia yang paling berpengaruh pada 2008, dan oleh majalah Globe Asia dinobatkan sebagai wanita ke-2 paling berpengaruh di Indonesia pada 2007. Di World Bank sendiri, dialah wanita pertama Indonesia yang menduduki jabatan prestisius, yakni bertanggung jawab atas operasional ekonomi di tiga kawasan: Amerika Latin dan Karibia; Timur Tengah dan Afrika Utara; serta Asia Timur dan Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan ganjalan keterlibatan SMI dalam soal bail-out Bank Century senilai Rp6,7 triliun, tidak ada keputusan hukum apa pun dari pengadilan maupun KPK terhadap SMI bahwa ia bersalah dan melakukan tindakan kriminal. Jadi, secara hukum, dia tidak bermasalah dan tidak bersalah. Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu kemudian digoreng lagi dan digunakan oleh orang-orang yang nalurinya adalah politik sehingga nalar jernihnya hilang untuk mendiskreditkannya. Publik harus bersikap waspada serangan-serangan politik semacam itu, karena berisi tuduhan-tuduhan ataupun tudingan-tudingan yang tidak berdasar kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMI dan Harapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diusungnya SMI sebagai calon presiden 2014 oleh SRI menjadi kabar menggembirakan bagi kita. Akhirnya, kita disuguhi calon pemimpin dari kalangan intelektual, bukan dari politisi praktis ataupun pengusaha. Memori kita kemudian melayang sewaktu kita juga dipimpin oleh kalangan intelektual seperti Presiden Gus Dur, Habibie, dan Sukarno. Sukarno bahkan menjadi sosok yang cukup lengkap, karena selain seorang intelektual dan salah satu pendiri bangsa yang sangat penting, ia juga seorang politisi. Kita ingat bagaimana dengan perpaduan intelektual dan kemampuan politiknya, selain kharismanya tentu saja, ia berani mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang membubarkan parlemen dan menyatakan kembali kepada UUD 1945 yang awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SMI membawa angin harapan yang cukup dengan kemampuan intelektual dan manajerialnya di World Bank saat ini yang membawahi banyak negara di dunia. Ini pengalaman dan modal yang sangat berharga untuk bisa memosisikan Indonesia ke depan di kancah internasional tanpa mengorbankan kepentingan negara kepada pihak asing. SMI bukan orang bodoh atau orang yang mudah disetir kepentingan politik, apalagi itu politik asing. Indonesia di masa depan akan berada dalam kancah globalisasi perdagangan atau pasar bebas yang sangat ketat, karena harus bersaing dengan negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. SMI memiliki kemampuan membaca itu dan bagaimana menangani Indonesia dengan keberadaannya sekarang di World Bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran SMI di bursa calon presiden 2014 dalam konteks ini menjadi istimewa. Selain itu, publik diberi pilihan lebih banyak calon dengan latar belakang yang berbeda-beda. Tidak melulu berlatar belakang politisi murni (praktis), militer, atau pengusaha. Mungkin juga nanti akan bermunculan dari latar belakang budayawan, seniman, ilmuwan, dan seterusnya. Sudah saatnya para politisi berpikir ke depan, untuk Indonesia saat ini dan nanti, di kancah ekonomi politik global, dengan mendorong lebih banyak lagi calon-calon presiden yang berkualitas, baik itu secara intelektual maupun manajerial pengelolaan negara yang itu dapat dilihat dari track-record atau pengalaman dan kemampuannya yang sudah terbukti. Jika belum apa-apa sudah dituding macam-macam, kita khawatir stigma negatif justru akan disematkan pada para politisi kita: anti pemimpin yang intelek dan jenius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4627804205598578105?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4627804205598578105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/sri-mulyani-dan-masa-depan-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4627804205598578105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4627804205598578105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/sri-mulyani-dan-masa-depan-indonesia.html' title='Sri Mulyani dan Masa Depan Indonesia'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-5546968185939538181</id><published>2011-08-09T05:34:00.000-07:00</published><updated>2011-08-09T18:37:32.114-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>NII, Demokrasi, dan Tantangan Negara</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hingga kini masih saja ada sekelompok orang atau organisasi tertentu yang berhasrat mendirikan negara Islam. Mereka ingin mengubah Indonesia menjadi negara Islam, mengganti dasar negara Pancasila dengan Islam, dan mengganti sistem demokrasi menjadi sistem Islam yang disebut dengan sistem Khilafah. Sistem di mana hukum-hukum Islam (syariat) menjadi Undang-Undang negara yang mengatur kehidupan bernegara dan berbangsa, hingga terciptalah sebuah negara Islam yang diimajinasikan seperti pada masa Nabi Muhammad dan empat Khalifah setelah beliau. Gerakan Negara Islam Indonesia (NII), sebagai kelanjutan dari NII Kartosoewirjo adalah salah satunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benturan Wacana&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih adanya hasrat atau munculnya gerakan-gerakan itu sebenarnya tidak lepas dari benturan wacana Islam dan demokrasi dengan segala variannya di kalangan umat Islam. Demokrasi dianggap sebagai produk asing, produk Barat yang sekuler, tidak islami, yang memisahkan antara agama dengan politik, antara yang sifatnya duniawi dan ukhrawi. Demokrasi dipandang sebagai sistem yang menjauhkan nilai-nilai ketuhanan atau ilahiah dalam kehidupan politik. Lebih jauh lagi, demokrasi dianggap sebagai sistem yang menempatkan manusia sebagai sentral, dengan segala produk-produk pemikirannya, dan ‘menyingkirkan’ Tuhan. Jika dalam Islam Tuhan adalah segalanya, dalam demokrasi manusialah segalanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ideologi dan doktrin negara Islam terus diperjuangkan sekelompok orang atau organisasi tertentu dengan segala strategi politik dan reinterpretasi doktrin Islam yang berkembang terkait dengan wacana Islam dan demokrasi. Itu terjadi dalam konteks Indonesia sebagai negara bersistem demokrasi, yang secara konstitusional menolak segala bentuk upaya pendirian negara agama apa pun sejak Pancasila disahkan sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945 dengan dibuangnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang bertendensi menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika menelisik perjalanan gerakan Islam di Indonesia, bahkan di dalam tubuh umat Islam sendiri, sebenarnya mereka tidak sepenuhnya menolak demokrasi. Meskipun hidup di alam demokrasi, mereka menjadi muslim yang bisa tetap menjalankan ibadah keagamaan atau merayakan hari-hari keagamaan. Mereka yang seperti ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka yang menentang demokrasi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Artinya, secara faktual, masyarakat muslim tidak terlalu merisaukan demokrasi atau menganggap demokrasi sebagai sesuatu yang haram. Ada ketidakseragaman dalam menyikapi demokrasi. Ada yang ekstrim menentang demokrasi, ada yang tegas membela demokrasi dan menegaskan bahwa demokrasi tidaklah bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, ada juga yang menegaskan bahwa demokrasi diapresiasi, tapi itu dalam rangka menuju terwujudnya negara Islam, terimplementasinya syariat Islam dalam kehidupan; demokrasi sekadar jembatan untuk itu. Yang terakhir ini disebut dengan Islam mazhab Qardhawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Introspeksi Negara&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dalam bukunya, Aulawiyah al-Harakah al-Islamiyah fi al-Marhalah al-Qadimah, Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa gerakan Islam ialah segala aktivitas rakyat yang bersifat bersama (jamaah) dan terorganisasi, yang berupaya mengembalikan Islam agar kembali memimpin masyarakat dan mengarahkan mereka dalam segala aspeknya, menyatukan umat atas dasar kalimat Allah; membebaskan bumi Islam dari segala agresor atau dominasi nonmuslim, mengalikan khilafah Islamiyah agar beperan kembali sebagai komando memperbarui kewajiban dakwah kembali; amar ma’ruf dan nahi munkar, jihad di jalan Allah dengan tangan, lisan, atau kalbu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Gerakan Islam, lanjut Qardhawi, harus selalu berada dalam barisan kebebasan politik yang tecermin dalam demokrasi yang benar, bukan demokrasi yang palsu. Gerakan Islam, dan kebangkitan Islam, bunganya tidak mekar, bibitnya tidak tumbuh, akarnya tidak menghunjam, dan cabangnya tidak menjulang kecuali apabila berada dalam suasana yang bebas dan iklim yang demokratis. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok NII muncul selain bisa dibaca dalam konteks politik saat itu, juga dibaca dalam konteks ideologis, yakni pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Dari ideologi itulah mereka menjelma menjadi gerakan terorganisasi yang belakangan ingin menunjukkan kembali secara organisasi bahwa eksistensi gerakan untuk mendirikan negara Islam, mengganti sistem demokrasi, dan mengubah dasar negara Indonesia, belum habis. Meskipun secara kuantitas sedikit, namun militansinya sangat kuat. Militansi yang kemudian acapkali membuahkan tindakan-tindakan radikal dan kekerasan dengan dalih jihad di jalan Tuhan, perjuangan suci menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi. John L Esposito menyebut mereka ini sebagai minoritas ekstrem, sementara selain mereka sebagai kelompok arus utama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kembali munculnya isu-isu NII akhir-akhir ini pada hakikatnya bisa dibaca sebagai peringatan terhadap negara demokrasi ini. Demokrasi kita dalam beberapa hal patut diapresiasi, tapi dalam hal lain membuat kita miris. Lihatlah bagaimana aktor-aktor demokrasi, yakni para politisi dan para birokrat pemerintah, justru yang menjadi para perusak demokrasi. Korupsi yang merajalela di kalangan mereka menjadi bukti nyata hal ini. Tidak heran, suara-suara untuk mengganti demokrasi menjadi nyaring. Setidaknya, terus menjadi duri dalam daging. Segenap elemen bangsa, khususnya pemerintah (negara) perlu mencermati hal ini baik-baik. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-5546968185939538181?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/5546968185939538181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/nii-demokrasi-dan-tantangan-negara.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5546968185939538181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5546968185939538181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/nii-demokrasi-dan-tantangan-negara.html' title='NII, Demokrasi, dan Tantangan Negara'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8055291157713342423</id><published>2011-08-04T04:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-04T04:59:32.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Puasa Membangun Karakter Manusia</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lebih daripada sekadar kewajiban, puasa sesungguhnya media membangun karakter dan perilaku orang yang berpuasa. Puasa membangun diri manusia, lahir dan batin, yang tujuan akhirnya adalah menjadikan manusia—seperti diistilahkan Alquran—sebagai orang-orang yang bertakwa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut bahasa, puasa artinya menahan diri. Secara lahiriah, puasa berarti menahan diri dari makan dan minum mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Secara batiniah, puasa berarti menahan diri dari keinginan-keinginan buruk yang didorong hawa nafsu. Puasa batiniah adalah berjuang mengendalikan hawa nafsu. Dan puasa dalam pengertian lahiriah menjadi jurus jitu untuk mengendalikan hawa nafsu ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dalam buku Durratun Nasihin, karya Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khaubari, disebutkan setelah Allah menciptakan akal, Dia menciptakan nafsu, kemudian menyuruhnya untuk menghadap, tapi nafsu tidak menjawab. Allah pun bertanya, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?” Nafsu menjawab, “Aku adalah aku, Engkau adalah Engkau.” Mendengar itu, Allah menyiksanya di dalam neraka Jahim selama seratus tahun, kemudian mengeluarkannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah keluar, Allah kemudian bertanya, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?” Nafsu menjawab, “Aku adalah aku, Engkau adalah Engkau.” Allah pun menyiksanya lagi, dan kali ini di dalam neraka Ju’ (Ju’ dalam bahasa Arab artinya lapar) selama seratus tahun. Setelah Allah mengeluarkannya, Dia bertanya, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?” Nafsu akhirnya menjawab, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Tuhanku.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari sini jelaslah bahwa dengan berpuasa, menahan lapar dan haus, sejatinya Allah tengah mengajari manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dan menundukkannya. Menjadi seorang hamba yang bertakwa tidak akan mungkin sebelum ia bisa mengendalikan hawa nafsunya. Orang tidak akan mungkin bisa melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya kecuali setelah ia mengendalikan hawa nafsunya, karena hawa nafsu selalu menyuruh orang untuk melanggar perintah Allah dan melakukan apa yang dilarang-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Menurut Sayyed Hossein Nasr, dalam buku Ramadan: Motivating Believers to Action: An Interfaith Perspective, yang disunting Laleh Bakhtiar, aspek paling sulit dari puasa ialah ujung pedang pengendalian diri yang diarahkan pada jiwa hewani, the carnal soul, al-nafs al-ammarah seperti disebut dalam Alquran. Dalam puasa, kecenderungan jiwa hewani untuk memberontak perlahan-lahan dijinakkan dan ditenangkan melalui penaklukkan kecenderungan ini secara sistematis pada kehendak Ilahi. Setiap saat merasakan lapar, jiwa seorang muslim diingatkan bahwa demi mematuhi perintah Ilahi, gejolak jiwa hewani harus dikesampingkan. Itulah sebabnya, puasa bukan hanya menahan diri dari makan, melainkan juga menahan diri dari semua dorongan hawa nafsu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nabi dalam sebuah hadisnya menyebut puasa sebagai perisai atau tameng (junnah). Perisai dalam medan tempur berfungsi menahan serangan senjata musuh. Musuh ada dua bentuk: musuh luar (eksternal) dan musuh dalam (internal). Dalam konteks di luar perang, musuh luar adalah godaan-godaan, baik itu dari manusia atau lainnya, di luar dirinya, yang mengajak pada hal-hal negatif. Sementara musuh dalam adalah hawa nafsu yang harus ditaklukkan dan dikendalikan agar tetap di jalan kepatuhan. Dua bentuk musuh ini ditahan dengan puasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi, tidak semua orang berpuasa mampu menahan hawa nafsunya. Mereka hanya baru bisa sebatas menahan diri untuk tidak makan dan minum. Berpuasa tapi tetap berdusta. Berpuasa tapi tetap korupsi. Berpuasa tapi tetap menyakiti orang lain. Berpuasa tapi tetap berbuat jahat terhadap orang lain. Nabi menyebut orang yang berpuasa semacam ini hanya mendapatan lapar dan haus semata, tidak mendapat pahala puasa. Dengan kata lain, puasanya sia-sia, tanpa makna. Sebatas pemenuhan kewajiban. Puasa musiman. Dalam kenyataan, perilakunya tidak berubah. Nafsunya tetap liar tak terkendali.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Al-Ghazali (1058—1111), dalam bukunya yang terkenal Ihya’ Ulumuddin, menyebut puasa orang itu baru puasa tingkat orang awam (kebanyakan), puasa tingkat pertama. Yakni puasa sebatas menahan makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan puasa. Puasanya sebatas formalitas. Padahal, menurut beliau, ada dua tingkatan yang lebih atas lagi, yakni tingkatan khusus dan paling khusus. Puasa tingkat khusus atau puasa tingkat kedua adalah mencegah pendengaran, penglihatan, lidah, tangan, kaki dan anggota-anggota tubuh lainnya dari dosa atau perbuatan tercela. Sementara puasa tingkat ketiga yang paling khusus adalah puasanya hati dari segala cita-cita atau keinginan-keinginan yang hina dan segala pikiran duniawi kecuali dunia yang dimaksudkan untuk kepentingan agama. Di tingkat inilah orang berpuasa menjadi hamba bertakwa dan berkarakter luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampung Post, Kamis 4 Agustus 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8055291157713342423?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8055291157713342423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/puasa-membangun-karakter-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8055291157713342423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8055291157713342423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/puasa-membangun-karakter-manusia.html' title='Puasa Membangun Karakter Manusia'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8425544059190502111</id><published>2011-08-03T05:16:00.000-07:00</published><updated>2011-08-03T05:17:23.197-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Menghalau Nafsu Saat Berpuasa</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umat Islam tahun ini kembali kedatangan tamu agung dan mulia, yaitu bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan pahala. Pada bulan ini, kita diwajibkan untuk berpuasa, menahan diri tidak hanya dari kesenangan ragawi (badani), seperti makan dan minum, tetapi juga—bahkan ini yang tidak kalah pentingnya—dari kesenangan nafsu yang sebelumnya diumbar sebebas-bebasnya tanpa kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu adalah keinginan di dalam diri kita yang mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Secara garis besar, nafsu ada dua. Nafsu yang buruk dan nafsu yang baik. Nafsu yang buruk dalam ungkapan yang biasa kita gunakan adalah hawa nafsu. Nafsu ini mendorong kita untuk melakukan hal-hal buruk, semata-mata demi kepuasan dan kesenangan badaniah, dan menjauhkan kita dari Allah. Sedangkan nafsu yang baik adalah nafsu yang tenang, yang mendorong kita untuk berbuat baik, menjauhi hal-hal buruk dan tercela, dan mendekatkan diri kita kepada Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama ahli tasawuf membagi nafsu ke dalam tujuh tingkatan. Pertama, nafsu amarah. Orang yang memiliki nafsu tingkat ini senang melakukan perbuatan yang dilarang asalkan dirinya bisa merasa senang dengan perbuatannya itu. Inilah nafsu yang selalu menentang kebenaran dan menyetujui kesalahan. Nafsu yang selalu membangkang, tidak menurut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, nafsu lawwamah. Orang yang memiliki nafsu tingkat ini sudah mengetahui perbuatan yang dilarang dan amal kebajikan. Di satu sisi, saat melakukan perbuatan buruk atau jahat, dia masih merasa senang dengan itu, namun di sisi lain ia menyesali perbuatannya itu. Orang yang nafsunya di tingkat ini kadang berbuat baik, dan setelah itu akan kembali melakukan perbuatan buruk lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, nafsu mulhamah. Orang yang memiliki nafsu tingkat ini apabila hendak melakukan amal kebajikan merasa berat. Namun, ketika ia sungguh-sungguh ingin melakukan kebaikan, dia melakukannya, karena ia sudah mulai takut pada kemurkaan Allah dan pedihnya api neraka. Apabila berhadapan dengan keburukan, hatinya masih rindu untuk melakukannya. Namun, dalam tingkat nafsu ini, ia masih dapat melawan dengan membayangkan nikmatnya berada di surga. Dia sudah mengenal penyakit-penyakit yang ada di hatinya, seperti iri hati, dengki, syirik, dan seterusnya. Tetapi, dia masih belum bisa sepenuhnya melawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, nafsu muthmainah. Orang yang memiliki nafsu tingkat ini akan merasakan kenikmatan ketika di dalam hatinya segala penyakit hati hilang. Dengan hilangnya penyakit-penyakit itu, ia kemudian membenci perbuatan buruk. Ia menghindarinya dan tidak melakukannya. Orang ini akan senantiasa dijauhkan dari kecemasan dan kegelisahan atas semua yang Allah tetapkan dan hatinya selalu merasa sejuk, jiwanya tenteram, jika dia bisa melakukan suatu amal kebajikan. Hatinya senantiasa merindukan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, nafsu radhiah. Orang yang memiliki nafsu tingkat ini selalu menganggap bahwa hal-hal yang makruh sebagai haram, dan hal-hal yang sunah sebagai wajib. Jika ia tidak melaksanakan apa yang disunahkan, ia merasa berdosa. Baginya, takdir baik atau buruk sama saja. Ia tidak peduli dengan urusan yang berbau duniawi. Karena hatinya sudah terpaut dengan Allah dan rida atas segala keputusan yang Allah berikan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, nafsu mardhiah. Orang yang memiliki nafsu tingkat ini sangat mencintai Allah, dan Allah sangat mencintainya. Dia berhasil membuat Allah mencintainya dengan melaksanakan apa yang Allah sunahkan dan tidak melaksanakan satu pun dosa, sekecil apa pun. Dalam sebuah hadis qudsi disebutkan, Allah berkata, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan mengerjakan ibadah-ibadah sunah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya, Aku pun menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia berbuat, menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Jika ia meminta-Ku, maka Aku memberinya. Jika ia memohon perlindungan-Ku, maka Aku melindunginya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, nafsu kamilah. Ini adalah nafsu tingkatan para Nabi dan Rasul, manusia yang suci dan sempurna, yang terpelihara dari perbuatan tercela dan Allah selalu mengawasi dan membimbingnya. Kita memang tidak bisa menjadi Nabi atau Rasul, karena pintu kenabian dan kerasulan sudah tertutup dengan wafatnya Rasulullah. Tetapi, itu tidak berarti kita tidak bisa berupaya untuk menjadi manusia sempurna seperti mereka. Dengan mengikuti ajaran-ajaran mereka dan meneladani mereka, kita berarti tengah berupaya menuju kepada kesempurnaan kita sebagai makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelas bulan lamanya, hawa nafsu kita bergerak bebas mengendalikan kita, menguasai kita, dan menjerumuskan kita pada hal-hal yang kotor, buruk, dan tercela, serta menjauhkan kita dari Allah. Dan, selama itu pula, kita berjuang dengan sekuat tenaga untuk melawannya. Namun, kita sering kali kalah. Datangnya bulan Ramadhan menjadi momentum yang sangat baik untuk mengendalikan hawa nafsu kita melalui media puasa. Dengan puasa, kita paksa hawa nafsu kita untuk tunduk. Kita tahan hawa nafsu kita untuk tidak makan dan minum dari pagi hingga sore. Karena, menurut para ulama, makanan dan minuman itulah sumber kekuatan hawa nafsu. Semakin banyak makan dan minum, semakin besar juga kekuatan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa nafsu harus kita lawan sekuat tenaga, seperti kita melawan gempuran musuh dalam peperangan. Hal ini tidak mudah kita lakukan, terutama bagi kita yang hawa nafsunya sudah begitu kuat dan lama menguasai kita. Kita mesti bersungguh-sungguh berjuang (mujahadah) menahan hawa nafsu. Menahan hawa nafsu dalam sebuah hadis bahkan dikatakan sebagai jihad yang paling besar. Disebutkan, sepulang dari suatu peperangan, Rasulullah mengatakan kepada para sahabatnya, “Telah datang kepadamu berita yang baik; kamu datang dari jihad yang kecil kepada jihad yang lebih besar yaitu seorang hamba Allah yang berjuang melawan hawa nafsunya.” (Khatib Al-Baghdadi, Tarikh Baghdad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melawan hawa nafsu lebih sulit daripada melawan serangan musuh, karena hawa nafsu ada di dalam diri kita, tidak terlihat, hanya kita rasakan dorongannya. Sementara musuh bisa kita lihat, ada wujudnya, dan kita bisa melawannya. Ibnul Qayyim dalam karyanya, Raudhatul Muhibbin, mengatakan bahwa melawan hawa nafsu bagi seorang hamba melahirkan suatu kekuatan di badan, hati, dan lisannya. Sebagian ulama salaf mengatakan bahwa orang yang bisa mengalahkan nafsunya lebih kuat daripada orang yang menaklukkan sebuah kota seorang diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khubari dalam karyanya, Durratun Nashihin, menyebutkan bahwa setelah Allah menciptakan akal, Dia menciptakan nafsu, kemudian menyuruhnya untuk menghadap, namun nafsu tidak menjawab. Allah pun bertanya, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?” Nafsu menjawab, “Aku adalah aku, Engkau adalah Engkau.” Mendengar itu, Allah menyiksanya di dalam neraka Jahim selama seratus tahun, kemudian mengeluarkannya. Allah kemudian bertanya, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?” Nafsu menjawab, “Aku adalah aku, Engkau adalah Engkau.” Allah pun menyiksanya lagi, dan kali ini di dalam neraka Ju’ (Ju’ artinya lapar) selama seratus tahun. Setelah Allah mengeluarkannya, Dia bertanya, “Siapakah engkau dan siapakah Aku?” Nafsu akhirnya menjawab, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Tuhanku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa nafsu bisa kita lawan dan kendalikan dengan berpuasa secara baik dan sungguh-sungguh karena Allah, di bulan Ramadhan. Jika kita ingin melawan hawa nafsu, mengalahkan, dan menundukkannya, Ramadhan adalah waktu yang tepat. Selamat berpuasa. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah HIDAYAH, edisi Agustus 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8425544059190502111?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8425544059190502111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/menghalau-nafsu-saat-berpuasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8425544059190502111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8425544059190502111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/08/menghalau-nafsu-saat-berpuasa.html' title='Menghalau Nafsu Saat Berpuasa'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-1025561139107032927</id><published>2011-07-30T07:01:00.000-07:00</published><updated>2011-10-01T05:55:37.780-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Jejak Api Cak Nur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Oagxg4WlElo/TocNwg6kV4I/AAAAAAAAAPg/YSUAB_jQTbQ/s1600/api%2Bislam%2Bcak%2Bnur%2B-%2Bahmad%2Bgaus.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Oagxg4WlElo/TocNwg6kV4I/AAAAAAAAAPg/YSUAB_jQTbQ/s200/api%2Bislam%2Bcak%2Bnur%2B-%2Bahmad%2Bgaus.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658506583934785410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Api Islam Nurcholish Madjid; Jalan Hidup Seorang Visioner&lt;br /&gt;Penulis : Ahmad Gaus AF&lt;br /&gt;Penerbit : Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Agustus 2010&lt;br /&gt;Tebal : xlii+382 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-709-514-7&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kalangan kaum intelektual Indonesia, muslim terutama, nama Nurcholish Madjid atau yang akrab disapa Cak Nur, sudah tidak asing lagi. Dialah salah satu pembaru pemikiran Islam Indonesia terkemuka, terutama pada masa-masa penting tahun 60-70-an. Masa ketika wacana Islam berbenturan dengan politik Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba) yang represif terhadap gerakan Islam, atau gerakan-gerakan yang membawa simbol-simbol Islam, seperti Masjumi. Di era Orla, Masjumi dibekukan Soekarno karena diduga terlibat pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia). Di era Orba, Soeharto menolak rehabilitasi nama Masjumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Ahmad Gaus AF ini dengan sangat baiknya mengungkap jejak Cak Nur baik sebagai seorang pemikir pembaru Islam maupun aktivis pergerakan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga kiprahnya mendirikan dan mengelola Yayasan Paramadina yang hingga saat ini eksis dengan Universitas Paramadina bentukannya, wujud dari komitmennya untuk mengembangkan gagasan-gagasan Islamnya. Cak Nur sebagai intelektual Islam dan Cak Nur sebagai manusia biasa yang hidup sederhana, menjalani pahit getirnya hidup selama menjadi mahasiswa dan setelah menikah, bersama istri dan anak-anaknya. Cak Nur yang mencoba terjun ke dunia politik praktis di era reformasi dengan keinginannya untuk masuk ke dalam bursa calon presiden melalui Golkar, meski akhirnya tidak jadi mengembalikan formulir pendaftaran. Juga peran krusial Cak Nur dalam jatuhnya Soeharto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemikir pembaru Islam, nama Cak Nur mulai dikenal semakin luas ketika ia pada 2 Januari 1970, dalam acara forum silaturahmi, melontarkan gagasan yang menuai kontroversi, dengan makalahnya yang sangat terkenal berjudul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Umat”. Persoalan pertama terkait dengan proses liberalisasi pemikiran Islam yang menyangkut proses-proses lainnya, yaitu sekularisasi, kebebasan berpikir, serta idea of progress dan sikap terbuka. Sementara persoalan kedua terkait dengan masalah umat Islam dalam konteks strategi gerakan Islam politik pasca dibekukannya Masjumi dan ditolaknya rehabilitasi nama Masjumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah sekularisasi dalam berbagai diskusi Cak Nur dengan teman-teman aktivis awalnya adalah desakralisasi. Namun, pada makalah itu Cak Nur tidak hanya menggunakan istilah desakralisasi, tapi juga istilah sekularisasi sebagai “sengatan”. Dengan desakralisasi, Cak Nur menyerukan kaum muslim untuk berhenti menyucikan sesuatu yang memang tidak suci. Pada masa lalu, wilayah suci itu relatif terbatas pada objek-objek fisikal yang dikenal masyarakat awam, sekarang wilayah suci itu berkembang lebih luas dalam wujud organisasi dan partai. Menurut Cak Nur, andaikata umat konsekuen dengan tauhid yang dianutnya, seharusnya terjadi desakralisasi pandangan terhadap semua yang selain Tuhan, karena tauhid merupakan pemutlakan transenden, semata-mata kepada Tuhan. Sakralisasi kepada semua objek selain Tuhan, kata Cak Nur, tidak lain adalah bentuk kemusyrikan, lawan dari tauhid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara persoalan kedua terkait dengan masalah gerakan Islam politik pasca dibekukannya Masjumi dan ditolaknya rehabilitasi. Menurut Cak Nur, yang penting adalah kualitas umat, bukan kualitas. Kata Cak Nur, “Islam yes, partai Islam no.” Ungkapan ini sebenarnya merupakan jawaban dari realitas yang diamatinya. Dalam makalah itu, ia mempertanyakan, sekaligus memberikan jawabannya: “…sampai di manakah mereka tertarik kepada partai-partai/organisasi-organisasi Islam? Kecuali sedikit saja, sudah terang mereka sama sekali tidak tertarik kepada partai-partai/organissi-organisasi Islam. Sehingga, rumusan mereka kira-kira berbunyi: Islam, yes, partai Islam no!” Cak Nur juga meragukan klaim partai-partai Islam sebagai wadah ide-ide yang hendak diperjuangkan berdasarkan Islam. Alasannya, ide itu sekarang dalam keadaan tidak menarik. Dengan kata lain, ide-ide dan pemikiran-pemikiran Islam itu sekarang sedang absolute memfosil, kehilangan dinamika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua persoalan penting makalah inilah yang kemudian memicu kontroversi, terutama di kalangan aktivis gerakan Islam. HMI yang dikendarai Cak Nur sebenarnya lahir dari rahim Masjumi, untuk mengimbangi organ-organ PKI yang ada di sekeliling Soekarno, meski kemudian HMI menyatakan diri sebagai organisasi independen. Awalnya, makalah itu sepi tanggapan. Namun, setelah makalah itu dimuat di Harian Indonesia Raya secara utuh pada edisi Minggu 4 Januari 1970, kemudian media-media lain ikut memuatnya, seperti Pedoman, Mimbar Demokrasi, dan KAMI, polemik pun bermunculan semakin membesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Abdul Qadir Djaelani, seorang tokoh muda PII (Pelajar Islam Indonesia), yang dalam khutbahnya menyindir Cak Nur sebagai anak muda yang masih mentah pikirannya, yang imannya tidak sampai tenggorokan tetapi berani mengucapkan kata-kata Rasul. Natsir dan Hamka, dua punggawa Masjumi tidak secara frontal menyerang Cak Nur, hanya mengatakan bahwa pembaruan Islam mestinya tidak mengorbankan persatuan Islam. Kritik-kritik pedas dilontarkan Prof. Rasyidi, terutama pada ide sekularisasi Cak Nur yang dianggap berinti pada pemisahan antara agama dan negara: tidak ada negara Islam, serta liberalisme dan sekularisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidupnya, Cak Nur memang kerap menuai kecaman dari lawan-lawan yang berseberangan, terutama terhadap pemikiran-pemikiran pembaruan Islamnya, bahkan meskipun masa sudah berlalu lama. Banyak kalangan masih menaruh curiga terhadapnya, bahkan hingga ketika Cak Nur meninggal dunia. Menurut mereka, Cak Nur meninggal dunia dalam keadaan yang buruk. Melalui buku ini, Ahmad Gaus ingin mengajak kita untuk melihat seorang Cak Nur secara objektif. Cak Nur disebut-sebut sebagai “Natsir Muda” namun membawa spirit pemikiran Islam ala Soekarno yang mengatakan bahwa umat Islam mestinya mengambil api Islam, bukan abunya. Dalam ungkapan yang sering kali diulang Cak Nur: mempertahankan tradisi masa lalu yang baik, dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Buku ini menjadi karya berharga tentang Cak Nur.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-1025561139107032927?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/1025561139107032927/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/jejak-api-cak-nur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1025561139107032927'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/1025561139107032927'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/jejak-api-cak-nur.html' title='Jejak Api Cak Nur'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Oagxg4WlElo/TocNwg6kV4I/AAAAAAAAAPg/YSUAB_jQTbQ/s72-c/api%2Bislam%2Bcak%2Bnur%2B-%2Bahmad%2Bgaus.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3602115699398513836</id><published>2011-07-28T08:22:00.001-07:00</published><updated>2011-10-01T05:59:11.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mimpi Mengganti Demokrasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-tM1tbqCJrwY/TocOlK0YIQI/AAAAAAAAAPw/GkuUmb_q80g/s1600/N-11%2B-%2Bkompas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 153px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-tM1tbqCJrwY/TocOlK0YIQI/AAAAAAAAAPw/GkuUmb_q80g/s200/N-11%2B-%2Bkompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5658507488536305922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Fajar Kurnianto&lt;br /&gt;Alumnus UIN Jakarta&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Demokrasi di Bawah Bayangan Mimpi N-11&lt;br /&gt;Penulis : Abdul Munir Mulkhan &amp; Bilveer Singh &lt;br /&gt;Penerbit : Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, April 2011&lt;br /&gt;Tebal : xii+380 halaman&lt;br /&gt;ISBN : 978-979-709-564-2&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hasrat sekelompok orang atau organisasi tertentu untuk mendirikan negara Islam, mengubah Indonesia menjadi negara Islam, mengganti dasar negara Pancasila dengan Islam, dan mengganti sistem demokrasi menjadi sistem Islam yang disebut dengan sistem Khilafah, dan menjadikan hukum-hukum Islam (syariat) sebagai Undang-Undang negara yang mengatur kehidupan bernegara dan berbangsa, hingga terciptalah sebuah negara Islam yang diimajinasikan seperti negara Islam pada masa Nabi Muhammad dan empat Khalifah setelah beliau, hingga kini belum benar-benar mati. Gerakan N-11, akronim dari Negara Islam Indonesia (NII), sebagai kelanjutan dari NII Kartosoewirjo adalah salah satunya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Adanya hasrat atau munculnya gerakan-gerakan itu sebenarnya tidak lepas dari benturan wacana Islam dan demokrasi dengan segala variannya di kalangan umat Islam. Demokrasi dianggap sebagai produk asing, produk Barat yang sekuler, tidak islami, yang memisahkan antara agama dengan politik, antara yang sifatnya duniawi dan ukhrawi. Demokrasi dipandang sebagai sistem yang menjauhkan nilai-nilai ketuhanan atau ilahiah dalam kehidupan politik. Lebih jauh lagi, demokrasi dianggap sebagai sistem yang menempatkan manusia sebagai sentral, dengan segala produk-produk pemikirannya, dan ‘menyingkirkan’ Tuhan. Jika dalam Islam Tuhan adalah segalanya, dalam demokrasi manusialah segalanya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku karya Abdul Munir Mulkhan &amp; Bilveer Singh ini coba melihat bagaimana ideologi dan doktrin negara Islam terus diperjuangkan sekelompok orang atau organisasi tertentu dengan segala strategi politik dan reinterpretasi doktrin Islam yang berkembang terkait dengan wacana Islam dan demokrasi, dalam konteks Indonesia sebagai negara bersistem demokrasi, yang secara konstitusional menolak segala bentuk upaya pendirian negara agama apa pun sejak Pancasila disahkan sebagai dasar negara pada 18 Agustus 1945 dengan dibuangnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta yang bertendensi menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Uniknya, meskipun umat Islam adalah mayoritas, tapi mereka tidak sepenuhnya memberikan suaranya kepada partai-partai berideologi Islam. Sehingga, partai-partai Islam selalu kalah dalam Pemilu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari penelusuran yang dilakukan di buku ini, dalam tubuh umat Islam sendiri tidak sepenuhnya menolak demokrasi. Meskipun hidup di alam demokrasi, mereka tetaplah menjadi muslim yang bisa tetap menjalankan ibadah keagamaan atau merayakan hari-hari keagamaan. Mereka yang seperti ini jumlahnya jauh lebih banyak daripada mereka yang menentang demokrasi. Artinya, secara faktual, masyarakat muslim tidak terlalu merisaukan demokrasi atau menganggap demokrasi sebagai sesuatu yang haram. Di tubuh kelompok Islam sendiri sebetulnya tidak seragam dalam menyikapi demokrasi. Ada yang ekstrim menentang demokrasi, ada yang tegas membela demokrasi dan menegaskan bahwa demokrasi tidaklah bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, ada juga yang menegaskan bahwa demokrasi diapresiasi, tapi itu dalam rangka menuju terwujudnya negara Islam, terimplementasinya syariat Islam dalam kehidupan; demokrasi sekadar jembatan untuk itu. Yang terakhir ini disebut dengan Islam mazhab Qardhawi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di dalam bukunya, Aulawiyah al-Harakah al-Islamiyah fi al-Marhalah al-Qadimah, Yusuf Qardhawi menyebutkan bahwa gerakan Islam ialah segala aktivitas rakyat yang bersifat bersama (jamaah) dan terorganisasi, yang berupaya mengembalikan Islam agar kembali memimpin masyarakat dan mengarahkan mereka dalam segala aspeknya, menyatukan umat atas dasar kalimat Allah; membebaskan bumi Islam dari segala agresor atau dominasi nonmuslim, mengalikan khilafah Islamiyah agar beperan kembali sebagai komando memperbarui kewajiban dakwah kembali; amar ma’ruf dan nahi munkar, jihad di jalan Allah dengan tangan, lisan, atau kalbu. Gerakan Islam, lanjut Qardhawi, harus selalu berada dalam barisan kebebasan politik yang tecermin dalam demokrasi yang benar, bukan demokrasi yang palsu. Gerakan Islam, dan kebangkitan Islam, bunganya tidak mekar, bibitnya tidak tumbuh, akarnya tidak menghunjam, dan cabangnya tidak menjulang kecuali apabila berada dalam suasana yang bebas dan iklim yang demokratis (hlm. 283-284).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok N-11 atau NII yang dalam buku ini mengambil kasus Talangsari, Lampung, pada tahun 1980-an, yang terkenal dengan peristiwa ‘Geger Talangsari’, antara lain lahir dalam pusaran perdebatan wacana Islam dan demokrasi yang belum selesai, menjelma menjadi gerakan terorganisasi yang ingin menunjukkan kembali secara organisasi bahwa eksistensi gerakan untuk mendirikan negara Islam, mengganti sistem demokrasi, dan mengubah dasar negara Indonesia, belum habis. Meskipun secara kuantitas sedikit, namun militansinya sangat kuat. Militansi yang kemudian acapkali membuahkan tindakan-tindakan radikal dan kekerasan dengan dalih jihad di jalan Tuhan, perjuangan suci menegakkan kalimat Tuhan di muka bumi. John L Esposito menyebut mereka ini sebagai minoritas ekstrem, sementara selain mereka sebagai kelompok arus utama.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lahirnya kelompok N-11 atau NII sesungguhnya tidak hanya karena pemaknaan terhadap doktrin-doktrin agama secara tekstual, tapi secara politis merentang dari—bahkan—sejak sebelum Indonesia merdeka. Sayangnya buku ini tidak terlalu dalam mengelaborasi sisi politis ini. Hal penting yang barangkali bisa diambil dari buku ini adalah bahwa gerakan untuk mendirikan negara Islam, mengubah dasar negara, mengganti Undang-Undang dengan syariat Islam, masih terus eksis, tidak mati sama sekali. Demokrasi dihadapkan pada tantangan yang cukup berat, apalagi jika melihat aktor-aktor demokrasi saat ini justru menjadi para perusak demokrasi, sehingga suara-suara untuk mengganti demokrasi semakin nyaring dan menemukan momentumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3602115699398513836?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3602115699398513836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/mimpi-mengganti-demokrasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3602115699398513836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3602115699398513836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/mimpi-mengganti-demokrasi.html' title='Mimpi Mengganti Demokrasi'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-tM1tbqCJrwY/TocOlK0YIQI/AAAAAAAAAPw/GkuUmb_q80g/s72-c/N-11%2B-%2Bkompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-9212172090974421688</id><published>2011-07-18T05:56:00.000-07:00</published><updated>2011-07-18T06:00:53.258-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Agenda Monopoli Kampanye Antirokok</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Gh-De2pSiEc/TiQudjClDII/AAAAAAAAAM8/VTGSXWdWXiE/s1600/Kriminalisasi%2BBerujung%2BMonopoli.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Gh-De2pSiEc/TiQudjClDII/AAAAAAAAAM8/VTGSXWdWXiE/s200/Kriminalisasi%2BBerujung%2BMonopoli.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5630676519277104258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Kriminalisasi Berujung Monopoli&lt;br /&gt;Penulis : Salamuddin Daeng, dkk.&lt;br /&gt;Penerbit : Indonesia Berdikari&lt;br /&gt;Tahun : I, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal : xx+214 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kampanye antirokok begitu gencar dilakukan pemerintah. Beberapa kota di Indonesia pun mengeluarkan peraturan larangan merokok di tempat umum, seperti DKI Jakarta, Surabaya, Bogor, Padang Panjang, Palembang, Tangerang, dan Bandung. Tidak hanya pemerintah, bahkan organisasi keagamaan pun ikut menjadi bagian dari kampanye antirokok. Kita tentu masih ingat, misalnya, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram rokok. Juga, fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok bagi anak-anak, remaja, wanita hamil, dan merokok di tempat umum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika dicermati lebih jauh, kampanye antirokok ini sebetulnya merupakan bagian dari tekanan rezim internasional terhadap industri rokok dan tembakau melalui apa yang disebut dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Perjanjian yang telah disepakati di bawah organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO), kemudian dipaksakan untuk menjadi aturan hukum nasional Indonesia melalui ratifikasi dan adopsi ke dalam Undang-Undang (UU) sektoral, dalam hal ini UU di bidang kesehatan. FCTC merupakan perjanjian internasional yang dimaksudkan untuk membatasi produksi, distribusi, dan penjualan tembakau di dunia dengan alasan kesehatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku hasil penelitian serius dan mendalam dari lima orang; Salamuddin Daeng, Syamsul Hadi, Ahmad Suryono, Dahris Siregar, dan Dini Adiba Septiani, yang didukung oleh lembaga Indonesia Berdikari (IB), ini ingin mengungkap agenda bisnis sesungguhnya di balik kampanye antirokok, melalui kajian ekonomi politik dan hukum dalam konteks Indonesia. Ada kepentingan bisnis multinasional yang bermain dengan cantik di belakangnya. FCTC tidaklah “murni untuk kesehatan”. Ibarat pepatah semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Demikianlah industri rokok dan tembakau di tanah air dalam konstelasi ekonomi politik global.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagi Indonesia, industri rokok dan tembakau merupakan salah satu industri nasional yang sangat kuat hingga kini, di tengah kecenderungan “deindustrialisasi” yang terjadi di Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir. Industri yang telah hidup dan berkembang lebih dari seratus tahun ini, yang umurnya setara dengan usia kegiatan eksploitasi migas di negeri ini, bahkan menjadi penyumbang terbesar bagi pendapatan negara, jauh lebih tinggi dari pendapatan negara yang diperoleh dari eksploitasi sumber daya alam tambang yang selama ini menjadi andalan investasi di Indonesia. Industri ini memberikan sumbangan terbesar terhadap pertumbuhan, penyerapan tenaga kerja, dan pendapatan negara.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kancah global, seperti dicatat di buku ini, secara keseluruhan pasar tembakau bernilai 378 miliar dollar AS, dan tumbuh 4,6 persen pada 2007. Pada 2012, nilai pasar tembakau global diproyeksikan meningkat 23 persen lagi, mencapai 464,4 miliar dollar AS. Jika seluruh industri tembakau besar digabungkan dan diibaratkan sebagai “negara”, maka posisinya akan menduduki peringkat ke-23 terbesar di dunia dalam hal produk domestik bruto (PDB), melebihi PDB dari negara-negara seperti Norwegia dan Arab Saudi (hlm. 11). Dari sisi produksi tembakau, berdasarkan data FAO (Food and Agriculture Organization) tahun 2003, Indonesia berada di peringkat ke-8 negara produsen tembakau terbesar di dunia setelah China, India, Brasil, AS, Uni Eropa, Zimbabwe, dan Turki.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam konteks pasar dunia, sebagai salah satu produsen tembakau dan rokok dengan pertumbuhan yang cukup signifikan, Indonesia menjadi negara yang sangat diperhitungkan oleh negara-negara di dunia, terutama negara-negara maju. Indonesia berpotensi merebut pasar dunia yang didominasi negara-negara maju. Upaya merebut pasar telah melahirkan persaingan yang kompleks dan tajam. Pertama, persaingan antara negara berkembang dan negara maju dalam memperebutkan pasar rokok. Kedua, kompetisi antara perusahaan tembakau dan produk olahan tembakau dengan perusahaan farmasi dalam memperebutkan pasar nikotin. Ketiga, kompetisi antara perusahaan rokok besar dan perusahaan rokok kecil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku ini tidak menyarankan masyarakat untuk merokok, sebagai tandingan dari kampanye antirokok. Buku ini hanya ingin menjelaskan bagaimana industri rokok nasional kita yang telah memberi keuntungan bagi negara dan membuka lapangan kerja bagi jutaan orang Indonesia, tidak boleh disingkirkan begitu saja dan dikriminalisasi, apalagi jika itu hanya untuk memenuhi hasrat kepentingan bisnis internasional negara-negara industri maju yang hendak memonopoli, sehingga mengorbankan perekonomian rakyat dan kedaulatan negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Senin 18 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-9212172090974421688?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/9212172090974421688/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/agenda-monopoli-kampanye-antirokok.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9212172090974421688'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9212172090974421688'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/agenda-monopoli-kampanye-antirokok.html' title='Agenda Monopoli Kampanye Antirokok'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Gh-De2pSiEc/TiQudjClDII/AAAAAAAAAM8/VTGSXWdWXiE/s72-c/Kriminalisasi%2BBerujung%2BMonopoli.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4524706242022862052</id><published>2011-07-15T06:56:00.000-07:00</published><updated>2011-07-15T06:58:27.987-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>Mengkritik Politik Minyak Paman Sam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-fOaxIp1Mihw/TiBHdGGubxI/AAAAAAAAAM0/0UYjCr58b6M/s1600/mengapa%2Bperusahaan%2Bminyak%2Bdibenci%2B-%2Bgramedia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-fOaxIp1Mihw/TiBHdGGubxI/AAAAAAAAAM0/0UYjCr58b6M/s200/mengapa%2Bperusahaan%2Bminyak%2Bdibenci%2B-%2Bgramedia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5629578099393720082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Mengapa Perusahaan Minyak Dibenci? &lt;br /&gt;Penulis : John Hofmeister&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, April 2011&lt;br /&gt;Tebal : xx+276 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam soal minyak, dua partai yang terlibat dalam kekuasaan di Amerika Serikat dinilai sama-sama konyol. Sistem perdagangan kredit dianggap cukup efektif untuk mengurangi polusi akibat bahan bakar fosil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri energi di berbagai negara memiliki dinamikanya sendiri. Industri ini pada satu sisi dirindu, tapi di sisi lain juga dibenci. Dirindu, karena semua negara memerlukan energi, ingin pasokan energi tercukupi, lancar, dan tidak terkendala, untuk menjalankan roda industri lainnya. Dibenci, manakala harganya dinaikkan dengan berbagai alasan, sehingga ikut melambungkan harga bahan kebutuhan pokok. Juga tatkala penggunaannya melahirkan dampak buruk terhadap lingkungan, sehingga mempengaruhi perubahan iklim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku John Hofmeister ini coba mengkritisi berbagai isu energi, baik dalam skala internasional maupun nasional, dari perspektif pelaku industrinya sendiri. Mantan Direktur Utama Shell Oil Company itu dikenal sangat kritis tidak hanya terhadap orang-orang di luar industri energi, melainkan juga terhadap rekan-rekannya di industri bahan bakar minyak. Isu internasional yang disorot, misalnya, berkaitan dengan pencemaran atau kerusakan lingkungan, perubahan iklim, dan pemanasan global. Sedangkan isu nasional seperti kemandirian energi, krisis energi, serta hubungan industri ini dengan masyarakat, pemerintah, dan para politisi di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitan dengan perubahan iklim, bagi Hofmeister, yang lebih penting adalah memikirkan cara menangkap, mengelola, dan mengolah limbah gas secara baik. Menurut dia, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mekanisme pembatasan untuk membatasi limbah gas yang memasuki atmosfer (cap) dan memberikan insentif kepada perusahaan agar terangsang mendapatkan cara kreatif mengurangi polusi. Sistem perdagangan kredit dengan metode ganjaran dan hukuman adalah cara paling efektif dalam menciptakan industri pencipta nilai milyaran dolar untuk mengendalikan dan mengelola, serta dalam beberapa kasus menangkap dan menahan emisi gas (halaman 71-72). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks isu nasional, ia melontarkan kritik tajam kepada para politisi Amerika terkait dengan wacana kemandirian energi di negara tersebut. Hofmeister menilai, bila sayap kanan diserahi tugas mengurusi energi, mereka akan menghancurkan bumi. Idem ditto, bila sayap kiri diserahi tugas yang sama, mereka akan menghancurkan masyarakat. Sayap kanan adalah kubu Republik dengan kandidat calon presiden John McCain, sedangkan sayap kiri adalah kubu Demokrat dengan ikon Al Gore dan Obama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap kanan menyerukan: “Drill, baby, drill!” Sayap ini sangat menggandrungi gagasan kemandirian energi dengan secara intensif mengeksploitasi minyak, gas, dan batu bara dalam negeri. Sayap ini juga menolak pembatasan karbon dan gas efek rumah kaca serta mencemooh ide pemanasan global sebagai tipuan lingkungan yang diembuskan oleh kaum eco pessimists.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, Al Gore menuntut kemandirian energi Amerika dengan resep: sumber energi hijau, kendaraan hibrid bertenaga baterai dan plug-in, tidak ada batu bara (kecuali “batu bara bersih”), pembatasan atau tiada lagi pengeboran, dan pembatasan atau tiada lagi nuklir. Semua itu digantikan dengan penggunaan semaksimal mungkin sumber bahan bakar nabati (BBN), angin, dan tenaga surya dalam waktu sesingkat mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hofmeister, kedua sayap ekstrem itu sama-sama konyol. Eksploitasi hidrokarbon tanpa kekangan versi sayap kanan, pada akhirnya, akan menghancurkan keseimbangan lingkungan bumi. Sementara itu, sayap kiri ingin memindahkan ke sumber-sumber energi baru yang belum terbukti, teruji, dan terbangun untuk menggerakkan keseluruhan perekonomian nasional sambil mematikan infrastruktur yang ada dalam waktu hanya satu dasawarsa. Solusinya, kata Hofmeister, ada di titik tengah dua sayap itu (halaman 80-81).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini memang secara khusus berbicara mengenai industri energi Amerika Serikat, namun bisa menjadi pelajaran untuk Indonesia. Ada beberapa persoalan yang sama juga dihadapi Indonesia, seperti penanganan limbah industri pemakai produk industri energi seperti minyak, pemeliharaan dan pelestarian lingkungan, kemandirian dan ketahanan energi, serta hubungan industri ini dengan politik dan masyarakat. Hofmeister menawarkan kerangka kerja untuk menyingkirkan politik dari energi serta memuluskan transisi dari bahan bakar fosil ke suatu masa depan energi yang murah dan lestari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah GATRA, 14 – 20 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4524706242022862052?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4524706242022862052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/mengkritik-politik-minyak-paman-sam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4524706242022862052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4524706242022862052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/mengkritik-politik-minyak-paman-sam.html' title='Mengkritik Politik Minyak Paman Sam'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-fOaxIp1Mihw/TiBHdGGubxI/AAAAAAAAAM0/0UYjCr58b6M/s72-c/mengapa%2Bperusahaan%2Bminyak%2Bdibenci%2B-%2Bgramedia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3707119760820478640</id><published>2011-07-12T04:32:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T04:33:50.643-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Imajinasi Agama di Era Globalisasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-YeUPfFzDzdc/Thww-MJbScI/AAAAAAAAAMs/WvMJJb_ExCk/s1600/bayang-bayang%2Btuhan%2B-%2Bmizan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YeUPfFzDzdc/Thww-MJbScI/AAAAAAAAAMs/WvMJJb_ExCk/s200/bayang-bayang%2Btuhan%2B-%2Bmizan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5628427479277062594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Bayang-bayang Tuhan; Agama dan Imajinasi&lt;br /&gt;Penulis : Yasraf Amir Piliang&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Mei 2011 &lt;br /&gt;Tebal : liv+372 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi dengan kekuatan kapitalismenya yang begitu digdaya memberikan efek luar biasa terhadap seluruh sisi kehidupan umat manusia. Tidak hanya sisi ekonomi, politik, sosial, budaya, tapi juga—bahkan—agama. Agama tidak hanya dipandang sebagai doktrin suci, tapi juga sebagai bagian dari kultur atau budaya ketika doktrin itu diterjemahkan, dipraktikkan, atau diejawantahkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan. Sebagai bagian dari kultur atau budaya, agama kemudian masuk dalam lingkaran perkembangan dan perubahan kultur atau budaya di setiap masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Yasraf Amir Piliang, salah satu pakar yang fokus dijagat posmo Indonesia ini antara lain ingin melihat realitas agama/keagamaan di era globalisasi dengan pendekatan cultural studies yang diharapkan bisa membentangkan ruang keanekaragaman dan multiplisitas pandangan, interpretasi, dan makna kultural realitas keagamaan. Melihat bagaimana umat beragama, khususnya Islam, mengimajinasikan agamanya yang kemudian mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang dianggap selaras dengan yang ia imajinasikan dalam kehidupan beserta segala tanda, simbol, atribut, atau aksesoris di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi, menurut Yasraf dalam buku ini, adalah mekanisme atau proses melihat, menggambarkan, atau memvisualisasikan sesuatu. Proses ini berada di dalam struktur mental kita. Imajinasi bukanlah realitas, melainkan sebuah produksi keserupaan mental. Imajinasi dengan demikian adalah sebuah struktur mental bagaimana seseorang menghasilkan konsepsi dan makna dunia yang berdasar pada sudut pandang, perasaan, logika, dan keyakinan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yasraf mengutip Benedict Anderson dalam bukunya, Imagined Communities, yang menjelaskan semacam imajinasi diri sendiri, sebuah imajinasi tentang diri, kelompok, komunitas, masyarakat, agama, negara atau bangsa yang disebutnya komunitas terbayangkan (imagined community). Imajinasi-imajinasi ini secara konkret dimanifestasikan dalam ekspresi verbal, audio, tekstual, dan visual. Terdapat imajinasi tertentu yang diproduksi untuk menantang yang lain dalam rangka mendominasi kesadaran orang-orang dan mendefinisikan realitas sosial, kultural, dan keagamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, imajinasi imperialis, sebagai imajinasi yang dikonstruksi oleh kekuatan imperial untuk mendefinisikan dunia berdasarkan imajinasi mereka. Ia adalah imajinasi Eurosentris. Inilah yang oleh Edward Said sebut sebagai imajinasi Orientalis. Kedua, imajinasi dialogis, dengan simbol, ekspresi, dan bahasa di dalamnya dianggap sebagai sesuatu yang dapat dinegosiasikan oleh kelompok-kelompok berkepentingan untuk menghasilkan berbagai bentuk eklektisisme, hibridisasi, dan sinkretisme. Ia adalah imajinasi posmodern dalam bentuknya yang paling moderat yang merayakan prinsip dialogis dan pemahaman secara mutual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, imajinasi multikultural, sebagai sebuah kecenderungan pengakuan akan ketidakberjarakan kultural yang melampaui batas-batas negara, ras, agama, dan etnis. Multikulturalisme adalah sebuah paradigma kultural dalam membangun sebuah ruang identitas lintas budaya. Keempat, imajinasi dekonstruktif, sebagai sebuah imajinasi budaya yang diproduksi melalui pemisahan teks-teks (keagamaan) dari asal usul-nya yang suci, dari kebenaran akhir, dan dari dogma absolutnya (logos). Ia adalah bentuk pembacaan yang memutus imajinasi terbatas dari logos agar mampu membuka semua dunia yang tidak terbayangkan, tidak terpikirkan, dan tidak terepresentasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini menarik untuk melihat imajinasi umat beragama dan bagaimana realitas keagamaan saat ini, dengan akibat pengaruh globalisasi dengan berbagai kemajuan teknologinya, telah banyak bergeser kepada realitas budaya populer yang dilematis. Di satu sisi, kemajuan itu menjadi berkah karena bisa menjadi sarana untuk mengenalkan dan menyampaikan pesan agama secara baik dan modern, tapi di sisi lain sarana itu justru menjadi alat pendangkalan agama karena agama kemudian ditarik untuk mengikuti dan sesuai dengan selera populer, selera pasar, dan kapitalisme, sehingga yang terimajinasi kemudian adalah penampakan wajah agama yang palsu dan menipu, demi kepentingan dan selera pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Selasa 12 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3707119760820478640?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3707119760820478640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/imajinasi-agama-di-era-globalisasi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3707119760820478640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3707119760820478640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/imajinasi-agama-di-era-globalisasi.html' title='Imajinasi Agama di Era Globalisasi'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YeUPfFzDzdc/Thww-MJbScI/AAAAAAAAAMs/WvMJJb_ExCk/s72-c/bayang-bayang%2Btuhan%2B-%2Bmizan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7359349720378703253</id><published>2011-07-10T07:00:00.001-07:00</published><updated>2011-07-10T07:01:34.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>Heroisme Anak-anak Laut Makassar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-xIlM91m4vms/ThmwpfdONnI/AAAAAAAAAMk/6M-D2FPa2Zg/s1600/perang%2Bmakassar%2B1669%2B-%2Bkompas.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 140px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-xIlM91m4vms/ThmwpfdONnI/AAAAAAAAAMk/6M-D2FPa2Zg/s200/perang%2Bmakassar%2B1669%2B-%2Bkompas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5627723436241335922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Perang Makassar 1669; Prahara Benteng Somba Opu&lt;br /&gt;Penulis : SM Noor&lt;br /&gt;Penerbit : Kompas, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, April 2011&lt;br /&gt;Tebal : liv+216 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonial Belanda (VOC/ Vereenigde Oostindische Compagnie) pada zaman dahulu selalu menarik diceritakan sebagai bahan perenungan, pelajaran, dan inspirasi, selain tentu saja menjadi wawasan bagi bangsa saat ini, terutama untuk generasi mudanya. Selalu ada nilai-nilai sejarah yang bisa diaktualisasikan untuk saat ini. Di antaranya, spirit membela tanah air, membela hak dari kezaliman, serta melawan segala bentuk monopoli, kecurangan, dan ketidakadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sejarah perjuangan bangsa yang sangat heroik dan sarat dengan nilai-nilai itu ditunjukkan oleh orang-orang Makassar yang dikenal sebagai ‘anak-anak laut’ pemberani. Dari dulu, orang-orang Makassar memang dikenal sebagai pelaut-pelaut yang ulung dan pemberani. Armada laut Kerajaan Butta Gowa (Makassar) di bawah Raja Hasanuddin pada abad ke-17 sangat ditakuti VOC. Beberapa kali pertempuran di laut, VOC kalah. Tidak hanya armada lautnya, tapi juga benteng Kerajaan Gowa yang sangat tangguh bernama Somba Opu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah perjuangan orang-orang Makassar yang dinovelkan SM Noor ini berlatar belakang perang Makassar pada abad ke-17. Novel ini diprologi dengan kisah seorang putra Raja Bira bernama I Makkuruni yang berhasil menenggelamkan lima kapal VOC di laut Bone dalam sebuah patroli laut Kerajaan Gowa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ini melambungkan namanya di seantero Kerajaan Gowa, sampai-sampai ia diberi kehormatan untuk menghadap langsung Raja Hasanuddin dan menjadi orang kepercayaan putra raja, Karaeng Issong. Tidak hanya itu, ia bahkan menarik hati putri raja, I Patimang, karena sikapnya yang sopan santun, rendah hati, dan setia terhadap Raja Gowa, meski ia seorang kesatria tangguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang paling dahsyat dalam novel ini dikisahkan terjadi di laut Banda. Pada perang ini, VOC menjalin kerjasama dengan tiga kerajaan yang memang tidak suka dengan Kerajaan Gowa, yakni Kerajaan Bone, Buton, dan Ambon. Perang ini dipicu oleh kemarahan VOC di Batavia karena kapal-kapal VOC yang tengah menuju Fort Rotterdam di Jumpandang (Ujungpandang) disergap tentara Kerajaan Gowa di bawah pimpinan Karaeng Issong dan I Makkuruni hingga menewaskan Kolonel Van Den Lubbers, yang memimpin rombongan kapal-kapal VOC itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 10 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7359349720378703253?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7359349720378703253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/heroisme-anak-anak-laut-makassar_10.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7359349720378703253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7359349720378703253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/heroisme-anak-anak-laut-makassar_10.html' title='Heroisme Anak-anak Laut Makassar'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-xIlM91m4vms/ThmwpfdONnI/AAAAAAAAAMk/6M-D2FPa2Zg/s72-c/perang%2Bmakassar%2B1669%2B-%2Bkompas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7167229821559899993</id><published>2011-07-08T09:31:00.000-07:00</published><updated>2011-07-08T09:32:35.965-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>PPP, Muktamar Menatap 2014</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengadakan Muktamar VII dari 3-6 Juli ini di Bandung dengan mengusung tema “Meneguhkan PPP Sebagai Rumah Besar Umat Islam”. Dengan segala pengalaman yang sudah dienyam sejak era Orde Baru (Orba), tapi dalam dua Pemilu terakhir di era reformasi perolehan suaranya menurun, mampukah partai ini meningkatkan lagi perolehan suaranya? Apa yang harus dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPP Sepanjang Pemilu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPP adalah partai paling senior berasas Islam dan berbasis umat Islam yang masih eksis hingga saat ini. Partai ini dideklarasikan pada 5 Januari 1973 yang merupakan fusi dari empat partai Islam, yaitu Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia), Partai NU (Nahdlatul Ulama), PSII (Partai Serikat Islam Indonesia), dan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah). Fusi ini dilakukan sebagai bagian dari penyederhanaan partai politik untuk menghadapi Pemilu 1977. Dapat dikatakan, partai ini sudah banyak makan asam garam pemilu, dari Pemilu 1977 hingga 2009 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era Orba, partai ini menjadi satu dari dua partai yang dibolehkan pemerintah untuk ikut Pemilu 1977 selain Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Karena, pada tahun 1975, melalui Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1975 tentang Partai Politik diadakan fusi (penggabungan) partai-partai politik menjadi hanya dua partai politik, yaitu PPP dan PDI serta satunya lagi Golongan Karya (Golkar). PPP dimaksudkan menjadi wadah aspirasi golongan Islam, PDI sebagai wadah aspirasi golongan nasionalis, sementara Golkar menjadi wadah terbuka bagi semua golongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang Pemilu era Orba (1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997), PPP dan PDI relatif hanya menjadi ‘peserta’, dan Pemilu sekadar ‘formalitas’ karena dapat dipastikan Golkar jadi pemenangnya. Sebagai partai penguasa atau pemerintah yang didukung militer, dengan gaya kepemimpinan Soeharto yang otoriter, Golkar seperti sudah di-setting untuk menang, dengan berbagai macam cara. Sebenarnya, bukan hanya ini saja masalahnya. Umat Islam sendiri memang tidak benar-benar sepenuhnya menyalurkan aspirasi ke PPP. Jadi, sejak awal, PPP memang tidak sepenuhnya menjadi ‘Rumah Besar Umat Islam’. Suara umat Islam sudah kadung terpecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasca berakhirnya era Orba, PPP terus eksis dan ikut Pemilu pertama reformasi pada 1999. Euforia kebebasan yang melanda seluruh penjuru negeri karena tumbangnya rezim otoriter Orba yang memasung kebebasan berpolitik membuat partai-partai bermunculan begitu banyak dengan basis ideologi yang beragam bak cendawan di musim hujan. Tercatat, pada 1999 ada 48 partai peserta pemilu. PPP, yang sedari awal sudah kurang begitu diminati umat Islam, semakin tergerus oleh munculnya partai-partai berbasis Islam. Meski begitu, PPP masih bisa menunjukkan ‘tajinya’ dengan menduduki urutan keempat perolehan suara (10,7%) setelah PDI yang diubah namanya menjadi PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan), Partai Golkar, dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Pemilu 2004, PPP memang masih bertahan di lima besar, dengan menduduki peringkat keempat setelah Golkar, PDIP, dan PKB. Tapi, dibandingkan dengan perolehan suara Pemilu 1999, ada penurunan. Pada Pemilu 2004, PPP hanya meraup 8,15%. Pada pemilu 2009, perolehan suara PPP semakin menurun hingga bertengger di urutan keenam setelah Partai Demokrat (PD), Partai Golkar, PDIP, PKS, dan PAN, dengan memperoleh jumlah suara 5,3%. Ada kecenderungan PPP semakin tidak populer dan ditinggalkan orang. Perpecahan di internal partai ditengarai menjadi salah satu penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PPP Menatap 2014&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muktamar VII PPP kali ini menjadi momentum penting untuk mengatur strategi menatap 2014, karena Pemilu 2014 diprediksi bakal ketat. Selain konsolidasi dan solidasi internal, PPP juga perlu sosok yang menjadi ikon populernya. Partai ini perlu belajar banyak dari PD dengan ikon populer seorang SBY yang sukses mendongkrak perolehan suara PD, bahkan hanya butuh dua kali Pemilu PD menjadi jawara. Juga dari PDIP dengan ikon Megawati yang hingga saat ini bahkan seperti tidak terganti, sama seperti SBY di PD. Juga dari PKB awal dengan ikon Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Juga dari PAN dengan ikon Amien Rais. Ikon memang tidak sepenuhnya menjamin eksistensi partai, apalagi ketika ikon itu sudah tidak berfungsi maksimal di partai terkait. Tapi setidaknya, keberadaan ikon itu bisa menjadi kunci stabilitas dan soliditas internal partai. SBY di PD dan Megawati di PDIP menjadi contoh yang awet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, lebih daripada sekadar menciptakan ikon partai, PPP juga perlu tampil dengan gagasan-gagasan partai yang aktual dan progresif, mengusung isu-isu yang riil menyentuh ke persoalan bangsa saat ini dengan memberikan alternatif penyelesaian yang nyata, tidak abstrak. Platform PPP sebagai partai Islam, dengan jargon ‘Rumah Besar Umat Islam’ mestinya juga dijabarkan lebih konkret, tidak sekadar sebagai rumah, tapi rumah yang memiliki fungsi strategis, yakni memberdayakan umat Islam khususnya dan umumnya seluruh bangsa Indonesia. Keputusan PPP untuk menjadi partai koalisi pendukung pemerintah saat ini sebetulnya menjadi kesempatan baik. PPP perlu memberikan terobosan-terobosan gagasan bagi keberhasilan program-program pemerintah. Karena, jika pemerintah berhasil, PPP juga akan ikut terkena imbasnya. Demikian juga dengan hal sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas semuanya, PPP harus tetap menjadi partai yang betul-betul tulus, serius, dan terbukti memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan partai yang memperjuangkan kepentingan sendiri demi meraih kekuasaan. Ini yang banyak dilalaikan oleh partai-partai saat ini.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7167229821559899993?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7167229821559899993/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/ppp-muktamar-menatap-2014.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7167229821559899993'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7167229821559899993'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/ppp-muktamar-menatap-2014.html' title='PPP, Muktamar Menatap 2014'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3239518180391039623</id><published>2011-07-05T04:43:00.000-07:00</published><updated>2011-07-05T04:44:49.552-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Islam Rahmatan Lil Alamin</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya’ [21]: 107)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR Al-Baihaqi dari Abu Hurairah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah agama rahmatan lil alamin, yakni menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta, universal. Tidak pandang bangsa, suku, ras, keturunan, bahkan agama. Menjadi rahmat berarti bahwa Islam itu sifatnya tidak semata-mata doktrin teks, tapi juga terapan. Islam bukan hanya mengurusi soal ibadah ritual, tapi juga ibadah sosial. Bahkan, jika ayat-ayat Al-Qur’an antara yang ibadah ritual dan sosial, ayat-ayat sosial jauh lebih banyak. Artinya, Islam sesungguhnya ajaran moral, bagaimana mengarahkan dan mengkonstruk moralitas suatu masyarakat yang baik. Cendekiawan muslim asal Pakistan, Fazlur Rahman, menyebut bahwa inti dari ajaran Islam sesungguhnya adalah moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menjadi representasi moral yang paling jelas, karena fungsi ganda beliau: menjadi penyampai sekaligus penerjemah wahyu Allah. Beliau menerjemahkan wahyu itu baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dan sikap. Inilah yang dikatakan oleh Aisyah ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah, “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an.” (HR Al-Bukhari). Dalam ungkapan Al-Qur’an, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah tidak hanya menyampaikan pesan-pesan wahyu, tapi juga mempraktikkannya. Beliau, meminjam ungkapan Hassan Hanafi dalam karyanya Religion, Ideology, and Developmentalism, sudah tidak lagi membatasi hanya pada teks. Beliau menerjemahkan teks itu ke dalam realitas, di tengah-tengah umat manusia. Itulah Islam yang hidup, Islam yang sesungguhnya, yang dalam ungkapan Cak Nur, tidak semata-mata doktrin, tapi juga peradaban. Islam membangun peradaban, masyarakat kosmopolitan. Suatu masyarakat yang menghargai perbedaan, toleransi, kemanusiaan, kesetaraan, dan egaliter. Kosmopolitanisme Islam yang oleh Robert N Bellah disebut sebagai belum pernah ada di muka bumi yang seperti itu, pada waktu itu. Masyarakat yang sangat maju, hingga melampaui zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membuktikan bagaimana kosmopolitanisme dan universalisme Islam, tidak perlu langsung merujuk kepada Al-Qur’an atau hadis, seperti dikatakan Gus Dur, tetapi cukup dengan merujuk pada teori-teori ushul fikih yang disebut Dharuriyat al-Khamsah (lima hal dasar yang dilindungi agama). Yaitu, pertama, hifzh al-din yang dimaknai sebagai keselamatan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan pindah agama. Kedua, hifzh al-nafs, yang dimaknai keharusan keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum. Ketiga, hifzh al-aqli, pemeliharaan atas kecerdasan akal. Keempat, hifz al-nasl, keselamatan keluarga dan keturunan. Kelima, hifzh al-nas, keselamatan harta benda, properti dan profesi dari gangguan dan penggusuran di luar prosedur hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi rahmat bagi alam semesta berarti mendorong kemajuan umat manusia, dalam berbagai hal yang positif. Itulah kenapa ayat pertama yang turun adalah iqra’ (bacalah), yakni perintah untuk membaca. Membaca yang tidak semata-mata membaca ayat-ayat Al-Qur’an, tapi juga ayat-ayat kauniah (alam semesta, apa yang ada di dalam dan di luar diri manusia). Dorongan membaca menjadi bukti nyata bagaimana perhatian Islam terhadap masalah pendidikan. Pendidikan yang tidak semata-mata transfer ilmu pengetahuan, tapi juga pendidikan konstruktif pada sisi moral, akhlak, etika, dan tata krama. Yakni membangun karakter manusia yang baik, tangguh, progresif, dan bertanggung jawab. Menanamkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, penghargaan, penghormatan, kasih sayang, dan persaudaraan dengan orang lain. Karena itu, meminjam bahasa Jalaluddin Rahmat, Islam akan terus aktual sepanjang zaman. Islam terus-menerus teraktualisasi dalam kehidupan, sepanjang waktu, di tempat mana pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Islam adalah aksi, pergerakan di ranah kultural, yang mendorong pada kemajuan masyarakat. Menciptakan masyarakat yang Islami tidak berarti menciptakan negara Islam, misalnya. Ketika ajaran-ajaran serta nilai-nilai dasar dan etika Islam sudah teraktualisasi dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, tanpa disebut negara Islam pun, itu sudah dikatakan sebagai negara Islam. Formalisme hukum dengan demikian bukanlah hal penting, karena yang lebih penting adalah terejawantahnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Islam mengajarkan kebaikan/kebajikan, dalam hal apa pun, serta melarang umatnya melakukan tindakan-tindakan yang kontraproduktif dan buruk. Istilah shirathal mustaqim atau jalan yang lurus berarti bahwa segala tindak-tanduk umat Islam dan sikap harus lurus, tidak menyimpang. Yakni, tidak menyimpang dari nilai-nilai kebaikan, kebajikan, dan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sebagai sumber utama dan pertama ajaran Islam memiliki posisi yang amat vital dan terhormat dalam masyarakat muslim di seluruh dunia. Di samping sebagai sumber hukum, pedoman moral, bimbingan ibadah, dan doktrin keimanan, Al-Qur’an juga merupakan sumber peradaban yang bersifat historis dan universal. Al-Qur’an menjadi roh, spirit, dan elan vital keberislaman. Menurut Imam Al-Ghazali, Al-Qur’an sudah merangkum semua hal, baik itu yang terkait dengan masalah-masalah duniawi maupun ukhrawi. Artinya, manusia akan menjadi manusia yang sesungguhnya (ideal) ketika ia mengejawantahkan atau mengaktualisasikan pesan-pesan Al-Qur’an secara benar. Inilah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]: 208).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran buku Ensiklopedia Al-Qur’an dan Hadis Per Tema ini menjadi ikhtiar yang sangat berharga untuk memperkenalkan dan mengakrabkan pesan-pesan yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Jika Islam disebut menjadi roh dari masyarakat madani yang dibangun Nabi, bahwa Islam mendorong pada kemajuan, bahwa Islam mengajarkan kebaikan/kebajikan, bahwa Islam menciptakan masyarakat yang modern seperti dikatakan Bellah, menciptakan peradaban seperti dikatakan Cak Nur, maka mempelajari Al-Qur’an menjadi sesuatu yang penting. Rasulullah telah berhasil membangun masyarakat kosmopolitan, itu diawali dengan membaca Al-Qur’an, kemudian memahami Al-Qur’an, dan mengaktualisasikan pesan-pesan Al-Qur’an. Karena itu, dalam konteks umat Islam saat ini, yang ingin maju, kembali kepada Al-Qur’an adalah jawabannya. Tidak semata-mata kembali dan membaca Al-Qur’an secara parsial, tekstual, skriptural, dan rigid, tapi membaca secara komprehensif, kontekstual, kritis, dan progresif, sehingga nantinya Al-Qur’an teraktualisasikan dalam kehidupan, menciptakan kemajuan, menciptakan masyarakat yang baik. Buku ini layak dibaca oleh segenap umat Islam karena sangat berharga. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3239518180391039623?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3239518180391039623/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/islam-rahmatan-lil-alamin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3239518180391039623'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3239518180391039623'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/islam-rahmatan-lil-alamin.html' title='Islam Rahmatan Lil Alamin'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-5075185930233844555</id><published>2011-07-04T05:11:00.000-07:00</published><updated>2011-07-04T05:14:32.171-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Pekerja Migran Minus Keadilan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Eoejc9PZuTc/ThGumOK6SKI/AAAAAAAAAMM/CgpWYK7IA2o/s1600/akses%2Bkeadilan%2Bdan%2Bmigrasi%2Bglobal%2B-%2Byoi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 136px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Eoejc9PZuTc/ThGumOK6SKI/AAAAAAAAAMM/CgpWYK7IA2o/s200/akses%2Bkeadilan%2Bdan%2Bmigrasi%2Bglobal%2B-%2Byoi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5625469381224581282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Akses Keadilan dan Migrasi Global&lt;br /&gt;Penulis : Sulistyowati Irianto&lt;br /&gt;Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Mei 2011&lt;br /&gt;Tebal : xxiv+326 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus pemancungan Ruyati, salah seorang pekerja migran asal Bekasi, di Arab Saudi beberapa waktu lalu masih menyisakan duka yang mendalam bagi kita semua. Kasus itu sekaligus menggambarkan wajah pengelolaan pekerja migran di luar negeri oleh pemerintah kita yang amburadul dan jauh dari keadilan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadilan tidak didapatkan pekerja migran bukan hanya di tahap implementasi, tapi bahkan di tahap kebijakan, yakni UU No 39/2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku karya Sulistyowati Irianto, Guru Besar bidang Antropologi Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia, ini antara lain ingin mengaji akses keadilan bagi pekerja migran domestik dari perspektif hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sulistyowati, para pekerja migran, terlebih perempuan pekerja migran domestik, seharusnya mengetahui bahwa hak-hak dasarnya sebagai pencari kerja dilindungi oleh hukum. Mereka juga perlu mengetahui bahwa hukum menjamin pemenuhan hak-haknya sebagai manusia untuk dapat bekerja dan mendapat upah yang layak dalam situasi kerja yang terjamin keselamatan dan kesehatannya, terbebas dari kekerasan, sesuai dengan standar hak asasi manusia universal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka seharusnya paham bahwa segala sesuatu berkenaan dengan pemenuhan hak-hak dasarnya, mesti dibuat dalam kontrak yang tertulis dan disepakati bersama. Memberikan pemahaman hukum adalah tanggung jawab pemerintah, tidak bisa diserahkan begitu saja kepada perusahaan pengerah tenaga kerja migran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah identitas hukum juga penting untuk menjamin akses keadilan bagi pekerja migran. Dimilikinya identitas hukum oleh setiap orang merupakan hak dasar, yang tidak bisa dicabut atau dilanggar oleh siapa pun. Namun, dalam kenyataannya, menurut Sulistyowati, banyak sekali pekerja migran yang tidak memiliki akses untuk memperoleh dengan cara yang tepat, dan menyimpan dokumen identitas dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemalsuan dokumen, pemalsuan data dokumen, dan penahanan paspor oleh majikan atau jasa pengerah tenaga kerja, sering dijumpai. Ini mestinya dilakukan mulai dari tahap perekrutan dengan memberikan informasi yang memadai oleh perusahaan pengerah tenaga kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, menurut Sulistyowati, pemerintah menyerahkan tanggung jawab itu sepenuhnya kepada perusahaan pengerah, sementara pemerintah hanya memberikan persetujuan atas informasi yang diberikan perusahaan. Padahal, pemerintah berkewajiban untuk memberikan perlindungan kepada mereka selama masa prakeberangkatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tersedianya bantuan hukum juga penting, terutama ketika di luar negeri. UU No 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri mewajibkan pemerintah Indonesia untuk menyediakan perwakilan hukum bagi warga negara Indonesia di luar negeri, tanpa mempedulikan apakah mereka sebagai penggugat atau terdakwa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 80 UU Penempatan dan Perlindungan Pekerja Migran menegaskan kewajiban itu. Tapi, dalam praktiknya, para pekerja migran domestik sukar sekali mengakses bantuan hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, di samping mereka tidak paham bahwa bantuan hukum adalah hak asasi, mereka juga tidak memiliki informasi tentang bagaimana cara mengaksesnya. Keengganan untuk berperkara dengan hukum melawan para pihak adalah juga disebabkan mereka berada dalam relasi kuasa yang timpang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka takut kehilangan pekerjaan dan statusnya sebagai pekerja migran dipersoalkan. Dana bantuan hukum sebenarnya ada, dan dana ini terlingkup dalam skema asuransi. Namun, berbagai permasalahan yang membelit urusan asuransi, menyulitkan akses pekerja migran terhadap jaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini membuka tabir akses keadilan yang tidak didapatkan para pekerja migran. Meskipun topik studinya pekerja migran di Uni Emirat Arab, secara umum pekerja migran di Timur Tengah tidak jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan penting buku ini adalah pemerintah harus serius mengurusi pekerja migran dan tidak melepaskannya begitu saja kepada perusahaan pengerah tenaga kerja, apalagi yang tidak profesional, agar tidak ada lagi kekerasan-kekerasan terhadap para pekerja migran kita, apalagi sampai ada yang seperti Ruyati.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Senin 4 Juli 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-5075185930233844555?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/5075185930233844555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/pekerja-migran-minus-keadilan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5075185930233844555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5075185930233844555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/pekerja-migran-minus-keadilan.html' title='Pekerja Migran Minus Keadilan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Eoejc9PZuTc/ThGumOK6SKI/AAAAAAAAAMM/CgpWYK7IA2o/s72-c/akses%2Bkeadilan%2Bdan%2Bmigrasi%2Bglobal%2B-%2Byoi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-5975727915655746920</id><published>2011-07-02T05:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-02T05:06:17.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>Industri Energi di Mata Orang Dalam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fmH_w2Bck9o/Tg8JldJ7zJI/AAAAAAAAALs/4DThuxYfCCU/s1600/mengapa%2Bperusahaan%2Bminyak%2Bdibenci%2B-%2Bgramedia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 163px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fmH_w2Bck9o/Tg8JldJ7zJI/AAAAAAAAALs/4DThuxYfCCU/s320/mengapa%2Bperusahaan%2Bminyak%2Bdibenci%2B-%2Bgramedia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624724998695144594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul : Mengapa Perusahaan Minyak Dibenci? &lt;br /&gt;Penulis : John Hofmeister&lt;br /&gt;Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, April 2011&lt;br /&gt;Tebal : xx+276 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri energi di berbagai negara di dunia memiliki dinamika yang beragam. Industri energi tidak hanya dirindu, tapi terkadang dibenci. Dirindu karena semua negara perlu energi, ingin pasokan energi tercukupi, tidak terkendala, guna menjalankan roda industri-industri lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia juga terkadang dibenci manakala menaikkan harga penggunaan energi dengan berbagai alasan di baliknya, sehingga juga ikut melambungkan harga-harga lainnya. Atau, manakala kegiatan atau produk dari industri ini melahirkan dampak buruk terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini, dengan mengambil konteks Amerika Serikat (AS), mencoba mengungkap jeroan industri energi, dinamika hubungan benci-rindu industri energi dengan masyarakat, para pelaku industri lain, para aktivis lingkungan, dan terutama para politisi yang demi ambisi pragmatis mereka sering mengorbankan industri energi yang memiliki kepentingan luas tanpa ada kompromi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis buku ini, John Hofmeister, adalah mantan Direktur Utama (Dirut) Shell Oil Company, perusahaan minyak raksasa dunia asal Amerika, yang dikenal kritis, tidak hanya kepada orang-orang di luar industri energi, tapi bahkan terhadap rekan-rekannya sendiri di Shell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hofmeister mengkritik keras isu-isu kerusakan lingkungan yang berimbas pada perubahan iklim global atau terjadinya pemanasan global yang digulirkan oleh para aktivis lingkungan yang menyebut bahwa penyebabnya adalah industri-industri yang menggunakan bahan bakar produk industri energi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hofmeister, hal yang harus dilakukan sesungguhnya bukan memperdebatkan pemanasan global, tapi memikirkan bagaimana caranya mengelola limbah industri seperti mengelola limbah-limbah lainnya. Misalnya, seperti mengelola limbah sampah. Pertumbuhan industri yang cepat tidak mungkin dihentikan gara-gara alasan pemanasan global. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Limbah gas, salah satu limbah industri yang dihasilkan oleh industri berbahan bakar minyak, misalnya, yang terlepas ke udara menurut Hofmeister sesungguhnya bisa dikelola, ditangkap, dan diolah secara baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah untuk mengurangi dan mengelola limbah gas, menurut Hofmeister, adalah dengan mekanisme batasan dan perdagangan untuk membatasi limbah gas yang memasuki atmosfer (cap), kemudian memberikan insentif kepada perusahaan-perusahaan supaya terangsang mendapatkan cara kreatif mengurangi polusi. Hal itu dilakukan dengan menawarkan kredit untuk pengurangan di bawah batas yang diizinkan sehingga perusahaan dapat menjualnya dengan nilai riil kepada perusahaan yang tidak bisa memenuhi batas (hlm 71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun buku ini ditulis berdasarkan pengalaman Hofmeister bergulat di industri energi dalam konteks AS, tapi bisa menjadi cermin untuk konteks Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara ini, seperti kita tahu, juga dihadapkan dengan tantangan untuk mengatasi limbah industri, menekan emisi gas karbon dari cerobong-cerobong pabrik dan kendaraan bermotor terutama di kota-kota padat penduduk dan mobilitas tinggi seperti Jakarta dan Surabaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga dihadapkan dengan ketergantungan terhadap minyak impor, sementara minyak di perut bumi sendiri melimpah. Pengalaman yang hampir mirip dengan AS yang menggantungkan pasokan minyak dari negara-negara Timur Tengah, sehingga ketika harga minyak dunia melambung, harga-harga kebutuhan pokok di AS juga ikut naik, seperti juga di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang menarik disimak untuk melihat bagaimana sebetulnya industri energi menurut orang dalam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran Jakarta, Kamis 30 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-5975727915655746920?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/5975727915655746920/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/industri-energi-di-mata-orang-dalam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5975727915655746920'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5975727915655746920'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/industri-energi-di-mata-orang-dalam.html' title='Industri Energi di Mata Orang Dalam'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fmH_w2Bck9o/Tg8JldJ7zJI/AAAAAAAAALs/4DThuxYfCCU/s72-c/mengapa%2Bperusahaan%2Bminyak%2Bdibenci%2B-%2Bgramedia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-9083176946090651308</id><published>2011-07-01T05:04:00.000-07:00</published><updated>2011-07-01T05:05:31.699-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Taubat dan Komitmen Perubahan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika hati kita sudah menghitam, mengelam, dan mengeras, akibat perbuatan buruk yang kita lakukan dalam kehidupan, sehingga membuat hubungan kita dengan Allah terganggu, maka jalan satu-satunya untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah lagi adalah dengan kembali kepada-Nya, ke jalan yang lurus, menjadi orang yang baik-baik, dengan membersihkan hati kita, dan melakukan perbuatan baik. Kita berasal dari Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada intinya adalah perubahan. Kita berubah dari hati yang hitam menjadi hati yang putih. Dari perbuatan buruk kepada perbuatan baik. Dari kesombongan, kepongahan, dan keangkuhan kepada Allah, menjadi kerendahan diri dan hati kepada-Nya. Dari perlawanan terhadap-Nya, menjadi ketaatan kepada-Nya. Dari kelalaian terhadap-Nya, menjadi ingat kepada-Nya. Waktu selalu berputar, dari pagi, siang, sore, malam, hingga pagi lagi. Dari sejak bumi ini diciptakan Allah, begitulah keadaan bumi. Tidak ada yang berubah, kecuali situasi atau keadaan di atas bumi itu sendiri, kita di antaranya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).” (QS. Âli Imrân [3]: 140)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita dahulu tidak ada, kemudian ada, lalu tidak ada, dan akan ada lagi (di akhirat). Badan kita berasal dari unsur-unsur tanah yang dikonsumsi oleh tetumbuhan dan hewan, kemudian tetumbuhan dan hewan itu dikonsumsi oleh ayah dan ibu kita membentuk sel-sel di dalam tubuh mereka yang kemudian ketika bertemu di dalam rahim ibu kita, berproses menjadi darah, segumpal daging, menjadi tulang yang dibungkus daging, lalu membentuk sosok bayi, lahir, kecil, muda, tua, mati, dikubur, kembali ke tanah lagi. Demikianlah proses manusia yang berubah. Hidup adalah perubahan. Selama gravitasi masih ada, sehingga bumi bergerak mengitari matahari, menciptakan siang, malam, dan waktu, di situlah perubahan terjadi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya.” (QS. Al-Hajj [22]: 5)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita melihat diri kita sendiri dari waktu ke waktu selalu berubah. Keadaan di sekitar kita juga berubah. Apa yang kita lihat saat ini bukan yang kita lihat lima atau sepuluh tahun yang lalu. Bahkan, yang kita lihat sekarang bukan lagi yang kita lihat kemarin. Orang yang dulu kita lihat berjalan mengelilingi komplek perumahan kita menjual sayur-sayuran dengan gerobak dorongnya sekarang sudah menjadi usahawan sukses. Teman yang dulu waktu kecil bermain bersama kita, sekarang sudah berkeluarga, memiliki anak, dan tinggal di tempat yang berbeda. Kita sekolah dari tingkat dasar, berlanjut tingkat pertama, tingkat menenang, perguruan tinggi, dan bergelar sarjana. Demikianlah perubahan. Kita melihat perubahan di sekitar kita dan merasakan bahwa diri kita juga berubah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan. Perubahan menjadi semacam hukum alam, sunnatullah, takdir, dan ketetapan-Nya. Zaman dulu untuk menuju ke suatu tempat orang berjalan kaki, sekarang sudah ada kendaraan. Yang dulu kita anggap sulit, kini mudah. Yang dulu kita anggap tidak ada, sekarang ada. Kita hidup pada zaman yang terus berubah. Dan, kita dikelilingi oleh perubahan. Maka, diri kita sesungguhnya adalah bagian dari perubahan itu sendiri. Bahkan, kita adalah aktor utama yang memberikan perubahan itu sendiri. Kita mengimajinasikan, mengimpikan, dan membayangkan perubahan. Kita pula yang menginginkan, mengharapkan, dan mencita-citakan perubahan. Kita pula yang merancang, memformat, dan merencanakan perubahan. Dan, kitalah juga yang membuat, mengkreasi, dan menciptakan perubahan. Kita aktor utamanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita membuat perubahan, tapi kita tidak akan bisa membuat perubahan di luar diri kita sebelum kita membuat perubahan di dalam diri kita terlebih dahulu. Taubat kepada Allah pada hakikatnya adalah juga kesadaran diri untuk melakukan perubahan di dalam diri kita. Taubat adalah kesadaran kita untuk kembali kepada Allah setelah kita menjauhi dan meninggalkan-Nya dengan perbuatan dosa, maksiat, dan buruk kita. Kita bertaubat kepada-Nya, berarti kita ingin berubah. Pembunuh 100 orang, seperti disebutkan di bagian sebelumnya, ingin bertaubat kepada Allah dengan mencari-cari orang pintar yang bisa menunjukinya tentang taubat dan bagaimana ia harus bertaubat. Orang itu ingin berubah, dari buruk menjadi baik. Dan, orang pintar kedua yang ia temui pun menunjukinya bagaimana caranya bertaubat: berpindah dari tempat ia berada yang buruk, ke tempat lain yang baik. Orang pintar itu menunjukkan jalan taubat, jalan perubahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Taubat adalah perubahan ke arah yang lebih baik. Taubat mengandung prinsip bahwa hari ini lebih baik daripada hari kemarin, hari esok lebih baik daripada hari ini. Demikian seterusnya. Sulaiman Ad-Darani, salah satu sufi terkenal, seperti dikutip oleh Abu Nu’aim dalam bukunya, Hilyah Al-Auliyâ’, mengatakan bahwa jika hari ini kita sama dengan hari kemarin, berarti kita kurang. Jika hari ini kita lebih buruk daripada hari kemarin, berarti merugi. Jika hari ini kita lebih baik daripada hari kemarin, berarti kita untung. Perubahan adalah kemajuan. Berubah berarti kita maju satu, dua, atau lebih langkah. Berubah berarti kita lebih menatap ke depan. Masa lalu hanya kita jadikan sebagai cermin dan medium introspeksi dan evaluasi diri untuk berubah lebih baik di hari-hari selanjutnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibrahim Al-Harbi pernah menuturkan perihal Imam Ahmad bin Hanbal. Setelah bertahun-tahun lamanya dia menyertai sang Imam, ia sampai pada sebuah titik kesimpulan, “Aku telah menyertai Ahmad bin Hanbal selama 20 tahun lamanya, siang dan malam, baik pada musim dingin maupun musim semi, pada musim panas maupun musim dingin, namun tidak sehari pun aku bersamanya, melainkan ia hari ini pasti lebih baik dari yang sebelumnya.” Orang yang paling baik itu, kata Rasulullah, adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalnya. Sedangkan orang yang buruk adalah orang yang panjang umurnya tapi buruk amalnya (HR. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita diimbau oleh Allah untuk bertaubat, “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS. An-Nûr [24]: 31). Ini imbauan kepada kita untuk bertaubat, yang tiada lain adalah untuk berubah kepada yang lebih baik, kepada Allah, yang akan mengantarkan kita kepada keberuntungan. Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik. Demikian kata Rasulullah dalam hadisnya yang diriwayatkan oleh Muslim. Orang yang bertaubat adalah orang baik. Bahkan, orang yang baru sekadar ingin bertaubat itu juga orang yang baik. Karena taubat itu baik, dan orang yang ingin bertaubat adalah orang yang ingin menjadi baik. Maka, itulah kenapa Allah menerima orang-orang yang bertaubat, karena mereka orang-orang yang baik dan ingin terus berbuat baik, ingin berubah dan terus berubah ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita berniat atau berkeinginan untuk bertaubat, berarti kita berniat atau berkeinginan untuk berubah. Taubat menjadi momentum perubahan. Dengan taubat, kita berarti membuka hubungan dengan Allah, menyatakan keinginan kita untuk berubah, dan terus berkomitmen untuk berubah, menjadi baik, menjadi lebih baik, dan itu terus-menerus hingga Allah menjemput roh kita ke hadirat-Nya. Dalam sebuah hadis riwayat Muslim, Rasulullah mengatakan bahwa Allah tidak melihat rupa kita, tidak pula bentuk fisik kita, tapi Allah melihat hati kita dan amal kita. Allah melihat keseriusan kita untuk bertaubat dan berubah menjadi baik. Allah juga melihat bukti nyata amal atau perbuatan kita yang baik. Melalui taubat, Allah menyadarkan kita tentang arti perubahan dalam diri dan kehidupan kita. Taubat adalah berubah dari tidak baik menjadi baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Imam Al-Ghazali dalam karyanya, Ihyâ’ Ulûm Ad-Dîn, mengatakan bahwa taubat kepada Allah merupakan jalan pembuka bagi orang-orang yang sedang mengadakan perjalanan, modal bagi orang-orang yang beruntung, langkah awal para murid (orang yang ingin menempuh jalan menuju Allah), kunci istiqamah orang-orang yang condong kepada Allah, teropong bagi orang-orang pilihan dan orang-orang yang dekat kepada-Nya.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-9083176946090651308?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/9083176946090651308/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/taubat-dan-komitmen-perubahan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9083176946090651308'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/9083176946090651308'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/07/taubat-dan-komitmen-perubahan.html' title='Taubat dan Komitmen Perubahan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-8292283173003445151</id><published>2011-06-30T07:13:00.000-07:00</published><updated>2011-06-30T07:14:25.419-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Taubat Membuka Hubungan dengan Allah</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan menyempurnakan hubungan-Nya dengan orang tersebut.” (HR. Al-Hakim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Godaan, baik itu yang berwujud maupun tidak, yang ada di luar maupun di dalam diri kita, sering kali membuat kita akhirnya takluk, kalah, dan menyerah. Kita kemudian hanyut mengikuti godaan, lepas tidak terkendali, hingga akhirnya melakukan kesalahan atau tindakan yang melanggar norma yang berlaku, terutama norma agama, garis aturan Tuhan. Kita kehilangan diri kita sendiri, kehilangan pegangan hidup, dan kehilangan arah. Hati kita menjadi kotor, keruh, dan hitam, terselimuti awan kelam, membuatnya keras, bahkan mati. Nafsu ammârah menguasai diri kita. Akal sehat kita tidak berfungsi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah mengilustrasikan hati kita yang seperti itu dalam sabdanya, “Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan atau dosa, maka di dalam hatinya akan muncul satu titik hitam. Jika dia menghapusnya, beristighfar, dan bertaubat kepada Allah, maka hatinya akan kembali bersih. Tetapi, apabila dia kembali melakukan kesalahan itu, maka titik itu akan muncul dan bertambah hingga menutupi seluruh hatinya.” (HR. Ibnu Majah)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah menyindir kita yang hanyut mengikuti godaan itu di dalam firman-Nya, “Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’râf [7]: 179)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hati yang menghitam akibat kesalahan dan dosa kita akan mengganggu dan menghalangi hubungan kita dengan Allah. Hati adalah pusat atau poros Allah mengirimkan petunjuk-Nya kepada kita. Semakin bersih hati, semakin banyak hati itu menerimanya. Sebaliknya, semakin hati itu kotor, menghitam, mengeras, bahkan sampai mati, akan sulit petunjuk-petunjuk itu kita terima. Hati yang seperti ini akan sulit menerima kebenaran, malah cenderung menentang, melawan, dan mengingkarinya. Tidak ada yang paling menyakitkan dalam hidup ini selain ketika hubungan kita dengan Allah terganggu, atau bahkan putus, akibat hati kita yang kotor karena kesalahan-kesalahan yang kita lakukan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ibrahim  bin Adham, salah satu tokoh sufi terkenal, menyebutkan tanda-tanda hati yang mati: pertama, mengaku kenal Allah, tetapi tidak menunaikan hak-hak-Nya. Kedua, mengaku cinta kepada Rasulullah, tetapi mengabaikan sunnah beliau. Ketiga, membaca Al-Qur’an, tetapi tidak beramal dengan hukum-hukum di dalamnya. Keempat, memakan nikmat-nikmat Allah, tetapi tidak mensyukuri pemberian-Nya. Kelima, mengaku setan itu musuh, tetapi tidak berjuang menentangnya. Keenam, mengaku adanya nikmat surga, tetapi tidak beramal untuk mendapatkannya. Ketujuh, mengakui adanya siksa neraka, tetapi tidak berusaha untuk menjauhinya. Kedelapan, mengaku kematian pasti menemui setiap yang bernyawa, tetapi masih tidak bersedia mempersiapkan penyambutan untuknya (dengan berbuat amal saleh). Kesembilan, menyibukkan diri membuka aib (kesalahan) orang lain, tetapi lupa akan aib diri sendiri. Kesepuluh, mengantar dan menguburkan jenazah/mayat sesama muslim, tetapi tidak mengambil pelajaran darinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita, kita barangkali pernah mengalami apa yang kita sebut ‘putus hubungan’, baik itu dengan teman kita maupun masyarakat kita, bahkan keluarga kita, akibat kita pernah berbuat salah yang tarafnya cukup berat dan fatal yang merugikan mereka. Apa yang terjadi kemudian? Mereka meninggalkan kita, mengucilkan kita, dan tidak menganggap kita sebagai bagian dari mereka. Sebagian mereka barangkali malah mencerca kita dan menganggap kita sampah yang tidak berguna. Kita kenal ada istilah ‘sampah masyarakat’. Itu hukuman dari masyarakat yang efeknya cukup berat ditanggung. Atau, mungkin masyarakat kemudian malah mengusir kita, menggelandang kita ramai-ramai, dan mencap kita selamanya sebagai orang jahat atau tidak baik. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada zaman Rasulullah, hukuman masyarakat dalam bentuk pemutusan hubungan pernah dilakukan terhadap tiga orang sahabat yang tidak ikut serta dalam perang Tabuk (9 H). Alkisah, Rasulullah dan pasukan pulang ke Madinah dari perang Tabuk, dan langsung memasuki masjid untuk mengerjakan shalat dua rakaat. Beliau kemudian duduk dikelilingi para sahabat, baik yang ikut berperang maupun yang tidak ikut. Tercatat ada sekitar 80 orang yang tidak ikut dalam perang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tempat itulah masing-masing mengajukan alasan tidak ikut berperang. Setelah mendengarkan dengan saksama, dengan bijaksana, Rasulullah pun menerima pernyataan dan alasan mereka. Lalu, beliau berdoa, memohonkan ampunan Allah bagi mereka, kecuali Ka’ab bin Malik, Murarah bin Ar-Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Beliau tidak dapat menerima alasan ketiganya. Beliau hanya berkata bahwa Allah sendiri yang akan memberikan keputusan-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ka’ab bin Malik, seperti diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, mengungkapkan kisahnya sendiri: Secara fisik, aku sebenarnya sudah siap untuk maju ke medan perang bersama kaum muslimin, tetapi aku kembali lagi dan belum mempersiapkan perbekalan. Aku terus berusaha mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat, tetapi ternyata aku belum mendapatkan perbekalan untuk dibawa. Ketika kaum muslimin sudah berangkat dan berjalan jauh menuju medan perang, aku masih belum mempersiapkan bekal apa pun. Lalu aku berkeinginan untuk menyusul mereka, namun entah kenapa aku tiba-tiba enggan melakukannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku kemudian keluar menemui orang-orang. Aku sangat sedih karena yang aku lihat hanya orang-orang yang kental sekali kemunafikannya, atau orang lemah yang diberi dispensasi oleh Allah. Ketika aku mendengar Rasulullah tengah dalam perjalanan pulang, aku merasa gelisah. Sempat terlintas di benakku keinginan untuk berbohong demi menyelamatkan diri dari kemarahan beliau nanti! Kemudian aku meminta pandangan keluargaku yang paling aku andalkan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika diberitahukan bahwa Rasulullah telah datang, hilanglah segala keinginan untuk berbohong di benakku, dan aku putuskan untuk berkata jujur kepada beliau. Aku datang menemui beliau dan mengucapkan salam, tetapi beliau tersenyum sinis, dan berkata: “Kemarilah!” Setelah aku di hadapannya, beliau bertanya, “Kenapa kamu tidak ikut berangkat? Bukankah kamu telah membeli kendaraan?” Aku jawab, “Ya, benar! Demi Allah, sekiranya aku sekarang ini berhadapan dengan orang lain dari penduduk dunia, tentu mudah bagiku mencari alasan untuk menghindari kemarahannya. Apalagi aku adalah orang yang pandai beradu argumen. Demi Allah, aku tahu jika aku hari ini berbicara bohong kepada Anda sehingga Anda tidak memarahiku, pasti Allah yang mengetahui kebohongan itu akan memarahi Anda karena aku. Jika aku berkata jujur kepada Amda, niscaya Anda memarahiku. Namun, aku akan tetap berkata jujur demi mengharap ampunan Allah. Demi Allah, sungguh aku tidak punya halangan apa-apa. Demi Allah, sebenarnya aku saat itu dalam keadaan kuat dan sanggup berangkat ke medan perang!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah berkata, “Ya, itu memang tidak bohong. Pergilah sampai Allah menentukan sendiri persoalanmu!” Aku pun pergi. Ketika aku pergi, beberapa orang dari Bani Salamah menyusul dan menyalahkan tindakanku (karena tidak mengemukakan alasan sebagaimana orang lain). Aku tanya mereka, “Apakah ada orang lain yang berbuat sama seperti yang aku lakukan?” Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang, dua-duanya mengatakan kepada Rasulullah seperti yang engkau katakan, dan beliau juga mengatakan kepada mereka, seperti yang beliau katakan kepadamu!” Aku bertanya lagi, “Siapakah kedua orang itu?” Mereka menjawab, “Murarah bin Ar-Rabi’ dan Hilal bin Umayyah.” &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah itu, Rasulullah mencegah kaum muslimin bercakap-cakap dengan kami bertiga, sebagai orang yang tidak turut serta berangkat ke medan perang Tabuk. Semua orang menjauhkan diri dari kami dan berubah sikap terhadap kami, hingga aku sendiri merasa seolah-olah bumi yang aku injak bukan bumi yang aku kenal. Keadaan seperti ini aku alami selama lima puluh hari. Dua orang temanku tetap tinggal di rumah masing-masing dan selalu menangis, sedangkan aku sendiri sebagai orang muda dan berwatak keras tetap keluar seperti biasa, mengerjakan shalat jamaah bersama kaum muslimin dan mondar-mandir ke pasar. Selama itu, tidak ada seorang pun yang mengajakku bercakap-cakap. Akhirnya aku datang menghadap Rasulullah, mengucapkan salam kepada beliau saat sedang duduk sehabis shalat. Dalam hati, aku bertanya-tanya, “Apakah beliau menggerakkan bibir membalas ucapan salamku atau tidak?” Kemudian aku mengerjakan shalat di dekat beliau sambil melirik ke arah beliau. Ternyata, pada saat aku masih shalat, beliau memandangku, tetapi seusai shalat dan aku menoleh kepada beliau, beliau memalingkan muka.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada suatu hari di saat aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang asing penjaja dagangan yang datang dari Syam bertanya-tanya, “Siapakah yang dapat membantuku menunjukkan orang yang bernama Ka’ab bin Malik?” Banyak orang menunjukkannya. Ia kemudian menghampiriku, lalu menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari Raja Ghassan. Setelah aku buka, ternyata isinya, “Amma ba’du, aku dengar sahabatmu (yakni Rasulullah) telah mengucilkan dirimu. Tuhan tidak akan membuat dirimu hina dan nista. Datanglah kepadaku, engkau pasti aku terima dengan baik.” Setelah membacanya, aku berkata, “Ini termasuk godaan!” Aku nyalakan api, kemudian surat itu aku bakar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah lewat empat puluh hari, datanglah utusan Rasulullah kepadaku, dan berkata, “Rasulullah memerintahkan supaya engkau menjauhi istrimu!” Aku bertanya, “Apakah ia harus aku cerai ataukah bagaimana?” Ia menjawab, “Tidak! Engkau harus menjauhinya, tidak boleh mendekatinya!” Kepada dua orang temanku (yang senasib), Rasulullah juga menyampaikan perintah yang sama. Aku berkata kepada istriku, “Pulanglah engkau kepada keluargamu, dan tetap tinggal di tengah-tengah mereka, hingga Allah menetapkan keputusann-Nya mengenai persoalanku!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tinggal sepuluh hari lagi lengkaplah masa waktu lima puluh hari sejak Rasulullah melarang kaum muslimin bercakap-cakap dengan kami. Tepat pada hari kelima puluh, aku mengerjakan shalat subuh, memikirkan keputusan apa yang akan ditetapkan Allah dan Rasul-Nya atas diriku yang tengah mengalami penderitaan berat ini, hingga bumi yang luas ini aku rasakan amat sempit. Tiba-tiba, aku mendengar suara orang lantang berbicara dari atas bukit, “Hai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seketika itu juga, aku sujud (syukur) karena aku sadar bahwa ampunan Allah telah datang. Setelah mengimami shalat subuh berjamaah, Rasulullah mengumumkan kepada kaum muslimin bahwa Allah telah berkenan menerima taubat kami. Banyak orang berdatangan memberitahukan kabar gembira itu kepada kami bertiga. Setelah orang yang aku dengar suaranya dari atas bukit itu datang untuk menyampaikan kabar gembira kepadaku, aku lepas dua baju yang sedang aku pakai, kemudian dua-duanya kuberikan kepadanya dengan senang hati. Demi Allah, aku tidak mempunyai baju selain yang dua itu. Aku berusaha mencari pinjaman baju kepada orang lain, dan setelah aku pakai, aku segera pergi menemui Rasulullah. Banyak orang yang menyambut kedatanganku mengucap selamat atas ampunan Allah yang telah kuterima.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku kemudian masuk ke dalam masjid, dan aku lihat Rasulullah sedang duduk dikelilingi para sahabatnya. Thalhah bin Ubaidullah berdiri, kemudian berjalan tergopoh-gopoh ke arahku. Selain Thalhah, tidak ada orang lain dari kaum Muhajirin yang berdiri menyambut kedatanganku. Kebaikan Thalhah itu tidak dapat aku lupakan. Setelah mengucapkan salam kepada beliau, dengan wajah berseri-seri kegirangan beliau berkata, “Gembiralah menyambut hari baik yang belum pernah engkau alami sejak lahir dari kandungan ibumu!” Aku bertanya, “Apakah itu dari Anda sendiri, wahai Rasulullah? Ataukah dari Allah?” Beliau menjawab, “Bukan dariku, melainkan dari Allah.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sebagai tanda taubatku, aku hendak menyerahkan seluruh harta bendaku kepada Allah dan Rasul-Nya.” Tetapi, beliau menjawab, “Lebih baik engkau ambil sebagian dari hartamu itu!” Selanjutnya aku katakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Allah telah menyelamatkan diriku karena aku berkata benar. Setelah aku bertaubat, selama sisa umurku aku tidak akan berkata selain yang benar!”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikianlah Ka’ab bin Malik, akibat tidak ikut perang yang merupakan keharusan bagi setiap muslim ketika itu, ia dan dua kawannya diputus hubungannya oleh kaum muslimin, sebagai bentuk hukuman. Selama lima puluh hari, Ka’ab merasa tidak hidup di bumi ini, karena semua orang tidak ada yang menyapanya. Semua orang mengacuhkannya dan menganggapnya tidak ada. Sepi di tengah keramaian, terkucil. Apa yang bisa kita sombongkan terhadap Allah dengan memutus hubungan dengan-Nya? Mampukah kita hidup tanpa-Nya? Siapa yang memberi kita hidup? Bukankah Dia? Siapa yang memberi kita rezeki? Bukankah dia? Siapa yang memberi kita kesehatan? Bukankan Dia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita memutus hubungan dengan Allah, dengan melakukan perbuatan buruk yang membuat hati kita menghitam dan mengelam. Ini kesalahan kita sendiri, bukan kesalahan Allah. Allah tidak pernah zalim memutus hubungan kita, tapi kita sendiri yang zalim terhadap diri kita sendiri dengan memutus hubungan kita dengan-Nya. Apa salah Allah sehingga kita memutuskan hubungan dengan-Nya? Allah sangat baik terhadap kita, tapi kita malah membalas kebaikan-Nya dengan keburukan kita. Allah tidak pernah berbuat salah, tapi kita yang lancang menyalahi-Nya. Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tapi kita seperti membencinya, sehingga menjauhi-Nya, dan membuang-Nya dalam kehidupan kita. Allah selalu mengirimkan petunjuk-petunjuk-Nya, tapi kita justru menutup hati kita dari itu semua. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita sudah selayaknya melakukan introspeksi diri ketika dalam kehidupan ini kita mengalami banyak sekali kesulitan, kesusahan, dan kesempitan. Kita mesti merenung ketika tiba-tiba perasaan kita seakan-akan sempit dan sesak. Kita pantas berpikir ketika masalah demi masalah datang menyerbu kita; satu masalah belum selesai, muncul masalah baru. Barangkali semua itu karena hati kita kotor, keruh, dan hitam pekat, akibat berbagai kesalahan yang kita lakukan dalam kehidupan ini, sehingga Allah memberi kita hal seperti itu. Selagi napas belum sampai di tenggorokan, Allah membentangkan tangan-Nya kepada kita, mengajak kita untuk kembali kepada-Nya, kembali ke jalan lurus, menjadi orang baik-baik. Inilah taubat, dan inilah kunci pembuka hubungan kita dengan Allah Yang Maha Penerima taubat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-8292283173003445151?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/8292283173003445151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/taubat-membuka-hubungan-dengan-allah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8292283173003445151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/8292283173003445151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/taubat-membuka-hubungan-dengan-allah.html' title='Taubat Membuka Hubungan dengan Allah'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4613308215060107614</id><published>2011-06-29T06:10:00.000-07:00</published><updated>2011-06-29T06:11:13.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Manusia Makhluk yang Labil</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj [22]: 11)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah Maha Penerima taubat, karena Maha Mengetahui bahwa kita sering lupa dan lalai kepada-Nya. Kita memang makhluk yang labil, dalam pengertian sering berubah-ubah, baik itu dalam hal ucapan, sikap, maupun tindakan. Pada suatu saat, kita berada di jalur yang benar dan lurus, menjadi orang baik, dan ingat kepada-Nya. Pada saat yang lain kita berada di jalur yang keliru dan bengkok, menjadi orang yang tidak baik, lupa dan lalai terhadap-Nya. Hal ini dikarenakan dalam diri kita setidaknya ada tiga unsur, yang sifatnya immaterial (non-fisik), yakni: hati, nafsu, dan akal. Dorongan dari ketiga unsur itu berefek kemudian pada lahirnya tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang dimaksud di sini bukanlah hati biologis (bersifat material), tapi hati tempat Allah mengirimkan petunjuk-petunjuk dan cahaya-cahaya-Nya. Ali bin Abu Thalib di dalam Nahj Al-Balâghah-nya menyebut hati ini sebagai bejana-bejana Allah di dunia, “Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana di bumi. Tahukah kalian, apa bejana-bejana itu? Bejana-bejana itu adalah hati manusia. Ketahuilah, sebaik-baik hati manusia adalah hati yang bersih, tegas, dan lunak. Bersih dalam keyakinan, tegas dalam urusan agama, dan lunak dalam pergaulan dengan sesama orang Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Said Hawwa dalam karyanya, Tafsîr Al-Asâs, pada diri manusia ada dua bentuk hati. Pertama, hati yang konkret (bersifat fisik) yang dapat diraba. Hati model ini tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga hewan. Kedua, hati yang abstrak (bersifat non-fisik) yang tidak dapat diraba. Letak hati model ini oleh Alquran disebutkan berada di dalam dada. Hati ini hanya dimiliki oleh manusia. Hati model ini adalah pusat dari segala perasaan nurani, seperti sayang, benci, iri, dengki, takut, tenang, dan tenteram. Hati model kedua inilah pula yang menjadi tempat bercokolnya iman, kekafiran, atau kemunafikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan pinggir kitab Tafsîr Al-Jalâlain karya Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi disebutkan bahwa hati yang banyak disebutkan di dalam bahasa agama (Al-Qur’an dan hadis Rasulullah) adalah hati abstrak. Ia bukanlah hati seperti yang juga dimiliki oleh hewan. Tetapi, ia adalah sesuatu yang sangat halus berada dalam hati yang konkret. Itulah bentuk hati hakiki, pusat perasaan dan ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam karyanya, Mawârid Al-Amân Al-Muntaqâ min Ighâtsah Al-Lahfân fî Masyâhid Asy-Syaithân, membagi hati dalam tiga jenis. Pertama, hati yang sehat. Yaitu, hati yang bersih, yang dengan itulah ia menghadap Allah di akhirat kelak dengan selamat. Kedua, hati yang mati. Yakni, hati yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Hati yang tidak tidak mengetahui Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah yang dicintai dan diridhai-Nya. Inilah hati yang mengikuti keinginan hawa nafsu dan kelezatan dirinya, meski dengan begitu ia dimurkai Allah. Ketiga, hati yang sakit. Hati ini hidup, tetapi cacat. Jika penyakitnya sedang kambuh, maka hatinya menjadi keras dan mati. Dan jika ia mengalahkan penyakit hatinya, maka hatinya menjadi sehat dan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur kedua dalam diri manusia selain hati adalah nafsu (An-Nafs). Dalam bahasa modern, nafsu bisa disebut juga dengan kejiwaan atau kepribadian (psikologi). Di dalam Al-Qur’an disebutkan ada jiwa yang baik dan jiwa yang buruk. “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 7-10). Menurut Abdul Fattah Rashid Hamid, Ph.D., seorang psikolog muslim lulusan St. Louis University USA, dalam bukunya, Pengenalan Diri dan Dambaan Spiritual, ada tujuh tingkatan nafsu di dalam diri manusia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, An-Nafs Al-Ammârah. Manusia condong pada hasrat dan kenikmatan dunia. Minatnya tertuju pada pemeliharaan tubuh, kenikmatan selera-selera jasmani dan pemanjaan ego. Di tingkat ini, iri, serakah, sombong, nafsu seksual, pamer, fitnah, dusta, dan marah, menjadi yang paling dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, An-Nafs Al-Lawwâmah. Manusia sudah melawan nafsu jahat yang timbul, meskipun ia masih bingung tentang tujuan hidupnya. Jiwanya sudah melawan hasrat-hasrat rendah yang muncul. Diri masih menjadi subjek yang dikendalikan hasrat-hasrat yang bersifat fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, An-Nafs Al-Mulhimah. Pada tingkat ini manusia sudah menyadari cahaya sejati tidak lain adalah petunjuk Allah. Semangat takwa dan mencari rida Allah adalah semboyannya. Ia tidak lagi mencari kesalahan-kesalahan orang lain, tetapi ia selalu mengintrospeksi untuk menjadi hamba Allah yang lurus. Ia selalu berzikir dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, An-Nafs Al-Qanâ’ah. Pada tingkat ini hati telah mantap, merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan tidak tertarik dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Ia sudah tidak ingin berlomba untuk menyamai orang lain. Ketinggalan ‘status’ baginya bukan berarti keterbelakangan dan kebodohan. Ia menyadari bahwa ketidakpuasan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah menunjukkan keserakahan dan ketidakmatangan pribadi. Pada tingkat ini, manusia mengetahui bahwa seseorang tidak dapat memperoleh kebaikan apa pun kecuali dengan kehendak Allah. Hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik dalam situasi apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, An-Nafs Al-Muthma’innah. Pada tingkat ini, manusia telah menemukan kebahagiaan dalam mencintai Allah. Ia tidak ingin memperoleh pengakuan dalam masyarakat atau apa pun tujuannya. Jiwanya telah tenang, terbebas dari ketegangan, karena pengetahuannya telah mantap bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Allah. Ia benar-benar telah memperoleh kualitas yang sangat baik dalam ketenangan dan keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, An-Nafs Ar-Râdhiyah. Ini adalah ciri tambahan bagi jiwa yang puas dan tenang. Ia merasa bahagia karena Allah rida terhadapnya. Ia selalu waspada akan tumbuhnya keengganan yang paling sepele terhadap kodratnya sebagai hamba Allah. Ia patuh pada Allah semata-mata hanya sebagai perwujudan rasa terima kasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketujuh, An-Nafs Al-Kâmilah. Ini merupakan tingkatan manusia yang sempurna (paripurna). Kesempurnaannya adalah kesempurnaan moral yang telah bersih dari semua hasrat kejasmanian sebagai hasil kesadaran murni akan pengetahuan yang sempurna tentang Allah. Nabi Muhammad merupakan contoh dari manusia yang telah mencapai tingkatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unsur ketiga dalam diri manusia selain hati dan nafsu adalah akal (Al-‘Aql). Allamah Majlisi dalam karyanya, Mir’ah Al-‘Uqûl, menyatakan bahwa akal secara bahasa berarti pengikatan dan pemahaman terhadap sesuatu. Secara istilah, akal digunakan untuk menunjukkan salah satu definisi berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kemampuan untuk mengetahui sesuatu. Kedua, kemampuan memilah-milah antara kebaikan dan keburukan yang niscaya juga dapat digunakan untuk mengetahui hal-ihwal yang mengakibatkannya dan sarana-sarana yang dapat mencegah terjadinya masing-masing dari keduanya. Ketiga, kemampuan dan keadaan (halah) dalam jiwa manusia yang mengajak kepada kebaikan dan keuntungan dan menjauhi kejelekan dan kerugian. Keempat, kemampuan yang bisa mengatur perkara-perkara kehidupan manusia. Jika ia sejalan dengan hukum dan dipergunakan untuk hal-hal yang dianggap baik oleh syariat, maka itu adalah akal budi. Namun, manakala ia menjadi sesuatu yang mbalelo dan menentang syariat, maka ia disebut nukra’ atau syaithanah. Kelima, akal juga dapat dipakai untuk menyebut tingkat kesiapan dan potensialitas jiwa dalam menerima konsep-konsep universal. Keenam, dalam bahasa filsafat, akal merujuk kepada substansi azali yang tidak bersentuhan dengan alam material, baik secara esensial (dzâti) maupun aktual (fi’li).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali, seperti dikutip oleh Muhammad Yasir Nasution dalam bukunya, Manusia Menurut Al-Ghazali, dengan mengacu pada pengertian kerja dan fungsi akal menyatakan bahwa akal itu tidak bertempat, baik itu di dalam maupun di luar badan manusia, bersifat immaterial, dan tidak terbagi-bagi. Akal berhubungan dengan badan dalam bentuk: pertama, muqbil ‘alâ al-badan (menghadap badan); kedua, mufîd lahu (memberi manfaat terhadap badan); ketiga, mufîdh ‘alaih (mengalir pada badan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Toshihiko Izutsu dalam bukunya, Relasi Tuhan dan Manusia; Pendekatan Semantik terhadap Al-Qur’an, ada keterkaitan antara akal dengan kecerdasan. Karena itu, akal adalah kecerdasan praktis. Ia lebih cocok atau lebih dekat dengan kegiatan penalaran logis, sebuah cara berpikir yang mengandalkan fakta dan langkah-langkah rasional. Dari prosedur kerjanya, akal lebih cocok disebut sebagai cara kerja dari otak kiri yang berpikir secara vertikal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, hati, nafsu, dan akal, adalah tiga unsur immaterial dalam diri manusia yang sangat berpengaruh. Hati yang sehat akan mendorong pada perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan positif. Nafsu yang baik juga mendorong pada hal-hal yang baik. Dan, akal yang sehat akan memahami kondisi di sekitar manusia, kemudian memilahnya, untuk diambil yang baiknya. Ini sisi positifnya. Sisi negatifnya juga ada, yakni ketika hati itu sakit atau mati, saat nafsu kotor, dan manakala akal tidak difungsikan secara baik. Itulah kenapa Allah dan Rasulullah menganjurkan agar kita selalu istiqamah dalam hal apa pun. Istiqamah dalam konteks ini berarti meluruskan hati, nafsu, dan akal, agar tetap di jalur positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. Al-Ahqâf [46]: 130)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yang akan aku pegang teguh nantinya.” Beliau menjawab, “Katakanlah, ‘Tuhanku ialah Allah’, kemudian istiqamahlah.” (HR. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istiqamah akan meluruskan dan menyelaraskan hati, nafsu, dan akal, di jalur positif. Dalam bahasa populer saat ini, pelurusan dan penyelarasan itu adalah meluruskan dan menyelaraskan IESQ (Intellectual, Emotional, and Spiritual Quotient), yakni kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Intellectual (intelektual) merujuk pada akal, Emotional (emosi) merujuk pada nafsu, dan Spiritual (spiritual) merujuk pada hati. Orang yang mampu mengelola tiga kecerdasan ini akan bisa mengatasi dirinya yang labil. Tiga unsur itu ada pada diri kita sebagai anugerah Allah. Tinggal, kita sendiri yang menentukan; apakah akan terus labil, terombang-ambing tanpa pegangan, ataukah sebaliknya: stabil, teguh, dan punya pegangan, yakni Allah.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4613308215060107614?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4613308215060107614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/manusia-makhluk-yang-labil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4613308215060107614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4613308215060107614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/manusia-makhluk-yang-labil.html' title='Manusia Makhluk yang Labil'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-2423771931229269520</id><published>2011-06-28T05:28:00.000-07:00</published><updated>2011-06-28T05:30:14.038-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Godaan di Sekitar dan di Dalam Diri Manusia</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’” (QS. Al-A’râf [7]: 16-17)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita makhluk yang labil, sehingga perlu menjadikan Allah sebagai pegangan, agar tidak mudah terombang-ambing keadaan yang kemudian mengarahkan kita ke jalan yang tidak benar. Keadaan yang benar-benar menggoda kita, sehingga membuat mata, hati, dan pikiran kita terkadang menjadi buta, sehingga tidak tahu mana yang benar dan baik. Godaan yang menghipnotis dan menyihir kita sehingga mau saja melakukan apa pun tanpa memikirkan efek atau ekses negatifnya. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita makhluk labil yang diserbu gencar-gencaran oleh berbagai macam godaan dari segala arah; dari depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri. Itu godaan-godaan luar, eksternal, yang tampak secara kasat mata, dapat kita lihat dengan mata telanjang, ada wujudnya, ada bendanya, dan dapat disentuh. Godaan-godaan itu menyerang dan menusuk titik-titik labil pada diri kita, membuat kita goyah, ragu, dan akhirnya takluk, jika pertahanan kita lemah, atau kita berkompromi dengan godaan itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Godaan-godaan dalam bentuk itu misalnya seperti yang digambarkan Allah di dalam Al-Qur’an berikut ini:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 14)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfâl [8]: 28)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Munâfiqûn [63]: 9)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mari kita cermati dan telusuri bersama secara hati-hati. Dari tiga firman Allah di atas, setidaknya ada beberapa wujud yang menjadi penggoda. Pertama, perempuan. Kedua, anak-anak. Ketiga, harta benda, yang di situ disebutkan berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Perlu diperhatikan, Anda jangan buru-buru menghakimi para perempuan sebagai subjek penggoda, sementara para pria sebagai objek tergoda. Karena bisa jadi adalah sebaliknya, pria yang menggoda wanita. Firman Allah sendiri dalam konteks ini berkenaan dengan rasa cinta atau suka yang dimiliki manusia. Jika manusia itu adalah laki-laki, maka tentu saja ia mencintai atau menyukai perempuan, anak-anak, dan harta benda. Dan, jika manusia itu adalah perempuan, maka tentu saja ia mencintai atau menyukai laki-laki, anak-anak, dan harta benda. Jadi, baik laki-laki maupun perempuan bisa menjadi subjek penggoda. Intinya adalah, manusia bisa menjadi penggoda atau godaan bagi manusia yang lainnya. Realitanya demikian, bukan?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita barangkali pernah mengalami sebuah situasi di mana kita merasa tengah melangkah di jalan yang benar, lurus, dan baik, namun tiba-tiba orang lain hadir di depan kita, menghadang kita, mengajak berdialog, memberi alternatif lain, kemudian mengajak kita untuk mengikutinya. Tidak masalah jika ajakannya baik, benar, dan bermanfaat. Tetapi, akan menjadi masalah jika ajakannya buruk dan menjerumuskan ke jalan yang salah, bengkok, dan tidak baik, meski motifnya dibungkus begitu rupa sehingga tampak memukau. Dan, memang, godaan itu selalu tampil dalam wujudnya yang memukau, indah, menyenangkan, dan menarik hati. Rasulullah menyebut, “Manusia yang paling buruk adalah yang bermuka dua (hipokrit); datang ke satu kelompok dengan satu wajah, dan datang ke kelompok lain dengan wajah yang lain.” (HR. Al-Bukhari)  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penggoda bentuk lainnya adalah harta benda. Siapa manusia yang tidak ingin mendapatkan harta benda yang banyak? Atau bahkan menjadi orang kaya? Kita lihat diri kita sendiri, kemudian orang-orang di sekitar kita. Apa yang kita dan mereka lakukan? Setiap hari kita bangun pagi, kemudian siap-siap berangkat kerja atau memulai aktivitas, menyebar ke segala tempat, mencari apa yang kita sebut sebagai rezeki atau karunia Allah, dan pulang siang, sore atau malam hari. Sebagian kita ada yang memulai aktivitas di sore hari, pulang pagi atau siang. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita semua mencari harta, dari yang motifnya memang benar-benar kebutuhan, untuk menghidupi kita sendiri dan keluarga, hingga yang motifnya untuk menumpuk kekayaan semakin banyak dan makin banyak, yang Rasulullah ungkapkan dalam hadisnya, “Andaikata anak cucu Adam (manusia) diberi satu lembah yang penuh dengan emas, pasti ia akan meminta lembah kedua yang serupa. Andaikata ia diberi lembah kedua, maka ia pasti akan minta lembah ketiga yang serupa. Tidak ada yang memenuhi lambungnya kecuali tanah (mati). Dan, Allah Maha Menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harta adalah godaan karena sering kali menjerumuskan kita ke jalan yang salah ketika kita mencarinya maupun ketika kita mengelolanya. Terlalu tergiur harta membuat kita dengan seenaknya saja menggunakan berbagai cara tanpa mengindahkan norma-norma yang ada, baik itu norma agama maupun norma hukum. Apa yang kita saksikan di sekitar kita, atau yang kita lihat atau baca di berbagai media tentang terjadinya kasus-kasus pencurian, pencopetan, perampokan, suap-menyuap, manipulasi, penggelapan, mark-up anggaran, hingga korupsi besar-besaran, menunjukkan secara terang bagaimana godaan harta membuat manusia menempuh cara-cara yang tidak benar dan melawan hukum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Harta menjadi godaan terutama bagi manusia-manusia rakus, yang tidak bisa dihentikan kecuali oleh kematian. Padahal, Rasulullah sudah mewanti-wanti kita agar tidak menjadi orang yang rakus melalui pesannya kepada salah seorang sahabatnya, Hakim bin Hizam, “Wahai Hakim, sesungguhnya harta itu indah menggoda. Siapa yang tidak mengambilnya dengan rakus, maka ia akan mendapati berkah. Dan, siapa yang mengambilnya dengan rakus, maka ia tidak akan mendapati berkah, dan ia seperti orang makan yang tidak merasa kenyang.” (HR. Al-Bukhari)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang didapat oleh orang-orang yang rakus? Bisa jadi hartanya bertambah banyak, kekayaannya semakin melimpah, aset-asetnya ada di mana-mana, atau usahanya merambah ke mana-mana. Tapi apakah berkah atau bermanfaat jika jalan untuk mendapatkan itu kotor, jahat, dan buruk? Mungkinkah orang yang rakus dan melakukan praktik monopoli demi kepentingan dan keuntungannya sendiri, sementara pada saat yang sama merugikan orang lain, akan mendapatkan apa yang disebut oleh Rasulullah sebagai kebekahan? Berkah itu berasal dari bahasa Arab yang artinya bersih, suci, dan baik. Apakah harta yang diperoleh dengan cara-cara kotor dan jahat itu bersih, suci, dan baik? Jika tidak, bayangkanlah kalau kemudian itu dikonsumsi, dimakan, menjadi darah, menjadi daging, manusia apakah dia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rasulullah pernah mengatakan, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Mahabaik, dan tidak menerima kecuali yang baik-baik saja. Sesungguhnya Allah menyuruh orang-orang beriman seperti dengan suruhan yang sama sebelumnya Dia sampaikan kepada para rasul, yakni, ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh.  Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ (QS. Al-Mu’minûn [23]: 51), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah [2]: 172). Ada seorang laki-laki menempuh perjalanan yang sangat jauh, rambut acak-acakan dan berdebu. Dia menengadahkan tangannya ke langit, sambil berucap, ‘Ya Tuhanku, ya Tuhanku.’ Namun, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan badannya tumbuh dari mengonsumsi yang haram, bagaimana bisa doanya diterima Allah?” (HR. Muslim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain godaan luar yang berwujud, seperti manusia dan harta benda, ada juga yang tidak berwujud, dan itu ada di dalam diri kita sendiri. Seperti disebutkan di bagian sebelumnya, kita itu makhluk yang labil, karena di dalam diri kita ada unsur hati, nafsu, dan akal, yang tarik-menarik dan saling mempengaruhi, sehingga melahirkan tindakan. Apa yang kita lakukan, antara lain lahir dari pengaruh-pengaruh hati, nafsu, dan akal pikiran kita. Kita menyayangi dan mengasihi orang dan tidak ingin berbuat jahat kepadanya, misalnya, itu karena dorongan hati yang sehat, nafsu yang muthma’innah, dan akal pikiran yang jernih. Sebaliknya, ketika kita membenci orang, atau suka berbuat jahat terhadap orang, itu karena hati kita sakit, nafsu ammârah, dan akal pikiran kita yang kotor.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nafsu dan akal pikiran tanpa pertimbangan hati inilah terutama yang menggoda kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang buruk, jahat, dan tidak beradab, hanya untuk memuaskan dan menyenangkan hasrat kita, demi keuntungan kita sendiri, tidak peduli dengan orang lain. Padahal, Rasulullah menyebutkan, “Yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (HR. Ath-Thabrani). Nabi mengarahkan kita untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, bukan orang yang merugikan. Kita akan bisa menjadi orang yang bermanfaat jika kita berhasil mengalahkan godaan-godaan dari luar, di sekitar kita, dan dari dalam diri kita sendiri.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-2423771931229269520?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/2423771931229269520/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/godaan-di-sekitar-dan-di-dalam-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2423771931229269520'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2423771931229269520'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/godaan-di-sekitar-dan-di-dalam-diri.html' title='Godaan di Sekitar dan di Dalam Diri Manusia'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-2027803029381754464</id><published>2011-06-27T05:54:00.001-07:00</published><updated>2011-06-27T05:54:49.192-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Demokrat dan Goyahnya Kekuasaan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem demokrasi, kekuasaan (baca: pemerintah) antara lain ditopang oleh pilar bernama partai politik (parpol). Nasib kekuasaan dengan demikian juga ditentukan oleh nasib parpol, terutama parpol pendukung utama kekuasaan. Semakin baik nasib parpol bersangkutan, semakin baik pula kekuasaan. Demikian juga sebaliknya. Parpol sendiri memiliki empat fungsi utama. Pertama, kaderisasi dan rekrutmen. Kedua, penyalur aspirasi dan sosialisasi. Ketiga, pendidikan politik. Keempat, menjaga kondusivitas (manajemen konflik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra Demokrat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks Indonesia, parpol utama pendukung kekuasaan saat ini adalah Partai Demokrat (PD), yang menjalin koalisi dengan parpol lain untuk makin menguatkan kekuasaan. Belakangan, partai ini tengah dirundung masalah internal yang gawat akibat ulah kader-kader nakalnya. Sampai-sampai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina PD yang tentu saja peduli kelangsungan partai binaannya, sekaligus dalam kapasitasnya sebagai Presiden Indonesia, pemegang kekuasaan tertinggi yang tentu saja khawatir masalah PD sebagai partai utama pendukung kekuasaan berimbas pada kekuasaannya, harus angkat bicara mengenai PD. Ia menegaskan bahwa PD tidak akan membiarkan kader-kadernya yang nakal dan bermasalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada lima kader PD yang disebut-sebut nakal dan bermasalah. Pertama, M. Nazaruddin (mantan Bendahara Umum PD), yang diduga terjerat kasus suap pembangunan wisma atlet SEA Games di Palembang. Kedua, Jhonny Allen Marbun (Wakil Ketua Umum PD), yang disebut-sebut terlibat kasus suap dana stimulus pembangunan dermaga dan bandara di Indonesia timur dengan tersangka Abdul Hadi Djamal yang mengaku memberikan uang Rp1 miliar kepada Jhonny Allen Marbun melalui bekas ajudan Jhonny, Resco Pesiwarissa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Angelina Sondakh (Wasekjen PD). Anggota Komisi X DPR ini disebut-sebut sebagai “koordinator lapangan” guna mempermulus proyek wisma atlet SEA Games di Palembang. Keempat, Andi Mallarangeng (Sekretaris Dewan Pembina PD), yang disebut-sebut dalam kasus pengaturan proyek SEA Games 2011 yang merupakan domain di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Andi sendiri adalah Menpora saat ini. Kelima, Andi Nurpati (Ketua Bidang Komunikasi Informasi PD), yang diduga terlibat kasus pemalsuan surat Mahkamah Konstitusi (MK) saat menjabat anggota KPU. Hal itu dilakukannya untuk mempermulus langkah calon anggota legislatif Dewi Yasin Limpo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima orang kader PD ini memang masih belum ada yang berstatus sebagai tersangka, tetapi citra PD hancur karena dugaan-dugaan kasus yang melibatkan mereka yang sayangnya hingga kini penanganannya masih berjalan biasa-biasa saja, tanpa gereget berarti. Nazaruddin masih belum mau pulang dari Singapura. Kasus Jhony Allen, yang mencuat kembali, juga belum memperlihatkan perkembangan yang signifikan, meskipun KPK sudah mulai melakukan penyelidikan. Demikian pula dengan pengembangan dugaan keterlibatan Angelina Sondakh dan Andi Mallarangeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kasus Andi Nurpati sebenarnya sudah terang-benderang, tinggal menunggu pihak kepolisian melakukan langkah hukum yang pasti. Kasus Andi Nurpati ini terbilang cukup serius karena bisa membongkar dugaan maraknya kursi-kursi haram di DPR dan DPRD. Jika DPR memang serius membentuk Panitia Kerja (Panja), penelusuran terhadap kasus Andi ini kemungkinan akan menyentuh hasil Pemilu 2009 lalu yang disinyalir banyak kecurangan. Jika ini benar-benar terjadi, kekuasaan sepertinya akan goyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan yang Goyah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY menegaskan bahwa PD tidak akan melindungi kader-kadernya yang bermasalah. Anggaran dasar PD sendiri memuat tentang etika politik PD yang harus memenuhi tiga prinsip, yaitu bersih, santun, dan cerdas. Namun, melihat lima kader PD yang bermasalah, prinsip bersih sepertinya tidak ada artinya. Pemerintah sendiri yang mengusung jargon antikorupsi dalam kampanye Pemilu 2009 sepertinya juga harus menelan ludah karena partai pendukung utamanya justru tidak bersih. Partai bermasalah karena ulah kader-kadernya yang nakal sebenarnya tidak hanya Demokrat, tapi partai ini jadi sorotan karena ia adalah partai utama pendukung kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi di tubuh PD secara tidak langsung menggoyahkan citra SBY dan kekuasaannya. Ini tentu saja menjadi pertaruhan tidak hanya bagi PD, tapi juga SBY. Yang jelas, citra PD seperti yang dilansir beberapa survei tengah menurun, bahkan disalip Golkar yang mengambil keuntungan dari masalah di internal PD. Citra kekuasaan juga tengah menurun karena kasus-kasus itu belum juga mengalami perkembangan yang signifikan yang memuaskan publik. Alih-alih, publik malah menaruh curiga ada “intervensi” kekuasaan dalam kasus-kasus yang melibatkan kader PD untuk menghambat proses hukum yang berjalan atau kompromi-kompromi “di balik layar”. Lambatnya penanganan kasus menjadi titik kecurigaan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY memang tidak bisa mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada Pemilu 2014 karena Undang-Undang Dasar membatasi jabatan presiden hanya dua periode. Tetapi, SBY tentunya tidak ingin meninggalkan “warisan” yang tidak menyenangkan dalam kekuasaannya, juga partai pendukung utama kekuasaannya, yang dibinanya. Kasus yang terjadi di internal PD mestinya menjadi momentum SBY dan PD untuk memperlihatkan kesungguhannya dalam memberantas korupsi dengan mendepak kader-kadernya yang bermasalah, jika benar-benar terbukti. Jika SBY dan PD gagal melakukan ini, kepercayaan publik akan kian menurun dan publik akan “menghukumnya”, bahkan sebelum 2014.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lampung Post, Senin 27 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-2027803029381754464?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/2027803029381754464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/demokrat-dan-goyahnya-kekuasaan_27.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2027803029381754464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/2027803029381754464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/demokrat-dan-goyahnya-kekuasaan_27.html' title='Demokrat dan Goyahnya Kekuasaan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-413017377953511859</id><published>2011-06-26T04:49:00.000-07:00</published><updated>2011-06-26T04:50:12.244-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Allah Maha Penerima Taubat</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurât [49]: 12)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Alkisah, seorang laki-laki pendosa berat, karena telah membunuh 99 orang, tiba-tiba sadar ingin menjadi orang baik-baik, tidak ingin membunuh lagi. Ia benar-benar ingin bertaubat, kembali ke jalan Tuhan. Namun, di dalam batinnya bertanya-tanya, apakah Tuhan sudi menerima dirinya yang sudah berlumuran darah? Ia pun mencari-cari orang untuk ia tanyai tentang keinginannya itu. Di suatu tempat, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian menunjukinya kepada seorang Rahib (ahli agama). Maka, ia pun menemuinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesampainya di tempat Rahib, ia bertanya, “Wahai Rahib, jika ada orang yang membunuh 99 orang, kemudian ingin bertaubat, apakah taubatnya bisa diterima?” Rahib itu menjawab, “Tidak bisa!” Mendengar jawaban tersebut, sang pendosa itu pun membunuh Rahib sehingga genap sudah dia membunuh 100 orang. Selanjutnya, ia pun pergi, mencari-cari lagi orang yang bisa ia tanyai tentang keinginannya untuk bertaubat itu. Di suatu tempat, ia bertemu dengan seseorang yang kemudian menunjukinya kepada seseorang yang ia ketahui paling alim di daerah itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sesampainya di tempat orang alim itu, ia bertanya, “Wahai orang alim, jika ada orang telah membunuh 100 orang, apakah masih ada pintu taubat untuknya?” Orang alim itu pun menjawab, “Ya, masih. Siapakah yang menghalanginya untuk bertaubat? Pergilah ke daerah itu, karena di sana terdapat sekelompok orang yang taat menyembah Allah, maka ikutlah engkau bersama mereka menyembah Allah. Janganlah kembali ke daerahmu yang dulu, karena daerah tersebut adalah daerah yang jelek.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Laki-laki itu lantas pergi menuju ke tempat yang ditunjukkan oleh orang alim tersebut. Namun, belum sampai di tempat tujuan, ia meninggal dunia. Maka, terjadilah perselisihan antara malaikat rahmat dan malaikat azab. Masing-masing merasa bahwa roh laki-laki itu adalah haknya. Malaikat rahmat berkata, “Orang ini pergi untuk bertaubat dengan menghadapkan hatinya kepada Allah.” Sedangkan malaikat azab berkata, “Sesungguhnya orang ini belum pernah melakukan kebaikan sedikit pun.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, datanglah malaikat lain dalam wujud manusia, dan mereka pun sepakat untuk menjadikan malaikat ini sebagai juru damai. Malaikat ini berkata, “Ukurlah jarak kedua daerah tersebut (jarak antara daerah buruk yang dia tinggalkan dengan daerah yang baik yang ia tuju). Daerah yang jaraknya lebih dekat, maka daerah tersebut yang berhak atas orang ini.” Mereka pun mengukur jarak kedua daerah tersebut, dan teryata laki-laki itu lebih dekat dengan tempat yang ia tuju (daerah baik). Oleh karena itu, rohnya pun menjadi hak malaikat rahmat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kisah ini memberikan gambaran berharga kepada kita semua tentang betapa Maha Pengampunnya Allah. Tidak ada yang bisa mencegah kita untuk bertaubat, karena pintu taubat selalu Allah buka, siang dan malam, sebelum napas di tenggorokan, dan sebelum matahari terbit dari barat (kiamat). Lihatlah, bagaimana laki-laki pendosa, pembunuh seratus orang tak bersalah, yang ingin bertaubat, Allah terima taubatnya dengan menyerahkan rohnya kepada malaikat rahmat. Andaikata Allah bukan Maha Penerima taubat, Dia pasti akan mengirimkan hanya malaikat azab. Tapi, tidak demikian halnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seberat atau sebesar apa pun dosa yang kita lakukan, Allah Maha Penerima taubat. Marilah kita simak beberapa firman Allah di dalam Al-Qur’an tentang Allah Yang Maha Penerima taubat:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’” (QS. Az-Zumar [39]: 53)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Asy-Syûrâ [42]: 25)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan kemudian bertaubat sesudah itu dan beriman; sesungguhnya Tuhan kamu, sesudah taubat yang disertai dengan iman itu adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-A’râf [7]: 153)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekarang, marilah kita perhatikan beberapa hadis Rasulullah yang menegaskan betapa Allah Maha Penerima taubat:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat jahat di siang hari bertaubat. Dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat jahat di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat (kiamat).” (HR. Muslim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Allah berfirman, ‘Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosamu sampai ke awan langit, kemudian engkau memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datangkan untukmu ampunan sepenuh bumi pula.’” (HR. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama nyawanya belum sampai di kerongkongan.” (HR. At-Tirmidzi)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Seorang hamba melakukan satu perbuatan dosa, lalu berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosaku.’ Allah menjawab, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau akan menghukum karena dosa itu.’ Kemudian, orang itu mengulangi perbuatan dosa, lalu berdoa lagi, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.’ Allah menjawab, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menyiksa karena dosa itu.’ Kemudian orang itu melakukan dosa lagi, lalu berdoa, ‘Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku.’ Allah menjawab, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, dan dia mengetahui bahwa dia mempunyai Tuhan yang akan mengampuni dosa atau menghukum karena dosa itu. Berbuatlah sesukamu, karena Aku benar-benar telah mengampunimu.’” (HR. Muslim)&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masihkah kita meragukan Allah Yang Maha Penerima taubat? Tidak ada kata terlambat dalam bertaubat selama kita masih diberi hidup. Rahib yang ditemui oleh laki-laki yang ingin bertaubat memberikan jawaban yang salah, dengan berani-beraninya mengatakan bahwa Allah tidak menerima taubatnya. Memberi taubat adalah hak Allah. Ada di wilayah kuasa Allah. Tidak ada yang bisa menghalangi, mengintervensi, atau mencampuri-Nya. Kita tidak berhak menghakimi atau mengklaim bahwa seorang yang berdosa tidak diterima taubatnya oleh Allah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah Maha Penerima taubat, bukan berarti mempersilakan kita untuk berbuat dosa atau amal buruk lainnya. Allah hanya ingin memberikan kabar gembira bagi kita yang benar-benar ingin bertaubat, untuk kembali ke jalan-Nya yang benar. Keinginan sendiri adalah ungkapan hati, dan itu ada di dalam hati. Ketika kita ingin bertaubat, itu berarti bahwa hal tersebut berangkat dari hati. Laki-laki pembunuh 100 orang itu ingin bertaubat, hatinya sudah bertekad untuk bertaubat, tapi ia masih sangsi apakah taubatnya diterima Allah. Allah kemudian memberikan jawaban melalui seorang alim yang laki-laki itu temui bahwa Allah Maha Penerima taubat, dan memang Allah Maha Penerima taubat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Allah Maha Penerima taubat, itu sudah pasti. Tinggal kita sendiri, sudah pastikah kita dalam bertaubat kepada-Nya? Sudahkah di hati kita terbetik keinginan untuk bertaubat? Keinginan yang baik, niat yang tulus, akan disambut Allah dengan baik juga. Allah telah membuka pintu lebar-lebar, tinggal kita sendiri, tergerakkah kita untuk memasukinya? Karena itu, berbicara tentang Allah Yang Maha Penerima taubat secara langsung juga berbicara tentang hati kita. Kuncinya ada pada diri kita sendiri, hati kita. Allah mengatakan, “Aku adalah menurut persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku.” (HR. Al-Bukhari). Kita harus yakinkan hati kita bahwa Allah Maha Penerima taubat. Dengan itu, kita tidak akan hilang harapan ketika kita berbuat salah untuk bertaubat kepada-Nya.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-413017377953511859?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/413017377953511859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/allah-maha-penerima-taubat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/413017377953511859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/413017377953511859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/allah-maha-penerima-taubat.html' title='Allah Maha Penerima Taubat'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-6727859793537198642</id><published>2011-06-25T09:27:00.000-07:00</published><updated>2011-06-25T09:28:46.895-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='agama'/><title type='text'>Pengantar Buku Ensiklopedia Al-Qur’an dan Hadis Per Tema</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gairah membaca Al-Qur’an umat Islam, khususnya umat Islam Indonesia, sangat tinggi. Tidak hanya membaca, sebagian mereka bahkan menghafalnya. Selain karena alasan bahwa membaca Al-Qur’an adalah ibadah dan ada pahala besar yang akan Allah berikan kepada pembaca atau penghafalnya, juga karena alasan bahwa mereka ingin sekali mengetahui, mempelajari, memahami, kemudian melaksanakan isi kandungan Al-Qur’an. Karena, mereka percaya dan yakin bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk hidup yang bisa membimbing mereka ke jalan yang benar dan lurus menuju Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an sendiri salah satu fungsinya adalah sebagai petunjuk (hudan) bagi orang-orang yang bertakwa khususnya dan umat manusia pada umumnya. Rasulullah dalam sebuah hadisnya menyebutkan bahwa Al-Qur’an dan hadis adalah dua warisan beliau yang akan menjaga umat manusia agar tidak tersesat jika keduanya dipegang kuat. Sebagai petunjuk, maka Al-Qur’an diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada seorang Nabi dari kalangan manusia, bukan dari kalangan malaikat, dengan bahasa kaumnya, sehingga mereka dapat membacanya dengan baik, menangkap maksud Al-Qur’an, memahaminya, kemudian mengamalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, karena yang menjadi objeknya ketika itu adalah masyarakat Arab yang berbahasa Arab. Di dalam Al-Qur’an memang ada beberapa kata yang disinyalir bukan bahasa Arab, ini tidak masalah, karena kata itu sudah digunakan oleh orang Arab, sehingga jadilah ia bahasa Arab yang kemudian masuk ke dalam Al-Qur’an. Bahasa Arab yang digunakan Al-Qur’an juga tidak tunggal. Dalam salah satu hadis yang populer riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam tujuh huruf. Ada banyak perbedaan pandangan ulama mengenai pengertian tujuh huruf ini, salah satunya adalah tujuh logat atau dialek. Yang paling terkenal adalah dialek Quraisy. Rasulullah sendiri adalah orang Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa yang mudah dipahami, tidak sulit, baik itu secara pembacaan maupun pemaknaan. Agama Islam sendiri, di mana Al-Qur’an menjadi rohnya, adalah agama yang mudah dan toleran. Demikian kata Nabi dalam hadisnya. Karena itu, ada istilah dispensasi atau keringanan yang diberikan agama untuk manusia pada hal-hal tertentu, karena sebab-sebab tertentu. Agama tidak mengajarkan hal-hal sulit, dan tidak pernah mendorong umatnya untuk mempersulit diri. Dalam istilah ushul fikih dikenal prinsip ‘menjauhi kemudaratan’. Ini sebenarnya diangkat dari sebuah hadis Nabi yang mengatakan, dilarang memudaratkan diri sendiri dan memudaratkan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman Nabi, ketika seorang sahabat kesulitan memaknai satu kata di dalam Al-Qur’an, mereka langsung menanyakannya kepada beliau, kemudian beliau menjelaskannya. Kesulitan memahami yang dialami sahabat dalam hal ini terkadang karena kata itu memang sulit dimengerti, terkadang juga karena ada banyak arti untuk satu kata. Salah satu ciri khas bahasa Arab memang adalah banyak arti. Satu kata memiliki lebih dari satu arti. Sehingga, untuk melihat arti sebuah kata, perlu diketahui juga konteks kata itu muncul atau dibicarakan ketika itu. Tafsir Al-Qur’an, khususnya tafsir per kata, mutlak memperhatikan hal ini. Dan, terjemah Al-Qur’an sebagai salah satu bagian dari tafsir (tafsir harfiah, lebih tepatnya terjemah harfiah) juga perlu memperhatikan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi saat ini sudah tiada, yang berarti tempat bertanya langsung kepada beliau ketika ada kesulitan memahami Al-Qur’an sudah tidak bisa lagi. Tetapi, meski demikian, umat Islam saat ini beruntung diwarisi banyak sekali literatur-literatur tafsir yang dibuat oleh para ulama ahli tafsir klasik yang sangat mengerti bahasa Arab. Tafsir sendiri muncul, salah satunya karena kesulitan orang non-Arab memahami Al-Qur’an, di samping munculnya aneka macam persoalan baru terkait dengan agama. Ketika wilayah Islam meluas hingga keluar Jazirah Arab, dan orang-orang taklukan masuk Islam, secara langsung mereka perlu memahami Al-Qur’an. Dengan tafsir, mereka sangat terbantu dalam memahami Al-Qur’an. Selain mengerti Al-Qur’an secara bahasa, juga makna secara lebih luas, menyangkut banyak hal. Beruntungnya lagi, para ulama tafsir menulis tafsir mereka dengan metode tahlili, yakni menafsirkan Al-Qur’an secara berurutan, sesuai dengan urutan surah-surah Al-Qur’an dari surah Al-Fatihah hingga surah An-Nas, sehingga tidak heran, satu tema tertentu menyebar dan terpencar-pencar di berbagai surah yang berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perkembangan zaman, ketika orang ingin hal-hal yang mudah, praktis, dan cepat, model penulisan literatur tafsir bergeser mengikuti perkembangan. Era penulisan tafsir tahlili memang benar-benar tidak berakhir, tetapi kecenderungan penulisan literatur tafsir sudah banyak bergeser dari tahlili kepada apa yang kita kenal kemudian dengan maudhui, yakni tafsir tematis. Menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan tema-tema tertentu, kemudian mengumpulkan ayat-ayat terkait tema tersebut. Kelebihan tafsir model ini terletak pada pendalaman dan fokusnya terhadap tema, sehingga orang akan dengan cepat dan mudah memahami pesan-pesan Al-Qur’an dalam tema-tema besarnya. Sebenarnya, tafsir maudhui tidak sepenuhnya dapat disebut sebagai tafsir yang dibuat belakangan. Literatur-literatur fikih klasik sebenarnya bisa disebut tafsir maudhui dari satu sisi, karena fokus pada tema tertentu, misalnya tema shalat. Literatur-literatur teologi (kalam) juga begitu. Yang membedakan barangkali soal kelengkapan. Tafsir maudhui saat ini termasuk lebih lengkap, karena literatur-literatur tafsir begitu melimpah. Belum lagi ditambah dengan literatur-literatur dan berbacai macam perspektif keilmuan modern, seperti sosiologi, psikologi, antropologi, dan seterusnya, yang semakin menambah wawasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tafsir maudhui relatif lebih memudahkan orang untuk memahami Al-Qur’an, lebih efisien dari sisi waktu, dan pada tahap tertentu ilmiah. Selain itu, dengan tafsir maudhui, itu akan semakin memperlihatkan bagaimana dahsyatnya Al-Qur’an berbicara tentang suatu hal. Ambil contoh, tema alam semesta. Bayangkan, ayat-ayat Al-Qur’an sudah berbicara tentang alam semesta ketika masyarakat ketika Al-Qur’an itu turun tidak memiliki kepedulian yang tinggi dengan benda-benda langit. Temuan-temuan ilmiah kontemporer dalam hal sains dan astronomi ternyata juga diisyaratkan di dalam Al-Qur’an. Beberapa ilmuwan Barat bahkan mengakui kedahsyatan Al-Qur’an ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terinspirasi dari model tafsir maudhi inilah buku Ensiklopedia Al-Qur’an dan Hadis Per Tema disusun. Pertanyaan dasarnya adalah, Al-Qur’an itu sebenarnya bicara apa saja? Imam Al-Ghazali pernah mengatakan bahwa semua hal sudah ada di dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an sudah berbicara semua hal terkait dengan kehidupan manusia, bahkan di luar manusia. Pernyataan ini untuk sebagian besar bisa jadi masih terlalu abstrak. Benarkah Al-Qur’an itu mencakup semua hal? Inilah juga yang mendorong buku ini disusun. Sebenarnya apa saja yang dibicarakan Al-Qur’an? Enam ribu lebih ayat Al-Qur’an itu bicara tentang apa saja? Memang tidak sedikit buku-buku bertema sejenis dengan kekhasan model penyusunannya sendiri-sendiri. Dan, kekhasan buku ini, yang mungkin banyak luput dari buku-buku sejenis adalah bahwa semua ayat Al-Qur’an dimasukkan dalam setiap tema terkait, dan pada setiap tema itu dimasukkan satu atau lebih hadis shahih yang berkaitan. Buku ini, meskipun bernama Ensiklopedia, tidak disusun berdasarkan abjad A-Z seperti yang lazim digunakan, tetapi berdasarkan empat tema besar dengan varian-varian tema di bawahnya terkait dengan tema besar. Tema besar pertama adalah Makhluk dan Khalik. Kedua, Nabi dan Rasul. Ketiga, Jalan Menuju Keselamatan. Keempat, Agama Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini tidak menyertakan teks Al-Qur’an (Arab), tetapi hanya teks terjemahan Al-Qur’an yang dalam hal ini menggunakan Terjemahan Al-Qur’an Depag tahun 2008 yang kami dapatkan dari Lajnah Pentashihan Al-Qur’an Depag. Ini bukan berarti teks Arab tidak penting atau diabaikan. Pertimbangan penyusun, buku ini memang dibuat dengan tujuan sebagai bacaan populer, sama seperti bacaan buku-buku populer yang lain. Sehingga semua segmentasi pembaca, baik yang mengerti bahasa Arab, apalagi yang hafal Al-Qur’an, maupun—bahkan terutama—yang tidak mengerti bahasa Arab (umat Islam secara umum) bisa mengaksesnya. Jadi, penyusunan ini dilakukan dengan membiarkan ayat Al-Qur’an berbicara tentang dirinya sendiri, apa adanya, tanpa intervensi penafsiran. Namun, meski begitu, penyusun tidak benar-benar membiarkannya apa adanya begitu saja. Pada tema-tema besar dan tema-tema yang dianggap penting penyusun cantumkan deskripsi sedikit ataupun catatan kaki, menjadi semacam pengantar. Dalam tema jihad, misalnya, dalam deskripsinya penyusun pilih deskripsi yang moderat dari Ibnu Taimiyah, yang kemudian diikuti oleh Yusuf Al-Qaradhawi, bahwa jihad pada dasarnya adalah upaya sungguh-sungguh dalam hal apa pun, tidak hanya dalam konteks perang, tapi juga dalam segala aktivitas manusia. Contoh lainnya, tentang nama Zulaikha yang selama ini dipahami sebagai istri raja yang menggoda Yusuf. Di sini, penyusun jelaskan di catatan kaki bahwa mengenai penamaan Zulaikha tidak ada satu pun hadis yang shahih. Sebagiannya bahkan maudhu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar rujukan tema di buku ini didasarkan pada tema-tema yang ada di buku Terjemah Al-Qur’an Depag, baik versi baru maupun lama, ditambahkan dengan rujukan lain buku-buku Al-Qur’an tematis, baik itu yang berbahasa Arab, seperti Al-Mu’jam Al-Mufahras li Alfazh Al-Qur’an karya Muhammad Fuad Abdul Baqi, dan yang berbahasa Indonesia seperti Terjemahan Al-Qur’an Depag tadi. Semuanya diramu, diracik, dan dikombinasikan, dengan penamaan tema yang tidak gegabah. Buku ini antara lain untuk menjawab pertanyaan dasar: Al-Qur’an itu sebenarnya berbicara tentang tema-tema apa saja? Inilah hasilnya. Setiap karya memang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan. Karena yang paling sempurna hanyalah Allah. Yang bisa penyusun lakukan adalah berusaha. Jika benar, itu dari Allah, jika salah itu murni dari diri penyusun sendiri. Pada akhirnya, tujuan penyusunan buku ini adalah untuk memudahkan umat Islam untuk mengerti dan memahami kandungan Al-Qur’an dalam berbagai temanya. Bukankah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk? Dan, sebagai petunjuk, ia mesti dipahami. Penjabaran dari proses untuk memahami Al-Qur’an inilah antara lain dengan terwujudnya buku ini. Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita melalui buku ini, baik kepada pihak-pihak yang terkait dengan penyusunan buku ini, kepada pembaca, para tokoh yang telah memberi Kata Pengantar untuk buku ini, instansi pemerintah yang memberikan Kata Sambutan untuk buku ini, maupun kepada para pembaca seluruhnya. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-6727859793537198642?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/6727859793537198642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/pengantar-buku-ensiklopedia-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6727859793537198642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/6727859793537198642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/pengantar-buku-ensiklopedia-al-quran.html' title='Pengantar Buku Ensiklopedia Al-Qur’an dan Hadis Per Tema'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3728521475257410511</id><published>2011-06-24T07:08:00.000-07:00</published><updated>2011-06-24T07:09:06.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Ruyati dan Kegagalan Negara</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruyati, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Bekasi pada 18 Juni lalu dihukum qisas (mati/pancung) di Arab Saudi. Ia mengakui telah membunuh majikan perempuannya. Pada Maret 2011 Migrant Care sebenarnya sudah melaporkan sejumlah TKI yang terancam hukuman mati di Arab Saudi, termasuk Ruyati. Pemerintah Indonesia diam saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruyati memang membunuh majikannya, seperti yang ia akui di pengadilan Arab Saudi. Sesuai ketentuan hukum yang berlaku di sana, orang yang membunuh dengan sengaja harus dihukum qisas, kecuali dari pihak keluarga terbunuh memaafkan dan meminta ganti rugi (diyat). Dalam kasus Ruyati, tidak ada maaf dari pihak keluarga terbunuh atau permintaan ganti rugi, sehingga Ruyati pun akhirnya diputus hukuman qisas. Padahal, dari pihak pemerintah kita, katanya, sudah berusaha meminta agar keluarga terbunuh memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap negara memiliki ketentuan hukum sendiri untuk kasus-kasus tindak kriminal. Arab Saudi dikenal memakai hukum Islam. Sebenarnya, istilah yang lebih tepat adalah hukum fikih jinayah Islam warisan para ulama fikih klasik yang terus dipertahankan. Dalam Alquran, ketentuan qisas memang disebutkan secara jelas. Demikian pula di dalam hadis. Itu yang kemudian digunakan Arab Saudi, karena dianggap otentik ajaran Islam yang wajib diterapkan, apalagi Arab Saudi mengklaim sebagai negara Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketentuan fikih jinayah Islam disebutkan ada tiga jenis pembunuhan. Pertama, pembunuhan yang disengaja. Yaitu, pembunuhan yang direncanakan, dengan cara dan alat yang bisa (biasa) mematikan. Pembunuhan jenis ini menurut ketentuan fikih jinayah Islam wajib diqisas (dihukum bunuh). Tetapi, qisas bisa dihindari kalau ahli waris (yang terbunuh) memaafkan pembunuhan itu. Sebagai gantinya, pihak pembunuh harus membayar diyat yang besar, yaitu harus membayar seharga 100 ekor unta tunai, pada waktu itu juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, pembunuhan tidak sengaja. Yaitu, perbuatan terhadap diri seseorang dengan alat atau sesuatu yang biasanya tidak mematikan. Tetapi seseorang itu mati karena perbuatan atau tindakannya itu. Pembunuhan jenis ini tidak kena hukuman qisas, tetapi pembunuhnya harus membayar diyat besar, sebagaimana diyat bagi pembunuh sengaja yang dimaafkan ahli waris terbunuh. Diyat ini boleh dibayar selama 3 tahun dengan angsuran setiap tahun sepertiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pembunuhan tanpa ada unsur membunuh. Yaitu, perbuatan yang tidak ditujukan kepada seseorang tetapi seseorang mati karena perbuatannya. Menurut ketentuan fikih jinayah Islam, pembunuh jenis ini wajib memerdekakan seorang budak mukmin adil. Saat ini, budak sudah tidak ada lagi, sebagai gantinya adalah denda yang senilai dengan itu, sebagai bentuk permintaan maaf karena tidak sengaja membunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arab Saudi menggunakan ketentuan hukum seperti ini, berbeda dengan ketentuan hukum di negara kita. Hukuman itu tidak pandang bulu. Ketika bersalah, harus dihukum, di mana pun itu, apalagi jika sudah terbukti jelas dengan pengakuan. Jadi, jika kasus Ruyati dilihat dari perspektif hukum yang berlaku di Arab Saudi, itu benar. Masalahnya adalah, Ruhayati itu warga negara Indonesia (WNI). Ia di sana dalam konteks sebagai TKI, yang dikirimkan dari Indonesia, sehingga ia juga menjadi tanggung jawab pemerintah Indonesia dan segala yang tersangkut dengannya dikomunikasikan oleh pemerintah Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai masalah menyangkut TKI dengan demikian mesti diperhatikan secara serius oleh pemerintah Indonesia. Apalagi kasus-kasus kekerasan terhadap TKI oleh majikannya banyak sekali terjadi. Kasus Ruyati sendiri juga berawal dari kekerasan sang majikan yang ia bunuh. Sayangnya, pemerintah kita sering kali abai dan tidak begitu memperhatikan. Migrant Care, misalnya, sudah melaporkan ada sejumlah TKI yang terancam hukuman mati pada Maret lalu, termasuk Ruyati. Hukuman qisas sebetulnya bisa dihindari jika pemerintah kita lebih serius berdiplomasi dengan pemerintah Arab Saudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya, Ruyati sudah diqisas, berarti pemerintah kita gagal melindungi TKI. Pemerintah kita tidak melakukan upaya serius untuk menyelesaikan berbagai kasus yang menimpa para TKI sejak dini. Akhirnya, para TKI sendiri yang menyelesaikan masalahnya sendiri. Ruyati mengakui pembunuhan yang dilakukannya. Ia jujur mengatakannya. Tapi apakah ia menginginkan dihukum mati? Ia berharap kejujurannya membuat pemerintah kita bergerak lebih agresif untuk membantunya. Nyatanya, itu tidak terjadi. Pemerintah kita seolah-olah ‘tidak ada’ bagi seorang Ruyati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kita gagal melindungi Ruyati, padahal laporan bahwa Ruyati dan sejumlah TKI lainnya akan dihukum mati sudah jauh-jauh hari disampaikan kepada pemerintah. Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) Jumhur Hidayat mengakui kecolongan informasi mengenai eksekusi Ruyati. Ia menyesalkan pemerintah Arab Saudi tidak mengomunikasikan terlebih dahulu eksekusi Ruyati kepada pemerintah Indonesia. Jika benar begitu, berarti pemerintah Arab Saudi juga perlu ikut bertanggung jawab. Ia juga harus bertanggung jawab atas warganya yang melakukan kekerasan terhadap TKI yang menyebabkan TKI bertindak nekat. Nota protes harus dilayangkan pemerintah kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu satu sisi. Pada sisi lain, pemerintah kita juga harus mengintrospeksi diri secara lebih serius lagi atas kegagalan melindungi warganya yang menjadi salah satu pahlawan devisa Indonesia. Dalam pidatonya pada sidang ke-100 ILO (International Labour Organization) di Swiss beberapa waktu lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan bahwa mekanisme perlindungan pembantu rumah tangga (PRT) migran di luar negeri sudah berjalan dengan baik. Namun, kasus Ruyati tampaknya membuktikan hal sebaliknya. Semoga tidak ada lagi Ruyati-Ruyati lain setelahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3728521475257410511?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3728521475257410511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/ruyati-dan-kegagalan-negara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3728521475257410511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3728521475257410511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/ruyati-dan-kegagalan-negara.html' title='Ruyati dan Kegagalan Negara'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-4060640274371623664</id><published>2011-06-12T05:00:00.000-07:00</published><updated>2011-06-12T05:02:34.368-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ekonomi'/><title type='text'>Pasar Bebas dalam Petualangan Jonathan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-AlDDMYEgizs/TfSqxf9x21I/AAAAAAAAALk/zIUUEqwveFk/s1600/petualangan%2Bjonathan%2Bgullible%2B-%2Bfreedom.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 219px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-AlDDMYEgizs/TfSqxf9x21I/AAAAAAAAALk/zIUUEqwveFk/s320/petualangan%2Bjonathan%2Bgullible%2B-%2Bfreedom.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617302402608782162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Judul : Petualangan Jonathan Gullible; Sebuah Odisei Pasar Bebas&lt;br /&gt;Penulis : Ken Schoolland&lt;br /&gt;Penerbit : Freedom Institute, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun : I, Oktober 2010&lt;br /&gt;Tebal : xiv+322 halaman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sistem ekonomi pasar bebas (ekonomi liberal) sering kali dicap sebagai biang kerok dari keterpurukan, kemelaratan, dan ketertinggalan sebuah masyarakat, bangsa, atau negara secara ekonomi, serta munculnya problem-problem sosial seperti kriminalitas dan pengangguran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Padahal, jika menimbang fakta bahwa negara-negara yang maju di dunia saat ini adalah negara-negara yang menganut ekonomi pasar bebas, seperti negara-negara Eropa, Amerika, dan Asia Timur, mestinya cap itu tidak buru-buru diterima apa adanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masalah substansial sesungguhnya adalah bagaimana memahami filosofi pasar bebas dan menerjemahkannya ke dalam tataran praktis secara baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Melalui buku ini, Ken Schoolland coba menjelaskan dan memperkenalkan konsep-konsep mendasar ekonomi pasar dari para pemikir liberal seperti Ludwig von Mises, Frederik Hayek, Milton Friedman, Henry Hezlitt, dan Ayn Rand, melalui tokoh fiksi bernama Jonathan Gullible yang dikisahkan terdampar di pulau antah berantah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di situ Jonathan melihat berbagai peristiwa unik, menarik, aneh, dan lucu, yang menggugahnya untuk bertanya. Dari jawaban-jawaban yang diterima Jonathan dari orang-orang dalam peristiwa itulah Ken menjelaskan bagaimana wajah sosial, politik, dan ekonomi dunia saat ini yang menganut pasar bebas dengan berbagai persoalan yang dihadapinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jonathan dalam buku ini oleh Ken digambarkan sebagai sosok yang memiliki falsafah hidup yang didasarkan atas prinsip kepemilikan pribadi. Hidup Anda adalah milik Anda. Tak seorang pun, atau kelompok orang, yang berhak atas hidup Anda. Tidak juga Anda berhak atas hidup orang lain. Hasil panen dalam hidup Anda adalah hasil kerja Anda, buah dari waktu, tenaga, dan bakat-bakat Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dua orang yang saling bertukar barang milik mereka secara sukarela sama-sama akan menikmati keadaan yang lebih baik, atau mereka tidak akan melakukannya sama sekali. Hanya merekalah yang berhak memutuskan itu untuk diri mereka sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kepemilikan Bersama&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salah satu peristiwa yang cukup menarik dialami Jonathan, misalnya, adalah ketika ia bertemu dengan seorang bapak tua di pinggir danau yang tengah membersihkan seekor ikan kecil di atas talenan sambil bersimpuh. Pak tua itu menjelaskan bahwa pancingannya tidak bagus: ia hanya dapat yang kecil-kecil. Menurutnya, bukan masalah umpan di kailnya, karena ia sudah memberi pancingan yang terbaik, dan hanya itu yang ia dapatkan di danau.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beberapa tahun sebelumnya, kata pak tua, ikan-ikan di danau itu sebenarnya besar-besar, namun semuanya sudah ditangkap. Sehingga, yang tersisa hanya yang kecil-kecil. Saat Jonathan mengatakan bahwa ikan kecil itu pada akhirnya akan menjadi besar, pak tua itu menanggapi bahwa baik ikan besar maupun kecil, semuanya sudah diambil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak tua itu lantas menunjuk ke arah tumpukan sampah di pinggir danau. Jonathan bingung, bagaimana bisa orang menangkap ikan di danau, tapi juga membuang sampah di danau itu. Milik siapa sebenarnya danau ini? Secara panjang lebar, pak tua menjelaskan bahwa danau ini bukan miliknya, tapi milik bersama, semua orang. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa yang menjadi milik semua orang sebetulnya bukan milik siapa pun. Maksudnya, bukan milik pak tua itu sampai ikan memakan umpannya, baru menjadi miliknya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jonathan kemudian mempertanyakan perihal perawatan. Mestinya, pak tua itu merawat ikan-ikan di danau itu. Pak tua itu mengatakan bahwa ia tidak mungkin melakukan itu sementara orang lain bisa datang kapan saja dan menangkapnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika orang lain melakukan itu, kemudian mengotori danaunya, sia-sialah upaya perawatan itu, tegas pak tua. Ia sebenarnya ingin danau ini menjadi miliknya, sehingga ia bisa memastikan ikan-ikan di situ terawat, seperti merawat binatang ternak. Jika danau ini menjadi miliknya, jelas pak tua, ia akan menernakkan ikan-ikan terkuat dan tergemuk, serta memastikan tidak akan ada pencuri atau pembuang sampah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sayangnya, itu tidak terjadi. Meski danau itu milik bersama, tapi sebenarnya dikelola oleh apa yang pak tua sebut sebagai Dewan Bangsawan. Setiap tahun, tuturnya, tuan tanah terpilih untuk menjabat di Dewan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemudian, Dewan itu menyewa manajer dan menggajinya dengan pajak yang diambil dari orang-orang. Manajer itu semestinya menjaga agar tidak terlalu banyak penangkapan ikan atau pembuangan sampah di danau itu. Tapi, lucunya, katanya, teman-teman Bangsawan itu boleh memancing dan membuang sampah seenak perutnya sendiri. Ketika Jonathan menanyakan pengelolaan manajer, dengan menunjukkan ikan kecil di tangannya, pak tua mengatakan, “Lihat saja hasil tangkapan saya yang sedikit ini. Tampaknya ikan semakin kecil, sementara gaji si manajer semakin besar.”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita ini mengacu pada konsep ‘Tragedi Kepemilikan Bersama’. Kepemilikan bersama mengacu pada apa saja yang dimiliki oleh yang berwenang atau negara demi kemaslahatan banyak orang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ken menyebut ada dua tragedi dalam hal ini. Pertama, semua orang seharusnya mendapatkan manfaat dari, dan merasa bertanggungjawab atas kepemilikan bersama ini. Tapi, yang kerap terjadi adalah tidak seorang pun yang mendapatkan manfaatnya karena setiap orang merebut sebanyak-banyaknya untuk diri mereka sendiri sebelum orang lain menikmatinya. Ini berarti, kata Ken, sumber daya diambil sebelum waktunya. Kedua, tidak ada seorang pun yang merasa bertanggung jawab atas berbagai akibatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada 39 peristiwa lain dengan tema-tema beragam terkait dengan persoalan ekonomi, sosial, dan politik di alam pasar bebas, yang diulas secara sederhana, menarik, dan kritis oleh Ken.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inti penting buku ini sesungguhnya adalah menampilkan wajah pasar bebas dengan segala persoalan yang dihadapi untuk dipikirkan pemecahannya. Karena, secara konseptual atau teoretis, pasar bebas bisa memberikan keuntungan bersama dan luas, yang pada gilirannya mampu menciptakan kesejahteraan rakyat, jika dalam tataran praktisnya diterjemahkan secara bertanggung jawab, adil, dan tanpa kecurangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kemerdekaan atau kebebasan individu yang bertanggung jawab menjadi kapital penting dalam pasar bebas ini, seperti disiratkan oleh Ken ketika menampilkan seekor burung kondor yang bisa bicara di hadapan Jonathan, sebelum burung itu membawa Jonathan keluar dari pulau antah berantah, mengantarkannya ke dunia asalnya sebelum ia terdampar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis Indonesia, Minggu 12 Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-4060640274371623664?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/4060640274371623664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/pasar-bebas-dalam-petualangan-jonathan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4060640274371623664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/4060640274371623664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/pasar-bebas-dalam-petualangan-jonathan.html' title='Pasar Bebas dalam Petualangan Jonathan'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-AlDDMYEgizs/TfSqxf9x21I/AAAAAAAAALk/zIUUEqwveFk/s72-c/petualangan%2Bjonathan%2Bgullible%2B-%2Bfreedom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-3763036908205726700</id><published>2011-06-09T06:10:00.000-07:00</published><updated>2011-06-09T06:11:19.475-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lingkungan'/><title type='text'>Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2011</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 5 Juni kemarin diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pesan penting dari peringatan ini adalah dorongan kepada umat manusia sedunia untuk peduli dengan lingkungan, baik itu dengan menjaga, memelihara, maupun melestarikan lingkungan agar tetap sehat, bersih, alami, dan segar, yang memungkinkan manusia dan seluruh makhluk hidup di atas bumi dapat hidup nyaman. Fenomena yang kita lihat saat ini, di mana pencemaran lingkungan—baik itu di darat, laut, maupun udara—terus meningkat, menjadi tantangan kita bersama untuk memikirkan dan mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emil Salim dalam bukunya, Ratusan Bangsa Merusak Satu Bumi (Kompas, 2010), menyebutkan setidaknya ada lima tantangan yang dihadapi manusia saat ini dan relevansinya bagi masa depan terkait dengan lingkungan hidup. Pertama, penyelamatan air dari eksploitasi secara berlebihan dan pencemaran yang kian meningkat, baik air tanah, air sungai, danau, rawa, maupun air laut. Saat ini dan ke depan, tulis Emil, permintaan air tawar makin meningkat didorong oleh pertumbuhan penduduk dan keperluan pembangunan, baik untuk air minum, irigasi, perikanan, industri, rekreasi atau pariwisata. Namun, peningkatan permintaan volume air tidak dibarengi dengan peningkatan kualitas air. Akibat kegiatan industri, pertanian, transportasi, energi, dan permukiman yang limbahnya dibuang ke sungai, tanah dan laut, kadar pencemaran air meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, merosotnya kualitas tanah serta hutan akibat tekanan penduduk dan eksploitasi besar-besaran untuk keperluan pembangunan. Menurut Emil, di banyak tempat sudah berlangsung proses penggurunan atau disertifikasi, yakni berubahnya tanah menjadi tanah tandus gurun pasir akibat eksploitasi tanah berlebihan. Luas hutan menciut karena dialihfungsi untuk pertanian, permukiman, ataupun kegiatan ekonomi. Ini mengakibatkan erosi meningkat dan kualitas tanah menurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, menciutnya keanekaan hayati akibat rusaknya habitat lingkungan hidup berbagai tumbuh-tumbuhan dan hewan. Penciutan hutan mengakibatkan hilangnya habitat keanekaan jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan yang membawa kemusnahannya. Padahal, lanjut Emil, manusia sangat memerlukan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan sebagai pangan, obat-obatan, dan industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, perubahan iklim yang menurut para ilmuwan sudah terjadi saat ini. Kata Emil, kadar pencemaran udara semakin menebal akibat dilepaskannya zat karbon ke udara oleh alat-alat angkutan, pusat-pusat listrik, dan cerobong-cerobong industri. Udara cemar bagaikan selimut yang membungkus bumi. Panas bumi oleh cahaya matahari yang semula bisa terbang bebas ke udara sehingga tidak mempengaruhi iklim bumi, terhambat. Panas bumi ditahan selimut bahan cemar tersebut, kemudian terpantul kembali ke bumi dan mengubah iklim bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, meningkatnya jumlah kota-kota berpenduduk banyak. Dalam perkiraan Emil, dari seratus kota terbesar di dunia di tahun 2020, sebanyak 36 kota terdapat di Asia. Sebanyak 2,3 miliar manusia atau 25 persen dari jumlah penduduk dunia akan hidup di kota-kota Asia. Meningkatnya kota berpenduduk banyak berkaitan dengan proses industrialisasi yang mendorong proses urbanisasi. Umumnya, para pekerja itu ingin tinggal di dekat kota tersebut, sehingga membuat pembangunan perumahan di dalam kota meningkat pesat, jalanan menjadi tidak keruan, dan polusi dari kendaraan meningkat. Ditambah lagi dengan sampah dan limbah kota yang bertambah banyak. Sebagian terangkut, tapi sebagiannya lagi terbuang ke tempat-tempat umum, seperti kanal, pantai, dan lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan dan Pencemaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatnya pembangunan di segala sektor kehidupan memang akan berkonsekuensi pada munculnya masalah lingkungan, pencemaran lebih spesifiknya. Air dan tanah sebagai elemen penting sudah barang tentu akan dieksploitasi. Mencegah atau menghambat peningkatan pembangunan demi dalih mengendalikan pencemaran lingkungan tentu saja tidak akan menyelesaikan masalah. Karena pembangunan erat sekali dengan masalah ekonomi. Semakin pembangunan dicegah dan dihambat, ekonomi tidak akan meningkat. Langkah yang sesungguhnya harus ditempuh adalah bagaimana pembangunan itu tetap berlanjut, tetapi sekaligus juga terpeliharanya lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masalahnya, misalnya, adalah tingkat pencemaran udara akibat keluarnya zat karbon dari kendaraan-kendaraan atau cerobong-cerobong industri yang tinggi, maka yang harus dilakukan adalah mencari cara bagaimana untuk menetralisir kembali zat-zat karbon itu, baik itu melalui penciptaan alat-alat teknologi penyaringan, membuat kendaraan-kendaraan yang ramah lingkungan, maupun memperbanyak penanaman pohon-pohonan yang memiliki kekuatan besar untuk menyerap zat itu. Demikian pula dalam hal pencemaran air atau tanah. Intinya adalah, mencari solusi agar bagaimana pembangunan terus berlanjut tapi tanpa merusak lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dari sisi eksternal manusia. Dari sisi internal, manusia sendiri sebagai pelaku pembangunan, harus diubah paradigma berpikirnya tentang pembangunan. Eksploitasi besar-besaran air dan tanah serta hutan, tanpa terkendali, sesungguhnya merupakan bentuk dari sikap rakus manusia yang lebih mementingkan keuntungan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain dan lingkungan sekitarnya. Maka benarlah apa yang dikatakan oleh Tuhan di dalam Kitab Suci, bahwa kerusakan yang tampak di darat dan di laut itu sesungguhnya adalah ulah dari tangan manusia. Ulah dari manusia-manusia yang rakus yang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini, kita dituntut untuk lebih serius memikirkan lingkungan, karena apa yang kita lakukan, kita pula yang merasakan akibatnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-3763036908205726700?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/3763036908205726700/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/hari-lingkungan-hidup-sedunia-5-juni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3763036908205726700'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/3763036908205726700'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/hari-lingkungan-hidup-sedunia-5-juni.html' title='Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2011'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-5755309624316147983</id><published>2011-06-08T05:12:00.000-07:00</published><updated>2011-07-02T05:19:17.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><title type='text'>Membangun Dinasti SBY?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-umhyJrDQotk/Tg8MsMR1M5I/AAAAAAAAAL0/Uo73g2Q6RE0/s1600/pak%2Bbeye%2Bdan%2Bkeluarganya%2B-%2Bwisnu%2Bnugroho.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 222px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-umhyJrDQotk/Tg8MsMR1M5I/AAAAAAAAAL0/Uo73g2Q6RE0/s320/pak%2Bbeye%2Bdan%2Bkeluarganya%2B-%2Bwisnu%2Bnugroho.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5624728412958831506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2009 lalu sekaligus membuka jalan baginya untuk membangun dinasti baru dalam sejarah kekuasaan di Indonesia. Namun, pembatasan masa jabatan Presiden hanya dua periode membuat SBY tidak mungkin menjadi penguasa selama Sukarno ataupun Soeharto. Maka, satu-satunya jalan yang bisa dilakukan adalah dengan mempersiapkan penggantinya, dari kalangan keluarganya. Istrinya (Ibu Kristiani Herawati Yudhoyono atau yang akrab dipanggil Ibu Ani) atau anaknya (Agus Harimurti Yudhoyono dan Edhie Baskoro Yudhoyono yang biasa dipanggil Ibas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada buku Pak Beye dan Keluarganya karya Wisnu Nugroho ini, yang merupakan buku keempat dari Tetralogi Sisi Lain SBY, sepak terjang—kalau boleh disebut demikian, karena sebenarnya yang ‘menyepak’ dan ‘menerjang’ adalah SBY; selain SBY, lebih kelihatan sebagai figuran di samping atau di belakangnya saat manggung masa kampanye, bisa disebut ikut menempel pada pesona SBY—ibu dan anak SBY diceritakan. Selain tidak ketinggalan juga ibunda SBY (Ibu Siti Habibah), menantunya (Anissa Pohan, istri Agus), dan cucunya (Almira, putri Anissa-Agus). Tidak seluruhnya cerita-cerita tentang keluarga SBY bersinggungan dengan politik, tapi tidak bisa juga dianggap benar-benar lepas dari politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri SBY, Ibu Ani, sempat ramai diberitakan tengah dipersiapkan untuk menjadi pengganti SBY nantinya, maju dalam Pilpres 2014. Apalagi, jika melihat dari kalangan keluarga SBY sendiri, yang kerap kali muncul ke permukaan adalah dia dan anak bungsunya, Ibas. Menimbang Ibas masih terlalu muda, meski dalam Pemilu Legislatif 2009 kemarin menjadi juara dengan perolehan suara calon legislatif terbanyak se-Indonesia, yang—hebatnya, membuat kita geleng-geleng kepala—itu diraih tanpa susah payah, tanpa bersuara, tanpa orasi di depan massa. Cukup berdiri di samping atau di belakang ayahnya saat manggung kampanye, dan tersenyum melambaikan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, selain Ibas ada Agus, kakaknya. Tetapi, Agus sepertinya lebih suka mengikuti jejak ayahnya dahulu, di jalur militer, berkarier sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD). Sempat ada spekulasi menyebutkan, Agus ini nantinya akan dipaksakan ikut pada Pilpres 2019 dengan asumsi bahwa pada tahun itu pangkat Agus adalah Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Mungkin memberi kesempatan dulu kepada Ibunya untuk maju di 2014. Namun, pengamat banyak meragukan ia secepat itu menjadi KSAD, karena paling tidak pada tahun itu pangkatnya mungkin baru Letnan Kolonel (Letkol), kecuali nasib berkata lain. Bukankah dalam politik segalanya menjadi mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tiga buku sebelumnya, Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, dan Pak Beye dan Kerabatnya, gaya tutur cerita Wisnu sama: menuliskan kembali ingatan Wisnu, dan mengajak pembaca untuk mengikuti ingatannya, ketika ia masih bertugas menjadi wartawan Istana yang selalu ‘mengekori’ ke mana pun SBY pergi, dengan rasa bahasa yang enak, akrab, dan memberi kesempatan kepada pembaca untuk menilai sendiri perihal SBY, tanpa memaksa pembaca untuk mengikuti pendapatnya. Ciri khas tulisan seorang jurnalis yang matang. Buku ini, dan tiga buku sebelumnya, bisa disebut reportase ringan, tapi justru menggugah pembaca untuk berpikir kritis tapi tetap santai dalam menilai seorang SBY yang di buku ini berkaitan dengan keluarganya. Apakah SBY akan membuat dinasti? Waktu yang akan menjawabnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-5755309624316147983?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/5755309624316147983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/membangun-dinasti-sby.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5755309624316147983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/5755309624316147983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/membangun-dinasti-sby.html' title='Membangun Dinasti SBY?'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-umhyJrDQotk/Tg8MsMR1M5I/AAAAAAAAAL0/Uo73g2Q6RE0/s72-c/pak%2Bbeye%2Bdan%2Bkeluarganya%2B-%2Bwisnu%2Bnugroho.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-604451536432918629</id><published>2011-06-06T07:05:00.000-07:00</published><updated>2011-06-06T07:06:08.722-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='olahraga'/><title type='text'>Pelajaran dari Kongres PSSI</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak dijalankannya prinsip-prinsip demokrasi dan kuatnya pertarungan dua kelompok utama: kelompok reformis yang menginginkan perubahan dan kelompok status quo yang tidak ingin kehilangan akses ke PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia), membuat kongres PSSI Jumat (20/5) lalu berakhir deadlock dan ricuh. Kejadian buruk yang tidak boleh terulang, karena nasib sepakbola Indonesia dipertaruhkan dalam hal ini.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demokrasi di PSSI&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Indonesia adalah negara demokrasi. Oleh karena itu, lembaga atau organisasi apa pun di dalam tubuh Indonesia mestilah menjalankan prinsip-prinsip demokrasi. Di antara prinsip-prinsip demokrasi itu adalah menjaga dan menjamin hak setiap warga untuk berpartisipasi dan ikut serta menjadi bagian dari proses pembangunan dan kemajuan suatu lembaga atau organisasi. Dan PSSI sebagai salah satu organisasi di bawah payung pemerintah dengan beban tanggung jawab mengurusi sepak bola Indonesia tidak boleh mengabaikan prinsip itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setiap warga negara memiliki hak untuk menjadi bagian dari organisasi PSSI sesuai dengan ketentuan yang berlaku di dalamnya. Selama ia sudah sesuai dengan ketentuan dan memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari organisasi ini, tidak ada yang berhak menghalang-halanginya, atas nama apa pun, bahkan atas nama organisasi dunia sekali pun. Dalam hal ini FIFA. PSSI memang harus mengikuti aturan FIFA, tapi FIFA juga tidak bisa seenaknya saja mencampuri kedaulatan PSSI terlalu jauh. Dalam konteks persoalan PSSI saat ini, langkah FIFA membentuk Komite Normalisasi (KN) sudah lebih dari cukup, tidak bisa sampai jauh memberikan sanksi terhadap PSSI, apalagi sampai mengintervensi PSSI untuk menolak calon tertentu tanpa alasan yang masuk akal.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa yang terjadi di kongres PSSI jelas-jelas memperlihatkan tidak dijalankannya prinsip-prinsip demokrasi ini, sehingga menuai protes dari salah satu kelompok pengusung calon, yakni kelompok yang menamakan diri Kelompok 78 yang dimotori oleh Arifin Panigoro dan George Toissuta. Agum Gumelar, selaku Ketua Komite Normalisasi yang ditunjuk FIFA, terlalu mengedepankan statuta-statuta FIFA tanpa penjelasan yang memadai sehingga mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi dan independensi PSSI. PSSI memang harus mematuhi FIFA, tapi FIFA juga harus menghormati independensi PSSI untuk melakukan proses-proses normalisasi secara demokratis. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok 78 yang begitu massif diberitakan sebagai biang kerok deadlock dan kisruh dalam kongres PSSI kemarin jangan hanya dilihat dari sisi itu saja, tapi juga dari sisi yang lain. Ketentuan apa yang dilanggar oleh Toissuta atau Panigoro sehingga harus ditolak sebagai calon ketua PSSI? Persyaratan apa yang tidak dipenuhi oleh mereka sehingga harus ditolak? Alasan bahwa Toissuta adalah orang militer aktif, yakni Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), sehingga harus ditolak, jelas tidak relevan dan memang tidak ada larangannya. Alasan bahwa Panigoro mendirikan Liga Primer Indonesia (LPI) yang tidak diakui PSSI juga tidak bisa diterima, karena LPI sudah sah berada di bawah KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia). Ini yang mestinya juga harus dipahami. Jadi, kisruh kemarin harus dilihat juga dalam perspektit terabaikannya prinsip-prinsip demokrasi dalam kongres.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saling Ngotot&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Selain alasan terabaikannya prinsip-prinsip demokrasi dalam kongres, juga alasan saling ngototnya dua kelompok utama; kelompok yang disebut-sebut sebagai kelompok reformis (Kelompok 78) dimotori oleh Panigoro dan Toissuta di satu sisi dan kelompok yang disebut-sebut status quo di sisi yang lain, yakni mereka yang tidak ingin kehilangan akses dari PSSI. Kelompok pertama menginginkan perubahan mendasar di tubuh PSSI, yang itu secara otomatis akan berimbas antara lain pada tergusurnya orang-orang lama era Nurdin Halid yang dianggap tidak reformis. Sementara kelompok kedua tidak ingin kehilangan akses-akses itu dengan menjegal sekuat mungkin Kelompok 78.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tujuan kedua kelompok itu sebenarnya sama, yakni ingin mereformasi PSSI secara besar-besaran pasca lengsernya Nurdin Halid. Hanya perlu menyatukan ide-ide perubahan untuk PSSI dalam komunikasi musyawarah yang rileks, duduk bersama, melepaskan egoisme masing-masing, ambisi masing-masing, dengan kepala dingin dan akal sehat. Namun, apa yang terjadi di kongres kemarin menunjukkan bahwa hal-hal ini tidak dilakukan. Publik pun melihat bahwa semua yang bersaing sebagai calon ternyata berperilaku seperti itu, lebih mengedepankan egonya masing-masing, ingin menang sendiri, dan terlihat begitu ambisius untuk menjadi pemenang, hingga melupakan prinsip fair play yang justru mesti dijunjung tinggi dalam sepakbola.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelompok 78, terutama Panigoro, pantas diharapkan bisa membuat perubahan di tubuh PSSI dengan berhasilnya ia memutar LPI sebagai tandingan bagi Liga Super Indonesia (LSI) era Nurdin Halid, sekaligus bukti bahwa melepaskan klub dari ketergantungan terhadap dana APBD dan menciptakan klub menjadi mandiri dan profesional dalam soal dana bukanlah hal tabu. LPI telah membuktikan bahwa klub bisa didorong untuk mandiri dan profesional. Hal yang belum bisa dilakukan oleh PSSI, setidaknya hingga era Nurdin Halid berakhir. Baru sekadar wacana yang akan dipikirkan oleh PSSI, sementara LPI sudah mempraktikkannya secara nyata. Namun, akibat kisruh di kongres, publik kini mendakwa Kelompok 78 karena dianggap pencipta kisruh. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kongres PSSI memberikan pelajaran berharga kepada segenap pihak untuk lebih profesional dalam melakukan kongres, karena ini menyangkut kepentingan dan nasib sepakbola nasional secara keseluruhan. Kongres itu telah mencoreng organisasi PSSI di mata FIFA, karena wakil FIFA ada dan menyaksikan jalannya kongres. Kini, kita hanya bisa berharap FIFA masih berbaik hati tidak menjatuhkan sanksi kepada PSSI. Lobi-lobi di FIFA harus serius di lakukan, sementara itu pihak-pihak yang berkompetisi memperebutkan kepimpinan PSSI harus kembali duduk bersama, menyingkirkan ego masing-masing, dan memikirkan kepentingan yang lebih luas, bukan semata-mata kepentingan kekuasaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-604451536432918629?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/604451536432918629/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/pelajaran-dari-kongres-pssi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/604451536432918629'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/604451536432918629'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/pelajaran-dari-kongres-pssi.html' title='Pelajaran dari Kongres PSSI'/><author><name>Fajar Kurnianto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18321498794149047342</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='19' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-ayOuh2Sgixg/TcKwcgzL-MI/AAAAAAAAAKo/7m3ihHauxJI/s220/fakur.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5622028762511389265.post-7600540344282282648</id><published>2011-06-04T05:02:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T05:03:34.419-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>Mengatasi Ketakutan, Mencipta Ketenangan</title><content type='html'>Oleh : FAJAR KURNIANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 155)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari belakangan ini, kita dijejali dengan berbagai berita di media, baik itu media cetak maupun elektronik, tentang teroris yang membuat sebagian kita tiba-tiba merasa khawatir, cemas, resah, dan takut. Paling tidak, berbagai berita itu merasuk ke dalam pikiran, sedikit banyak memberikan efek tertentu. Intinya adalah, di dalam diri kita kemudian muncul perasaan waswas, takut. Meski tarafnya kecil, tetap saja hal itu mengganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup tenang lahir batin, tanpa diliputi ketakutan, itu harapan kita semua. Dan, berbagai upaya kita lakukan untuk mencipta ketenangan itu. Tetapi, tetap saja ada begitu banyak orang yang memiliki niat jahat di sekitar kita yang tidak ingin ketenangan tercipta. Mereka menebarkan ketakutan dengan kejahatannya. Mereka menciptakan suasana yang tidak nyaman dengan perilaku dan tindak-tanduknya yang buruk. Apa yang mesti kita lakukan mengatasi ketakutan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut para ahli psikologi, rasa takut adalah perasaan negatif yang timbul akibat teridentifikasinya sebuah stimulus (misalnya bahaya). Rasa takut ini sering kali diikuti dengan adanya perubahan fisiologis, kognitif, dan tingkah laku (Kleinknecht, 1986). J Gerald Suarez dalam artikelnya, Managing Fear in the Workplace, mengakui bahwa rasa takut tidak bisa dihindari, tapi bisa dikelola sehingga tidak memberikan dampak yang destruktif bagi orang yang memiliki rasa takut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, rasa takut dalam diri manusia itu akan selalu ada, tidak bisa seratus persen dihilangkan. Selain itu, rasa takut tidak selalu memberikan dampak negatif pada manusia yang besangkutan. Pada hal-hal tertentu, rasa takut itu justru bisa berefek positif. Artinya, manusia memang memiliki rasa takut, tapi rasa takut itu bukan dijadikan sebagai penghalang dirinya untuk melakukan hal-hal yang baik. Takut kepada Allah tentu saja positif, karena itu mendorongnya untuk melakukan kebaikan. Takut kepada orang jahat bisa juga mendorongnya untuk melakukan upaya agar kejahatan orang itu menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya, Inner Skiing, W Timothy Gallwey dan Robert Kriegel mengatakan bahwa ada dua macam perasaan takut. Perasaan Pertama dan Perasaan Kedua. Perasaan Pertama membuat diri kita semakin terbelenggu ke dalam ketakutan, sedangkan Perasaan Kedua mendorong diri kita untuk keluar dari rasa ketakutan secara efektif. Perasaan Kedua mendorong diri kita memusatkan perhatian, membuat adrenalin kita untuk selalu berusaha semaksimal mungkin serta mendorong kita untuk memiliki persepsi yang tajam dan bijaksana. Perasaan Kedua membuat diri kita melakukan tindakan secara efektif daripada Perasaan Pertama yang membuat diri kita selalu protektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah antara lain yang juga dikemukakan oleh Muhammad Usman Najati dalam bukunya, Al-Qur’an wa ‘Ilm An-Nafs. Bahwasanya rasa takut merupakan salah satu emosi penting dalam kehidupan manusia, karena ia dapat membantu manusia dalam menjaga diri dari bahaya yang mengancamnya, sehingga ia dibantu dalam mempertahankan hidupnya. Manfaat rasa takut tidak terbatas hanya untuk menjaga manusia dari bahaya yang mengancam dalam kehidupannya di dunia, tapi juga mendorong orang untuk takut kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada lima hal yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa takut dalam diri manusia, seperti dikutip dari Methods of Healing. Pertama, seseorang harus mengenali ketakutan itu sendiri. Dalam hal ini, ia harus mengetahui penyebab ketakutan itu muncul dan bagaimana bisa ketakutan itu meliputi perasaannya. Dengan mengenali ketakutannya sendiri, ia akan menemukan cara mengatasinya. Ia takut kejahatan orang, berarti ia sudah mengidentifikasi bahwa penyebab ketakutan itu, yakni kejahatan. Dengan demikian, ia akan berpikir mencari cara untuk melepaskan diri dari ketakutan dengan menghilangkan sumber atau penyebab ketakutan itu, yakni kejahatan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, menantang atau menghadapi ketakutan itu sendiri. Dalam hal ini, ketakutan bukan untuk diikuti, atau membuat seseorang larut di dalamnya, hingga ia tidak bisa berbuat apa pun untuk melepaskan diri dari ketakutan itu. Orang seperti ini selamanya akan selalu dirundung ketakutan, karena memang ia sendiri tidak memiliki hasrat atau keinginan untuk lepas dari ketakutan itu. Dan untuk lepas dari itu, hal yang harus dilakukan tentunya adalah menghadapi ketakutan itu. Artinya, ada upaya yang dilakukan, tidak diam saja, menyerah tak berdaya. Allah menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membangun mental kendali. Manusia adalah pengontrol atau pengendali bagi dirinya sendiri, mental terutama. Ketakutan merupakan letupan kecil dalam diri manusia yang harus dikendalikan agar tidak menjadi liar. Ketakutan sendiri sangat potensial mengarahkan manusia kepada situasi negatif bagi dirinya atau positif. Dalam keadaan seperti ini, manusia sebagai sang pengendali berfungsi mengarahkan ketakutan itu pada hal-hal positif. Ketakutan terkait juga dengan mental. Dengan pengendalian, mental akan terjaga, dan tidak terpengaruh hal-hal yang mengancam di luar dirinya lebih jauh lagi. Mental yang terjaga secara pelan-pelan akan mendorong seluruh jiwa manusia untuk menyingkirkan ketakutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mengubah ketakutan. Ini baru bisa dilakukan setelah seseorang mengenali ketakutan, memiliki hasrat untuk lepas dari ketakutan, dan mentalnya tetap terjaga. Apabila merasa takut berjalan sendirian pada malam hari, misalnya, maka sebaiknya ia mengambil kursus bela diri untuk melindungi diri. Atau, apabila khawatir tentang pandangan orang-orang terhadapnya, maka ia harus meningkatkan keterampilan sehingga ia bisa menjadi lebih percaya diri. Mengubah ketakutan memang tidak semudah membalik telapak tangan. Perubahan tidak akan terjadi tanpa diawali dengan niat dan dilandasi dengan adanya mental yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, rileks dan berusaha membangun keyakinan. Memerangi ketakutan merupakan salah satu strategi bagus. Sambil melawan rasa takut, seseorang sekaligus membangun rasa percaya diri. Semakin ia percaya diri, rasa takut yang menguasai pikirannya akan berkurang. Dalam Islam, keyakinan itu tidak hanya soal penguatan hati, tapi kesadaran bahwa ada kekuatan di luar dirinya yang membantunya lepas dari ketakutan. Kekuatan yang selalu bersamanya. Itulah kekuatan Allah. Allah ada bersamanya. Ketika berhijrah dari Mekkah ke Madinah, Rasulullah dan Abu Bakar dikejar-kejar oleh orang-orang Quraisy Mekkah, kemudian mereka bersembunyi di dalam gua Tsur. Saat para pengejar itu juga tiba di gua Tsur, Abu Bakar tampak ketakutan. Tapi Rasulullah menegaskan, “Jangan takut dan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;William Shakespeare (1564-1616), sastrawan terbesar Inggris, mengatakan bahwa dari seluruh hawa nafsu, ketakutan adalah yang terburuk. Ia benar. Ketakutan memang membuat manusia hidup secara tidak normal, biasa, dan tenang. Ketakutan adalah penjara yang melingkupinya atau rantai yang membelenggunya, membuatnya tidak berdaya. Hidupnya menjadi pasif, kreativitasnya mati, dan daya nalarnya berhenti. Manusia yang ingin mencipta ketenangan harus berhasil mengatasi ketakutannya. Dengan mengenali ketakutan, melawan ketakutan, membangun mental, mengubah ketakutan, dan membangun keyakinan, ketakutan bisa diatasi, dan ketenangan pun tercipta. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah HIDAYAH edisi Juni 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5622028762511389265-7600540344282282648?l=fajar83kurnianto.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/feeds/7600540344282282648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/2011/06/mengatasi-ketakutan-mencipta-ketenangan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7600540344282282648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5622028762511389265/posts/default/7600540344282282648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajar83kurnianto.blogspot.com/
